
Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam dan malam berganti pagi.
Kini Manami telah betsiap untuk pulang ke istana kerajaan Kofuku bersama dengan Yuki.
la menggunakan hanfu putih tanpa riasan karena dia itu memang sudah sangat cantik, sedangkan Yuki menggunakan hanfu sederhana berwarna merah muda.
Sebelum pulang, ia ingin berpamitan dengan para bawahannya, jadi ia pergi ke lapangan pelatihan bersama Yuki.
Saat mereka sampai di sana, terlihatlah orang orang yang sedang berlatih bela diri dan berlatih senjata wajib khusus organisasi. Mereka semua dengan cepat menghentikan aktivitas mereka dan lalu menunduk hormat kepada Manami.
Manami yang melihat kecepatan belajar mereka yang sangat tinggi merasa sangat senang.
"Kerja bagus, kalian tidak pernah mengecewakan ku. Setelah kalian bisa menguasai senjata itu, jangan biarkan ia lepas dari tubuh mu. Dan setelah kalian menguasai semua yang di ajarkan oleh ketua kalian, kalian bebas memilih senjata pendukung dari gudang senjata sama seperti ketua tim kalian dulu. Jika kalian tidak tau cara menggunakannya maka coba tanyakan lah kepada para ketua. Jangan pernah malu untuk bertanya, lagi pula kita adalah keluarga. Keluarga kan harus saling membantu, " ucap Manami tegas yang di akhiri dengan senyum manis membuat pipi semua orang memerah malu.
Pasalnya mereka tidak pernah melihat Queen mereka tersenyum manis seperti itu.
"Ada apa dengan kalian semua?, " tanya polos Manami saat melihat tingkah mereka.
"Nona itu karena dirimu, lebih tepatnya senyuman manis yang ada di wajah mu tadi Rin" bisik Yuki.
"Oh begitu. Ternyata senyum ku ini sangat menggoda ya, huh aku kan emang sangat cantik. Mana ada orang yang tidak tertarik padaku setelah melihat senyum manis ku, " ucap bangga Manami.
"Nona kau terlalu narsis, " ucap semua orang.
Note.
Mereka semua udah jadi sedikit gaul saat sudah beberapa hari tinggal di sana bersama Manami, jadi itu bisa di maklum i jika mereka tau kata narsis.
"Emang kenapa kalau aku narsis?, aku kan emang cantik, " ucap Manami sedikit sombong.
"Terserah nona aja deh, " ucap semua orang pasrah.
"Oh iya, aku akan pergi hari ini jadi kalian jaga diri baik baik dan jangan pernah kangen sama aku ya, aku bakal sering sering dateng kok, " ucap Manami terlalu pd.
"Nona anda terlalu pd, " ucap semua orang.
"Yeeee, biarin dong. Oh iya satu lagi, Yuki akan menjadi asisten ku sekaligus menjadi wakil ketua ku. lngat, jangan pernah malas berlatih, jangan pakai ken-," belum juga Manami menyelesaikan kalimatnya, ia memdengar suara dari ayahnya di dalam pikirannya.
Dengan sigap ia menggandeng tangan Yuki dan menyuruh semua binatangnya untuk masuk ke ruang dimensi miliknya.
"Kalian ingat untuk menjaga diri kalian baik baik ya!, " teriak Manami yang sudah terseret oleh tali transparan ke arah istana kerajaan Kofuku.
Semua orang tidak tahan untuk tidak tertawa melihat tingkah Manami yang menurut mereka kocak itu. Sambil tertawa terbahak bahak, mereka melambaikan tangan mereka.
Hingga mereka tidak lagi melihat Manami, mereka melanjutkan lagi latihan mereka dari yang menguasai jurus dan senjata, membuat racun dan penawarnya, juga belajar ilmu obat obatan.
Sementara itu, di sisi lain..............
Suara pelukan dari orang orang kepada Manami membuatnya sedikit kesal.
"Hei Manami, kamu ini pergi kemana saja sih?, bikin aku khawatir tau nggak, " ucap pangeran Kazuki.
"Kakak apakah ada oleh oleh?, " tanya polos putri Akane.
"Huhuhu, kau sangat membuat kami khawatir nak, kalau mau pergi selama ini tolong bilang dulu dong mau kemana, " ucap kaisar Dai, permaisuri dan selir Fukiko.
"Aku hanya pergi seminggu aja kalian udah bersikap kayak selama satu tahun aku perginya, gimana kalau lebih lama lagi nanti, "sindir Manami.
"Lagi pula jangan panggil aku secara mendadak gitu dong, kalian tau tadi Yuki hampir tertinggal karena masalah itu, "ucap Manami sambil menunjuk ke arah Yuki yang berada di dekat tempat mereka berpelukan.
"Ngomong ngomong, kalian semua bisa lepasin aku nggak sih, aku tuh masih lelah loh, " suara cempreng milik Manami membuat semuanya melepaskan pelukan mereka.
"Maaf, " ucap mereka sambil menunduk seperti seekor anjing yang berbuat salah kepada majikannya.
"Huh, sudahlah aku tidak terlalu mempersalahkannya. Kalau begitu sekarang aku akan pergi ke kamar untuk beristirahat du-," belum sempat Manami menyelesaikan kalimatnya lagi, ia di peluk oleh seseorang dari belakang.
"lu, " lanjut kalimat Manami.
"Kenapa kau pergi tidak bilang bilang dulu padaku?, apa kau tau, aku selalu mengkhawatirkan mu bahkan menyuruh orang untuk pergi mencari mu tapi tidak ada hasilnya?, " ucap orang itu yang tidak lain dan tak bukan adalah pangeran Raiden.
"Bisakah kalian tidak lagi memotong ucapan ku?, lagi pula aku ini pergi untuk bersenang senang bukan pergi karena di culik, kenapa kau harus menyuruh orang untuk mencariku, " ucap Manami dengan nada malas.
"Tentu saja karena aku takut akan terjadi sesuatu kepada mu, " ucap pangeran Raiden sambil kembali memeluk Manami dengan sangat erat dari depan.
"Baiklah baiklah, aku mengaku salah, aku minta maaf ya, " ucap Manami pasrah sambil sambil mengelus lembut punggung pangeran Raiden.
"Bisakah kalian tidak pamer kemesraan di depan kami?, hati kami seperti di sayat pisau ketika melihatnya, " batin kaisar Dai, permaisuri, selir Fukiko, pangeran Kazuki dan putri Akane sambil menangis di dalam hati.
"Rin dan pangeran Raiden memanglah pasangan yang sangat serasi. Tidak hanya dari segi penampilan tapi juga dari segi kekuatan. Hubungan mereka yang sangat aneh tapi lucu itu membuatnya menjadi ciri khas mereka, " batin Yuki sambil tersenyum.
"Tunggu, kau datang ke sini pasti ada maunya kan Raiden?, " tanya Manami sambil melepaskan pelukannya.
"Kau benar, aku datang ke sini karena ingin menyampaikan sesuatu kepadamu, " ucap pangeran Raiden lembut.
"Apa itu?, cepatlah katakan, aku ingin segera beristirahat, aku sudah sangat kelelahan dari kemarin harus pidato mulu, " ucap Manami malas sambil berkacak pinggang.
"Kau sungguh orang yang sangat tidak sabaran gadis kecil ku, " ucap pangeran Raiden.
"Cepat katakan saja, kalo nggak aku pergi nih," ucap Manami masih dengan nada malas.
"Baiklah, baiklah akan aku katakan, " ucap pangeran Raiden pasrah.