I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Kabur dari kencan



 “Dya, makasih ya, jamuannya. Makanannya enak,” ucap zha yang baru saja keluar dari sebuah ruangan bersama sahabatnya. Mereka bercengkrama sembari bergandengan tangan disana, dan van yang melihat langsung menghampiri meraih tangannya.


“Zha!”


“Eh, Kakak! Kenapa panik gitu?” tanya bodoh zha padanya. Memang benar-benar panik van saat itu,, mungkin takut jika zha dibawa kabur oleh om edo dan pergi jauh darinya.


“Kamu darimana?” tanya van yang langsung melongok ke tempat dimana zha baru saja keluar bersama lidya. Ia memastikan tak ada orang lain yang keluar dari sana, apalagi orang yang ada di fikirannya saat ini.


“Tadi… Lidya abis ajak zha makan berdua di rooftop. Kenapa, Kak?” balas lidya, dan itu tampak menyakinkan karena ada bekas makanan dibibir zha. Lidya juga beralasan jika makanan mereka adalah masakan khusus mamanya untuk zha, karena ia takut ada sumber alergi zha disana.


Van yang sekilas melihat pelayan berjalan didekatnya membawa nampan, langsung meraih tisu yang ada disana untuk memberihkan bibir zha. Begitu manis, dan ingin rasanya van membersihkan bekas itu dengan bibirnya.


“Sini, zha bersihin sendiri. Malu dilihat orang,” ucap zha merebut tisunya.


“Aku pamit, ya? Mau ke mama papa lagi disana. nikmatin aja semuanya,” ucap lidya yang meninggalkan mereka berdua.


Van merasa tak aman saat itu, ia segera menggenggam tangan zha dan mengajaknya pergi dari sana. Zha hanya menurut tanpa banyak bertanya, tohi a sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan saat itu dari papa bearnya.


“Kenapa disaat seperti ini juga dia tak bertanya. Dia tak mengelak dan bahkan tak meronta? Kenapa dia seperti ini?” geram van pada adiknya itu. Bahkan hingga keduanya sampai di rumah pun, zha hanya diam dan langsung masuk ke kamar tanpa merengek meminta hpnya untuk dikembalikan. Van hanya terus menatap zha sembari mengepalkan tangannya.


Hari demi hari zha jalani dengan begitu monoton disana. Ia bosan, jengah dan lelah meski sama sekali tak melakukan apa-apa. Terkadang ia iseng ke salon mama ana dan meminta perawatan tubuhnya disana, lumayan dapat perawatan gratis untuk persiapan pernikahan, fikirnya.


Dan kini hari mulai berputar lagi, dari senin kembali ke sabtu. Zha rindu om edonya yang sudah beberapa hari tak bertemu dan hanya mengobrol manja via video call saja. Memang, kata wika itu akan membuat kerinduan mereka semakin terasa menuju pernikahan hingga cinta mereka akan semakin sempurna. Tapi zha sama sekali tak paham apa maksudnya, dan hanya tahu jika ia merindukan kekasihnya.


“Zha?” panggil mama ana yang mendadak mengetuk pintu kamarnya.


Zha langsung keluar, tapi ia hanya mengeluarkan kepala dan tak mengizinkan mama masuk ke dalam kamar saat itu. “Ada apa?” tanya lesu zha padanya.


“Itu, dibawah ada Revan, anak temen mama.”


“Terus?”


“Dia katanya mau ketemu, kamu. Temuin gih,” pinta mama dengan suara lembutnya.


“Zha aja ngga kenal dia siapa, kok nyuruh zha temuin?”


“Maka dari itu, dia mau kenalan. Sana dandan yang rapi dan cantik, katanya dia mau ajak zha jalan malam minggu ini.”


Zha hanya memicingkan mata dan memiringkan bibirnya mendengar paksaan lembut mama ana. Tapi ia pasrah, dan ikut apa maunya kali ini karena vam sedang pergi keluar kota bersama dan taka da yang membelanya disana. zha langsung masuk dan merapikan dirinya, dengan gaun cantik dan membiarkan rambutnya terurai dengan indah.


