Possessive Leader

Possessive Leader
Bahagia vs musibah



Berlari di sisi ranjang pasien melewati lorong rumah sakit terasa seperti dejavu bagi Alya, bagaimana tidak baru kemarin ia ke tempat ini dan hari ini sudah kembali lagi. Bedanya jika kemarin ia harus panik karena Jesi yang tak sadarkan diri kali ini ia harus jedag jedug jeder melihat Raya yang yang juga tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir dari pergelangan tangan kirinya.


Raya sedang di tangani dokter, mba Dina terlihat jelas khawatir dengan berulang kali menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Wanita yang masih mengenakan stelan kerja itu terlihat menegarkan diri dan tetap berdiri di samping ranjang Raya.


Alya meninggalkannya sebentar dan kembali dengan membawa air mineral kemasan yang baru saja ia beli di kantin rumah sakit.


“Minum dulu mba, supaya tenang.” Diberikannya air mineral itu pada Dina.


“Makasih.” Dina menerimanya dan meletakkannya di nakas samping ranjang Raya.


Melihat Dina tak meminum air yang ia berikan, Alya berjalan di samping Dina dan mengambil air itu kembali.


“Aku bukain, mba. Diminum yah supaya sedikit tenang.” Bujuknya seraya membuka segel air kemasan itu dan sekali lagi memberikannya pada Dina.


Dina kembali menghela nafas panjang seraya mengusap kepala Raya yang masih belum sadarkan diri.


“Makasih yah.” Ucapnya seraya menerima air pemberian Alya dan meneguknya sedikit.


“Raya pasti baik-baik aja, mba.” Alya mencoba menenangkan wanita anggun itu, meskipun ia juga tak tau bagaimana kondisi Raya.


“Iya, semoga.” Balas Dina lirih.


“Kamu kenapa sih, dek? Kenapa bisa sampe kayak gini?” digenggamnya tangan kiri adiknya. Perban putih membalut lengan itu sementara di tangan kanannya tertancap selang infus.


Melihat Dina yang begitu terpuruk akan kondisi adiknya membuat Alya tersentuh. Ia jadi mengingat Rama, bagaimana kakaknya itu sangat menyayanginya. Saat Alya masih hanyut dengan pikirannya sendiri, Dina memanggilnya.


“Kamu... “


“Alya, mba.” Melihat Dina yang bingung harus memanggilnya apa membuat dia memperkenalkan diri.


“Adiknya kak Ramadhan.” Sambungnya dengan senyum ramah.


Sedikit terkejut mendapati gadis di hadapannya adalah adik Rama. Dina jadi makin tak enak hati karena ternyata orang-orang yang membantunya adalah bagian dari orang yang sengaja ia sakiti. Kenapa dunia begitu sempit? Batin Dina.


“Kalo kamu nggak keberatan, bisakah menemani Raya sebentar? Mba mau urus kamar dulu sambil nunggu dokter ngasih tau hasil pemeriksaan.”


“iya, mba silahkan. Biar Raya aku temenin di sini.” Balas Alya.


Alya memandangi wajah terlelap Raya. Saat tidur ternyata wajah cuek dan sadis yang sering ia tunjukan pada Jesi tak terlihat, justru sebaliknya wajah lelap itu terlihat sedih dan banyak beban.


“Cepet sadar yah, Ray. Kasihan kakak kamu khawatir banget.” Ucap Alya lirih. Dia merapikan selimut Raya yang menyeka keringat yang membasahi keningnya.


Lumayan lama Alya duduk di samping ranjang Raya, ia bahkan sempat ngobrol dengan keluarga pasien lain yang sama-sama ada di sana. Dia hanya tersenyum dan mencoba mengalihkan pembicaraan saat orang lain menanyakan penyebab Raya masuk UGD, bahkan ada yan menebak dengan terang-terangan jika itu akibat percobaan bunuh diri.


“Ah masa seperti itu, bu?” ucapnya menanggapi sekenanya.


“Iya loh. Dulu tetangga saya juga ada yang nyoba bunuh diri kayak gitu.” Terangnya sambil menunjuk pergelangan tangan kiri Raya yang dibalut perban. Alya langsung memasukan tangan itu ke dalam selimut.


“Nggak kok, bu. Ini bukan karena bundir.” Elak Alya. Beruntung ada panggilan telepon masuk sehingga Alya memiliki alasan untuk mengakhiri obrolan yang menurutnya unfaedah. Bagaimana tidak? Bukankah seharusnya setiap orang bisa menghargai privasi orang lain bukan justru terus mendesak bahkan sampai main tebak dengan asal. Alya jadi sedikit kesal, meskipun Raya bukan teman baiknya tapi mengorek keburukan orang yang sedang tak baik-baik saja bukanlah hal terpuji.


“Saya terima telpon dulu yah.” Lanjutnya seraya menunjukan panggilan masuk di ponselnya. Tertera nama Aa Raka di layar benda pipih itu.


“Halo assalamu’alaikum A Raka.” Ucapnya setelah menggeser tombol terima panggilan.


“Syukur Alhamdulillah kalo gitu A.”


“Aku masih di rumah sakit persada. Tempat Jesi kemaren A. Aa mau kesini?”


“Iya. Makasih A.”


Alya beranjak dari duduknya begitu melihat Dina sudah kembali masuk bersama seorang suster. Wajahnya terlihat lebih kacau dari sebelumnya. Ada raut sedih campur kesal sekaligus kecewa yang bersamaan.


“Makasih udah nemenin Raya, Al.” Ucapnya begitu tiba di hadapan Alya.


