
“Zha nginep?” tanya om yan yang duduk di sofa itu dan menunggu om edo bangun dari tidurnya.
Zha meregangkan otot, menceritakan mengenai kejadian tadi malam sembari membujuk kekasihnya bangun dari tidur pulasnya dengan begitu lembut. Bahkan bodo amat ketika om yan melihat kelakuan zha dengan papa bearnya, mencolek hidung dan tak segan mengecupi pipinya didepan mereka.
“Ayo banguuuun,” bujuk zha padanya.
Om edo mulai bergerak meski masih terpejam, memijat kepala dan perlahan membuka mata. Ia yang pertama kali melihat senyum zha langsung mengecup bibirnya dengan mesra, tapi seketika berhenti karena sadar om yan juga ada didepan mereka saat ini.
“Hmmhh… Yan, kau sudah datang?”
“Sejak tadi,” balas wika padanya. Ia juga memberi kode agar zha segera naik ke kamarnya dan membersihkan diri saat ini.
“Kenapa tidur disini, bukannya ke kamar?” omel wika.
“Kau mau kami tidur dikamar? Baiklah.” Om edo lantas meraih tangan zha dan menggandengnya naik bersama.
“Hey! Bukan itu, astaga.” Wika yang tampak frustasi lantas memijati kepalanya sendiri. Tak habis fikir dengan kelakuan mereka berdua yang semakin lama semakin sama absurdnya. “Ke kamar masing-masing. Ayo, Zha biar kakak yang beresin,” ajak wika menggandeng anak asuhnya itu.
Mereka masuk bersama ke kamar zha. zha sendiri mandi dan wika mempersiapkan semua peralatan gantinya disana, “Zha beneran kabur? Mama ngga cariin?” tanya wika padanya.
“Ngga tahu, tapi hp zha dari semalam mati.” Gadis itu menjawab dengan begitu santai sembari wika mengeringkan rambut zha saat itu. Sebuah moment yang amat ia rindukan dari gadisnya yang sudah beranjak dewasa dan akan menjadi nyonya di rumah mereka.
“Tak terasa,”
“Hmm, apa?” tanya zha.
“Ngga papa, zha kelihatan semakin cantik dan glowing sekarang,”
“Iya lah, mama rajin ajak zha perawatan di salonnya. Mayan deh, perawatan sebelum pernikahan. Sebentar lagi,” lirih zha di sela segala ucapannya saat itu.
Hari ini adalah hari minggu, dan om edo dirumah meski dengan segala pekerjaan yang ada. Apalagi semalam ia tunda karena kedatangan zha mengapelnya.
Mereka turun dan sarapan bersama. Suasana begitu hangat seperti biasa, seperti ketika zha belum pergi dari rumah itu menuju mamanya. Pemandangan indah kembali terlihat, ketika om edo dengan segala perhatian tipisnya mengusap makanan di pipi zha yang berceceran.
“Disana, van perhatian gitu?” goda wika dibalas gelengan kepala zha padanya.
“Engga, disana zha makannya rapi ngga kayak disini. Disana harus serba perfect didepan mama, meski papa sam tak menuntut apapun dari zha,” lapornya pada mereka.
“Tapi kenapa diulangi lagi disini?” tatap om edo padanya. Tapi zha hanya cengegesan, berkata bahwa ia memang sengaja melakukan itu semua demi mendapat perhatian dari kekasih tercintanya. Semua yang melihatnya hanya menggelengkan kepala dengan kelakuan zha.
Hingga akhirnya mau tak mau zha pamit dari sana dan kembali kerumah mamanya. Ia harus bertahan, setidaknya seminggu lagi disana hingga akhirnya kembali untuk pernikahan keduanya. Terasa berat, tapi memang harus ia lakukan demi kisah mereka yang akan semakin sempurna.
Wika seakan ingin menangis melepasnya, baru saja betemu sebentar sekali dengan gadisnya itu dan sekarang harus pergi lagi. Zha juga tak mau jika om edo atau yang lain mengantarnya, ia memilih taxi untuk segera sampai kesana.
“Om, zha pergi.” Zha mereih tangan om edo dan mengecupnya dengan mesra, dibalas kecupan hangat om edo dikeningnya.
“Jaga diri, Nduk. Waktu kita sebentar lagi,” bisiknya. Zha hanya mengangguk dan beralih mencium tangan yang lain secara bergantian disana, dan zha benar-benar pergi meninggalkan mereka lagi kali ini.
