I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Mama ana vs Lidya



Akhirnya dengan semua perjanjian yang diadakan, van ikut Kembali untuk pulang ke rumah mereka. Lidya masih ikut dengan izin orang tuanya, dan bila perlu om edo ikut lidya untuk menjelaskan semua duduk permasalahan yang terjadi saat ini.


Tapi untungnya orang tua lidya paham dengan semua keputusan yang diambil karena sejak awal tahu permasalah inti yang ada pada mereka semua. Orang tua lidya hanya berpesan agar sang putri menjaga diri karena mereka tengah ada di luar kota saat ini.


“Dya pulang dulu, ya? Kakak baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa, hubungin dya aja.” Lidya bahkan sempat membereskan kamar van saat itu sebelum ia pamit pergi. Van hanya mengangguk, dan ia masih diam duduk di ranjangnya memeluk bear milik zha yang ia berikan saat masuk ke dalam rumah itu.


“Nanti kalau mereka udah pulang, kita ketemuan, ya?” usap lidya di bahu van saat itu.


“Terimakasih,” jawab van yang rasanya sudah mulai tenang saat ini.


Lidya turun untuk pamit dengan mama ana dan ayah sam, tapi mama ana entah kenapa masih saja memberi wajah sinis padanya. Diam mmebisu mengunci mulut sampai tak mau menyapa sama sekali padanya. “Tante sariawan? Atau, sakit gigi?”


“Bukan urusan kamu,” jawabnya ketus.


“Oh, gitu.” Lidya menganggukkan kepalanya beberapa kali lalu menghampiri ayah sam untuk pamit padanya.


“Ingat pesan ayah, kabari jika papa dan mamamu sudah pulang.” Bahkan ayah sam seperti telah menganggap lidya sebagai putrinya saat ini, seperti ia menganggap dan perhatian pada zha.


“Iya, Yah. Dya pamit,” balas lidya yang langsung keluar menjumpai taxinya.


Mama ana masih seperti orang kesal disana. Ia beberapa kali menghentakkan kakinya ketika bekerja, dan pasti membuat perhatian ayah sam berpusat padanya. Hingga ayah sam memanggilnya untuk bicara. “Ada apalagi?”


“Mas kenapa, sepertinya begitu suka dengan gadis itu. Mama ngga suka sama dia,”


“Dia baik, bahkan dia mampu menenangkan van saat galau ditinggal zha. Bukankah seharusnya kita berterimakasih?” datar ayah sam menyeruput teh tawar ditangannya.


“Mana ada perempuan baik-baik yang mau tinggal bermalam dihotel bersama pria yang bukan suaminya?”


“Ana,” tegur ayah sam dengan begitu lembut pada istrinya. Untung saja ia memiliki sakit jantung, hingga ia harus menjaga emosi agar masih tetap terkendali apalagi dengan istri yang seperti itu.


“Jangan kacaukan yang satu ini, karena aku tak akan diam. Untuk yang satu ini, Van adalah anak kandungku.” Ayah sam berusaha tegas pada istrinya saat itu, hingga seketika membungkam mulut mama ana hingga langsung diam dan pergi darinya.


Sementara itu, lidya yang masih dalam perjalanan pulang langsung menghubungi zha disana. Tak lupa memastikan keadaan zha karena ia takut jika akan mengganggu kencan brutal mereka berdua. Dan ketika sudah aman, lidya mulai menceritakan semua pasal kelakuan mama ana padanya.


“Ah, santai aja, bila perlu lawan. Kamu kan tahu mama gimana karena aku sering cerita,” jawab zha padanya. Untung lidya juga tak terlalu baper dengan semua tingkah mama ana, apalagi geliat masa SMAnya yang penuh warna. Ia pasti cukup kebal dengan itu semua.


“Kamu lagi apa?”


“Lagi duduk sendiri di deket kolam. Kesel ngga, bulan madu gini ditinggal kerja lagi.”


Zha hanya memanyunkan bibir, tapi ia juga tersenyum mendengar ucapan lidya padanya. Kadang terbayang bagaimana jika ia memiliki anak di usianya yang masih muda, apalagi mempertimbangkan dan menyesuaikan dengan usia suaminya yang jauh beda dari dirinya.


