
Waktu menginap zha telah habis. Saat ini om edo tengah mengurus semua administrasi untuk kepulangan zha kerumah mereka. Sementara zha merapikan beberapa barang ditemani lidya sebelum berangkat terbang kembali pada pekerjaannya.
"Kali ini harus lebih dijaga lagi. Inget, udah sekali keguguran," omel lidya pada zha yang tengah duduk mengemili di piringnya.
"Denger ngga, aku bilang?" sergah lidya, dan zha hanya membalasnya dengan anggukan. Ia hanya tak ingin terlalu menenang meski akan selalu terbayang kejadian itu.
"Mama gimana?" tanya zha.
"Masih inget juga,"
"Iyalah, dia mamaku. Biar bagaimanapun," balas zha. Ia langsung tampak murung seketika mengingatnya.
Untung saat itu om edo segera datang, hingga murungnya zha segera berganti dengan senyum manis untuknya. "Sayang, udah?" tanya zha yang langsung turun dan menyambut sang suami saat itu. Lidya hanya kembali menggelengkan kepala dengan apa yang ada.
"Kau siap pulang?"
"Dari kemarin pengen pulang," rengek manja zha memeluk pinggang dan mendongakkan kepalanya. Ia berjinjit meraih dan merapikan rambut sang suami yang tampak berantakan dan tak terurus sejak ia dirawat.
"Zha, aku pamit ya? Aku sebentar lagi mau terbang soalnya," ucap lidya, tak lupa megatakan hal yang sama pada om edo saat itu.
"Iya, makasih, ya? Hati-hati dijalan," balas zha yang beralih memeluk sahabatnya.
Lidya pergi dari keduanya. Tinggal zha bersama om edo berdua merapikan semua barang dan menaikkannya diatas kursi roda. Padahal ada perawat, tapi mereka sama sekali tak memanggil untuk bantuan.
Zha memilih jalan kaki menuju keluar ruangan hingga ke parkiran agar lebih cepat pulih dari semua bekas kuret yang ada. Untungnya saat itu tak sampai di operasi karena memang kandungan zha masih sangat kecil.
"Kita langsung pulang, zha kangen kasur."
"Kau fikir, aku akan membawamu kemana?"
"Ngga kemana-mana. Kali aja mau ajak zha langsung terbang temuin kak wika,"
"Baby,"
"Ya, Sayang, canda doang." Zha lantas menoel-noel pipi suaminya saat itu dan om edo tampak amat pasrah dengan segala yang diperbuat zha pada wajahnya. Asal jangan memancingnya untuk sesuatu yang berbahaya.
"Sayang, emang ngga papa libur lama?" tanya zha dengan tatap manjanya. Baru saja dikata agar tak mengganggu, malah diajak mengobrol menjurus hal itu.
"Tak apa, asal kau benar-benar sembuh baru aku akan memintanya."
"Tapi katanya, pria akan pusing jika tak tersalurkan. Jadi, Sayang melampiaskan dengan apa?"
"Baby!" Om edo menghela napas panjang melihat tingkah sang istri kali ini. Atau, ia mulai merasa cemas ketika tak bisa melayani dan sang suami akan berpaling?
"Welcome home, Baby." Om edo mulai memasuki kawasan rumah besarnya saat itu.
Zha tampak begitu bahagia karena akhirnya kembali, dan bisa beraktifitas lagi di rumah mewahnya. Meski sebenarnya ia juga tak melakukan apapun diasana.
Zha langsung berlari, ia masuk dan naik menuju kamar dan merebahkan diri di ranjang besarnya. Ia lantas merubah posisi miring dan kepala hertumpu telapak tangan ketika om edo masuk kedalam, bahkan memberi tatapan sensual.
Tuuukk! Om edo menyentil dahi zha karena kenakalannya.
"Iiish, jahat sekali." Zha menyipitkan mata lalu kembali rebah. Bahkan ia tak membantu om edo sama sekali ketika merapikan pakaian keduanya di dalam lemari yang ada.
Hingga akhirnya om edo duduk, ia tampak serius dan membawa zha agar duduk rapi didekatnya saat itu. Zha lantas menyesuaikan diri, lalu bertanya apa yang terjadi kali ini.
"Apa? Ada apa?" tanya zha penasaran..
Om edo lalu mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya dan memberikan itu pada zha.
Semakin penasaran, zha segera membuka amplop itu dan membaca isinya. "Kapan?" tanya, zha yang tampak syok saat itu. Wajahnya masih pucat, tapi semakin pucat dan sedih dengan kenyataan yang ia terima.
"Saat kau masih lemah, kami terpaksa merahasiakan ini darimu. Kami takut jika akan semakin drop nanti. Itu berbahaya," jawab om edo yang tengah memperhatikan ekspresi zha.
Kabar itu adalah akan kematian mama ana. Ya, saat itu dia mengalami infeksi pada implan payudaraa dan juga beberapa kerusakan diwajahnya. Mungkin karena kurang perawatan di area sensitif itu, hingga begitu cepat mereka rusak dan sulit untuk di obati dengan peralatan seadanya..
Tapi semua tak seperti yang ome edo duga. Meski zha tampak sedih, tapi ia sama sekali tak menangisi kematian mamanya saat itu. Ia dengan begitu tenangnya kembali melipat surat dan memberikan pada sang suami.
"Ya, masalah kita selesai, kan? Zha sempat takut jika nanti akan memiliki kewajiban mengurusnya dihari tua. Apalagi dengan semua keadaannya. Apa, zha durhaka?"
"Tidak," geleng om edo padanya. "Bahkan kau begitu tenang melepaskannya pergi,, Zha."
Om edo meraih tubuh zha lalu mendekapnya dengan erat. Dan saat itu, mau tak mau zha menangis karena perasaannya benar-benar tak dapat dibohongi lagi kali ini.
Berkalipun ia berusaha, biarbagaimanapun ana adalah mamanya. Zha pernah ia kandung dan ia lahirkan dengan taruhan nyawa, yang bahkan zha juga baru merasakan betapa sakit kehilangan anaknya.
"Ya, menangislah,,Zha. Menangis seberapapun kau mau untuk meluapkan segala perasaanmu saat ini. Tapi nanti, kau harus berjanji jika kau tak akan pernah menangis lagi, karena aku juga berjanji untuk tak pernah membuatmu menumpahkan air mata sedih."
Om edo yang saat itu suaranya ikut serak karena tangis istrinya. Ia berjanji akan terus membuat zha bahagia bersamanya. Meski ada air mata, itu adalah airmata bahagia bagi mereka berdua.
End.
Promo karya baru