Zha turun, dan mama langsung berdiri memperkenalkan zha dengan anak sahabatnya itu.”Kalau mau jalan ngga papa, mumpung masih sore. Tapi pulangnya jangan terlalu malam, ya?” pesan mama ana seolah tengah menjadi mama yang baik untuk putrinya.


“Heh, kok gitu? Emangnya, zha_”


Dan keduanya pergi bersama. Kabarnya revan anak seorang perjabat yang cukup berpengaruh di kota itu, hingga mama ana begitu berharap jika revan tak seperti yang lain untuk menghindari zha hanya karena om edonya. Menurut mama ana, jabatan papa revan itu tak terbantahkan meski om edo yang turun tangan merebut zha darinya.


“Zha, mau kemana?” tanya Revan yang sepertinya cukup tertarik pada zha saat itu. Ia terus menatap zha dan mengagumi kecantikannya, apalagi ia tampak sebagai anak yang manis dan begitu menuruti sang mama.


“Kan kamu yang ajak, kok malah tanya zha? Sih, gimana?”


“Ya, aku kan tanya aja, Zha. Kali kamu punya referensi tempat yang asyik buat kencan,” tutur pria seusia Van itu padanya.


“Zha ngga pernah kencan, jadi ngga tahu. Paling sama temen aja nongkrong di mall, makan juga disana.” Zha menjawabnya datar bahkan tak menoleh sama sekali, dan itu membuat revan seperti makin penasaran padanya.


Revan hanya menganggukkan kepala, dan ia membawa zha kesebuah tempat yang romantis baginya. Dan saat tiba ditempat itu, zha baru paham jika itu adalah tempat ia kencan dengan om edo beberapa waktu lalu.


“Kan, jadi kangen,” gelisah zha dalam hatinya.


Revan membawa zha masuk kedalam. Pelayan yang ada disana cukup mengenali zha dan ingin menyapa jika zha tak segera memberi kode padanya agar ia diam saat itu juga. Hingga pelayan itu hanya mengangguk dan mempersilahkan mereka masuk kedalam, meski tanpa boking tempat terlebih dahulu.


“Suasananya enak, Zha, kamu suka?” tanya revan padanya.


Ya jelas suka, tempat itu adalah tempat dimana zha kencan dengan papa bearnya dan itu cukup membuat zha gelisah tertekan rindu saat ini.


“Rasanya pengen ku tutuk itu kepala pelayannya,” geram zha dalam hati.


“Kak revan, boleh zha ke toilet sebentar?” tanya zha, dibalas anggukan oleh teman kencannya saat itu.


“Kamu tahu tempatnya?”


“Tahu lah, kan ada mas sama mba pelayan. Tunggu ya,” ucap zha yang meninggalkannya saat itu. Untuk meyakinkan, bahkan zha tak membawa tas dan hanya mengantongi hpnya disaku dress yang ia pakai.


“Nona, mau kemana?” tanya sang pelayan yang bertemu lagi dengannya.


“Cariin taxi, cepetan,” titah zha padanya, yang bahkan sedikit berlari tergesa-gesa keluar bersama pelayan yang ada disebelahnya. Bahkan pelayan itu amat sigap, memanggil taxi yang kebetulan lewat dan membuka pintu untuk zha agar segera menaikinya.


“Pura-pura ngga tahu setelah ini,” titah zha yang kemudian pergi, dijawab anggukan sang pelayan padanya.


Sementara itu dirumah besar, om edo tengah duduk sendiri di sofa besar memangku laptopnya seperti biasa. Meski sepi, tapi ia amat terbiasa dan lagi merutuki nasibnya. Ia hanya menunggu zha untuk menghubunginya saat ini, menaruh hp dimeja agar ia bisa dengan segera mengangkat panggilan dari kekasihnya.


Hingga bell rumah besar itu berbunyi. Om edo menoleh dan menatap kea rah pintu utama, ia menaruh laptop dan berjalans sendiri untuk membuka pintu rumahnya. Kakinya seakan bergerak tanpa menunggu perintah dari otaknya.


“OM EDO!!” pekik zha ketika pintu itu terbuka. Ia bahkan langsung meloncat memeluk om edo, yang langsung menangkap tubuh zha ke dalam gendongannya saat itu.