
"Hahahaha, enggak kok nggak ada apa apa. Aku cu... cuma bercanda tolong jangan marah ya, plissss kali ini aja, " mohon Yuki.
"Hah, karena lu adalah sahabat gue, jadi kesalahan ini gue maafin deh, untung temen bukan musuh kalau musuh dah habis dari tadi lo, " ucap Manami.
"Oh ratu ku nona ku dewi ku, terimakasih telah mengampuni hamba mu yang rendah ini, kau sungguh cantik, mempesona, baik hati, ratu iblis, ayune ngepol deh, " ucap Yuki kegirangan.
"Nggak usah bilang kayak gitu juga kalik, risih aku dengernya, pengen muntah hoekkk, " ucap Manami pura pura muntah.
"Cih, orang pagi di puji juga, eh malah reaksinya kayak gitu, hargai dikit ngapa, " ucap Yuki.
"Cih, mata gue sakit nih liat lu mulu. Pergi ke tempat lain sono, sekalian tolong cek gimana kabar mereka ya, oh iya tolong juga bilang ke Shiro buat ke sini, pengen ngelus elus bulu halusnya aku, " suruh Manami.
"Oh oke, tapi ngomong ngomong maksud mu kemana sih?, " tanya Yuki dengan wajah polos nya.
"Hah, yang ku maksud itu kembali lah ke istana mawar merah oh Yuki sayang, emang kalau nggak di sana Shiro nya pergi ke mana hah?," ucap Manami menahan emosinya gara gara orang bodoh di sampingnya itu.
"Oh jadi maksudnya itu ya, oke deh aku pergi, baliknya tahun depan ya bye bye, " ucap Yuki lalu pergi menghilang dari hadapan Manami dengan watadosnya.
"Kok ya aku punya pelayan nyebelinnya kayak gia to, kepingin gitu aku ganti pelayan pribadi tapi nanti dia kasiahn juga, " gumam Manami.
"Apa yang kalian maksud dengan istana mawar merah?, di mana tempat itu berada?, sepertinya hubungan kalian tidak seperti pelayan dan tuannya, apa yang kalian bicarakan tadi?," pertanyaan beruntun yang di ucapkan pangeran Raiden dari belakang Manami membuat dirinya kaget setengah mati.
"Aaaaa, astaga mas pocong, mbak kunti, sunder bolong, kuntil anak kok ya pada keluar siang menjelang sore kayak gini, pada kekurangan mangsa apa?, gue nggak enak jangan makan gue waaa!," kaget Manami.
"Hah?, apa yang sedang kau katakan sayang?, " ucap pangeran Raiden bingung sambil menepuk pundak Manami.
"waaaaaaa, onegai tasukete !!," teriak Manami ketakutan.
"Sayang ada apa dengan mu?, kenapa kau teriak teriak nggak jelas kayak gitu?, kamu lagi sakit ya?, " tanya pangeran Raiden khawatir sambil memegangi kedua pipi Manami dengan tangannya.
"Astaga ternyata elu ya? ku kira mas pocong ama mbak kunti, ngapain sih kau ke sini lagi?, kayak nggak ada kerjaan aja, " dengus Manami saat tau siapa yang berbicara dengan nya dari tadi.
Mbak kunti : Ya kalik gue makan manusia, gue mah cuma kerja ngerjain manusia bukan makan manusia, huh dasar bodoh.
Mas pocong : Ye elah neng neng, gue aja nggak punya tangan end nggak bakal muat kali lu yang besar kayak gitu di mulut gue.
Author : Emang nggak berdasar tu orang kalau ngomong.
Balik ke cerita.
"Ya ini aku lah, memang ada orang lain yang lebih tampan dan lebih hebat dari diri ku?, ya enggak lah, " sombong pangeran Raiden.
"Cih sombong amat sih. Oh iya ngomong ngomong, tadi aku tidak bisa merasakan keberadaan mu, sebenarnya kau ini ada di tingkat berapa?, " tanya Manami heran sebab dari tadi ia tidak merasakan hawa dari kehadian calon suami nya itu.
"Apakah kau sangat penasaran sayang?, jika aku mengatakannya memang apa untungnya bagi ku?, apakah kau akan memberikan ku hadiah?, " goda pangeran Raiden.
"Isssss, kalau nggak mau bilang ya jangan bilang kan mudah, " ucap Manami ngambek.
