
"Hmmm, ini adalah permintaan pertama yang kau minta dari ku. Jika aku bisa melakukannya pasti akan aku lakukan. Tetapi walau bagaimanapun kita harus meminta persetujuan dari pihak kedua dulu. Jadi bagaimana menurut mu kaisar Dai?, " tanya kaisar Jun.
"Itu adalah sebuah kehormatan bagi putri hamba untuk menjadi permaisuri masa depan pangeran kedua, Jadi kami tidak akan menolaknya, " ucap kaisar Dai tanpa meminta persetujuan dari Manami.
"Aaaaaaa, ayah kenapa kau tidak bertanya pada ku dulu baru menjawabnya, huhuhu ayah kau jahat sekali sih, " keluh Manami dalam batinnya.
"Kalau kaisar Dai sudah bilang begitu maka aku kaisar Jun dari kekaisaran Anshin meresmikan pertunangan antara putri Manami dan pangeran Raiden," teriak kaisar Jun membuat semua orang yang ada di sana bertepuk tangan dengan meriah.
Kaisar Jun, permaisuri Mayumi dan kedua selir lainya sangat senang karena Manami akan menjadi menantu mereka, begitu pula dengan para putri, pangeran ketiga, keempat dan terutama pangeran kedua.
Berbeda dengan putri Mika dan pangeran Daiki yang sangat marah hingga muka mereka menghitam karena Manami.
"Aku pasti akan mendapatkan mu kembali, putri Manami, " batin pangeran Daiki.
"Huhuhu, ayah kau jahat sekali, kenapa tadi kau tidak meminta pendapat ku dulu, " protes Manami kepada kaisar Dai.
"Ah, maafkan ayah ya, tadi ayah kira kau akan sangat senang bisa menikah dengan pangeran kedua, jadi ayah tidak meminta persetujuan mu dulu, " bela kaisar Dai.
"lh, ayah dia itu orang yang aneh, mana mau aku menikah dengannya, ayah apa kau bisa membatalkan pertunangan ini?," tanya Manami menggunakan mata anak anjingnya.
"Muka mu itu tidak akan mempan kepada ayah, lagian pertunangan ini baru saja di buat mana mungkin bisa langsung di batalkan kecuali yang memintanya adalah pangeran kedua, " jawab kaisar Dai.
"Habislah, aku......., " ucap Manami seakan tak bernyawa.
Sedangkan pangeran Raiden yang melihat tingkah Manami pun hanya bisa tersenyum dan berkata, " kau sungguh manis jika begitu, " dengan lirih.
Skippp~~~
Pesta di gelar hingga selesai. Semua tamu kembali ke rumah mereka masing masing kecuali keluarga kerajaan Kofuku yang sedang berbincang bincang dengan anggota keluarga kerajaan Anshin.
Namun Manami sangat malas mendengarkan obrolan para orang tua jadi dia melihat pemandangan taman dari teras tempat keluarganya sedang mengobrol sambil memakan brownis coklat untuk memperbaiki suasana hatinya.
Saat Manami hendak memakan potongan terakhir brownis yang tersisa, tiba tiba ada yang merebutnya dari belakang dan memakannya. ltu membuat Manami sangat marah.
la dengan segera berbalik badan menghadap orang itu sambil berteriak.
"Hei, itu brownis ku, kenapa kau memakannya!," teriak Manami.
"Hmmm, jangan teriak teriak dong gadis kecil ku," ucap orang itu yang tak lain adalah pangeran Raiden.
"Eh, itu kau?, kenapa kau di sini?, aku marah pada mu, " ucap Manami dengan pipi yang mengembung seperti ikan buntal membuat pangeran Raiden gemas.
"Hmmm, kenapa kau marah pada ku gadis kecil ku?, " ucap pangeran Raiden sambil merangkul pinggang Manami.
"Bukankah kau bilang jika aku mengatakan yang sebenarnya kau tidak akan meminta bertunangan dengan ku?, kenapa kau mengingkari janji mu, " ucap Manami yang sedang menahan rasa malu karena di rangkul oleh Raiden.
