
Esok hari kemudian.
Pagi hari yang cerah, Manami bangun dari tidurnya karena cahaya mentari pagi menyelinap masuk ke kamar. Dan yang menyambut nya ketika membuka matanya adalah.......
"Halo sayang ku, selamat pagi, kau sudah bangun ternyata, " ucap pangeran Raiden yang kini barada di samping Manami.
"Hah?, kenapa kau bisa ada di sini?, bukankah aku kemarin sedang mandi?, kenapa aku bisa tidur dengan mu?, kau tak melakukan apa pun kan pada tubuhku?, " ucap Manami kaget sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan yang di silangkan.
"Tenang saja, kemarin kau tertidur jadi aku membawa mu ke kediaman ku. Mulai sekarang kau harus tinggal di sini karena kaisar Dai juga sudah menyetujui nya, " ucap pangeran Raiden yang hanya di jawab oh oleh Manami karena dia tak terlalu memperlihatkan apa yang di katakan pangeran Raiden kepadanya.
"Oh gitu. Eh tunggu dulu, kok kayak ada yang aneh ya?, hmmmm. Oh iya, apa aku harus tinggal di tempat mu mulai sekarang?!, enggak aku nggak mau!, ngomong ngomong siapa yang memakaikan dan membawa ku keluar dari kamar mandi kemarin?, yang pasti bukan kamu kan?!, " ucap Manami setengah berteriak karena telanjur kaget.
"Kamu harus tinggal di sini tak boleh ada penolakan. Jika tentang yang kemarin, aku yang membawa mu keluar dari bak mandi, mengeringkan tubuh mu dan memakaikan pakaian milik mu, " ucap pangeran Raiden sambil duduk di tepi ranjang.
Manami yang mendengar pengakuan pangeran Raiden sangat kaget hingga ia bangun dari baringnya dan duduk di tengah tengah ranjang.
"Apa?!,itu bohong kan?, kita ini belum nikah. Kau berani berani nya melihat ku telanjang dan nenguntiti ku ketika mandi. Kau juga berani mencium ku tanpa alasan dan membuat ku tidur di ranjang yang sama, apa kau gila?!, " ucap kaget Manami setengah berteriak.
"Kenapa kau teriak teriak gitu sayang?,aku hanya membantu diri mu memang apa salahnya?, " ucap pangeran Raiden dengan wajah sok polosnya.
"Ih pokonya kamu tu salah besar dasar peria mesum. Yuki di mana kau cepat siapkan air mandi, aku mau mandi. Gara gara tidur bareng laki laki mesum itu tubuh ku menjadi penuh dengan bau nya!, " teriak Manami sambil menuruni ranjang.
"Ah iya nona, saya akan menyiapkanya, " ucap Yuki yang baru datang lalu kembali pergi untuk menyiapkan air mandi Manami.
"Hmmmm, jika gue tinggal di sini gue pasti nggak akan bebas. Gimana kalo gue sama Yuki kabur aja dan pergi ke istana mawar merah?, di sana aku bisa bebas. Bahkan aku bisa bermain motor trail sesuka hati di sana. Hehehe gitu aja kalik ya, " batin Manami tersenyum licik membuat pangeran Raiden bingung dan menduga duga bahwa gadis kecil nya itu berencana untuk kabur.
"Jangan pernah mencoba untuk kabur dari ku atau aku akan memakan mu dan akan mengurung mu dengan penjagaan yang sangat ketat agar kau tak bisa bergerak walau satu langkah pun, " bisik pangeran Raiden di telinga Manami lalu meniupnya membuat Manami geli sendiri.
Glek, dengan susah payah Manami menelan ludahnya kasar karena mendengar ancaman dari pangeran Raiden.
"nggak nggak nggak, aku nggak mau jadi burung dalam sangkar. Serem banget sih dia, huh mending aku nurut aja deh, nanti kalo ada kesempatan kabur aja, hehehe, " batin Manami sedikit bergidik ngeri karena sifat pangeran Raiden.
"Ba.. baiklah, aku tak akan kabur. Huh, sebuah keberuntungan aku mau menikah dengan mu dan sekarang kamu malah enak enakan nyuruh nyuruh aku. Huh dasar menyebalkan, " gerutu Manami.
"Hmmmm, sayang, kau sari tadi menyinggung tentang pernikahan, apa kau mau aku meminta kepada yang mulia kaisar untuk mempercepat tanggal pernikahan kita?, tapi seharusnya yang menikah duluan itu kakak putra mahkota bukan kita, tapi jika itu untuk mu aku pasti akan melakukannya kok, " ucap pangeran Raiden sambil memeluk Manami dari belakang.
"Hah?, ap.. apa maksud mu, ak... aku tidak mau. Hahahaha, aku pergi dulu ya, aku mau mandi, " ucap Manami gelagapan lalu pergi berlari ke luar kamar membuat pangeran Raiden tersenyum geli.
Beberapa saat kemudian....
"Anu, boleh nanya nggak, kamar mandinya di mana sih?, aku takut nyasar nih, " ucap Manami malu di depan pintu kamar pangeran Raiden membuat sang pangeran tertawa geli.
