Possessive Leader

Possessive Leader
Bonus 9. Bismillah aja



“Ngantor nggak nih calon manten?” tanya Naura begitu melewati adik iparnya.


Sudah tiga hari setelah lamarannya diterima Raka malah makin melehoy tanpa semangat. Waktu seminggu rasanya ngalahin dua tahun yang sudah ia lalui. Bagaimana tidak melehoy dan kehilangan semangat jika selama ini ia selalu mondar-mandir ke rumah Rama nyaris tanpa absen tiap hari mendadak harus libur selama seminggu, ditambah dirinya dan Alya sama sekali tak ada komunikasi selama tiga hari terakhir. Disaat seperti ini ingin rasanya Raka mencari tau siapa pencetus pingitan yang membuatnya merasa sesak dan tak berdaya setiap hari kemudian akan memprotesnya supaya pingitan lebih modern dengan memperbolehkan komunikasi via vidio call. Bagi Raka my baby Alya kesayangannya itu sudah seperti charger hidup yang bisa mengisi energinya full seketika hanya karena melihatnya, tapi sekarang sudah tiga hari tidak ketemu, energinya benar-benar drop.


“Malah ngelamun. Raka, lo mau ngantor kagak? Gue nebeng!” Naura meninggikan suaranya. Beberapa hari ini Naura menginap di rumah mertuanya, membantu mama mertuanya menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan putra bungsu mereka.


“Gue kagak masuk lah. Bilangin sama calon kakak ipar, gue ijin dulu lagi dipingit. Gue mau tidur aja biar ntar kalo bangun udah hari minggu terus nikah deh.” Balas Raka malas.


“Yang dipingit Alya, kenapa lo ikut-ikutan? Lo harus masuk sampe jum’at. Kalo nggak masuk dari sekarang ntar lo kagak dapat jatah libur penganten baru. Mau? Kaga bisa enaa-enaa lo.” Ejek Naura.


Huh!


Raka membuang nafasnya kasar kemudian berlalu ke kamarnya.


“Tungguin bentar gue siap-siap dulu.”


Setibanya di kantor bukan ruangannya yang menjadi tujuan utama justru mengikuti kakak iparnya ke lantai sepuluh. Naura sudah tak aneh sejak lamarannya di terima memang setiap pagi ruangan Rama yang menjadi sasaran adik iparnya. Bahkan kadang jika Rama belum datang ia dengan sabar menunggu sambil rebahan nggak jelas cuma demi nanyain kabar Alya, padahal tak perlu ditanya pun kabar calon istrinya itu pasti baik-baik saja.


“Wan, Alya gimana?” teriak Raka yang baru saja melihat Rama keluar dari lift.


Ck!


Rama sampai berdecak, bosan mendengar pertanyaan yang sama setiap pagi.


“Dia baik-baik aja. Udah balik ke ruangan lo gih. Selesein desain baru sebelum yang lagi lo kerjain sebelum cuti nikah.”


“Iya ntar gue beresin. Alya lagi apa Wan? Lo telpon gih gue pengen denger suara dia sekalian aja. Melehoy banget ini gue.”


“Lo tuh ngerengek kayak anak gue aja, Ka! Udah balik kerja sana, Alya baik-baik aja. Kalo lo fokus kerja pasti hari cepat berlalu.” Ucap Rama.


“Kagak bisa fokus gue. Ini kepala isinya adek lo mulu, Wan.” Timpal Raka.


“Terserah lo dah, Ka! Gue sibuk. Susah emang ngadepin orang bucin mah.” Sindirnya kemudian berlalu masuk ke ruangan.


Berbeda dengan Raka yang tak kehilangan semangat karena tak bertemu dirinya, Alya juga merasakan hal yang sama. Hanya saja perempuan berhijab itu disibukan dengan berbagai kegiatan yang menyita perhatiannya, dari mulai perawatan tubuh dan sebagainya.


Hari demi hari tak berganti dengan cepat bagi Raka hingga akhirnya tiba waktunya besok pagi ia akan meminang Alya menjadi istrinya. Tak seperti hari-hari yang lalu, malam ini Raka tampak begitu bersemangat. Energinya seolah terisi full meskipun belum melihat Alya seminggu terakhir, tapi bayangan wajah Alya yang tersenyum malu-malu padanya selalu mengisi pikirannya. Malam ini bahkan ia tidur larut demi berulang kali menghafal ijab qabul untuk esok hari.


“Belum tidur?” tanya Akbar, ayah Raka yang baru memasuki kamar putranya.


“Belum, Pa.” Jawabnya seraya melipat kertas berisi tulisan ijab qabul yang baru saja ia hafalkan.


Akbar duduk di samping Raka dan melihat putranya melipat kertas.


“Ngapalin ijab qabul?” Raka mengangguk mengiyakan.


“Udah lancar?” Raka mengangguk lagi.


