
"Ya... Ketiduran lagi," sesal zha yang membuka matanya. Ia melirik jam dinding, dan melihat memang sudah nyaris malam saat ini. "Auto begadang malam ini. Haiiisssh!" geramnya pada diri sendiri.
Ia menyibak selimut, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai mengganti pakaian ia segera turun. Bukan untuk makan malam, tapi untuk mencari om dan wika yang tak membangunkannya sore tadi.
" Om... Kak wika!" panggil zha diruang bawah, bahkan berjalan menuju dapur. Dan zha melihat meja makan sudah rapi, mungkin om edo tak menunggunya untum makan malam.
"Bik, kak wika mana?" tanya zha pada Art rumah itu..
"Tadi pamit keluar sebentar, kenapa Non?"
"Om mana?"
"Di ruang kerja," tunjuk bik minah dengan jempolnya. Zha segera menoleh ruang kerja om edo dan berjalan cepat kesana.
"Om!" Zha membuka pintu dan langsung masuk ke dalam ruang kerja itu. Om edo diam dan tak menatapnya sama sekali seperti tak ada apapun yang terjadi. "Om, zha ajak ngomong. Lihat dong,"
"Ulangi," ucap om edo tanpa menatapnya sama sekali..
"Mccckk! Om," rengek zha. Tapi om edo mengulurkan tangan dan menggerakkannya membentuk lingkaran pertanda agar zha mengulangi cara masuknya tadi.
Tak ada pilihan lain bagi zha selain menurutinya. Dan ia berbalik kembali menuju pintu, menutup, lalu mengetuk pintu ulang dari awal kedatangannya.
"Masuk," titah om edo ketika zha membuka sedikit pintu dan memasukkan kepala. Dan akhirnya benar-benar masuk dan kembali menghadapnya.
"Kenapa? Makan malam tinggal minta bik minah, aku tak bisa melayanimu. Harusnya kau yang_"
"Om kenapa ngga bangunin zha?"
"Kau begitu lelap ketika memeluk bearmu."
"Emang ngga berusaha bangunin? Zha ada Pr, dan nanti tidur kemalaman gimana?"
"Kerjakan," singkat om edo yang hanya fokus dengan laptop dan pekerjaannya.
"Ooom... Tapi ini udah malem." Zha merengek seperti anak kecil dan susah dikendalikan. Ada saja perdebatan mereka mengisi malam ini, dan sayangnya wika sedang tak ada untuk menjadi penengah diantara keduanya.
"Makan, kerjakan tugas, lalu lakukan apa yang ingin kau lakukan. Kenapa kau justru mengomel padaku hanya karna tak dibangunkan? Padahal kau sendiri yang_".
"Om!"
"Kyaaaa! Bisakah tak menggangguku? Apa yang salah?" geram om edo padanya.
Zha mendelik, menghentakkan kaki lalu pergi darinya. Pintu dibuka, dan ia tutup dengan kuat hingga mengagetkan om edo yang langsung memejamkan mata. Ia tak menuju meja makan atau meminta makan malam pada bik minah. Ia justru naik terus ke atas menuju kamar, bahkan terdengar bantingan pintu yang cukup kuat hingga ke bawah.
"Aaarrghhh! Om edo jahat! Jahaaaaat!" Zha meraih bear. Ia memukuli boneka besar itu sembari sesekali. Mensmackdown dan menindihnya di ranjang. Bahkan hingga jatuh ke lantai mereka berdua berguling disana meski bear tak akan pernah bisa melakukan perlawanan padanya.
Ia beberapa kali memeluk bear lagi, dan kembali menjatuhkannya lagi ke lantai dengan erangan kekesalan yang ia rasakan. Seperti itu terus hingga ia puas dan lega. Entah kenapa rasanya begitu kesal perkara tak dibangunkan dan makan malam bersama.
"Haisssh! Ada-ada saja." Om edo memijat dahi, yang entah kenapa jadi kepikiran zha saat ini.
"Tuan... Tuan..." Bik Minah mengetuk pintu dan memanggil om edo di dalam ruanganya. Ia kemudian masuk ketika om edo menjawab dari dalam.
