
"Tidak yang paling tampan lah yang harusnya ikut, " ujar Fuki sembari mengibaskan rambutnya.
Aka dan Wolf : Cihhh narsisnya tingkat dewa (¬_¬)
"Jangan bertengkar, Tora kau ikut aku dan Ryu tolong awasi mereka bertiga untuk ku, " ujar Manami lelah karena melihat perdebatan mereka.
"Baik Queen, " patuh Tora dan Ryu.
Aka, Fuki, dan Wolf : Cuih curang seharusnya aku yang pergi ヽ(`⌒´)ノ
"Kalian keberatan?, " tanya Manami sembari menatap tajam ketiganya.
"Ah.... ahahahahaha tentu saja tidak, " ucap ketiganya ragu.
"Tentu saja keberatan kan?, " batin mereka.
Memang Laen neng lhati laen maneh neng ati.
o0o
Mereka pun bergegas pergi ke tempat perkumpulan. Membahas sekali lagi rencana yang akan di lakukan dan setelah selesai langsung berangkat.
Dan sejak saat itu pula lah pangeran Raiden melihat wajah dingin dengan sedikit seringai menempel di wajah Manami. Namun entah kenapa dia malah merasa itu lucu dan bukan mengerikan.
Berbeda sekali dengan pendapat orang lain yang menganggap itu menyeramkan. Memang kalai sudah bucin itu semua dapat terjadi.
"Hei bisakah kalian cepat sedikit?, jika tidak kita akan sampai di sana pagi nanti!, kau ingin mereka tau keberadaan kita dan menghabisi kita hah?!, " terdengar suara membentak dan memarahi dari depan arah kelompok Manami berjalan.
Bisa di pastikan merekalah yang akan menjadi mangsa Manami dan yang lainnya hari ini.
"Laksanakan rencana, " isyarat Manami pada para bawahannya.
Mereka mengangguk patuh tanda mengerti.
Mereka pun mulai tersebar menjadi beberapa kelompok sedangkan Manami, dan pangeran Raiden masih setia diam di tempat walau beberapa puluh orang mulai datang dan jumlah itu mulai bertambah.
Si komandan melihat ada sepasang pasangan indah bak di pahat langsung dari tangan dewa. Yang satu cantik jelita dan yang satu sangat tampan.
Ia mengernyit heran karna bingung, kenapa mereka berdua ada di sini?
Namun ketika ia melihat lagi kecantikan Manami dari atas sampai bawah, pikiran liarnya mulai menguasai. Air liur mulai menetes dari sudut mulutnya, tatapannya seakan ingin melahap Manami kapan pun ia mau.
"Gadis cantik kau pasti sedang tersesat kan, ayo ikut kakak ini, kakak ini akan mengantar mu pergi ( pergi ke pada ku hehehehehe), " ucap si ketua dengan cabu1nya.
Melihat itu wajah pangeran Raiden menggelap. Ia berjalan maju menghalangi si ketua untuk menatap cabu1 istri tercintanya.
"Dia tidak tersesat, tak butuh bantuan mu, hanya aku, " ucapnya dingin membuat bulu kuduk si ketua berdiri.
Walau si ketua takut akan tatapan pangeran Raiden, ia masih belum menyerah karna paras Manami yang begitu cantik sudah membutakan matanya. Dia lalu mulai menuding pangeran Raiden.
"Kau!, kau pasti menculik nona itu bukan?, kau sangat jahat!, kembalikan nona itu pada ku atau aku akan membunuh mu!, " ancamnya.
Pangeran Raiden menyeringai dan berucap, " kau menuduhku?, tak tau malu. Mengembalikannya pada mu?, atas hak apa aku harus melakukannya?. Dan yang terakhir, kualifikasi apa yang kau punya hingga menganggap kau dapat menang melawan ku?," dengan angkuh dan sombong.
"Lihatlah kau begitu sombong!, kalau bukan penculik memangnya apa lagi!?," ucap si ketua sembari menudingnya lagi.
Pangeran Raiden tak tinggal diam begitu saja. Ia menahan pinggang Manami dengan satu tangannya sembari teesenyum.
Manami pun menatap si ketua dan berkata, " kau menginginkan ku?, tapi aku sudah bersuami dan dia adalah suami ku. Apa kau bisa menang melawan suami ku?, " dengan nada remeh dan terus menempel di tubuh pangeran Raiden.
Si ketua pun kaget dan marah. Ia bertekad akan membawa Manami di bawah kakinya dan membuatnya tunduk kepadanya.
