I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Aku titip zha padamu,



"Dia anakmu, Bram?" tanya om edo dengan wajah datarnya.


"Ya, dia... Dia putra saya," angguk pak bram yang mengulurkan tangan meraih bram medekat padanya. Dengan ragu, bobi mendekat pada papanya dan menghadap om edo saat itu namun matanya masih dengan keangkuhan yang luar biasa.


"Apaan sih, Pa? kenapa ampe segitunya nunduk? Emang dia siapa?" tanya bobi. Ia memang tak pernah tahu urusan Yayasan meski ia nanti yang akan mewarisi ketika sudah cukup usia. Padahal papanya selama ini sering mengajaknya ke pertemuan dengan direksi penting dan orang berpengaruh untuk Yayasan mereka.


Atau, memang om edo selalu mewakilkan diri pada anak buahnya yang lain untuk pertemuan itu.


"Mereka itu_"


Plaaak!! Sebuah pukulan mendarat di pipi bobi dari papanya,"Diam kamu! Makanya kalau diajak rapat itu jangan main game mulu. Jadi ngga kenal kan sama donator terbesar Yayasan kita?" sergah sang papa padanya.


Akan tetapi, masih saja berkeras hati karena status zha dan om edo dimata mereka. Mungkin beranggapan jika keduanya adalah manusia kotor yang tak pernah bisa diberi hormat olehnya. Asal dia tahu, bahkan sekolah itu bisa diambil alih oleh om edo kapan saja dia mau. Dan bobi tak aka nada hak lagi setelahnya jika itu terjadi.


"Kau mau kita jatuh miskin? Mikir bobi! Memangnya kenapa kalau mereka itu berhubungan? Itu bukan urusan kamu!"


"Dan jikapun iya, apa kau keberatan? Bahkan jika zha menjadi istriku setelah lulus nanti."


"Om_" Tarik zha pada jas yang om edo pakai. Entah benar entah hanya menggertak bobi agar diam, tapi cukup membuat jantung zha seketika bedebar mendengarnya. Terutama van, yang seketika menatap om edo dan zha dengan begitu tajam.


Suasana tegang itu dibubarkan ketika bell berbunyi. Semua siswa diminta masuk termasuk zha dan bobi, bahkan om edo menyerahkan zha pada van yang ada disana dekat dengan mereka. "Kau tahu cara menjaganya. Maka, jaga dia..." ucap om edo pada van saat itu.


Jika di tilik, mereka berdua sebenarnya adalah saigan berat untuk merebut hati zha. Namun dengan santainya om edo menitipkan zha pada Van. Apa maksud om edo dengan semua ucapannya itu? Apa ia tak pernah takut jika van akan merebut zha darinya?


Van meraih tangan zha dan mengangguk dengan ucapan pria itu. Hingga om edo berbalik badan untuk meninggalkan mereka disana.


"Om!" panggil zha, dan ia berhenti membalik badan, " Salim," ucap zha yang kemudian mengulurkan tangannya.


Om edo mengusap rambut zha saat itu. Ia merasa bersalah denga napa yang zha hadapi, tapi juga bertanya kenapa zha tak pernah cerita selama ini. Apakah zha sebiasa itu dengan cap yang dituduhkan pada dirinya, yang mungkin semua gadis akan menangis ketika mendapat tuduhan aneh pada dirinya.


"Zha," panggil van yang kembali mengajak gadis itu masuk ke dalam ruang kelas mereka. Meski masih gamang zha menurutinya, dan mereka duduk meski terpisah jarak yang cukup jauh tapi van masih bisa tetap mengawasinya.


Ujian dimulai, dan zha tampak mengerjakan semuanya dengan begitu tenang tanpa beban sama sekali dalam fikirannya. Om edo juga langsung pergi setelah itu, ia tak tampak memebri pelajaran pada bobi dan papanya. Atau, ia tak ingin mengotori tangannya sendiri dan masih bisa memerintah yang lain untuk melakukannya.


