
Manami berjongkok mensejajarkan dirinya dengan si ketua lalu berkata, " mengampuni mu?, setelah kau melempar tatapan genit mu kepada ku dan meremehkan suami ku?, apa kau pantas? ".
" Lihat lah diri mu ini, penuh lemak dan pendek seperti bab1, berwajah jelek, berhati busuk, suka bermain wanita, dan bermulut kotor. Kau pikir hewan rendahan seperti mu pantas di ampuni dan berdiri di samping ku?, kau bermimpi terlalu jauh, " tambahnya.
Ia kemudian kembali berdiri dan melihat pangeran Raiden yang sudah memegang pedang siap untuk di ayunkan. Manami tersenyum dan kembali berkata
"Oh ngomong ngomong paman, orang yang kau remehkan tadi adalah pangeran Raiden yang terkenal itu loh, apa kau pikir dia tak bisa menghabisi keroco keroco seperti kalian?, "
Mata si ketua itu terbuka lebat mendapati identitas lelaki tampan di depannya. Kini pikirannya tiba tiba menjernih. Dia berucap.
"Ka... Kau adalah putri Manami yang tidak berguna itu?, " ucapnya tak percaya.
o0o
Manami tersenyum.
"Kalau iya memang kenapa?, " tanyanya di sertai senyum misterius.
Melihat senyuman itu, sang ketua bergidik ngeri entah karna apa dan segera menjawab.
"Tidak apa apa, tidak apa apa, saya yang rendah ini hanya merasa bahwa penyamaran yang mulia begitu sempurna sampai sampai tak ada yang pernah mengetahuinya, " ucap sang ketua menjilat.
"Cukup sudah dengan omong kosong mu itu!, " tiba tiba suara Manami menjadi teramat dingin.
"Kau sudah ku beri banyak waktu untuk berbicara, karna itu sekarang tolong matilah di tangan ku, " ucapnya dengan kejam sembari mengacungkan pedang ke depan wajah sang ketua.
Si ketua menggertakkan gini merasa putus asa. Dia yakin 100 persen bahwa jika ia memohon kepada dua orang yang ada di depannya dia tetap tidak akan di ampuni. Jadi satu satunya jalan baginya adalah berjuang sampai mati.
"Kau pikir aku akan menuruti permintaan mu untuk mati! , sialan kau dasar wanita jalan9!, kau wanita tak tau malu, seorang penipu!, binatang busuk!, " umpat sang ketua sembari mengarahkan pedang ke pada Manami dengan membabi buta.
Manami masih tenang dan melihat gerak gerik lawannya yang begitu sembrono dan terlalu ngawur itu, beda halnya dengan pangeran Raiden yang mukanya sudah menggelap, mata melotot ke arah si ketua.
" Kau ini mau bermain pedang pedangan atau mau bertarung penuh darah dengan ku?, bagaimana bisa kau mengayunkan pedangmu seperti itu?, apa kau benar benar seorang ketua?, bahkan anggota terluar ku tak selemah dirimu, " Manami terus memanas manasi si ketua hingga kepalanya mendidih karna marah.
"Diam kau dasar wanita ja-!, " ucapan si ketua belum selesai ketika tamparan yang sangat keras mendarat di wajah lemak babinya.
"Maaf aku tak tahan melihatnya terus menjelek jelekkan dirimu, " setelah menampar sangat keras sang dalang di balik tamparan itu yang tak lain dan tak bukan adalah pangeran Raiden meminta maaf.
Sungguh kesabarannya sangat minim jika ada yang menjelek jelek kan si kekasih tercintanya itu.
Setelah kembali sadar Manami pun berucap.
"Ti. Tidak apa apa, dia pantas mendapatkannya, " ujarnya.
"Uhuk uhuk uhuk, kau! Kau curang!, bagaimana kau bisa menyerang ku diam diam begitu, " protes si ketua.
"Jika kau tak menjelek jelekkan kekasih ku kau pikir aku akan menampar mu?, kau harus tau diri satu tamparan itu hukuman yanh sangat ringan bagi ku, dan lagi tak ada aturan dalam pertarungan ini lalu kenapa aku harus menuruti mu?, " ucap pangeran Raiden dengan muka datar sedingin es.
"Kau! Kau! Kau!, " si ketua ingin membacot lagi tapi kata kata Manami membuat dirinya sangat ketakutan hingga tak berusara.
"Bacot sekali kau ini, Dari pada kau berteriak teriak tak jelas seperti itu, lebih baik kau menangis kesakitan saja untuk ku, " ucap Manami.
"Biar tambah seru bagaimana kalau aku menggunakan sesuatu yang sangat kejam hemm?, " lanjutnya.
Tanpa aba aba, tiba tiba rantai rantai berduri melilit tubuh si ketua dengan sangat erat membuat sang empu merintih kesakitan.
Tidak sampai di situ, Manami yang sedang dalam mood yang bagus melayangkan pedangnya untuk merobek dan memotong kedua kaki dan kedua tangan sang ketua dengan begitu berutal.
Seketika raungan kesakitan terdengar dari mulut si ketua. Dengan di iringi tangisan penuh air mata, si ketua berteriak, meronta kesakitan, dan memohon untuk hidup namun apalah daya, rantai itu mengikat tubuhnya dengan erat hingga membuatnya tak bisa melepaskan diri. Jikalau memang dia bisa melepaskan diri dari rantai itu lalu apa yang selanjutnya harus dia lakukan?, kedua kaki dan tangannya sudah tidak ada, lalu bagaimana bisa dia melarikan diri?
Saat si ketua asik dengan pikirannya sendiri tiba tiba suara Manami kembali terdengar.
"Oh kau masih bisa bertahan?, lumayan juga padahal kau terlihat lemah. Kalau begitu jika aku menghukum mu hukuman lingchi , menurut mu apa kau bisa bertahan?, " tanya Manami.
T/N:
Ling chi : 'Hukuman mati dengan ribuan sayatan'. Sebuah bentuk praktik hukuman berat dari dinasti Tang hingga tahun terakhir dinasti ( sekitar 1900).
Mata si ketua terbelalak lebar mendengar kata kata Manami.
Bagaimana tidak?
Walau dia tau dia akan mati dia tak pernah berpikir bahwa dia akan mati dengan hukuman ling chi. Perlu di ketahui bahwa hukuman ling chi itu merupakan metode yang sangat kejam oleh karna itu nama hukuman ling chi sangat terkenal di penjuru dunia.
Apa lagi jika yang melakukan hukuman itu adalah sang Queen, lalu apa yang akan terjadi dengan tubuhnya nanti?