
"Aku takut jika harus kehilangan orang yang sangat berharga dan ku sayangi lagi seperti dulu dan aku juga tidak mau jika orang lain kena masalah karena aku. Aku takut jika akan terjadi banyak masalah jika aku tetap hidup, aku takut melukai orang yang aku sayangi dan aku cintai, ucap Manami jujur.
"Kau bilang tadi ' lagi ', apakah kau pernah kehikangan orang yang kau sayangi dulu di kehidupan sebelumnya?, " tanya pangeran Raiden lagiš.
"Oh aku lupa kalau kau tidak tau akan hal itu karena dulu lupa menceritakan nya pada mu, " ucap Manami cengengesan.
"Jadi kau pernah kehilangan orang yang sangat kau sayangi?, siapa dia apakah dia adalah orang yang kau cintai?, atau kah dia adalah tunangan atau suami mu di tempat asal mu?, " tanya pangeran Raiden bertubi tubi ke pada Manami.
"Hadeh kau ini wartawan apa apa sih kok ya nanyanya kayak wartawan lagi meliput berita, " ucap Manami cukup kaget.
"Lu kira aku barang bekas apa?, aku tuh belum pernah jatuh cinta, pacaran, tunangan, dan menikah di dunia ku sebelumnya. Jadi bisa di bilang bahwa kau mendapatkan barang yang masih bersih tersegel kuat tanpa cacat bukan barang setelah pakai, " ucap Manami menyombongkan diri.
"Jadi aku adalah orang yang beruntung dong tapi jangan mengalihkan pembicaraan, cepat katakan siapa yang membuat mu merasa kehilangan jika bukan kekasih hati mu, " ucap pangeran Raiden sedikit ngegas.
"Woi selow dong bang jago. Bakal ku kasih tau kok, " ucap Manami menenangkan pangeran Raiden.
"Hah kau punya otak tapi tidak di pakai untuk berpikir. Tentu saja orang yang paling penting dan ku sayangi adalah keluarga alias orang tua ku. Aku dulu adalah seorang anak tunggal jadi aku bisa mendapat kan kasih sayang kedua orangtua ku dengan sempurna, "
"Namun saat aku baru berusia lima tahun ayah dan ibu ku di serang oleh beberapa orang berpakaian hitam yang menembaki ayah dan ibu ku. Karena melindungi ku kedua orangtua ku tiada membuat ku sangat frustrasi, apa lagi aku baru berusia lima tahun saat itu dan masih menjadi seorang gadis kecil polos, "
"Aku mengubur mayat kedua orangtua ku dengan layak namun seadanya dan kemudian pergi kembali ke rumah dengan berjalan kaki yang berjarak 10 km jauhnya, "
"Sambil berjalan aku bingung harus melakukan apa sampai sampai aku di temukan oleh sepasang suami istri yang tidak bisa memiliki seorang anak dari situ lah aku yang seorang gadis polos berubah menjadi gadis yang dingin di mata orang luar namun manja dan nakal di mata orang tua baru ku, " jelas Manami.
"Jadi orang yang kau maksud adalah orang tua mu?, maaf karena aku kau harus mengingat hal yang menyedihkan itu, " ucap pangeran Raiden menyesal.
"Aku tidak merasa sedih kok karena jika aku sedih maka mereka akan semakin berat meninggalkan dunia ini dan pergi ke dunia baru mereka tempat mereka bisa hidup dengan tenang, "
"Aku percaya walau pun mereka tak di sisi ku tetapi doa dan kasih sayang mereka tetap mereka berikan kepada ku dari dunia mereka saat ini, " ucap Manami sambil tersenyum manis.
"Oh iya tadi kau bilang maaf kan?, aku nggak salah dengar kan?, sang gunung everes meminta maaf kepada ku?, apa dunia mau kiamat?, aku nggak bu*eg kan nih?," ucap Manami tak percaya.