"Dia dapat membuat diri ku yang sudah ada di tingkat tertinggi ini tak menyadari keberadaan nya, kemungkinannya hanya ada satu yaitu dia ada di tingkat yang sama dengan ku. Aku memang pernah mendengar rumor yang mengatakan bahwa tidak ada satu pun orang yang tau akan tingkatan kultivasi dari pangeran Raiden bahkan jika itu adalah kaisar dan permaisuri. Tidak ku sangka jika dia berada di tingkat yang manusia biasa tak bisa capai, kecuali aku sih hihihi, " batin Manami.
"Lah kok malah marah sih.Memang ya suami bisa jadi budak istri kalau lagi marah, " batin pangeran Raiden.
"Baiklah baiklah, akan ku katakan tapi kau harus janji untuk tidak memberitahu kannya kepada siapa pun, " ucap pangeran Raiden pasrah.
"Apa maksud mu dengan jari kelingking mu itu?, " bingung pangeran Raiden.
"Aisss, menyatukan dua jari kelingking kita di dunia tenpat aku berasal merupakan tanda janji yang kita bentuk, " ucap Manami sambil menyatukan paksa kelingking nya dengan milik pangeran Raiden.
"Oh ternyata begitu, cara yang sangat aneh ya. Baiklah sekarang kau sudah berjanji pada ku, karena itu aku akan mengatakannya, " ucap pangeran Raiden.
Pangeran Raiden mendekatkan bibirnya ke telinga Manami dan membisikkan singkat tingkatan kultivasi nya.
" Tingkat misteri, " bisik singkat pangeran Raiden lalu kembali menjauhkan mukanya dari telinga Manami.
"Oh sudah ku duga. Ternyata kau hebat juga ya bisa menggapai tingkatan yang biasanya tidak bisa di raih oleh manusia biasa, " puji Manami.
"Tentu saja, dan sejauh ini yang mengetahui nya hanyalah kau seorang," ucap pangeran Raiden.
"Ternyata rumor itu benar ya, " batin Manami kaget.
"Wah jadi orang yang beruntung dong aku, hehehehe Manami gitu loh, " ucap Manami membanggakan dirinya.
"Jadi apa imbalan untuk ku karena telah memberitahu mu?," tanya pangeran Raiden.
"Cih kau tudak ikhlas memberitahu ku, baiklah nanti akan ku kasih kue enak buatan ku, " ucap Manami dengan malasnya.
" Tapi aku tidak mau hal itu, " ucap pangeran Raiden.
"Ih dikasih apa malah maunya aps, kalau nggak mau itu lalu apa mau mu?, " ucap Manami kesal.
"Aku mau hati mu, " ucap pangeran Raiden.
"Ih jangan dong kalau kau mau hati ku lalu aku nanti mati gimana?, kau kanibal ya?," takut Manami.
"Ya nggak hati mu juga kalik yang aku inginkan, " ucap pangeran Raiden.
"Lah terus apa dong?, " tanya Manami heran.
"Maksud ku adalah ruang di hati mu yang kau kosongkan khusus untuk orang yang kau cintai, " ucap pangeran Raiden sambil menempelkan tangannya tepat di mana jantung Manami berdetak.
"Kau tidak perlu memohon untuk mendapatkan nya karena tempat itu memang sudah menjadi milik mu, tapi aku kok ya malu mau bidangnya ya, " batin Manami.
"En.... enak aja, apa nggak ada permintaan lain?, " tawar Manami.
"Tidak ada, " ucap pangeran Raiden.
"Hah, ruang kosong yang ada di hati ku sudah terisi dengan seseorang, jadi tak perlu khawatir ( dan itu adalah kau walau aku sulit untuk mengakuinya tapi aku sangat mencintai mu )," ucap Manami dengan membatin kalimat yang terakhir.
"Apa?!, siapa dia?! apakah itu pangeran Daiki?!, ataukah pangeran Kazuki?!, " tanya kaget pangeran Raiden.
"Ya, kalik aku suka sama kakak mu yang sudah punya tunangan itu dan ya kalik aku suka sama kakak ku sendiri, ya nggak mungkin lah. Kau harus mencari tahunya sendiri, " ucap Manami dengan nada malas.
"Kalau begitu siapa orang itu, katakanlah, " pinta pangeran Raiden.
"Sudah ku bilang kau harus mencari tanunya sendiri. Dia adalah pertama yang bisa menaklukan hati ku setelah sekian lama. Bukan berarti jika aku bersikap keras kepadanya memandakan aku tak mencintainya karena kerasnya diri ku itulah yang menandakan cinta tulus ku kepadanya. Dan kau tadi juga melupakan satu nama dan dan orang pemilik nama itulah yang mengisi ruang kosong dalam hati ku, " ucap Manami serius kepada pangeran Raiden.