“Besok kamu akan menjadi imam, menjadi kepala keluarga. Papa tidak akan banyak bicara karena papa yakin kamu sudah tau betul makna dari menikah, Ka. Pesan Papa, setiap rumah tangga selalu memiliki ujian masing-masing, seberat apa pun ujian kalian kelak ingatlah masa-masa dimana kamu memperjuangkan dia. Masa dimana kamu ingin menjadi bagian dari keluarganya. Tuntunlah Alya jadi perempuan yang lebih baik lagi meskipun pada dasarnya dia benar-benar menantu idaman. Papa do’akan rumah tanggamu selalu bahagia.” Ucap Akbar seraya menepuk punggung putranya pelan.


“Makasih, Pa.”


“Jangan tidur terlalu larut.” Pungkas Akbar sebelum meninggalkan kamar Raka.


Sementara itu di kediaman Rama, Alya sedang menjadi bulan-bulanan Jesi. Spesial malam ini dia tidur di kamar Alya dan membiarkan Kara tidur dengan papi nya.


“cie calon manten.” Ledek Jesi.


“Gimana rasanya calon manten besok mau nikah? Apakah anda dag dig dug jeder-jeder?” Jesi mengarahkan jepit rambutnya ke depan wajah Alya layaknya wartawan yang sedang melakukan wawancara.


“Seriusan aku, Al. Deg degan nggak?” Jesi mulai kepo maksimal.


“Lah kamu kan udah pernah, Jes. Dulu kamu deg degan nggak?” Alya justru balik tanya.


Jesi menggeleng kemudian mengambil bantal guling di belakanganya dan memeluknya erat sambil terus menatap wajah adik iparnya.


“Dulu gue nggak dag dig dug lah, orang gue nikah dadakan. Terus belum cinta juga sama Karam, jadi yah rasanya... ah nggak tau deh pokoknya campur aduk.” Jesi jadi tertawa dan membenamkan wajahnya ke bawah bantal, rasanya nano-nano sekali jika mengingat pernikahannya.


“Tidur, Al! Besok pagi-pagi banget kita harus otw hotel. Jangan sampe kesiangan.” Ucap Jesi.


Pukul enam pagi keluarga Rama sudah tiba di hotel, Alya sudah di kamar pengantin dan sedang dirias ditemani mama Yeni sementara Jesi dan Rama berada di kamar yang tepat berhadapan dengan kamar pengantin.


“Sayang, Kakak ke ballroom duluan yah. Nanti kamu temenin Alya.” Pesan Rama pada istrinya yang sedang menatih Kara berjalan.


“Siap, Papi.” Jawab Jesi.


“Jangan rewel sama mami yah.” Rama mencium kedua pipi putrinya sebelum berlalu. Gadis kecilnya itu terlihat menggemaskan menggenakan gaun yang sama dengan mami nya.


Setelah kepergian Rama, Jesi manatih Kara menuju kamar pengantin. Dilihatnya Alya begitu cantik dan anggun dengan gaun putih dan hijab yang senantiasa menjulang hingga menutupi dadanya.


“Cantik banget ante Alya.” Puji Jesi.


“Jes, aku deg degan.” Balas Alya.


“Lah harusnya Karak yang deg degan, Al. Kamu mah santai aja. Ntar tinggal salim aja sama Karak kalo udah sah.” Jawab Jesi enteng.


“Tetep aja aku deg degan, Jes. Takut.”


“Takut apaan? Takut malam pertama yah?” ledek Jesi bahkan tertawa mengucapkannya.


“Ish kamu mah, Jes.”


“Udah tenang aja. Semua pasti lancar, Karak laki-laki yang baik. Aku do’akan kalian bahagia selalu.” Ucap Jesi.


Alya semakin dag dig dug saat petugas WO memintanya menunggu di ruangan dekat ballroom dan segera keluar saat Raka selesai mengucapkan ijab qabul.


“Nih anak kalian berdua.” Jesi memberikan kaktus termahal yang dulu sempat ia siram, sepertinya Alya benar-benar tak tenang. Buktinya ia sampai lupa membawa kaktus yang sudah ia rawat seperti anaknya sendiri.


“Ya ampun kenapa tangan kamu dingin banget, Al?” ucapnya yang tak sengaja menyentuh tangan Alya saat memberikan kaktus.


“Minum dulu nih.” Jesi memberikan air mineral pada adik iparnya dan Alya meneguknya sedikit.


“Aku takut Aa Raka nggak lancar ijab qabulnya.” Ucap Alya lirih sambil memperhatikan proyektor yang menampilkan calon suami berserta kakaknya bersama beberapa orang penting duduk di kursi dekat pelaminan. Calon suaminya terlihat tampan dengan stelan jas putih serta peci warna senada.


“Udah bismillah aja, Al. Semua pasti lancar.” Ucap Jesi menenangkan, meskipun dalam hati ia juga ikutan jedag jedug melihat Raka mulai menjabat tangan suaminya.


.


.


.


Aku jadi ikutan jedag jedug euy takut si Arak belibet ijab qabulnya.


BTW kalian jangan lupa pada dateng yah ke nikahan Arak sama Ale-ale. sovenirnya baby kaktus loh tapi jangan lupa amplopnya yah.


Gasskeun tampol like sama komennya yang banyak. Hari ini aku crazy up, do’ain supaya aku nggak ikutan crazy gara-gara crazy up.