
"Lepas, Ana!" Om edo berusaha mendekat, tapi langsung terbaca mama ana yang justru semakin membawa tubuhnya ke tepi gedung.
"Kau mau apa?" tanya om edo yang memelankan suaranya.
"Aku? Kau tanya aku mau apa? Sejak dulu kau tahu apa yang aku inginkan, Edo. Tapi justru sekarang kau bertanya aku mau apa setelah kau menikahi zha tanpa sepengetahuanku. Aku saja yang tak menuntut karena suamiku melarangnya."
Mama ana terus meracau membawa masa lalu mereka. Apalagi mendengar apa yang zha dapat dari pernikahannya, membuatnya semakin silau akan harta.
" Bahkan zha belum mendapat apa yang mama katakan itu. Om edo bahkan belum memberitahu zha tentang semuanya." Om edo paham saat ini, kemunculan mama ana mengenai saham mutlak yang akan ia berikan pada istrinya sebentar lagi sebagai hadiah kelahiran anak mereka.
"Maka dari itu, berikan sekarang! Atau... Aku mau sepuluh milyar, dan aku akan pergi dari sini." Mama ana tampak mulai gelisah dan frustasi. Helaan napas dan penuturan katanya mulai berantakan kali ini. Sepertinya ia benar-benar mulai tertekan oleh keadaan, apalagi melihat om edo yang justru santai seolah tak takut dengan ancamannya sama sekali.
Yang ia inginkan adalah om edo cemas, takut, bahkan kelabakan hingga menuruti semua yang ia mau dengan segera. Tapi kenapa om edo justru tak gentar dengan apa yang ia ucapkan, dan zha pun begitu. Apakah, semua tindakannya sama sekali tak meyakinkan hingga tak ada yang takut dengannya?
Gemetarnya mama ana dimanfaatkan oleh zha. Ia menggigit tangan mama sekuat tenaga hingga wanita itu melepaskan cengkaramannya. Tubuhnya terhuyung kebelakang nyaris jatuh kebawah dan ia berteriak memanggil nama zha.
Zha berusaha lari, tapi mama yang saat itu memanggil membuatnya menoleh dan lantas zha meraih kembali tangannya agar tak jatuh. Saat itu om edo berjalan dengan begitu cepat meraih dan menarik zha dari mamanya.
"Zha!" Om edo menahan tubuh zha dengan mendekapnya, sementara mama ana berada diujung antara naik atau terjun dari gedung tinggi itu.
"Zha... Tolong mama," lirih mama, begitu lembut padanya hanya karena tak ingin mati sia-sia.
Zha menoleh dari dekapan sang suami dan menatap sang mama. Matanya berkaca-kaca, karena biarbagaimanapun ia adalah wanita yang melahirkannya. Tangan zha mulai bergerak ia naikkan menjangkau sang mama dan bertindak seolah menolongnya. Mama ana tersenyum membalas uluran tangan itu, tapi...
Tukkk! Zha justru menjentikkan jemarinya didahi sang mama sedikit kuat hingga mama kehilangan keseimbangan tubuhnya disana.
"Kamu durhaka, Zha! Kamu durhaka sama mama!" Akhirnya mama jatuh kebawah dengan jeritan yang melengking terdengar begitu perih dihati zha saat ini yang memilih menenggelamkan wajah di dada bidang sang suami.
Namun meski demikian, napas zha begitu lega karena lepasnya semua masalah besar yang ada."Apa dia akan_"
"Tidak, hanya pingsan karena dibawah sana ada pelindung. Kecuali jika bergeser dari target," jawab om edo membelai rambut istrinya.
Dan... Braaakk! Tubuh zha seakan lunglai terjatuh bersimpuh dilantai. Ia memegangi perutnya yang nyeri saat ini, dan om edo menyadari darah mengalir dari paha zha saat itu juga.
"Maaf," sesal zha yang merasa tak bisa menjaga kandungannya. Padahal ini bukan semata karena kesalahannya, melainkan semua adalah ulah mama ana yang bahkan membuatnya jatuh beberapa kali saat ini.
Tak menjawab dan tak berfikir panjang, saat itu om edo langsung membopong zha dan berlari turun kebawah menuju mobilnya.
"Zha!" panggil lidya yang cemas. Dan lebih cemas lagi melihat kondisi zha saat ini yang begitu lemah dan tak berdaya.