"Jangan membesar besarkan hal kecil seperti itu dan cepatlah pergi mandi, apa kau tidak mau makan malam?, " ucap pangeran Raiden.
"Hehehehe, ayy ayy kapten, " ucap Manami lalu berlari pergi ke kamar mandi.
"Huh, untung saja kits masih sibuk dengan laptop kalau tidak bakalan jadi nyamuk drama live nih kita, " ucap Yuki pada Shiro yang sekarang sedang sibuk nonton drakor di kamar Manami.
"Gob*ok,walau kita tidak sedang menonton mereka tapi kan suara mereka kedengeran gimana sih. Sama aja dong bikin kita jadi nyamuk. Kalau keadaan nya kayak gini sih enak di kacangin iya nggak?," ucal Shiro.
"Hehehehehe, kau benar juga Shiro, enak di kacangin dari pada jadi nyamuk. Dah ah nonton lagi, iklannya dah selesai nih, " ucap Yuki.
Setelah selesai makan malam mereka kembali ke kamar masing masing dan beristirahat untuk menyambut hari esok.
Beberapa hari pun berlalu. Sementara Manami, Shiro, dan Yuki bersantai santai menjalani kehidupan yang bagai tuan putri di istana kerajaan Anshin, benua Seinaru gempar dengan kabar dan kenyataan bahwa kerajaan Yuiso hangus rata dengan tanah dan tak ada sisa secuil pun.
Berita bahwa kerajaan itu di hancurkan oleh sebuah organisasi bernama nightmare mafis pun juga ikut menyebar karena mereka mampu menyingkirkan kerajaan itu hanya dalam waktu beberapa jam saja dengan anggota yang tidak lebih dari delapan puluhan. Di tambah lagi berita tentang organisasi nightmare mafia di pimpin oleh seorang perempuan membuat mereka tambah gempar lagi.
Bagaimana seorang perempuan bisa menjadi pemimpin organisasi yang sangat hebat dan kuat? Itulah yang di pikitkan semua orang tentang pemimpin tertinggi organisasi nightmare mafia yang hebat padahal orang yang di bicarakan hanyalah seorang gadis pemalas yang suka makan dan bermain dengan hewan peliharaan nya.
Kini sang pemimpin organisasi nightmare mafia di kenal dengan sebutan SHI NO MEGAMI.
Beberapa hari yang lalu flashback on....
percakapan antar anggota nightmare mafia.
"Woi kita beri julukan apa nih si Queen aku bingung, " kata si A.
"Hmmm, aku juga. Bagaimana kalau dewi nakal penyiksa," ucap si B.
"Nama itu kedengaran aneh bagaimana dengan dewi kematian. Secara Queen kan kalau bertarung kayak berubah jadi dewi kematian gitu, " ucap si C.
"Bener juga tuh. Hmmm, tapi masak ya cuma gitu. Kita pakek bahasa inggris gitu kek namanya biar lebih keren, " ucap si D.
"Jangan pakek bahasa inggris nanti samaan lagi ama novel novel yang lain. Kita beri aja julukan Shi no Megami kepada Queen, kan artinya sama cuma beda bahasa, " usul si C.
"Wah bagus juga ide lu. Kita pakek yang itu aja yok kita pergi bertugas, " ucap si A.
"Capcus, " ucap yang lainya.
Flashback off.
"Yuki, Shiro aku sangat bosan. Kita pergi berkunjung ke kerajaan Kofuku yuk, kalau nggak kita ke vila aja mabar sama yang lain atau main ps di sana, " ucap Manami kebosanan.
"Kayaknya kalau mau pergi dari sini harus ijin dulu deh sama si calon suami mu itu. Secara kau kan sudah pernah berjanji padanya kalau urusan mu juga adalah urusannya, " ucap Yuki berpendapat.
"Bagaimana kau bisa tau?, " kaget Manami.
"Ya iya lah, orang pembaca setia masak gini aja nggak tau, " ucap Yuki menyombongkan diri.
"Hah, terserah deh, " pasrah Manami.