"Tuan_" Papa bobi menelponnya lagi ketika dalam perjalanan menuju kantor. Pak Bram berkali-kali meminta maaf atas kesalah pahaman yang telah terjadi diantara mereka, dan maminta pengampunan darinya. Yang bahkan mampu melakukan apa saja agar mereka selama dan Yayasan itu tak diambil paksa oleh om edo seperti yang ia takutkan saat ini.


"Kau fikir aku berminat dengan sekolah itu? Hanya karena zha ada disana, dan aku bertahan untuknya." Om edo menjawab Kembali dengan nada santai, namun masih belum bisa menenangkan hati pak bram yang masih dipenuhi segala rasa takut dalam hatinya.


Tapi mengenai bobi, om edo berjanji tak akan tinggal diam setelah ini dan bahkan mengancam jika ia tak membawa bobi untuk pergi jauh dari kota itu. Bahkan mungkin harus mengasingkan putranya ke luar kota, atau bahka ke luar negri agar ia tak pernah menganggu zha lagi.


"Apa kau bersedia?" tegas om edo padanya.


"Sa_saya bersedia, asal anda tak_"


"Ba-baik," angguk pak bram darinya. Dan memang tak tanggung, bobi harus ia asingkan sejauh mungkin meski masih aka nada dalam jangkauan mereka. "Ya, daripada kita semua yang hancur."


Om edo telah tiba di kantornya. Seperti biasa, jika ia telah dihadang kesibukan yang sangat luar biasa disana. Yang bahkan ia akan sulit untuk melirik kemana-mana jika sudah berhadapan dengan semua laporan didepan matanya.


Tapi fikirannya masih tentang zha. Saat ia bertanya-tanya kenapa zha begitu tenang dengan apa yang dituduhkan padanya selama ini dan hanya itu yang terus terngiang dikepalanya.


"Ri_"


"Ya, Pak? Ada apa?"


"Bagaimana jika kau di bully, dan dituduh dengan sesuatu yang tak pernah kau lakukan selama ini"


"Hah? Ya... Ya saya marah lah. Saya laporin, bila perlu saya hajar itu orang. Kenapa?" tanya sang sekretaris padanya.


"Jika kau tak marah?"


"Ya karena itu benar. Mungkin," jawabnya sekali lagi.


Om edo seketika diam. Ia menarik napas sembari bensandar di bahu kursi dan kepalanya mendongak keatas. Ia berfikir jika zha sebenarnya tertekan selama ini, apalagi dalam kecurigaan dan tuduhan mereka semua terhadapnya. Tapi zha sama sekali tak membela diri. Ia hanya takut jika zha sebenarnya ingin, tapi terikat pada kenyataan bahwa memang keadaan memaksanya seperti itu.


"Kenapa kau tak bilang sejak awal?" risaunya membayangkan zha disana.


*


Jam istirahat tiba. Saat itu zha masih diam dikelasnya dan melamun disana. Hingga akhirnya dinda datang menghampirinya.


"Zha_" panggil dinda yang cukup membuyarkan lamunan zha.


"Ya, ada apa?" jawab malas zha karena memang moodnya sedang tak enak.


"Kamu di apain sama bobi? Kok om kamu muncul?" rentetan pertanyaan itu datang, dan zha benar-benar sangat malas untuk menjawabnya. Untung van datang, membawa minuman dingin yang begitu menyegarkan dahaganya.


Akan tetapi, dinda justru seolah tak nyaman dengan keberadaan van disana mengganggu obrolannya dnegan zha. Apalagi van yang bukannya pergi, justru menaruh kepala di meja tepat didekat zha. Seperti memang sengaja untuk menghancurkan mood dinda.


"Kalau ngantuk ke balkon," sinis dinda padanya. Tetap tampak sinis meski dinda berusaha keras menutupi ekpresinya untuk van saat itu.


Tapi zha hanya menggelengkan kepala. Ia menengahi keduanya dengan menjawab pertanyaan dinda. Bahkab zha menceritakan semuanya dari awal kejadian hinga om edo datang dan bobi yang hampir melecehkannya pagi tadi.


"Breng sek itu anak! Dasar mes sum!" geram dinda mengepalkan tangannya penuh kemarahan. Sementara zhavan jsutru tertawa kecil mendengar geranya dinda disana


"Paan sih?" tatap dinda dengan mata kesalnya.