
Jesi mengerjap-ngerjapkan mata begitu terbangun, menyesuaikan netranya dengan cahaya terang di kamar Rama.
"Eh udah nyampe rumah nih?" Ucapnya dengan tatapan sayu yang masih sedikit linglung.
Diliriknya Rama yang terlelap dengan tangan melingkar di perutnya. Jesi bergerak pelan untuk bangun, cacing diperutnya sudah demo minta makan. Sejak tidur di perjalanan tadi dia benar-benar tak makan apa pun, makan malam pun ia lewatkan. Jam sudah menunjuk angka tiga tapi rasa laparnya tak bisa dikondisikan.
"Yah Karam jadi bangun. Maaf..." Jesi jadi tak enak hati karena pergerakannya membuat Rama terbangun.
"Mau kemana?" Tanya Rama dengan suara serak khas bangun tidur. Tangannya yang sempat di jauhkan oleh Jesi saat hendak turun tadi sudah kembali mengeratkan pelukannya.
"Laper..."
"Besok pagi aja makannya. Kakak masih ngantuk, ayo tidur lagi." Rama kian membenamkan wajahnya di ceruk leher Jesi.
"Tapi aku laper, Karam. Nggak bisa merem kalo laper. Lagian aku udah tidur lama banget yah dari sore." Bukannya kembali memejamkam mata sesuai intruksi Rama dia malah mulai mencubit-cubit gemas pipi Rama.
"Karam ih laper..."
"Bobo... Bobo...." Jawab Rama asal, dia menepuk-nepuk bahu Jesi perlahan supaya terlelap.
"Ih mana ada orang laper di suruh bobo!"
"Temenin ke dapur, aku pengen makan."
"Nggak ada makanan apa-apa jam segini. Kita kan baru pada pulang kemaren jadi nggak ada stok Jas Jus. Kecuali kalo kamu mau makan mie instan yah sana. Tinggal rebus aja."
"Temenin ih aku takut, Karam. Lampunya pasti pada di matiin kan?"
"Bobo... Bobo aja Jas Jus. Kakak ngantuk!"
"Ish Karam mah!"
Pada akhirnya lagi-lagi Rama mengalah, meski ngantuk dia tetap bangun dan menemani Jesi ke dapur. Menunggu di meja makan hingga tak sengaja ia kembali tertidur.
"Karam, mie nya udah mateng nih. Mau nggak?" Ucapnya seraya membawa dua mangkuk mie dan meletakkannya di meja.
"Ish malah bobo lagi. Karam pasti ngantuk banget yah?"
Jesi akhirnya mulai memakan mie nya sendiri, suapan demi suapan dengan cepat masuk ke mulutnya, dia benar-benar lapar.
Disela-sela makannya dia tersenyum melihat Rama yang terlelap dengan berbantalkan lengan di meja makan.
"Berasa makan mie sambil live liat Kim Taehyung bobo."
"Ini mie terenak yang pernah gue makan." serunya.
Alya yang baru selesai shalat tahajud keluar dari Mushola yang letaknya bersebelahan dengan ruang keluarga. Meskipun sudah dua tahun berlalu sejak ia pulang dari pesantren tapi semua kebiasaan yang ia lakukan di pesantren tetap konsisten ia lakukan, setiap hari dia bangun jam tiga dan tak pernah tidur lagi hingga pagi menjelang. Tapi baru pagi ini di dapur sudah berisik padahal jam empat juga belum, biasanya mama Yeni baru mulai masak jam empat pagi atau lepas subuh. Alya jadi berpikir yang tidak-tidak, Sejak tadi ia dibuat takut karena suara berisik dari dapur, ditambah dengan lampu rumah yang jadi menyala semua. Seingatnya tadi ia tak menyalakan lampu saat ke mushola. Alya membuka mukenanya dan berjalan pelan ke dapur.
"Astagfirullah Jesi... Kamu ngapain jam segini di dapur?"
"Aku sampe ngendap-ngedap jalannya, aku kira ada maling."
"Masih jam empat kurang kamu udah bangun, Jes?"
"Ya ampun kamu makan mie jam segini?" Ucapnya begitu mendapati dua mangkuk mie yang salah satunya hanya tersisa kuah saja.