Dengan sangat lantang dan percaya diri si ketua pun berkata, "Hahahahahaha apa kalian berdua tidak melihat 15000 pasukan yang ku bawa ini?, bagaimana bisa suami lemah mu itu?!," dengan sombong dan yakin akan kemenangan.
Manami kembali tersenyum pada ketua itu. Bukan lagi senyum menyeringai namun hanya seutas senyum meremehkan.
"15000 pasukan?, apa kau tidak bisa menghitung dengan benar?, atau mata mu rabun tertelan usia?, " tanya Manami di sertai kekehan.
"Apa maksud mu hah?, dasar wanita jalan9!, " marah si ketua sampai kepalanya terlihat akan meledak kapan saja.
"Paman lihatlah ke belakang mu dan hitunglah dengan benar. Pasukan yang kau bawa itu hanya berjumlah 600 bagaimana bisa itu menjadi 15000?,ah aku tau, kau pasti juga menghitung ratusan mayat itu sebagai pasukan mu kan?, " ucap Manami tersenyum mengerikan sembari nenunjuk ke arah depan.
Secara refleks si ketua pun menengok ke arah belakang di ikuti para pasukan yang merasa penasaran apa yang ada di belakang sana.
Setelah mereka berbalik, tiba tiba tubuh mereka bergetar hebat, kaki mereka serasa lemas kehilangan tenaga namun mereka memaksakan diri untuk tetap berdiri kecuali si ketua yang memang sedang menaiki sebuah kuda.
Bagaimana bisa mereka tidak takut sampai kaki mereka lemas dan tubuh mereka bergetar?, jika yang mereka lihat adalah lautan mayat dan beberapa orang yang berdiri di atas mayat mayat itu sembari memegang senjata masing masing yang sudah berlumuran darah.
Mereka pun menengok ke arah kanan dan kiri secara bergantian dan sadar bawa mereka telah di kepung.
Kelompok kecil seperti mereka dapat mengalahkan lebih dari separuh pasukan mereka tanpa jejak dan suara bukankah hal yang sangat mudah untuk di lakukan. Apa lagi ini belum lewat lima belas menit sejak pemimpin kelompok mereka berbicara dengan Manami dan pangeran Raiden.
Melihat tubuh si ketua yang bergetar hebat karna takut Manami tersenyum senang.
"Paman apa kau takut sekarang?, diamana keberanian dan kesombongan mu yang sangat besar tadi?, " Manami.
Dengan bibir yang bergetar si ketua tadi malah balik bertanya, " si...... siapa kau?, siapa kalian semua?".
"Apa maksud mu paman?, tentu saja aku ini Queen dari Nightmare, bukankah kau ingin mengacaukan tempat ku?, kalau begitu kenapa aku tidak berbaik hati untuk membunuh kalian semua saja, " ucap Manami sok polos.
"Ap... Apa?, ja...... Jadi kau adalah Queen?, tu.... Tunggu yang mulia Queen saya minta maaf saya mengaku salah tolong maafkan saya, sa... Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi, " dengan tergagap si ketua itu melompat turun dari kuda dan langsung bersujud.
Manami dan pangeran Raiden mendekat ke arah si ketua yang sedang bersujud bersama sama.
Mendengar langkah kaki mendekat si ketua itu mengangkat kepalanya takut akan di bunuh dan bersiap untuk mengelak.
Manami berjongkok mensejajarkan dirinya dengan si ketua lalu berkata, " mengampuni mu?, setelah kau melempar tatapan genit mu kepada ku dan meremehkan suami ku?, apa kau pantas? ".
" Lihat lah diri mu ini, penuh lemak dan pendek seperti bab1, berwajah jelek, berhati busuk, suka bermain wanita, dan bermulut kotor. Kau pikir hewan rendahan seperti mu pantas di ampuni dan berdiri di samping ku?, kau bermimpi terlalu jauh, " tambahnya.
Ia kemudian kembali berdiri dan melihat pangeran Raiden yang sudah memegang pedang siap untuk di ayunkan. Manami tersenyum dan kembali berkata
"Oh ngomong ngomong paman, orang yang kau remehkan tadi adalah pangeran Raiden yang terkenal itu loh, apa kau pikir dia tak bisa menghabisi keroco keroco seperti kalian?, "
Mata si ketua itu terbuka lebat mendapati identitas lelaki tampan di depannya. Kini pikirannya tiba tiba menjernih. Dia berucap.
"Ka... Kau adalah putri Manami yang tidak berguna itu?, " ucapnya tak percaya.