Possessive Leader

Possessive Leader
Bucin Tingkat Dewa



"Gimana kata dokter, mba? Raya sakit apa?" Tanya Alya setelah duduk di samping Dina. Tak ada niat Dina untuk menjawab membuat Alya tersenyum canggung dan melanjutkan ucapannya.


"Maaf yah mba kalo aku kepo. Semoga Raya baik-baik aja. Aku ke bawah dulu, A Raka udah nyampe." Lanjutnya berpamitan.


"Iya. Makasih yah, Al."


"Sama-sama, mba. Aku permisi."


Setelah Alya pergi, Dina menghampiri adiknya. Gadis dengan lengan kiri diperban itu mulai mengerjapkan matanya.


"Dimana?" Ucapnya lirih.


"Rumah sakit, dek." Balas Dina.


"Kenapa sampai seperti ini, dek? Kasih tau mba, siapa?" Tanya Dina begitu lembut. Bukannya tak ingin marah, tapi dokter sudah mewanti-wanti dirinya untuk berkata dengan hati-hati jangan sampai memancing emosinya jika tak mau adiknya itu depresi.


"Siapa apanya, mba?"


"Ayah dari anak dikandungan kamu." Telak Dina.


Raya hanya menatap kakaknya dengan tatapan kosong, berikutnya tak satu kata pun keluar dari mulutnya. Bibirnya seolah terkunci, dia hanya menangis kemudian beralih ke arah lain dan memunggungi Dina.


"Dek, lihat sini! Mba nggak akan marah. Kasih tau siapa yang bikin kamu jadi kayak gini." Bujuknya lagi dengan pelan.


Raya tetap bungkam, ia hanya menangis dalam diam. Siapa ayah dari anak yang dikandungnya? Ia tahu betul itu anak Zidan. Karena selama ini dia hanya melakukannya dengan Zidan. Yang jadi masalah saat ini, lelaki itu benar-benar tak mau bertanggung jawab dan malah memintanya untuk melakukan aborsi. Memikirkan hal itu membuatnya kian menangis menahan sesak. Andai Zidan mau bertanggung jawab tentu tak akan menjadi serumit ini, baginya tak masalah menjadi mama muda asal bersama Zidan, orang yang ia cintai. Melakukan aborsi? Dirinya tak seberani itu.


"Sial kenapa tidak mati saja." Batinnya seraya melirik pergelangan tangan yang terbalut perban.


Melihat punggung Raya yang bergetar, Dina berulang kali menariknya supaya menghadap padanya tapi adiknya itu tetap tak merespon seolah tak terusik sama sekali. Dina mengalah, dia beranjak dari duduknya dan berjalan mengitari ranjang hingga berdiri di depan Raya yang meringkuk sambil terisak dalam diam.


Raya mengelus pelan bahu adiknya, "bilang sama mba, dek. Siapa yang ngehamilin kamu?"


"Mba nggak akan marah. Ayo bilang supaya mba bisa bantu kamu nyelesein masalah ini."


"Biar mba datengin keluarganya supaya tanggung jawab." Bujuknya dengan penuh kesabaran tapi adiknya itu tetap bungkam, bahkan menatap wajahnya pun tidak. Raya selalu mengalihkan pandangannya ke arah lain setiap kali Dina menatapnya.


Dina menghela nafas panjang, dia mulai tak sabar dengan sikap Raya yang tak bisa diajak bicara baik-baik. Masalah demi masalah yang menumpuk di kepalanya membuat emosi dan amarah yang sudah ia tahan dari tadi ingin meledak.


"Dek, jawab!" Dina mulai geram dan mengepalkan tangannya.


"Astaga kamu masih aja bungkam! Kalo kayak gini terus gimana mba bisa bantu kamu hah?" Sentaknya.


"Kalo kamu nggak ngomong siapa yang ngehamilin, mau gimana masa depan kamu? Mau ditaruh mana harga diri keluarga kita?"


"Kamu bener-bener bikin mba makin pusing, dek. Mama langsung pingsan liat kamu hampir bunuh diri di kamar, sekarang mama masih lemah. Kamu tau, dek? Mama itu udah tua kenapa kamu malah nambah masalah?"


"Perusahaan juga lagi genting, paman Harun ternyata diam-diam mau ngambil alih perusahaan kita. Mba udah pusing mikirin semuanya sekarang malah-" Dina tak meneruskan ucapannya, dia memijit keningnya pelan dan menghela nafas panjang. Baginya kali ini masalah keluarganya terlalu menyesakkan.


"Sudahlah terserah kamu kalo nggak mau ngomong!" Pungkasnya menyerah, kemudian kembali duduk di sofa tunggu.


Sementara di lantai bawah Alya langsung berlari dan memeluk kakak iparnya.


"Jesi, kamu nggak apa-apa kan?" Tanyanya seraya melihat Jesi dari ujung kaki hingga kepala setelah melepas pelukan. Tak ada luka apa pun, hanya mata Jesi yang bengkak akibat terlalu banyak menangis.


"Gue nggak apa-apa, Al." Jawab Jesi.


"Lo ngapain di sini?" Tanyanya dengan terheran.


Alya melirik kakaknya, "emang kakak nggak cerita?"


Jesi menggelengkan kepala tak tau.


"Aku nemenin Raya di sini. Tadi pas kita ke rumah Raya buat nanyain kak Zidan ternyata dia hampir bundir." Jelas Alya.


