
Waktu berlalu, Manami sedang merebahkan dirinya di pinggir ranjang, membaca sebuah buku yang entah apa ketika Pangeran Raiden keluar dari kamar mandi menggunakan jubah tipis berwarna putih yang entah kenapa menambah ketampanan tersendiri di dalam dirinya. Setidaknya itulah yang di pikirkan Manami ketika pemandangan itu ia lihat.
Pangeran Raiden berjalan dengan santai ke arah Manami dan bertanya, " Apa yang sedang kau baca? "
Manami segera menutup buku yang ia baca, meletakkannya di meja dekat tempat tidur dan dengan santai juga menjawab, "Tidak ada. "
"Benarkah? "
"Untuk apa kau bertanya?! naik ke tempat tidur dan tidur! " tukas Manami dengan agak kesal. Entah kenapa setelah mengungkapkan perasaannya sendiri kepada suami tercintanya ini, dia merasa sedikit aneh dan canggung ketika di tinggal berdua dengannya. Seperti merasakan ada bahaya yang akan menimpanya jika dia hanya bersama laki laki yang sulit di tangani ini.
Kata kata ini, seharuanya tidak untuk di katakan. Orang orang bilang, kata kata adalah sebuah doa.
Pangeran Raiden tersenyum memandang Manami dengan posturnya yang sangat menggoda. Tidak bisa menahan diri, dia segera menahan kedua tangan Manami di atas ranjang. Mengunci tubuhnya agar tidak bisa bergerak dan lari dari dirinya, dan dengan nada keberatan berkata, " Tapi aku masih ingin melakukan hal lain. "
Menghadapi keadaan yang belum pernah di alaminya, Manami seolah kehilangan otaknya yang pintar -menjadi b0doh dalam sekejap -.
Dengan panik dia bertanya, " Kau.... apa yang kau lakukan? "
Masih dengan senyuman di wajahnya yang tampan, Pangeran Raiden memotong jarak antara wajahnya dan wajah Manami. " Menurut mu apa yang akan aku lakukan?" goda pangeran Raiden.
Melihat suasana abnormal di tempat ini, Manami segera tahu apa yang akan di lakukan laki laki yang menekannya di atas ranjang. Memang adalah hal yang lumrah untuk suami istri tetapi Manami merasa canggung ketika memikirkan suatu hari dia juga akan melakukannya.
Belum juga sempat Manami menyampaikan rasa keberatan yang ada di ujung lindahnya, sesuatu yang lembut dan sedikit lembab menyumbat bibirnya. Ia membuka matanya lebar lebar karena kaget, hingga bisa melihat Pangeran Raiden yang sedang menciumnya. Matanya terpejam membuat Manami berani untuk melihatnya lebih lama lagi.
Namun itu tidak berlangsung lama ketika benda yang hangat dan lembab mencoba menerobos pertahanan mulut dan giginya. Dengan refleks Manami segera menutup rapat rapat mulut dan giginya, tidak membiarkan Pangeran Raiden untuk masuk.
Tiba tiba, Pangeran Raiden menautkan alisnya karena ulah Manami. Dia segera membuka matanya dengan pelan, terlihat sangat indah dan bermartabat. Kemudian, sosok Manami yang tertangkap basah tengah memperhatikan Pangeran Raiden segera terpantul dari kedua bola matanya yang cemerlang.
Menarik jarak 2 sentimeter dari Manami, Pangeran Raiden tersenyum sebelum kemudian melepas kekangan di kedua tangan Manami dan mengcium keningnya dengan penuh cinta. "Aku berjanji akan lembut, okey? "
Di dalam kamar yang sunyi ini, di dalam keadaan seperti ini, entah kenapa suara Pangeran Raiden terdengar lebih lembut, indah dan menenangkan dari pada biasanya. Hanya karena suara itu, pada akhirnya semua pikiran Manami untuk memberontak seketika sirna, di gantikan dengan rasa patuh dan menyambut.
Manami mengalungkan kedua tangannya dengan longgar ke leher Pangeran Raiden, sebagai persetujuan akan apa yang ingin di lakukannya. "Ingat kata kata mu. Ini yang pertama kalinya untuk ku, jika kau membuat ku takut aku tidak akan melakukannya lagi dengan mu seumur hidup ku! " ancam Manami.