"Aduh, ni laki laki aneh banget sih, maen peluk peluk gue aja, emang gue guling gitu di peluk peluk. Sumpah deh ah, tapi dia guanteng banget sih huhuhu, " batin Manami.
"Lalu kenapa kau ingin menikah dengan ku?, bukankah ada wanita lain yang lebih cantik dari ku dan lebih mencintai mu dari pada aku?, " ucap Manami yang pipinya sudah memerah karena malu.
"ltu karena mereka hanya menginginkan harta tidak seperti mu, bukahkah kau hanya ingin punya suami yang tulus mencintai mu dari dalam hati bukan dari penampilan luarnya saja?, "ucap pangeran Raiden.
"Iya, lalu kenapa?," ucap Manami sambil memandangi wajah pangeran Raiden.
Pangeran Raiden tersenyum lalu berkata, " karena aku adalah orang itu dan aku adalah calon suami mu satu satunya di dunia, " ucapnya yang kemudian mencium bibir seksi milik Manami membuat sang empunya terkejut dan terdiam untuk sebentar.
Setelah beberapa saat, pangeran Raiden pun mengakhiri ciumannya meninggalkan Manami yang masih terdiam.
Pangeran Raiden yang bingung akan sikap Manami pun bertanya, " ada apa dengan mu gadis kecil ku, " tanyanya.
"Apa yang kau lakukan?!, kau sudah mengambil ciuman pertama ku di dua kehidupan, dasar bocah sialan, ayahanda, ibunda, ibunda selir, kakak, adik ayo kita pergi dari sini, sudah tidak ada gunanya aku makan coklat untuk menenangkan hati ku, " teriak Manami sambil menjitak kepala pangeran Raiden kemudian berjalan pergi meninggalkanya yang kemudian di susul oleh semua anggota keluarga Manami yang sedari tadi mengintip pembicaraan mereka bersama keluarga kaisar Jun.
"Kau sangat imut ketika marah, gadis kecil ku, " ucap pangeran Raiden sambil tersenyum.
"Wah, putraku / kakak ternyata bisa merayu seorang wanita, " ucap kaisar Jun dan yang lainnya yang masih setia mengintip di balik pintu setelah keluarga kaisar Dai pergi.
"Ayahanda, ibunda, dan kalian semua, kapan kalian akan keluar dari sana?, "ucap pangeran Raiden membuat mereka semua kaget.
Mereka bergegas menghampiri pangeran Raiden yang sedang memandangi kepergian gadis kecilnya itu.
"Hei, putra ku kenapa kau membuat menantu ku marah seperti itu?, " tanya permaisuri Mayumi yang di dukung oleh yang lain.
"Bukankah kalian merasa dia terlihat lucu ketika sedang marah seperti itu?, " ucap pangeran Raiden yang memdapat anggukan kepala dari mereka.
"Eheheh, kalian sadar tidak, nama menantu ku dan nama ku itu mirip banget loh, coba bandingin Manami dan Minami, mirip banget kan, "ucap selir Minami.
"Adik benar, mungkin mereka memang sudah di takdirkan untuk bersama, " ucap permaisuri Mayumi.
"Hehehehehe, terlebih lagi sepertinya hubungan mereka berdua sangat menarik, "ucap mereka bersamaan.
Pangeran Raiden yang mendengarkan mereka hanya acuh tak acuh dan kembali ke kediamannya.
Sementara itu di sebuah kereta kerajaan yang mewah, terlihat seorang gadis cantik yang sedang marah marah.
Siapa lagi kalau bukan si Manami. Saat di perjalanan ia selalu marah marah bahkan sampai teriak teriak membuat keluarganya hanya bisa diam tanpa berkomentar karena takut akan kena amuk olehnya.
"Aaaaaaaaa,OMG kenapa bisa ciuman pertama ku di rebut oleh orang yang aneh seperti dia!!," teriak Manami yang seperti suara gunung berapi yang sedang meletus membuat semua anggota keluarganya tutup mulut dan menyumpal telinga mereka agar aman.