"Kayaknya mau bundir deh tapi keburu ketahuan keluarganya. Darah di tangan dia tuh tadi nggak berenti ngalir. Kasihan mba nya panik parah. Kayak yang banyak beban gitu." Lanjutnya.


"Bundir?" ulang Jesi dan Alya mengangguk mengiyakan.


"Mati nggak?"


"Sadis banget, Jes. Nggak lah dia masih hidup tapi belum sadar. Kasihan aku liat kakaknya khawatir banget."


"Ya kirain mati, gue mau nyumbang buku Yasin gitu." ucap Jesi enteng.


"Iya. Malahan kakaknya Raya kenal juga sama kakak dan A Raka."


Mendengar jawaban Alya, Jesi langsung menatap suaminya.


"Dina." Ucap Rama.


"Heleh sempit amat dunia. Pantes aja lah dia kayak gitu, kakaknya aja dinosaurus." Ketus Jesi. Dia sama sekali tak ada keinginan untuk menanyakan keadaan Raya, sudah bodo amat dengan sahabat pengkhianat seperti dia. Kalo bisa Jesi justru ingin tak usah bertemu lagi dengan Raya. Atau cukup berpura-pura tanpa bertegur sapa saat berjumpa, terlalu menyebalkan.


"Aku kasihan liat dia kayak gitu, Jes." Ucap Alya.


"Ponakan aku gimana?" Tanyanya lagi.


"Anak baik, dia pasti kuat kok." Jesi mengelus perutnya.


"Lagian kak Zidan nggak ngapa-ngapain gue, keburu Karam sama Karak datang. Kalo nggak ada mereka, nggak tau nasib gue bakal kayak gimana." Jesi bergidig ngeri mengingat bagaimana Zidan membuka paksa bajunya tadi.


Menangkap ekspresi takut di wajah istrinya, Rama buru-buru merangkulnya dan mendaratkan kecupan di puncak kepala Jesi.


"Udah nggak apa-apa, kita periksa kondisi kamu sama anak kita dulu." Ucapnya.


"Tapi aku nggak apa-apa, Karam. Dede bayi gemoy juga nggak apa-apa. Iya kan, sayang?" ucapnya seraya mengelus perut seolah mengajak calon anaknya bicara.


"Iya, Mami. Dede baik-baik aja kok." Lanjutnya menjawab sendiri dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.


"Pokonya papi mau kalian diperiksa dulu." Rama ikut mengelus perut Jesi. Dia tak menerima penolakan, langsung membawa istrinya ke poli kandungan yang kemarin mereka kunjungi. Meski tak tau banyak, tapi akhir-akhir ini Rama mulai membaca artikel tentang kehamilan disela-sela waktu luangnya. Dia ingin menjadi suami siaga dan yang terbaik untuk calon anak dan istri tersayangnya.


Alya masih berdiri di samping Raka saat Jesi dan kakaknya berjalan makin menjauh.


"Iya, Mami. Dede baik-baik aja kok."


"Pokoknya papi mau kalian diperiksa dulu." Raka mengulang ucapan Jesi dan Rama dengan setengah ilfeel.


"Dasar bucin akut! Lebay tingkat dewa." Lanjutnya.


Alya tersenyum melihat Raka yang mencibir menirukan kata-kata Jesi dan kakaknya tadi.


"A Raka nggak boleh kayak gitu." Ucap Alya.


"Aku malah pengen punya suami kayak kakak. Keliatan banget cinta sama istrinya." Lanjutnya.


"Kalo gitu nikah yuk, Al. Ntar Aa bucin deh kayak kakak kamu." Raka langsung ngode keras.


"Sekarang juga Aa udah bucin akut. Emang nggak kerasa gitu Aa sayang banget?" Lanjutnya.


"Nggak mau ah." Ledek alya, dia tersipu kemudian kemudian beranjak menyusul kakaknya.


Raka berjalan menyusul Alya,


"Ya udah Aa mau nikah sama yang lain aja. Banyak yang antri kok." Jawabnya tak kalah meledek sambil tertawa, ia sampai tak sadar Alya berhenti mendadak hingga ia tak sengaja menabrak gadis berhijab itu. Dia menatapnya dengan cemberut.


"Aa cuma bercanda, Al." Ucap Raka.


"Kalo Aa nggak bisa nunggu aku lulus ya udah. Aku nggak maksa. Kalo mau nikah sama yang lain silahkan aja." Jawabnya dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca, tanpa menunggu jawaban dia berbalik dan meninggalkan Raka.


"My baby Alya tunggu! Aa cuma bercanda. Mau disuruh nunggu kalo kamu lanjut S2 juga nggak apa-apa." Teriaknya.


"Apes banget gue, sial. Udah tadi nonton sosor menyosor sekarang malah my baby ngambek. Gue kan cuma bercanda." Gerutunya sambil menyusul Alya.


.


.


.


Raka be like: " thor sebenernya gue punya salah apa sih sama lo? kok dibikin ngenes mulu!"


Author : "kamu nggak salah apa-apa, Ka. Yang salah tuh mereka yang cuma baca, nggak komen, nggak like dan menghilang begitu saja. Mereka ghaib" πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›


Wahai reader tersayang sekalian jangan lupa tekan like, komen dan favoritkan!!!