“Iya, ya? Apa aku punya anak dulu baru kuliah? Kasihan, papa bear makin tua nanti.”


“Idih, nih anak… Diledekin malah jawabnya iya, hadeeeeh!!” Lidya memijat dahi mendengar ucapan zha padanya.


“Ya, gimana? Hihi….” Zha justru cengengesan disana.


Obrolan mereka memang random, dari awal hingga akhir ada saja yang mereka bahas bahkan hingga lidya saat ini telah tiba di rumah dan obrolan itu masih berlanjut. Telinga zha seperti tak panas dekat dengan hpnya.


“Iiih, ini anak gimana sih? Daritadi kenapa ngga bisa dipanggil?” Bahkan wika sampai kesal karena tak juga bisa menghubungi gadisnya disana.


Hingga akhirnya lidya mengakhiri panggilan itu karena ingin merebahkan tubuhnya sejenak. Ia lelah dan mengantuk akibat menjaga van semalaman, dan ingin memanfaatkan waktunya untuk memejamkan mata sekaligus merelaksasi diri saat ini.


Zha kesepian lagi, dan ia berdiri dari pinggir kolam berjalan menuju ranjangnya untuk melakukan aa yang lidya juga lakukan disana. Ketika lidya menjadi pawang van, maka semalaman zha menjadi pawang papa bear yang tengah meluapkan dahaga. Benar kata lidya, ia harus memanfaatkan moment memanjakan diri selama bulan madu mereka.


“Pengen jalan-jalan, tapi ditinggal kerja mulu. Nasib nikah sama om-om, untung cinta.” Zha menikmati semua aroma maskulin om edo yang masih tertinggal di ranjang meski sepray dan yang lainnya telah diganti. Ia suka, entah kenapa aroma itu begitu menenangkan hingga dengan cepat membuatnya terlelap disana.


*


Sebuah tangan besar menggenggam jemari zha saat ini. Tubuh besar terasa mengungkung zha dengan hembusan napas yang terdengar begitu lapar, mengecupi pipi, bibir hingga turun ke ceruk leher zha yang indah dan begitu menggoda. Membuat pemiliknya menggeliat seketika dengan lengugan napas yang keluar dari tenggorokannya. “Euunngghh!!” Zha mengadahkan kepala dengan segala sensasi yang mulai tercipta di sekujur tubuhnya.


Zha seperti masih enggan membuka mata, ia masih ingin menikmati semua sentuhan itu dan membiarkan semua bergerak bebas ditubuhnya. Apalagi ia tahu benar itu semua kelakuan siapa, hingga ia tak perlu pura-pura dan memasang wajah kaget padanya.


Telapak tangan besar itu bergerak semakin liar, bahkan telah masuk kedalam kaos crop top yang zha pakai saat itu dan mencari sesuatu yang tertutup didalam sana untuk ia mainkan sesuka hatinya.


“Aaaah… Om!” pekik zha ketika jemari om edo mulai bergerak dan menari diatas puncak indahnya yang penuh goda, apalagi tanpa penutup bra didalamnya.


“Kau tahu itu aku?” bisik om edo yang kemudian menjatuhkan tubuh disamping zha saat itu tanpa menghentikan Gerakan jemarinya disana. Ia justru menarik tubuh zha dan merubah posisi zha miring membelakanginya agar semakin bebas bermain dan mengecupi bahunya yang terbuka.


“Siapa lagi? Masa ada orang asing yang bebas masuk ke dalam hotel besar begini, apalagi ke kamar.” Zha masih menggeliat dengan semua tingkah om edo ditubuhnya. Ia menyandarkan kepala di dada bidang yang ada dibelakangnya saat ini, meminta satu tangan om edo agar menjadi bantalan kepala dan menghirup semua aroma yang keluar dari tubuhnya.


Zha bahkan menyibakkan rambutnya keatas, agar sang suami semakin leluasa mendaratkan setiap kecupan di leher dan bahunya saat itu. Ia memang ingin bermanja memanfaatkan setiap moment mesra yang tercipta diantara keduanya.


“Eemmhh… Aaaaahhhssss!!” Zha memekik, entah apa lagi yang om edo lakukan pada tubuh mungil itu saat ini.