
hai kangen nggak sama jas jus dan Karam?
maafkan yah dua hari nggak update, ada keriweuhan di real life. Aku seneng banget karena kemaren bisa ketemu langsung sama salah satu readers. buat kalian kalo main ke pangandaran bisa mampir ke tempat aku yah. aku tunggu 😘😘
“Karena kamu calon istriku!” ucap Rama
“Jas jus kesayanganku dilarang memberikan kesegaran pada orang lain!” imbuhnya.
Jesi nyaris tertawa mendengar ucapan calon suaminya. Dipegangnya kening Rama dengan telapak tangan, “Nggak panas.” Ucapnya lirih.
Rama mengambil tangan Jesi kemudian menggenggamnya kembali, “kakak nggak sakit. Cuma lapar aja belum makan siang.” Ucapnya dengan tatapan hangat pada gadis yang masih diam menatapnya.
“Makan yuk!” ajaknya kemudian.
Jesi masih diam, dia tersenyum tertahan setiap kali mendengar ucapan Rama. Dari mulai sikap, cara bicara hingga perlakuannya sangat berbeda dari biasanya. Jesi jadi sangsi mungkinkah saat ini dirinya sedang bermimpi?
Jesi menggigit bibir bawahnya sendiri, “Aduh sakit!”
“Kakak ngajak kamu makan kok malah ngegigit bibir sendiri. Lapar juga yah?”
“Tapi kok jadi ngaco gini sih cara ngomong sama sikapnya. Beda banget.” Batin Jesi. Bukannya senang, Jesi justru merasa ngeri dengan perubahan sikap calon suaminya yang begitu mendadak. Dia terus menatap Rama, masih belum bisa menerima sikap manis dari calon suaminya itu. Dan bagi Jesi semua ini terasa sangat aneh.
“Karam sebenernya kenapa sih? Aneh banget tau kalo Karam kayak ini. Bukannya seneng aku malah ngerasa ngeri gitu.” Ucap Jesi jujur.
“Takutnya ada indikasi gangguan jiwa gitu.” Imbuhnya.
Rama langsung melepaskan genggaman tangannya pada Jesi, dia beranjak bangkit dan berdiri di depan calon istrinya yang masih terus menatapnya dengan lekat.
“Dah lah males gue sama lo. Dibaikin atau digalakin sama aja. Ngeselin!” ucapnya pada Jesi kemudian berjalan ke mejanya dan meneguk habis air putih di gelasnya demi meredam emosi yang hampir meledak. Susah payah dia berusaha bersikap manis pada calon istrinya tapi balasan gadis itu sungguh tak menyenangkan.
Rama menggelengkan kepala, tak habis pikir kenapa calon istrinya begitu senang jika Raka memperlakukannya dengan baik. Bahkan dia selalu tersenyum senang setiap kali Raka menyebutnya kesayangan, tapi saat dirinya mencoba melakukan hal yang sama malah di sebut aneh. Dan apalagi tatapan itu? bukannya senang malah menatapnya dengan aneh.
“Nah loh akhirnya Karam kembali normal. Curiga aku kalo tadi Karam tuh kerasukan apa gitu? Mendadak manis gitu. Atau kalo nggak pagi tadi kebanyakan makan gula yah jadi manis banget kata-kata sama sikapnya.” Ucap Jesi. Dia ikut beranjak dan menghampiri Rama yang masih berdiri bersandar di mejanya.
“Kalo aja tiap hari Karam kayak gitu, bisa-bisa baper akunya.” Imbuh Jesi yang membuat Rama tersedak mendengar ucapannya.
“Pelan-pelan aja minumnya. Aku nggak bakalan minta kok.” cibir Jesi.
Rama hanya melirik gadis itu sekilas. Percuma di manis-manisin juga tetap saja menyebalkan.
“Kenapa? Aku cantik yah?” tanyanya dengan percaya diri seperti biasa.
Rama hanya menghela nafas panjang kemudian membuka jasnya dan meletakkannya asal. Berbicara dengan Jesi benar-benar menguji kesabaran membuatnya merasa mendadak panas. Dibukanya kancing lengan kemejanya kemudian menggulungnya hingga siku. Tanpa berbicara ia mengabaikan Jesi dan memilih duduk di sofa tamu. Tapi rupanya calon istrinya itu mengikutinya dan duduk di sampingnya.
“Karam kalo aku liat-liat nih yah... Kalo kayak gini tuh makin ganteng.” Ucapnya polos sambil menatap Rama yang sedang membuka makanan yang ia bawakan tadi.
“Jadi makin mirip Kim Taehyung. Aku penasaran Karam kalo di rumah nggak pake baju kerja tuh kayak gimana? Mungkin kah kayak Taehyung yang kalo santai cuma pake kolor sama kaos oversize aja?”
“Terus ini kalo poninya rada di turunin coba” Jesi menunjuk rambut Rama.
