
"Yuki kau bilang begitu tentang pangeran Raiden, mau kena bogem lu?, " tanya Shiro yang entah muncul dari mana.
"Ya enggak lah mana mau gw kena bogem tu orang kasar, " protes Yuki.
"Terus napa lu ngomong pasturi itu di belakang kek gini?, " tanya Shiro sembari menaiki pundak kanan Yuki.
"Ya karena jengkel lah, kita kan lagi liat drama live masak ya kek gini akhirnya, mumpung live kek gini gw pengen ngubah jalan ceritanya biar ga bikin greget paham ga lu😤!," jelas Yuki.
"Jelas sih jelas tapi jangan ngegas juga kalik neng, " ujar Shiro.
"Ga ngurus, " sahut Yuki mempercepat langkahnya ke arah dapur.
_•_•_•_•_•_•_•_•_•_•_•_•_•_•_•_•_•_•_
Skip setelah selesai mandi.
Saat keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah karena air, Manami melihat pangeran Raiden sudah duduk di meja makan sembari menatap ke arah luar jendela yang ada di dekatnya dengan meja yang penuh makanan.
"Apakah kau sudah lama menunggu?, " tanya Manami berjalan ke arah pangeran Raiden berada dengan handuk putih yang ia letakkan di lehernya.
"Tidak juga aku baru saja datang, " jawab pangeran Raiden mengalihkan pandangannya ke Manami sembari tersenyum.
"Aku tau kau berbohong, kau sudah di sini dari tadi kan?, padahal kau bisa makan duluan lho kenapa harus menunggu ku?, " bingung Manami sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan pangeran Raiden dan mengeringkan rambutnya dengan handuk tadi.
Bangun dari duduknya dan berjalan ke arah Manami pangeran Raiden bertanya, " kenapa kau sangat yakin seperti itu?," sembari mengambil alih handuk Manami dan membantu Manami mengeringkan rambutnya.
"Hah, itu mudah saja. Karena aku tadi ketiduran pas berendam jadi kau pasti sudah menunggu lama di sini, " jelas Manami blak blakan.
"Puffttt, kau sangat lucu Mi er, tumben sekali kau bersikap seperti ini. Biasanya kau sangat sulit di atur dan juga suka marah marah sendiri, " ucap pangeran Raiden yang kini sedang menyisir rambut hitam Manami.
"Kau sendiri akhir akhir ini banyak tersenyum kepada ku, bukan kah itu sangat aneh?," tanya Manami dengan pose berpikir.
"Kenapa bisa aneh?, " bingung pangeran Raiden.
"Habisnya kau itu kan gunung es yang terkenal paling dingin di kerajaan ini, bagaimana bisa kau sangat hangat seperti sinar matahari pagi yang menghangatkan tubuh seperti ini?, atau jangan jangan sebentar lagi akan kiamat jadi kau bisa sebaik ini, " komentar Manami.
"Pufttttt, sangat lucu bisakah kau berhenti bersikap seperti itu, jika kau melakukannya lagi aku tidak tau apakah aku masih bisa menahan diri untuk menerkam mu, " goda pangeran Raiden sembari mengecup singkat kedua pipi Manami.
"Apa?!, menerkam ku?, kau tidak serius mengatakannya kan?, iya kan?, aku belum siap lho, " ucap Manami sembari menyilangkan tangannya untuk menutupi dia gunung kembar yang terbalut kain berwarna hijau miliknya.
"Hahahaha aku jadi heran dengan mu. Bukankah kau sangat kuat bahkan setara dengan ku?, bagaimana bisa kau selembek ini jika berhadapan dengan ku, " ejek pangeran Raiden.
"Baiklah baiklah sekarang ayo makan!, " ajak pangeran Raiden sembari duduk di tempatnya semula kemudian makan dengan hikmat bersama dengan Manami.
Setelah puas makan mereka berdua pergi ke ruang belajar pangeran Raiden untuk mengurus dokumen dokumen yang tersisa.
"Hadeh nasip jadi pemain pendukung ya kek gini, muncul cuma karna harus ngurus alat makan kotor, " cibir Yuki sembari membereskan alat makan bekas Manami dan pangeran Raiden makan.
"Salah sendiri jadi pemain pendukung, " batin Shiro.
"Jangan ngebatin!, lu bisanya cuma ngebatin orang. Glundang sana glundung sini ga jelas, ga ngapa ngapain mending balik ke markas aja sono bantu yang laen kerja!, "marah Yuki.
"Hokey, gw pergi jangan nyariin lho, " ucap Shiro lalu menghilang di tengah udara kosong.
Back to Manami and Raiden.
"Lakukan sesuka mu tapi jangan pergi terlalu jauh, " ucap pangeran Raiden ketika sudah memasuk i ruang belajarnya.
"Kau kira aku anak kecil yang harus di nasihat i terus apa?!, aku tau kok aku akan diam, " kesal Manami.
Hanya tersenyum sesaat pangeran Raiden lalu duduk di kursi meja belajarnya dan mulai serius mengerjakan dokumen dokumen yang tersisa di atas meja.
Sedangkan Manami sudah sibuk dengan dunianya sendiri.
Ya dunianya sendiri.
Dia mengambil bantal pink kecil dari ruang dimensi kipasnya dan lalu fokus ngegame sembari tiduran di kursi panjang yang ada di ruangan itu.
Setelah beberapa jam kemudian kebosanan menghampiri Manami.
"Haaah bosen bat gw, tu orang kalau masalah tugas serius nya minta ampun ye, " gumam Manami sembari melihat pangeran Raiden yang tengah serius mengerjakan tugasnya.
"Tapi kalo di lihat pas lagi serius gitu gw ngerasa dia kok malah tambah gans ye?😑," batin Manami.
"Udah siang mending makan siang aja ah, " ucap Manami kegirangan.
"Pengen ngajak dia tapi manggilnya apa ya?, masalah orang yang nggak pernah punya hubungan cinta selama ini itu sulit😩, "batin Manami.
"Panggil sayang? menjijikkan, ealah nanya aja ah, " gumam Manami merinding sendiri ketika menyebutkan kata sayang.