"Van, aku pinjam lidya untuk membawa zha ke Rumah sakit."
"Ya, biarbagaimanapun kau yang mengurusku lebih dari lima belas tahun ini." Ucapan lirih van membuat mama ana menitikan air mata. Tapi saat itu ia tak bisa berbuat apa-apa, bahkan dengan pengganjal dilehernya.
Om edo menyetir dengan cepat menuju Rumah sakit. Zha kesakitan dan terus memegangi perutnya, lidya juga sesekali mengusap perut itu meski tak bisa memberikan efek apapun pada sahabatnya.
Zha tampak sesekali menarik napas panjang dan menghembuskannya. Meski air matanya mengalir, ia berusaha tenang saat ini dan berusaha menerima semua keadaan yang ada.
Hingga keduanya tiba di Rumah sakit, om edo keluar mamanggil para perawat yang kemudian datang dengan brankarnya. Zha dibaringkan disana dan langsung dibawa masuk ke ruang tindakan. Om edo yang menggenggam tangan zha perlahan melepaskannya masuk kedalam sana.
"Om, sabar, ya?" lidya mengusap bahu om edo dan berusaha menenangkannya saat itu.
Hingga hampir satu jam menunggu dengan semua tindakan yang ada, akhirnya salah seorang dokter keluar untuk menemuinya.
"Tuan?" panggil dokter yang keluar menemuinya. Om edo berdiri dan menatap wajah sang dokter dengan segala rasa penasaran dalam hatinya.
"Maaf, kandungan istri anda tak bisa diselamatkan. Selain kondisinya masih rentan, Beliau juga mengatakan jika_" Dokter merasa tak sanggup lagi mengatakannya melihat ekspresi om edo dihadapannya.
Om edo langsung langsung menerobos masuk dan menemui zha yang ada didalam sana. Tapi ia melihat zha tak menangis, justru tersenyum mengulurkan tangan padanya.
"Sayang?" panggil om edo yang menangkap tangan zha dan langsung mengecupnya dengan berurai air mata.
"Kenapa nangis? Zha ngga papa kok, setidaknya baby udah sama kakeknya sekarang. Jadi ayah punya temen disana," jawab zha. Meski senyum, tapi om edo tahu betapa sakit zha saat ini.
"Zha kira dia kuat seperti papanya, tapi ternyata dia lemah seperti mama. Tapi ngga papa, dia baru saja bantu mama lawan omanya yang jahat." Zha mengucapkan semua itu dengan begitu bangga, bahkan lidya yang mendengarnya pun tak dapat menahan airmatanya saat itu.
Tumpah, ia menangis tersedu-sedu bahkan hingga merosot dari dinding dan duduk lemah di lantai. Ia merasakan sakitnya zha saat ini, tapi ia juga tak bisa berbuat apapun untuknya.
"Ngga papa, kita masih bisa buat lagi, kan?" tawa zha menggoda suaminya.
Om edo menganggukkan kepalanya saat itu dan memeluknya dengan begitu erat. Ia berjanji akan semakin dan lebih membuat zha bahagia setelah ini. Dan untungnya ketika kabar duka itu ada, kabar baik terdengar dari sebrang sana bahwa telah lahir anak wika dan om yan.
Zha yang mendengarnya lantas tampak begitu bahagia, seakan ia lupa dengan segala rasa perih yang ada.
"Ngga papa, anak kita temenin opanya disana. Anak syurga," ucap zha dengan segala ikhlas dalam hatinya.
Hingga akhirnya zha dibawa ke ruang perawatan dan istirahat disana. Om edo sama sekali tak beranjak dari zha dan terus menemaninya, bahkan tidur satu ranjang dengan zha saat itu. Ia memeluk zha dengan erat, bahkan ia sendiri yang mengganti pakaian zha dan mengurus semua keperluan istrinya padahal lidya juga siap membantunya kapan saja.
"Nanti kalau zha udah sembuh, kita ke korea, ya? Zha pengen kesana bulan madu,"
"Kau saja belum sembuh, sudah kepikiran bulan madu." Om edo mengomel pada istrinya meski ia memejamkan mata. Tapi, zha hanya cengengesan dengan omelan suaminya itu dan mengecupi tangannya dengan begitu gemasnya.