Ssttt!!!
Jesi meletakan jari telunjuknya di bibir.
"Karam lagi bobo. Jangan berisik!"
"Ngapain kakak tidur di sini? Ke kamar aja gih Jes."
"Masih ada satu mangkuk lagi nih. Buat lo aja, Al. Gue bikin buat Karam tapi dianya malah bobo." Jesi mendorong mangkuk berisi mie hadapan Alya.
"Aku nggak mau, Jes. Kamu abisin aja sendiri. Besok aku mau puasa kan hari senin, masa sahur pake mie bisa-bisa panas perutku ntar." Alya mendorong kembali mangkuk berisi mie itu pada Jesi.
"Aku udah nggak kuat, kenyang banget." Jesi meminggirkan mangkuk itu.
"Beda yah ada pesantren mah puasa euy hari senin. Lo puasa senin kamis, Al?"
"Kok tau aku anak pesantren, Jes?" Kening Alya mengkerut heran, pasalnya selama ini ia tak pernah menceritakan perihal itu kepada siapa pun.
"Karam yang cerita." Jesi tersenyum menatap Rama yang masih terlelap kemudian ikut menyandarkan kepalanya di meja.
"Kakak lo cakep banget, Al." Ucapnya lirih sambil mengelus sayang pipi Rama.
"Lo beruntung banget punya kakak kayak Karam, Al. Meskipun galak tapi aslinya dia tuh perhatian banget sama lo, Al." lanjutnya, tangannya beralih memainkan rambut Rama yang jatuh ke kening kemudian kembali mengelus penuh sayang pipi pria tampan yang sudah jadi miliknya.
"Kamu lebih beruntung, Jes. Kan kakak udah jadi suami kamu." Balas Alya.
"Menurut aku nggak ada laki-laki yang lebih setia dari kakak." Sambungnya.
"Tapi tetep aja kakak lo tuh suka jelalatan. Lo nggak tau aja kemaren Karam ngobrol lama banget sama cewek di depan indoapril, gue nungguin di mobil sampe jamuran. Kalo nggak gue susulin di jamin tuh ngobrolnya berlanjut sampe malem." Jesi jadi kesal mengingat kejadian kemaren, elusan sayangnya di pipi Rama berubah jadi cubitan keras hingga suaminya itu terbangun.
"Aduh... Sakit, Jas Jus!" kaget Rama yang baru membuka matanya.
"Rasain. Suami kalo nakal emang wajib di cubit!" Ketus Jesi.
"Kakak salah apa lagi coba?" Rama jadi bingung baru bangun tidur bahkan belum melakukan apa pun sudah dibilang nakal.
"Tau. Pikir aja sendiri!" Ketus Jesi yang langsung berlalu meninggalkan meja makan.
Rama menjambak rambutnya sendiri berulang kali hingga suara di hadapannya membuat dia berhenti.
"Banyakin sabar, Kak."
"Ada kamu? Kenapa itu kakak ipar mu jadi marah-marah lagi?" Tanyanya.
"Aku nggak tau, Kak. Padahal tadi lagi Jesi lagi muji-muji Kakak loh... Tapi tiba-tiba emosi pas nyeritain kakak yang kayanya jelalatan sama cewek di depan indoapril."
"Ya ampun perkara si oli masih aja belum kelar." Rama berdecak kesal.
"Makanya kakak jelasin ke Jesi yang sebenernya biar dia nggak mikir yang aneh-aneh." Ujar Alya.
"Udah di jelasin dari kemaren juga, tapi dianya malah tidur. Udah panjang kali lebar eh pas ditengok udah merem aja itu bocah." Balas Rama.
"Marah-marah aja bisanya temen kamu tuh."
"Tapi aku seneng loh Jesi marah gara-gara liat kakak sama cewek lain, berarti dia udah cinta sama kakak. Kalo kata orang mah itu marah tanda cinta." ujar Alya dengan senyum mengembang.
"Kamu seneng, kakak stres ngadepin Jas Jus!" Rama segera beranjak menyusul Jesi ke kamar.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan favoritkan biar aku makin semangat.
komentarmu semangatku!