
“Ibu Jesika.” Panggil perawat dari balik meja kerjanya.
“Ayo!” Rama mengajak Jesi untuk segera masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
“Ish masa aku dipanggil ibu sih, Karam? Nggak tau apa kalo aku ini masih muda, belum ibu-ibu.” Gerutu Jesi namun tetap mengikuti suaminya.
“Mba, liat nih masa masih muda kayak gini dipanggil ibu sih.” Ucapnya begitu melewati meja perawat.
“Udah yuk. Maaf yah mba, istri saya lagi sensi.” Ucap Rama tak enak, ya karena semua pasien juga dipanggil dengan sebutan ibu.
“Tidak apa-apa pak, silahkan masuk.” Balas si perawat tetap ramah.
“Ish Karam kok malah belain mbak nya sih!” Jesi jadi kesal dan nyelonong masuk sendiri meninggalkan Rama yang menggelengkan kepala di depan pintu masuk.
Tak lama Rama langsung menyusul Jesi yang sudah duduk di depan meja dokter. Beruntung dokter kandungannya perempuan dan terlihat sabar. Wanita paruh baya itu terlihat tersenyum menunggu jawaban Jesi yang loading.
“Suaminya?”
“Iya, Dok.” Jawab Rama.
“Karam, aku terakhir datang bulan kapan yah? Lupa aku tuh.” Tanya Jesi seraya menengok pada suaminya.
“Kapan yah?” Rama malah jadi balik tanya.
“Kayaknya waktu di Banyumas, Waktu kita baru nikah beberapa hari. Dua bulan yang lalu lah kurang lebihnya.” Lanjutnya.
“Wah kalian pengantin baru ternyata. Tokcer yah langsung jadi.” Ledek dokter.
“Udah di tespek belum?” Jesi hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“Kami baru tau tadi, bu. Itu juga dari dokter UGD. Awalnya saya kira istri saya keracunan makanan. Dua hari ini dia suka makan yang aneh-aneh dan muntah-muntah setiap malam.” Tutur Rama. Jesi langsung mencebikkan bibir kesal dibilang keracunan makanan.
“Maaf-maaf yah sayang, kakak kan nggak tau.” Rama langsung mengusap puncak kepala Jesi dengan penuh sayang.
“Seneng banget ini bumil suaminya super perhatian.” Ucap dokter.
“Nama aku Jesi, bu. Bukan bumil.” Ralat Jesi segera.
“Bumil itu panggilan buat wanita yang sedang hamil. Bumil alias ibu hamil.” Terang dokter.
“Tapi aku belum ibu-ibu ih... panggil Jesi aja, Dok.” Masih saja dia tak terima di panggil ibu.
Dokter paruh baya itu tersenyum gemas melihat Jesi yang tak mau kalah, “Baiklah Jesi baring di sini dulu, mari kita lihat baby kalian.” Dokter sudah berdiri dan berjalan menuju ranjang yang tak jauh dari meja kerjanya. Ada benda seperti monitor komputer di samping ranjang itu, di tambah di arah yang berlawan terdapat layar LCD untuk memperlihatkan hasil USG.
“Jangan ditinggal!” ucap Jesi saat Rama hendak kembali ke tempat duduknya.
“Iya. Kakak di sini, sayang.” Jadilah dia menarik kursi dan duduk di samping ranjang Jesi. Memegang erat tangan istrinya sambil mengamati dokter yang mulai mengoleskan gel di perut Jesi.
“Dingin ih.” Ucap Jesi begitu benda cair itu membasahi perutnya.
Dokter mulai mengambil tranduser dan menggerakkannya di atas perut datar Jesi.
“Kalian bisa lihat gambarnya di layar itu.” dokter menunjuk LCD cukup besar yang menempel di dinding.
“Nah ini baby kalian.” Lanjutnya.
“Kecil banget, dok.” Ucap Jesi sambil terheran melihat bulatan kecil yang di tunjukan dokter.
“Calon dede bayi gemoy nya kecil banget, Karam.” Lanjutnya. Rama tak berkata-kata, dia hanya mencium tangan istrinya dan berulang kali mengelus sayang kepala Jesi. Hal itu sukses membuat Jesi tersenyum senang.
“Perkiraan saya usia kandungannya sekitar enam minggu. Selamat yah.” Dokter meletakan tranduser pada tempatnya dan membersihkan gel di perut Jesi.
“Terimakasih banyak dok.” Ucap Rama seraya membantu Jesi turun dari ranjang. Keduanya kemudian duduk kembali di depan meja kerja dokter.
“Ini foto hasil USG nya.” Dokter memberikan selembar foto yang didominasi warna hitam dengan bulatan kecil di tengahnya.
“Ada keluhan lain selain muntah-muntah tidak?” tanyanya pada Jesi.
“Nggak ada, dok. Cuma kadang perut aku rasanya nggak enak, enek gitu. Muntah-muntahnya juga cuma malem aja, dok. Tiap mau tidur suka mual.”
“Nanti saya resepkan vitamin yah. Diminum teratur yah, kurangi aktivitas yang bikin cape. Makan teratur juga yah.” Dokter mulai menuliskan beberapa vitamin untuk Jesi.
“Kalo ada keluhan bisa datang lagi kesini.” Lanjutnya.
“Baik, dok. Terimakasih.” Ucap Rama kemudian mengajak Jesi keluar dari sana.
“Mana cilor aku?” pintanya langsung begitu keluar dari ruang pemeriksaan.
Rama langsung mengedarkan pandangan mencari keberadaan Alya dan Raka yang sudah ia tugaskan mencari cilor. Tak tampak batang hidung keduanya disana membuat Rama memijit keningnya sendiri.