Kata kata ini............ Jika di amati lebih baik memiliki arti tersendiri. Dan Pangeran Raiden segera menangkap arti itu begitu kalimat itu keluar dari bibir istrinya yang sedikit lembab akibat ulahnya.
"Mnn.. " Suara Manami yang teredam karena ciuman terdengar sebagai jawaban.
Lidah pangeran Raiden kembali mencoba menerobos pertahanan Manami. Namun kali ini, Manami dengan suka rela membuka mulutnya dan membiarkan benda asing itu masuk ke dalam mulutnya, mengobrak abrik tempatnya tanpa permisi. Lidah itu bergerak dengan gesit namun lembut membuat Manami tidak bisa mengikuti iramanya, bahkan kini ia tak tahu masih bisa bernafas atau tidak. Dia hanya bisa mempererat pegangannya di leher Pangeran Raiden dan memasrahkan dirinya, membiarkan laki laki di atasnya untuk memimpin.
Tidak tinggal diam, tangan Pangeran Raiden meraih seutas kain yang mengikat pinggang Manami dan melepasnya, membuat pakaian yang tadinya terikat dengan rapi menjadi berantakan. Tangannya mulai menelusuri beberapa tempat dari perut bawah kemudian bergerak ke aras dengan sensual.
Bersamaan dengan itu, Pangeran Raiden mengakhiri ciumannya. Memberi jarak di antara Manami dan dirinya, ia bisa melihat orang di bawahnya tengah bernafas dengan susah payah. Matanya lembab seolah akan menangis, pipinya kemerahan entah karena malu atau apa, alisnya mengkerut dengan indah. Pemandangan yang indah ini menyulut hasrat terpendam pangeran Raiden.
Beralih dari mulut, Pangeran Raiden menyesap dan menggigit bagian leher Manami dan sekitarnya, meninggalkan banyak jejak kepemilikan yang terlihat jelas hanya dengan mata telanjang. Suara ******* lembut segera lolos dari mulut Manami yang sedang terengah engah.
Rasa geli dan mati rasa segera menyerang dirinya ketika tangan Pangeran Raiden terus bergerak ke atas dengan sensual. Sementara itu, pangeran Raiden yang mendapati masih ada kain lain yang menempel di tubuh kekasihnya saat tangan bergerak ke atas mulai sedikit mengerutkan alisnya sebelum dengan tanpa permisi melepasnya. Membiarkan dua gunung kembar terekspos ke tangannya.
Pangeran Raiden segera bermain main dengan gunung kembar itu, mulai dari meremasnya mencubitnya bahkan menggodanya membuat Manami menderita. Tidak sampai disitu, Pangeran Raiden meninggalkan leher dan perlahan lahan turun meninggalkan jejak di area dada. Tangannya berpindah dari atas turun ke bawah untuk melepas kain terakhir yang menempel di tubuh Manami. Bermain main di area sensitif Manami untuk beberapa waktu, bahkan sang pemilik pun hampir kehilangan kecerdasannya.
Setelah beberapa saat, pangeran Raiden menjauhkan tangannya dari Manami. Ia juga mengakhiri kegiatannya memberikan jejak kepemilikan kepada tubuh Manami. Kembali memberi jarak dan melihat kekasihnya yang ikut terangsang, Pangeran Raiden tersenyum lembut.
"Aku akan memulainya. "
Ini adalah permintaan izin. Manami yang sekujur tubuh sudah di penuhi oleh rasa malu karena di telanjangi berusaha sekuat tenaga hanya untuk mengucapkan sepatah kata, "Mn"
o0o
Musim semi yang hangat dengan pemandangan indah sepanjang mata memandang. Kupu kupu dan lebah menghisap nektar manis dari bunga yang menawan. Angin musim semi yang bertiup membuat bunga berayun lembut.
Sebuah daun jatuh ke dalam sungai berarus deras karena tertiup angin. Ia mengambang di air yang bergelombang. Menabrak beberapa batu, terjungkir balik oleh ombak hingga akhirnya mencapai kebahagiaan di ujung hilir.
Kain putih bersih yang suci terbentang dengan indah. Bunga berkelopak merah jatuh di atas kain membuat kain itu tak lagi putih.
Bersambung
Abaikan tiga paragraf terakhir :)