"Nona Zha belum makan malam. Itu tadi langsun ke kamar, dan entah kenapa nutup pintunya kenceng. Bibik jadi khawatir," ucap bibik padanya..
Om edo mencebik. Zha membuat ulah lagi dan ia harus menghentikannya saat ini. Bahkan mungkin harus lebih keras dari biasanya meski setelah itu rasa bersalah menghampiri. Ia beranjak dari tempat duduk, keluar dan segera menuju kamar zha.
Tiba didepan kamar zha, om edo mendengar zha tengah meracau sendiri di dalam. Terdengar seperti suara pukulan tangan ditelinga tajamnya, dan membuatnya cukup khawatir dengan kondisi zha didalam sana.
Kreeek! Om edo membuka pintu dan tengah melihat apa yang zha lakukan saat itu. Ia tengah bergulat dengan bearnya.
"Siapa yang ada dalam imajinasimu?" tatap om edo datar.
"Yang pengen diajak ngobrol, tapi cuek. Hiyaaaattt!" Zha menghempaskan kembali bear ke dinding dengan sekuat tenaganya. Padahal ia sendiri belum makan malam dan tadi siang hanya ngemil jagung dipinggir sawah. Tenaga darimana yang ia dapatkan hingga bisa sekuat itu.
" Kau marah padaku? Kenapa?"
" Kenapa ngga bangunin?" geram zha sekali lagi, masih menimbulkan tanya kenapa sampai seperti itu hanya karena tak dibangunkan. Sepertinya bukan perkara Pr, tapi ada sesuatu yang lain.
"Wika yang melarang karena kau lelah. Kau juga tak bangun meski aku menggoyang tubuhmu. Kau membayangkan bear sebagai aku, lalu kau ajak berkelahi?"
"Iya! Iiiiih!" Zh yang masih geregetan itu meraih lagi bearnya dan ia hempaskan beberapa kali di lantai..
Om edo segera mencekal tangannya. Ia memundurkan tubuh zha dan meraih bear hanya dengan satu tangan besarnya. "Mau di apain bearnya zha?" tanya gadis itu..
"Kau membayangkan aku ketika menghajarnya. Itu tak sopan," tukas om edo, yang kemudian membawa boneka itu untuk keluar kamar. Tapi, zha menarik satu tangan bear dengan kuat dengan tatapan nyalang.
"Bear ngga boleh keluar dari kamar ini. Dia punya zha! Dan om ngga berhak atas dia!"
"Dia dibeli dengan uangku." Om edo kembali membalasnya. Tatapannya tak kalah tajam dengan zha, membuat gadis itu seketika menundukkan kepala.
"Zha cuma pengen makan malamnya bareng om, itu aja."
"Kau sudah dewasa. Ucapkan apa yang kau inginkan dengan bijaksana. Ini, aku bawa sebagai hukuman untukmu." Om edo melepas tangan zha ditengan bear saat itu juga. Genggaman zha begitu kuat tak ingin bear pergi dari sisinya, tapi om edo tetap memaksa mengambil itu darinya.
" Om_"
"Zha... Lepas." Om edo mengedipkan mata dan menelengkan kepala untuk membujuknya. Tapi tak lembut. Kadang zha ingin sekali agar om edo bersikap lembut dan penuh kasih sayang pada nya seperti ayah. Meski zha sadar jika itu akan sulit sekali terjadi.
"Zha..."
Sreeek! Terdengar suara robekan. Tangan bear lepas satu, dan itu yang digenggam oleh zha saat itu. Mata gadis itu langsung nanar, dan ia langsung naik ke ranjang diam dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Hhhhhhh!" Om edo hanya menghela napas panjang, ketika tahu zha memeluk tangan bearnya.
"Tuan?" tanya wika yang baru saja datang. Ia langsung syok melihat bear dengan bentuk yang berantakan, apalagi satu tangannya lepas hingga kapasnya bertebaran.
"A_aku hanya.... Aaaahhh, sudahlah." Om edo pasrah, jika akhirnya wika yang berprasangka buruk padanya.
"Dia tantrum lagi," sambung om edo, yang keluar menggendong bear dalam pelukannya.