
"Permisi, Tuan dan Nona. Saya mau membagikan masker karena saat ini masih dalam kondisi siaga pandemi." Seorang petugas menghampiri mereka berdua yang tengah duduk di kursi tunggunya.
Zha segera meraih masker itu, dan memberikannya satu untuk van. Namun, ia menangkap kilat mata yang mengartikan kode pada zha saat itu seperti menunjuk ke sebuah arah padanya.
"Terima kasih," ucap zha, lalu memakai maskernya.
Tiga menit sejak pemberian masker itu, zha mulai menjalankan aksinya. Ia meminta izin dengan van untuk ke kamar mandi sejenak meski ia belum tahu apa rencana yang ada. Tapi yang zha yakini, itu pasti rencana om edo untuknya.
Van mengikuti meski zha risih, apalagi semua orang melihat mereka brrdua yang sedikit aneh disana. Hingga zha masuk ke kamar mandi dan ada lidya yang menunggunya.
"Dya, kok disini?" tanya zha yang terkejut. Lidya seperti malaikat yang diutus Tuhan untuk dirinya saat ini.
"Kamu ngga tahu kalau aku mau jadi pramugari? Aku ada tes, untung om edo hubungin tadi." Lidya menjawab santai, kemudian memberikan semua paper bag untuk zha agar segera memakainya..
"Setelah itu keluar, kamu tunggu taxi diluar dan ikut aja dia bawa kamu kemana," titah lidya. Ia bahkan memakai gaun zha yang begitu pas di tubuhnya, apalagi postur mereka memang nyaris sama hingga tak begitu membuat curiga.
"Tapi kamu?"
"Aku gantiin kamu. Ke London kan? Aku ikut dia,"
"Jangan Lidya, ini bahaya. Kak van bisa_"
"Ya, dia pasti marah. Tapi dia ngga akan pernah bisa kasar sama aku, aku tahu dia gimana." Lidya lantas meraih tas zha dan menukar isi tas mereka berdua, kemudian kembali meyakinkan zha untuk keluar lebih dulu darinya.
Van tampak tak curiga, ia meloloskan, zha yang lewat tepat di depan matanya saat itu. Lalu setelahnya lidya keluar menghampiri van yang langsung menggandeng tangannya.
Mereka masuk ke dalam pesawat, hingga akhirnya van menyadari jika bukan zha yang ada disampingnya saat ini.
"Berhenti sekarang! Bisa-bisanya kalian menipuku!" geram van padanya, dan ia mengamuk disana meminta pesawat berhenti atau setidaknya menurunkan van disana.
"Kakak ngga bisa seenaknya, ini bukan mobil yang bisa berhenti sembarangan. Sebentar lagi kita terbang,"
"Tidak bisa, kita harus turun dan aku akan mencari zha sekarang juga. Katakan, dia kemana saat ini. Aku mohon, Lidya." Wajah van benar-benar tampak melas dan menyedihkan saat itu. Air matanya bahkan sudah tampak menganak sungai karena zha, dan benar benar hanya ingin dia saat ini.
" Kakak cinta sama zha? Mencintai itu terkadang harus melepaskan orang yang kita cintai untuk meraih kebahagiaannya sendiri, Kak. Bukan dengan cara mengekang atau bahkan_"
"Lalu apa yang kau lakukan padaku? Apa?! Kau bahkan menukar diri dengan zha hanya untuk menghalangiku bahagia!" Bentakan van membuat semua orang menatap mereka berdua, bahkan hingga membuat beberapa kru kapal menghampiri mereka disana.
Mereka seolah berdiskusi saat ini untuk menyelesaikan permasalahan van karena mereka juga ngeri jika van akan nekat melakukan sesuatu yang berbahaya disana.
Sementara itu, zha tengah menunggu sesuatu di sebuah halte usai taxi menghentikannya disana. Ia menunggu om edo yang dipastikan sebentar lagi akan menjemputnya. Walau bahagia, saat itu zha kepikiran dengan lidya yang masih ada disana.
"Makasih, zha janji akan mempersatukan kalian berdua nanti." Tekadnya menjadi kuat untuk kakak dan sahabatnya itu.
Hingga sebuah mobil mewah berwarna hitam menghampiri, membuka kaca jendela dan memberi senyum yang indah padanya. Zha membalas itu semua, bibirnya tersenyum merekah dan begitu bahagia.
" Kau betah disana?" tanya om edo, dan zha segera menghampirinya. Ia naik ke mobil itu, tak lupa memberikan om edo kecupan mesra di bibirnya.