“jangan dikeatasin kayak gitu. Pasti makin mirip deh. Soalnya Taehyung itu rambutnya full ke bawah nggak ke atas kayak gitu ih. Jarang-jarang dia rambutnya dikeatasin kayak gitu, ya walaupun kalo menurut aku mah rambut dia mau di apa-apain juga tetep aja ganteng. Tapi ya aku lebih suka kalo yang berponi gitu, biar samaan kayak aku.” Cerocos Jesi yang terus membanggakan idol favoritnya itu.
Rama yang sedang makan tak sekali pun menanggapi ocehan Jesi, dia menyendok nasi beserta lauk pauk kemudian menyuapkannya pada Jesi. Membuat gadis itu seketika bungkam ketika mulutnya penuh.
Rama hanya tersenyum, mengelus kepala Jesi kemudian melanjutkan makannya lagi.
“Kalo lagi makan jangan sambil ngomong!”
Jesi dengan cepat mengunyah makanan yang disuapkan paksa pada mulutnya. Dia sudah tak sabar untuk memprotes tindakan menyebalkan Rama. Setelah menelan makanan Jesi segera membuka air mineral yang kata iklan ada manis-manisnya gitu, namun nyatanya hoax tetap saja tawar seperti air minum kemasan lainnya.
“Kar...” belum selesai ia berucap Rama sudah menyuapinya lagi.
Jesi menatap Rama dengan kesal tapi calon suaminya itu lagi-lagi hanya mengelus puncak kepalanya seraya tersenyum kemudian kembali menyendok makanan dan menyuapkan pada mulutnya sendiri.
“Jorok banget deh satu sendok di pake berdua. Bisa-bisa besok aku langsung sakit nih!” gerutu Jesi setelah meneguk minuman kemasan di hadapannya. Belum sempat dia meletakan kembali botol itu ke meja, Rama sudah mengambil alih benda itu dari tangannya dan meneguk isinya tanpa ragu.
Melihat hal itu Jesi langsung melongo. Sejauh ini ia tak pernah berbagi peralatan makan dengan siapa pun. Sekali pun Zidan yang dulu jadi orang yang sangat ia sayangi.
“Kenapa kayak gitu ngeliatinnya?” tanya Rama yang baru saja menghabiskan air minum bekas Jesi.
“Karam nggak jijik gitu? Itu kan bekas aku.”
“Nggak. Kamu jijik makan pake sendok yang sama dengan saya? Jijik juga minum dari botol yang sama dengan saya?” tanya Rama dan Jesi tak bisa menjawab, dia hanya diam tak mengerti juga dengan dirinya sendiri. Biasanya dia paling anti makan satu sendok berdua. Tak higienis, tapi saat Rama menyuapinya ia hanya pasrah menerima bahkan berulang kali.
“What wrong with me?” batin Jesi.
“Pasti lebih enak kan makan satu sendok berdua. Bukankah saya mirip idol favorit kamu? Anggap saja sedang makan dengan idol favoritmu yang nggak jelas itu.” ucap Rama.
Cup... satu kecupan singkat mendarat di kening tertutup poni itu. hal itu seketika membuat Jesi mematung dan menatap Rama yang tersenyum jahil kemudian pergi meninggalkannya begitu saja.
“Karam!” teriaknya.
“Si alan gue jadi nggak perawan lagi!” gerutunya.
Jesi beranjak menyusul Rama yang sudah keluar lebih dulu. Dilihatnya Rama sedang berbincang dengan Raka dan Naura yang baru kembali dari kantin. Dengan kesal Jesi menghampiri Rama.
"Pokoknya aku mau ngadu ke ayah. Karam jahat!" ucapnya telak.
"Ini drama apa lagi coba, Ra?" Raka melirik Naura, ibu hamil itu mengedikkan bahu tak tau.
"Aku udah nggak perawan lagi!" ucap Jesi.
"Hah?" kompak Raka dan Naura. Keduanya langsung menatap tajam Rama.
"Gue nggak nyangka sama lo, Wan!" Raka menggelengkan kepala berulang.
"Apa lo kagak bisa sabar sedikit, Wan? bentar lagi juga nikah udah maen bobol aja sebelum waktunya!" kali ini Naura menatapnya ilfeel.
"Si jas jus lo dengerin!"
"Gue bukan tukang celap celup sebelum halal yah. sorry aja!"
"Lo tanya aja dia gue apain? ya kali gue main kilat di kantor." bantah Rama.
"Aku dicium di sini." Adunya, Jesi menunjuk kening sambil cemberut.
Sontak Naura dan Raka tertawa bersamaan.
"Ya ampun untung besar ini lo, Wan. calon bini lo dijamin ori ini mah." ucap Naura.
"Btw ini gue nggak nolak lah kalo Neng Jesi beneran mau Aa Raka jadi suaminya." timpal Raka.
"Gue yang nolak!" balas Rama cepat.
"Si jas jus fix punya gue." imbuhnya.
.
.
.
like sama komentarnya jangan lupa yah para kesayangankuh 😘😘😘