Zha perlahan masuk, dan benar saja disana ada mama dan revan tengah duduk bersama di sofa dengan wajah cemasnya. Mama yang menyadari zha datang segera berdiri dan menghampirinya saat itu. Wajahnya memang terpasang cemas, tapi zha merasakan kemarahan luar biasa didalam jiwanya yang seperti berkepribadian ganda.
“Zha dari mana? Kenapa tinggalin revan di resto? Hp kamu juga ngga bisa dihhubungi sejak semalam, kamu kemana?” tanya mama dengan mulut manisnya. “Zha ngga papa, kan?” imbuh mama memperhatikan wajah zha.
Tak hanya mama, saat itu juga revan mempertanyakan zha dengan wajah cemasnya. Sepertinya ia terlanjur suka dengan anak gadis mama ana yang memang akan dijodohkan dengannya itu.
“Zha memang pergi kok. Kan zha bilang, kalau zha ngga mau dijodohin. Mama aja maksa dengan terus menawarkan zha para beberapa pria. Emang zha barang dagangan?” tukasnya santai, seperti memang tengah sengaja memancing kemarahan wanita didepannya saat itu.
“Pergi? Bodooh kamu, Zha, kalau nolak dia demi bujang tua itu.” Sergah mama padanya, membuat jiwa berontak zha muncul dan lantas menatap tajam padanya.
“Dia calon suami zha, demi apapun dan bahkan mama tak akan pernah bisa menghalanginya.”
“ZHA!!” bentak mama, bahkan mama segera meraih tubuh zha karena melihat sebuah tanda merah di leher putrinya. “Apa yang semalam kalian lakukan?” tanya mama semakin murka.
“Apa? Biasa ajalah, kayak ngga pernah aja, namanya juga_”
Plaaakkk!! Tangan halus mama mendarat ke pipi zha. Sangking kuatnya membuat gadis itu jatuh tersungkur ke lantai saat itu juga. Zha mengusap pipinya yang terasa panas dan perih saat itu.
"Bahkan om edo ngga pernah sama sekali pukul zha. Mama berani seperti ini sama zha?" geram zha padanya.
“Beraninya dia berbuat seperti itu terhadap anak kecil seperti kamu! Ini tidak pantas, mama akan membuat laporan ke polisi saat ini.”
“Laporin aja jika mama pengen malu sendiri. Andai papa sam ada disini, pasti dia akan menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya saat ini, yang bahkan tak tahu tanggal lahir putrinya sendiri.” Senyum zha menyeringai dibalik bibir perihnya. Mama ana diam seribu Bahasa, wajah dan kepalanya berkerut memikirkan apa yang baru saja zha ucapnkan padanya.
“Apa, mencoba ingat?” tanya zha. “Ya, ini hari ulang tahun zha. Dan ini pertanda jika zha sudah bisa menentukan sendiri bagaimana seharusnya zha, tinggal, dan memiliki rasa dengan siapa saja. Mama ngga berhak lagi atur zha saat ini.”
Mama ana menatapnya nayalang, ia tak terima dengan semua ucapan zha padanya yang terkesan mulai menghindar dari segala aturan yang ia buat untuknya.
“Engga! Kamu tetep anak mama, dan mama yang bisa atur kamu dengan siapa. Sekarang, kamu minta maaf sama revan, dan kamu harus mau sama dia. Demi Tuhan, mama ngga akan mau kamu sama dia bagaimanapun caranya! Mama ngga terima!!”
Mama ana meraih bahu zha dan memaksanya datang pada revan saat itu juga. Mama bahkan mendorong zha untuk bersimpuh memohon maaf dikaki pria yang mama ana ingin kan sebagai calon suami zha.
“Tan, tante… Sudah, Tan. Lagipula zha sudah memiliki kekasih, dan_”
“Tidak, Revan. Tante ngga akan mau zha sama bujang tua itu, zha harus sama kamu, Revan. Ayo Zha, memohon maaf sama dia,” bujuk mama dengan terus memaksanya.
“Ngga mau, zha ngga mau buat_”
Plaak!! Satu lagi pukulan mendarat dipipi zha hingga berdarah di bibirnya.
“Mama!!!” pekik seorang pria yang datang dari pintu masuk rumah mereka. Mata mama ana mmebulat seketika, kakinya gemetar dan wajahnya pias hingga ia tak berani menoleh sama sekali Kearah sumber suara saat itu juga.
“Kenapa pulang?” lirihh mama ketakutan.