Possessive Leader

Possessive Leader
Hukuman menyenangkan



Banyak pasang mata mengamati saat Rama lewat dengan menggendong Jesi yang basah kuyup. Rama tak mempedulikan karyawan yang menatapnya, baginya saat ini yang terpenting adalah menenangkan Jesi. Hatinya begitu sakit melihat Jesi dalam kondisi seperti ini. Meskipun sering ngambek bahkan sampai menangis tapi tak pernah separah ini. Istrinya benar-benar tak berdaya saat ini.


Rama langsung masuk ke dalam lift bersama Dini yang membuntutinya sejak kaluar dari toilet tadi.


"Makasih." Ucapnya.


"Sama-sama, Pak." Jawab Dini sedikit canggung.


"Ini mau ke lantai berapa pak?"


"Lima."


Dini segera menekan angka lima, setelah itu tak ada percakapan apa pun sampai akhirnya Rama keluar dari lift.


"Saya minta tolong bawakan pakaian Jesi ke kamar saya. Sekalian bawakan susu vanila hangat untuk Jesi."


"Baik, Pak." Jawab Dini.


"Terimakasih."


Begitu tiba di kamar Rama langsung merebahkan Jesi di sofa.


"Sebentar kakak ambil handuk sama baju dulu buat ganti kamu." Ucapnya saat Jesi menarik ujung kemejanya, tak ingin di tinggal.


Rama mengusap kening Jesi dan mengecupnya sekilas, "cuma ngambil baju sama handuk. Nggak akan lama sayang. Kamu bisa sakit kalo basah kayak gini. Sebentar yah..."


"Tuh kan nggak lama." Ucapnya setelah kembali.


"Sini kakak bantu ganti baju yah." Dengan perlahan Rama membuka pakaian Jesi dengan menggantinya dengan kemeja miliknya.


"Pake baju kakak dulu nggak apa-apa yah? Temen kamu disuruh nganterin barang-barang kamu kesini belum ada."


Kini tangan terampilnya beralih menggosok rambut panjang Jesi yang basah dengan handuk.


"Karam...."


"Iya, sayang." Rama meletakkan handuk yang ia pegang dan beralih menggenggam kedua tangan Jesi.


"Kamu pengen sesuatu? Kakak udah pesenin susu vanila hangat kesukaan kamu."


Jesi hanya menggeleng, "aku nggak mau apa-apa, Karam. Peluk aja!" Jesi beringsut memeluk Rama. Di keroyok seperti tadi benar-benar membuatnya takut. Selama ini ia selalu hidup dimanjakan oleh orang tua, perkara kekerasan verbal sudah seperti makanan sehari-hari saat dia kehilangan semua fasilitas. Tapi kekerasan fisik baru saat ini ia alami, bahkan oleh empat orang sekaligus. Terlalu mengejutkan baginya.


Rama berulang kali mengelus-ngelus sayang punggung istrinya.


"Pindah ke ranjang aja yah, biar kamu bisa langsung istirahat." Digendongnya tubuh mungil Jesi dan direbahkan ke ranjang tak lupa menyelimutinya.


Saat Rama hendak naik ke atas ranjang, suara ketukan pintu membuatnya urung.


"Kakak buka pintu sebentar." Pamitnya.


Rama berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Koper Jesi, pak." Ucap Dini yang berdiri di depan pintu dengan koper kecil di sampingnya di tambah segelas susu putih di tangan kanannya.


"Maaf lama, tadi bapak tidak bilang kamarnya nomor berapa. Jadi saya ke bawah dulu nanya ke resepsionis." Terang Dini.


"Tidak apa-apa. Terimakasih, maaf sudah bikin kamu repot." Rama mengambil segelas susu di tangan Dini dan membawa masuk koper Jesi.


"Kamu bisa kembali ke kamar dan istirahat." Ucap Rama sebelum menutup pintu.


"Anu pak...maaf... Kalo bapak tidak keberatan, boleh tidak saya melihat Jesi sebentar saja pak." Pinta Dini.


"Besok saja yah. Untuk saat ini biar Jesi istirahat dulu, dia kelihatan shock banget. Terima kasih sudah perhatian pada Jesi."


"Iya, pak. Salam aja buat Jesi yah, pak. Saya permisi."


Rama meletakan koper Jesi di samping lemari dan menghampiri istrinya di ranjang.


"Minum susunya dulu sayang."