"Makasih,"
"Selametin zha dari kak van. Apalagi?"
"Itu tugasku, aku tak akan membiarkan siapapun mengambil istriku." Ucapan om edo membuat zha langsung memicingkan mata.
"Kenapa, tak mau menikah?"
"Mauuuuu! Mau banget, kapan?"
"Sekarang!" Om edo langsung menginjak pedal gas dan melaju cepat membawa zha ke sebuah tempat. Meski penasaran, tapi zha hanya diam dan tak terlalu banyak bertanya. Anggap saja ini adalah sebuah kejutan untuknya dari kekasih tercinta.
Dan benar, keduanya tiba di sebuah rumah tengah sawah yang mereka pernag kunjungi kala itu. Disana sudah begitu apik dihiasi berbagai bunga dan sebuah altar yang begitu megah untuk janji cinta mereka berdua.
Zha hanya menutup mulut dengan telapak tangannya, ia terharu dan bahkan ingin menangis saat ini karena semua kejutan yang ia terima dari papa bearnya tercinta. Dan bahkan mini bear hingga bear besarnya akan menjadi saksi pernikahan papa bearnya nanti.
"Zha, ayo!" Wika mendadak menghampiri dan segera menarik zha untuk mengganti gaunnya. Padahal rasanya wika ingin sekali memeluk zha karena akhirnya ia selamat dari kakak sambungnya yang mengerikan itu.
Om edo juga mengganti pakaiannya di kamar sebelah. Waktu seperti begitu mempet untuk mereka berdua menjalankan pernikahan, lebih mepet dari pernikahan wika dan om yan beberapa bulan yang lalu.
"Cantik," kagum wika dengan zha yang begitu cantik dan anggun saat ini. Meski ia tak sempat mandi.
"Zha deg-degan. Disana banyak wartawan?"
"Iya, live karena om edo mau semua orang tahu jika Zhavira adalah istrinya." Wika menepuk pundak zha dan memberi semangat padanya.
Acara dimulai. Mereka semua sudah siap menjadi saksi, bahkan om yan yang datang secepat kilat demi gadisnya. Ia menggandeng zha berjalan dengan anggun menuju altar, dimana om edo sudah menunggunya disana.
"Kau begitu cantik, Nduk." Om edo bahkan nyaris menitikan air mata ketika melihat zha yang beberapa menit lagi menjadi istrinya.
Keduanya berhadapan disana, dengan tangan mereka yang tak bisa saling melepaskan satu sama lainnya. Kedua netra saling bertautan mengungkap kebahagiaan keduanya, terutama zha yang serasa ingin meleleh saat ini dan seakan tak mampu untuk berdiri lagi.
Ikrar suci itu mereka ucapkan. Om edo begitu tegas mengatakan jika bersedia menerima Zha sebagai istrinya sehidup semati, begitu juga zha dengan anggukan dari kepalanya.
"Dengan ini, kalian berdua SAH menjadi sepasang suami istri." Sang pendeta bahkan menpersilahkan keduanya saling mengungkap cinta disana.
Kesempatan manis, Om edo langsung meraih dagu zha dan menyambar bibir mungilnya dengan gemas. Semua orang yang hadir lantas bertepuk tangan bahagia melihat keduanya yang akhirnya bersatu.
"Hiksss!" Wika menangis, air mata itu tak tertahan keluar membasahi pipi dengan begitu derasnya. Sang suami langsung memeluknya saat itu juga untuk menenangkan yang tercinta.
"Kau sedih, tapi ada yang lebih perih dari ini, Sayang." Om yan mengusap bahu istrinya saat itu.
Ya, jangan ditanya lagi siapa yang perih saat ini. Dialah van, yang bahkan tengah berdiri menyaksikan pernikahan keduanya dari TV besar yang ada di Bandara. Karena keributan yang ada, para petugas akhirnya membiarkan van keluar dari pesawat demi kenyamanan bersama.
Van diam mematung melihat semua prosesi yang ada. Bibirnya seakan terkunci, hanya bergetar namun tak bisa mengucapkan sepatah katapun dari sana. Tapi, air mata begitu deras keluar dari pipinya.
"AAAAARRRGHHHHHH!" Van memekik. Rasa kecewa, marah, dan sakit semuanya menjadi satu saat ini. Semuanya tak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata, bahkan lidya juga tak bisa berbuat apa-apa dengannya.
Lidya hanya bisa menyaksikan kepedihan yang van rasakan didepan mata, bahkan ia tak mampu hanya sekedar untuk mengusap bahunya.