“Sekarang Raya mau di pindahin ke ruangan dulu. Maaf yah sudah merepotkan.” Lanjutnya.


“Nggak repot sama sekali kok, mba.” Balas Alya.


“Biar aku bantu bawa tas nya, mba.” Alya mengambil tas Dina yang hampir terjatuh saat membantu perawat mendorong ranjang Jesi keluar dari UGD.


Alya berjalan di belakang mengikuti Dina dan perawat yang masuk ke salah satu kamar VIP. Setelah semuanya selesai, perawat memberikan beberapa arahan kemudian berlalu meninggalkan mereka.


Dina duduk di sofa sambil memandang nanar ke arah Raya yang masih belum sadarkan diri. Dia memijit keningnya berulang kali sambil menghembuskan nafas berat. Belum cukup masalah pekerjaan yang membuatnya pusing setengah mati, adik satu-satunya malah membuat masalah yang tak tanggung-tanggung. Menyadari paman kepercayaan keluarganya yang ternyata malah menusuk dari belakang dan hanya memanfaatkannya sudah cukup membuat dirinya sesak, belum lagi urusan dengan Rama yang belum selesai. Sekarang malah ditambah dengan Raya yang hamil? Ujian macam apa ini!


Satu masalah belum selesai dan kini malah ditambah masalah baru. Dirinya terkejut bukan main saat dokter mengatakan jika Raya sedang hamil. Kini ia tau kenapa adiknya mencoba bunuh diri, tapi kenapa bisa seperti itu? Satu hal yang belum terjawab sampai saat ini. Terlalu longgarkah dirinya membiarkan pergaulan Raya selama ini? Dina hanya bisa menghela nafas berat, selama ini dia memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri sampai mengabaikan ajakan adiknya setiap kali memintanya menghabiskan waktu bersama. Dina bahkan lupa kapan terakhir kali mereka menghabiskan waktu bersama.


“Waktu kamu masih SD kali yah, Dek? Terakhir kita main bareng. Waktu papa masih ada.” Gumamnya lirih.


Tak terasa pipinya basah mengingat betapa kurang pedulinya ia pada Raya selama ini. Mendengar Raya hamil, ingin marah? Tentu saja. Terlintas bagaimana masa depan sang adik beserta orang yang menghamilinya menjadi pukulan telak bagi Dina. Tapi melihat adiknya tak berdaya sungguh membuatnya makin sesak, alih-alih marah ia hanya berharap adiknya bisa kuat menghadapi semua ini. Dia sudah tak punya ayah sedang ibunya saja sedang terpuruk setelah tau adiknya yang ia percayai untuk mengelola perusahaan justru hanya memanfaatkan, rasanya sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberitahu ibunya terkait kondisi Raya. Wanita paruh baya itu bahkan kini terbaring lemah di kamar saat ia membawa Raya ke rumah sakit tadi.


“Mba...” panggilan Alya membuat Dina yang sedang hanyut dalam pikirannya mendongak.


“Iya, Al. Maaf yah mba malah nyuekin kamu. Sampe lupa kalo kamu masih di sini.” Dina buru-buru menyeka air mata saat Alya yang sedari dari duduk di samping ranjang Raya berjalan menghampirinya.


“Mba kenapa? Raya baik-baik aja kan mba?” sumpah demi apapun saat ini Alya juga penasaran setengah mati karena perubahan Dina setelah bertemu dengan dokter. Tapi ia tau privasi dan tak akan mengoreknya terlalu jauh jika yang bersangkutan tak berniat memberitahu.


“Nggak apa-apa kok.” Balas Dina.


“Raya mungkin sadarnya masih lama. Kata dokter tadi cairan infusnya sengaja dikasih obat penenang. Makasih yah udah bantu, mba. Kamu pasti cape kan? Pulang yah mba anter sampe depan. Keluarga kamu nanti khawatir kalo jam segini kamu belum pulang.” Lanjutnya.


“Nggak kok, mba. Aku udah ngasih tau kakak. A raka sama kakak mau kesini kok.” Jawab Alya.


“Alhamdulillah Jesi udah ketemu. Sekarang lagi otw kesini, mau periksa calon ponakan sama sekalian jemput aku.” Lanjutnya.


“Ponakan?” ulang Dina.


“Iya. Jesi lagi hamil. Makanya kakak khawatir banget pas Jesi ilang. Kakak pasti kasih hukuman berat buat kak Zidan nih.” Ucap Alya sedikit geram.


Mendengar Jesi hamil ada rasa iri? Tentu iya. Meskipun perasaannya pada Rama mulai ia hapus namun tetap saja rasa tak sukanya pada Jesi masih ada.


“Mba ikut bahagia dengernya. Semoga sehat terus Jesi dan calon anaknya.” Ucapnya dengan lirih.


Tatapannya kembali mengarah pada Raya, miris. Andai Raya juga memiliki suami pasti ia juga akan sebahagia Alya saat menceritakan calon ponakannya. Tapi yang menghamili adiknya saja ia tak tau, jika kehamilan Jesi adalah kebahagiaan yang dinantikan maka kehamilan Raya adalah musibah yang menyesakan jiwa dan meluluhlantahkan harga diri keluarga besarnya.


.


.


.


So sad mba Dina. Poor your family.


Nggak kebayang kalo aku di posisi mba Dina, pusing setengah mam pus. Aku liat adikku demam aja udah panik setengah mati padahal yang dipanikin biasa aja.


Udah up gasik jangan lupa like komen dan favoritkan!!