“Duduk dulu yah sayang. Alya sama Raka masih otw kayaknya.” Bujuknya.
“Tuh kan... kata aku juga tadi kita ambil cilornya dulu.” Jesi sudah mengerucutkan bibirnya.
“Tunggu bantar yah baby. Yang sabar.” Rama mengelus pelan perut datar Jesi seolah berbicara dengan anaknya.
“Tapi aku pinginnya udah dari kemaren ih!” protes Jesi.
“Kakak mau tebus resep vitamin dulu yah. Kamu mau disini apa ikut?” lanjutnya.
“Ikut.”
“Ya udah ayo.” Jawab Rama.
Selesai menebus resep, Rama masih belum melihat tanda-tanda kedatangan Raka sementara istrinya sudah kembali menggerutu meminta makanan micin itu.
“Bentar yah sayang, kakak telepon Raka dulu.”
“Ah kelamaan, Karam. Kita susulin langsung ke SD aja.” Usul Jesi yang sudah tak sabar.
Belum genap satu hari menjadi calon ayah sudah membuat kesabarannya kembali teruji namun tak khayal dia tetap menuruti keinginan Jesi. Rama langsung melajukan mobilnya ke sekolah dasar yang dimaksud oleh Jesi tapi sayang sampai sana sudah sepi, tak ada lagi jajaran tukang jajanan micin.
“Tuh kan udah bubar. Kata aku juga tadi nyari cilor dulu baru periksa.” Jesi mulai kembali misuh-misuh dengan bibir mungilnya yang sudah mengerucut.
“Ini si Karak pasti bukannya kesini dari tadi malah pacaran sama Alya nih.” Lanjutnya dengan kesal.
“Kita cari ke tempat lain aja yah, sayang. Kakak janji deh hari ini kamu bakalan dapat jajanan micin itu.” ujar Rama.
“Jangan cemberut gitu sayang, ntar baby nya nggak happy di sini. Sabar yah papi cariin cilor buat kamu sekarang.” Rama kembali mengelus perut istrinya, sudah seperti hobi baru.
“Papi? Aku jadi Mami dong, Karam?”
“Iya, mami Jas Jus.” Jawab Rama seraya mengecup kening Jesi.
“Kita cari ke tempat lain yah.” Sambungnya.
Akhirnya setelah muter-muter lama, Rama menemukan jajanan micin yang inginkan Jesi.
“Yang itu... yang itu Karam...” Jesi menunjuk gerobak paling ujung di area taman.
“Iya sabar sayang. Kakak parkir dulu.”
“Karam parkir aja, aku turun duluan.” Ucap Jesi yang sudah semangat empat lima.
“Nggak boleh. Ntar bareng sama kakak. Kamu tuh jangan grasak grusuk ngapa-ngapainnya, inget ada anak kita di perut kamu.”
“Ish ntar nggak kebagian. Liat tuh kang dagang nya dikerumunin bocil kayak gitu.”
Begitu mobil terparkir dengan baik Jesi langsung menarik suaminya dan berjalan dengan buru-buru, takut nggak kebagian lagi.
“Pelan-pelan jalannya, sayang.” Rama merangkul Jesi yang berjalan dengan setengah berlari supaya lebih pelan.
“Buat aku dulu lah mang.” Jesi tanpa permisi mengambil cilor original tanpa bumbu yang hampir di terima oleh salah satu anak kecil, sontak anak kecil yang diperkirakan berusia tujuh tahun itu menangis karena jajannya disrobot Jesi. Rama sampe menepuk kening melihat kelakuan istrinya. Segila itu orang ngidam batinnya.
Rama berlutut menyamakan tingginya dengan bocah yang sedang menangis.
“Maafin kakak itu yah.” Dia menunjuk Jesi yang tanpa dosa sedang membumbui cilor hasil rampasannya.
“Diperutnya kakak itu lagi ada dede bayinya. Dede bayinya pengen cilor. Nih kakak kasih uang aja yah buat jajan.” Rama mengeluarkan dompetnya dan memberikan selembar warna merah ke anak itu.
Selesai menenangkan bocil yang nangis, Rama kemudian menghampiri Jesi yang sudah duduk di salah satu kursi taman. Sore itu keadaan taman cukup ramai oleh orang-orang yang hilir mudik kesana kemari, terutama orang tua yang membawa anak kecil. Rama jadi tersenyum membayangkan apakah kelak ia akan jadi seperti mereka? Mengikuti bocah yang berjalan kesana kemari sambil membawa mainan.
Rama duduk di samping Jesi, pikirannya sudah mulai was-was karena melihat Jesi yang nampak tak puas meski sudah mendapatkan apa yang ia mau.
“Enak cilornya?” tanyanya basa basi.
Istrinya itu berbalik menatapnya sambil manyun,
“Nggak enak, buat Karam aja nih. Aku udah nggak pengen.” Jawabnya sambil memberikan cup cilor yang masih banyak isinya.
Rama hanya menghela nafas panjang sambil mengelus punggung Jesi yang sudah kembali nemplok manja padanya.
“Nak, papi bisa stres kalo mami mu kayak ini terus. Udah nyarinya setengah mam pus muter-muter sana sini, sekalinya dapet cuma dimakan dikit doang.” Batin Rama.
“Karam...” Panggil Jesi lirih.
“Iya, sayang.”
“Aku pengen nonton konser BTS.” Ucap Jesi.
Rama kembali menghela nafas panjang, “Ya Allah cobaan apa lagi ini.”
.
.
.
yang sabar yang Karam wkwkwk
Jangan lupa tampol jempol, lope sama komen!!