"Nggak mau, Karam. Nggak pengen aku." Jesi menepis gelas yang di sodorkan Rama.


"Nggak mau. Aku maunya dipeluk aja!"


"Ya sudah sini kakak peluk." Akhirnya Rama memeluknya erat mengelus sayang punggung Jesi.


"Karam...." Panggil Jesi lirih.


"Iya sayang...."


"Aku mau bobo."


"Kamu nggak mau cerita soal kejadian tadi? Biar kakak bisa ngasih hukuman yang sesuai buat mereka." Ucap Rama.


"Karam tanya langsung aja sama mereka. Aku sebel sama mereka. Pokoknya aku mau mereka dibawa ke kantor polisi kalo nggak mau sujud minta maaf sama aku." Ucap Jesi.


"Seumur-umur baru sekarang aku dianiaya kayak gini, mana beraninya keroyokan lagi. Coba satu lawan satu udah lewat dah si Vita mah sama aku." Gerutu Jesi.


"Coba cerita yang lengkap jangan setengah-setengah, sayang. Nggak mungkin kan mereka tiba-tiba nyerang kamu kalo nggak ada masalah?" Tebak Rama.


"Karyawan Karam yang cewek tuh pada doyan banget ghibah. Mana aku yang jadi bahan ghibah mereka. Karam baca sendiri aja nih." Jesi meraba-raba kasur disekitarnya mencari ponsel.


"HP aku mana?" Tanyanya setelah tak mendapati benda yang ia cari.


"Kayaknya masih di tas. Biar kakak ambilkan dulu." Jawab Rama.


"Biar aku aja, Karam." Jesi lebih dulu turun dari ranjang. Dia sudah terlihat biasa saja, tidak shock seperti tadi.


"Nih, baca deh Karam." Diberikannya benda pipih berwarna pink itu kepada Rama.


Satu persatu-satu meskipun hanya sekilas Rama membacanya. Setiap kalimat cacian dan makian yang ditunjukan untuk Jesi benar-benar membuatnya kesal.


"Karam mau kemana?" Jesi menahan tangan suaminya, saat dia hendak beranjak dari ranjang.


"Kakak harus memberi mereka pelajaran yang pantas. Supaya mereka tau cara bersikap. Berani-beraninya mereka bergosip unfaedah seperti ini. Terutama si haters sejati nih, bisa-bisanya dia dapat foto kita yang sedang seperti ini pula." Rama menunjukan gambar yang di upload Jesi sore tadi.


"Sebenarnya ini WA siapa sih? WA temen kamu?" Lanjutnya.


"Punya aku, Karam. Sengaja beli kartu baru tadi siang, biar bisa join grup mereka."


"Punya kamu?" Ulang Rama dan Jesi hanya mengangguk mengiyakan.


Pletak!!


Satu sentilan mendarat di kening Jesi.


"Sakit ih, Karam!!" Keluhnya.


"Bisa-bisanya kamu malah ikutan ngegosip. Pake ngirim foto kayak gini pula." Gerutu Rama.


"Kan biar makin hot makin kepanasan mereka. Sebel banget abisnya!" Jesi yang tadi sudah ingin tidur jadi melek lagi gara-gara membahas chat unfaedah.


"Aku tuh sengaja juga masuk grup, pengen tau siapa adminnya. Gila banget soalnya tuh orang kayak yang benci banget sama aku. Eh nggak taunya adminnya mba Vita tuh, aku kira mba Dina. Ternyata bukan. Mana apes aku main di lelepin segala, dasar banget dah beraninya pada keroyokan. Malem-malem udah mah dingin banget makin dingin kan jadinya."


"Pokoknya nanti Karam harus kasih hukuman yang setimpal. Mereka harus minta maaf sama aku yang tulus, kalo nggak mau bawa aja ke kantor polisi. Jangan lupa pecat sekalian." Ujar Jesi.


"Iya besok kalo udah masuk kerja kakak kasih mereka hukuman. Sekarang kakak mau ngehukum kamu dulu, udah nakal sembarangan kirim-kirim foto seperti itu."


"Karam ampun aku jangan di hukum. Lagi kedinginan aku nya." protes Jesi.


"Justru supaya Jas Jus kesayangan kakak ini nggak kedinginan lagi. Sebagai hukuman kamu di atas!" ucapnya seraya menarik Jesi ke atas tubuhnya.


.


.


.


Jangan mau di atas Jes, enakan di bawah. Ya kan? πŸ˜›