"Hei, jangan ketawa dong, aku nanya beneran tau, " ucap Manami kesal karena di tertawakan.
"Hahaha, kau hanya perlu berjalan dari sini ke ruangan yang ada di sebelah kamar ini, jika kau masih tidak paham haruskah aku mengantar mu?, " ucap pangeran Raiden menahan ketawa.
"Huh aku bisa jalan sendiri aku bukan anak kecil dan tolong jangan ketawa, emang apa sih yang lucu dari ku, orang aku lagi kesusahan juga, huh, " kesal Manami lalu pergi meninggalkan pangeran Raiden yang sedang tertawa.
Sementara itu kondisi Manami saat ini.
"Daebah, ini kamar mandi atau kolam renang sih, besar banget tempatnya. Pantesan aja jalannya panjang buanget. Hei Yuki,apa kau sudah selesai menyiapkannya?, " tanya Manami yang baru keluar dari kamar mandi.
"Sudah nona, anda hanya perlu berendam di dalam saja. Oh ya nona maksud ku Rin. Apa kau dan pangeran tadi malam melakukan hubungan ehem ehem, kau tau lah apa yang ku maksud, " ucap Yuki menggoda Manami.
" Apa yang kau bilang tadi Yuki?, apa kau ngelantur?, tentu saja tidak. Oh iya, ngomong ngomong aku belum memberikan mu hukuman karena menyetujui apa yang di katakan pangeran jelek itu kan?, nah sekarang kamu mau hukuman apa?, aku berbaik hati memberikan pilihan nih. Kamu mau ku hukum lari keliling lapangan yang ada di sini 100 kali tanpa berhenti, menembak seorang penjaga yang nggak di kenal, atau mau ku gantung kebalik dan ku tembaki pakek pistol?, tenang saja pelurunya hanya ada 1000 buah kok, " ucap Manami tersenyum devil.
"Huhuhuhu sudah ku duga aku akan mendapat hukuman yang berat. pistol 1000 peluru apa aku akan tahan?, menembak perasaan seorang penjaga yang nggak di kenal mag nggak pakek banyak tenaga tapi kok malah bikin merinding sendiri yak. Haih, jadi pilihan terakhir hanya lari keliling lapangan 100 kali ya, huh nggak papa lah, " batin Yuki berpikir.
"Hehehe, gue pilih yang lari lapangan 100 kali aja deh, " ucap Yuki cengengesan.
"Kalau begitu cepat pergi ke lapangan dan jalan kan hukuman mu. Setelah aku selesai mandi, kau juga harus sudah selesai jadi cepatlah pergi!, " perintah Manami.
"Huhuhu, kau sangat jahat Rin. Jika aku tak melakukan apa yang di katakan pangeran, aku akan kena hukum dia, jika di turuti malah aku di hukum oleh mu, waaa sialan, " ucap Yuki lalu berlari menuju lapangan di mana para perajurit kerajaan berlatih.
"Huh, mandi dulu ah, tubuh ku penuh dengan baunya si pangeran jelek itu, " gumam Manami lalu melepas semua pakaiannya dan masuk ke dalam bak mandi berukuran setara dengan satu kolam renang besar yang berisi air hangat dan bunga higanbanga.
Sementara itu di sisi lain.
"Kakak, di mana kakak ipar berada. Aku dengar kakak ipar akan tinggal di sini?, " tanya putri Shiera pada pangeran Raiden.
"Salam yang mulia pangeran.Hei Shiera, kau harus memberi hormat dulu, apa kau lupa kalau kau itu seorang putri?, " ucap putri Rika.
"Cih, kita kan keluarga, bersaudara lagi. Kenapa kita harus memberi hormat?, " ngambek putri Shiera.
"Shiera, dasar kau ini, " ucap putri Rika pasrah dengan sikap putri Shiera.
"Tak apa, aku juga tidak ingin terlalu di hormati. Kakak ipar kalian tadi sedang mandi, kalian bisa kembali lagi nanti setelah dia selesai mandi, " ucap pangeran Raiden sambil mengelus kepala putri Shiera dan putri Rika.
"Tapi kak, kami kan-, " ucapan putri Shiera terhenti karena Yuki yang melewati mereka dengan berlari sangat cepat.
Merasa telah melewati anggota keluarga kerajaan, Yuki kembali ke tempat pangeran Raiden dan kedua putri lalu membukuk memberi salam.
"Hamba memberi salam kepada yang mulia pangeran dan yang mulia putri, kalau begitu saya pamit undur diri dulu yang mulia, " ucal Yuki lalu kembali berlari.
"Tunggu Yuki, kemana kau akan pergi dengan tergesa gesa begitu?, " tanya pangeran Raiden.
"Menjawab yang mulia, hamba harus melaksanakan hukuman dari ratu iblis atau saya akan kena hukuman yang lebih parah, " ucap Yuki sambil berlari.
"Yang di maksud ratu iblis itu kakak ipar ya?, " tanya putri Shiera.
"Mungkin iya, " ucap putri Rika.