
"Hei, tapi apakah kau tau hal ini?, katanya sebelum sempat naik ke ranjang pangeran Raiden, para wanita itu sudah mati terbunuh oleh pedangnya. Bahkan pangeran menolak semua percodohan dari berbagai kerajaan hanya karena putri Manami, " ucap si A.
"Secara rahasia kabarnya pangeran Raiden mencari keberadaan putri Manami di semua kerajaan bahkan sampai di semua benua. Dan kini sosok pangeran Raiden menjadi lebih dingin dari sebelumnya, " lanjut si A.
" Wah ternyata putri Manami sudah mendapatkan semua hati pangeran Raiden. Tapi apakah setelah kejadian ini kerajaan Anshin dan kerajaan Kofuku menjadi bermusuhan?, secara kan itu membuat kerajaan Anshin rugi besar," tanya si B.
"Astaga apa kau ini sudah pikun muda hah? , kan kamu sendiri yang bilang kalau kerajaan Anahin dan kerajaan Kofuku bersatu untuk mencari keberadaan putri Manami ya jadi mereka tidak memperenggang persahabatan lah, gimana sih kamu, " kesal si A.
"Ya maaf kan terlalu fokus, " ucap si B.
"Fokus ngapain?, " tanya si A.
"Fokus dengerin ocehan kamu hahahahahaha, " canda si B.
"Wah kurang ajar ya, mau ku beri pelajaran nggak nih, " kesal si A.
"Wah emak anak mu mau di bunuh sama temen sendiri tolong dong mak, " canda si B.
Oke kembali ke tempat Manami berada.
"Wah apa kau mendengar nya tuan?, sepertinya pangeran Raiden itu tidak memakan ucapannya sendiri. Ia tetap setia pada mu, " sanjung Aka.
"Dengan susah payah mereka mencari mu, apakah kau tak berniat untuk kembali tuan?, " ucap Tora membuka suara karena sedari tadi diem mulu.
"Hmmmm, mungkin sebentar lagi, " jawab acuh Manami.
"Heleh jahat benar jadi orang. Bisa ku duga dalam hati terdalam mu kau merasa sangat senang kan tuan karena tidak di hormati pangeran Raiden?, " ucap Wolf.
"Jangan banyak omong cepat habiskan makanannya lalu kita akan lanjut jalan jalannya, " ucap Manami merubah topik.
"Jangan mengubah topik. Kalau senang ya senang ngapa jangan di sembunyiin gitu, " ucap Aka.
"Aka benar tuan. Jadi lah orang yang jujur dan terbuka seperti Fuki ini yang sangat mempesona setiap wanita jika wajah tak tertutup cadar, ahhh sungguh indah, " ucap Fuki mulai lagi.
"Aku akan menjadi orang gak waras kalau bersikap seperti dirimu. Kau benar benar, sebenarnya kau salah makan obat apa sih Fuki?, obat lebay apa yak?, " ucap Manami tak habis pikir.
"Hahahaha oh tuan ku yang cantik jelita, aku tak pernah salah minum obat lagi pula aku juga adalah peria tamvan kuat yang tak mudah sakit kenapa aku harus minum obat, " ucap Fuki masih dengan gaya lebaynya.
"Hoekkkkkkkk, aku akui kalau aku memang gadis yang cantik jelita tapi kok saat kata kata itu kekuar dari mulut mu malah jadi jijik ya, " ucap Manami pura pura muntah.
"Njerrrrr, lagi gini aja masih bisa narsis. Udah yuk pergi jalan jalan lagi, " ajak Ryu.
"Oke deh, pelayan kami sudah selesai mau bayar, " ucap Manami memanggil seorang pelayan wanita yang ada di dekat nya.
"Ah ada apa pelanggan terhormat?, apakah anda mau pesan sesuatu lagi atau sudah selesai makan?, " tanya pelayan itu tunduk sopan dan hormat.
"Aku sudah selesai berapa semuanya?, " tanya Manami.
" sepuluh koin perak nona, " ucap pelayan itu sopan.
"Hah kenyang banget nih perut, mau apa nih kita sekarang?, " ucap Aka sanbil bersendawa di perjalanan.
"Nggak ada sopan santunnya nih anak satu, " ucap Yuki.
"Hahahahaha, cantiknya sendawa ku, memang orang yang tamvan pasti akan memiliki sendawa yang cantik juga, " ucap Fuki ikut bersendawa dengan gaya alay nya.
"Yang satu nggak ada akhlak dan yang satunya salah minum obat, punya temen kok gini amat, " ucap Wolf.
"Kau pun juga sama nggak ada akhlaknya kan Wolf, malah ngata ngatain orang, " ucap Yuki.
"Oh iya kah?, kalo gitu ya maap, " ucap santai Wolf sambil mencari harta karun.
"Njerrrrrπ," ucap Yuki.
"Jangan banyak bicara, mau kemana lagi nih kita?," tanya Ryu.
"Ke taman kerajaan Anshin, " jawab singkat Manami sambil terus berjalan.
"Hah?, mau ke taman nih?, dulu kita pernah mau main di sana tapi gara gara para semut sialan itu kita nggak jadi main. Hahaha itung itung ganti yang kemarin nih, " ucap Yuki kegirangan.
"Nggak ada yang benar nih otak, yang satu salah obat, yang duanya nggak ada akhlak, yang dua lain kayak gunung es dan yang terakhir kek anak kecil. Pada sengklek semua ya tu otak, " batin Manami.
Skip sesampainya di taman. πΌπ»πΊπΉπΈπ·πΌππ₯πππ΅π³π²π
Yuki dan yang lainnya sedang sibuk kesana kemari bermain di area taman sementara Manami duduk santai di sebuah kursi panjang sambil menikmati semilir angin di siang itu.
"Njerrrrr kok aku kayak emak emak yang sedang mengajak main anaknya sama kek gembala yang lagi jalan jalan ama kambing ya, nggak bener nih tu orang orang, " gumam Manami.
"Hai, nona kau sendirian di sini apakah kami boleh duduk di samping mu?, " tanya seseorang yang di lihat dari suaranya adalah perempuan.
"Rika?, Mika?, Shiera?, kenapa mereka bisa ada di sini tanpa pengawal?, oh aku tau mereka pasti sedang diam diam keuar dari istana, "batin Manami saat melihat orang yang sedang bicara dengan dirinya.
"Silakan ini adalah kursi umum jadi kalian tak perlu meminta ijin dari ku, " ucap Manami datar.
"Ah terimakasih, " ucap putri Mika yang kini sedang menyamar bersama putri Rika dan putri Shiera menjadi orang biasa.
"Ah anu kenapa kau sendirian?, apakah kau datang sendirian?, " tanya putri Mika canggung.
"Kalian sendiri kenapa memilih duduk dan tidak bermain saja?, " tanya balik Manami masih dengan nada dan ekspresi datar di dalam cadarnya.
"Hah?, hahahaha kita datang hanya bertiga dan kami juga tidak kenal semua orang di sini. Tadinya kami kemari untuk bermain bersama orang lain tetapi sepertinya itu lebih sulit dari yang aku bayangkan, " jawab putri Mika masih canggung.
"Tidak perlu mengenal siapa orang itu ketika kalian ingin bersenang senang yang terpenting adalah ketulusan hati untuk berteman dan bermain bersama bukan karena hal lainnya, " ucap Manami.
"Jika kalian mau, kalian bisa bermain bersama teman teman ku yang ada di sana itu, " ucap Manami sambil menunjuk ke arah Yuki dan kawan kawan sedang bermain.