I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Mama ana yang tak pernah menyerah



Matahari dipagi itu mengintip dari balik tirai jendela kamar, menyentuh wajah dan mata zha yang masih terpejam begitu lelap tertutup selimut tebal disekujur tubuhnya saat itu. Zha kesulitan membuka matanya yang masih terasa sangat rapat, dan sesekali mengeregangkan otot tubuhnya diranjang besar itu.


“Kau sudah bangun?” sapa om edo yang sudah begitu rapi saat ini, sementara zha masih begitu berantakan disana.


“Ini masih pagi sekali, kenapa sudah rapi?” tnya zha yang bahkan belum mencuci muka, dan masih menggosok-gosok matanya.


“Ada pertemuan cukup besar hari ini, dan mungkin akan memakan waktu seharian dan akan pulang malam. Kau jangan kemana-mana, ingat?” Zha yang masih duduk bersila itu kemudian menganggukkan kepalanya.


Ia sadar berada di kamar siapa sekarang, dan ia sadar jika dirinya lah yang datang kesana. ia kemudian menyibak selimut dan segera berdiri untuk kembali ke kamarnya, takut jika wika mencari saat ini. Bahkan zha masih sempoyongan karena tenaganya yang belum kumpul ditubunya, tapi tetap berusaha menjaga keseimbangan agar selamat hingga sampai pada tujuannya.


Kreek!! Zha langsung menutup pintu kamar dan membersihkan dirinya, tepat ketika wika datang dan memanggil untuk sarapan mereka. Untung saja ranjang sudah zha buat berantakan sebelumnya hingga wika tak begitu curiga.


“Zha, mandi?”


“Iya, Kak wika. Sebentar lagi zha turun kebawah,” jawab zha diawah guyuran air yang membasahi tubuhnya. Begitu segar, merelaksasi setiap otot tubuhnya yang lelah.


Meskipun tidur sekamar dan berpelukan tapi om edo tak melakukan apa-apa. Om edo akan tetap mejaga zha hingga waktu mereka benar-benar tiba meski jiwa kelelakiannya terus meronta dari ujung kepala hingga keujung kakinya.


Zha keluar dari kamar mandi dan segera mencari pakaiannya sendiri. Hari ini ia benar-benar santai dan tak akan pergi kemanapun sesuai titah papa bearnya, dan ia akan fokus untuk belajar agar bisa masuk ke jurusan perawat yang ia inginkan selama ini.


“Janji masuk perawat? Seperti yang ayah cita-citakan buat zha,” semangatnya ketika melihat foto sang ayah terpajang didepan mata, lalu ia raih dan diciumnya foto itu dengan mesra dan segala kerinduan yang ada. “Zha sebentar lagi akan menikah. Itu kan, yang ayah mau dari zha. Om edo bertanggung jawab atas diri zha bahkan untuk seumur hidupnya.”


“Kau rindu ayahmu?” tanya om edo yang mendadak masuk kedalam kamar zha. Dan saat itu zha langsung membalik badan memberi senyum pagi padanya.


“Ngapain pagi-pagi kesini? Tumben,” tanya zha menggigit bibirnya, seperti tahu apa yang akan om edo lakukan padanya. “Zha kangen, udah lama ngga ke makam ayah. Besok-besok kesana, ya?’


“Ya, aku juga ingin meminta izin calon mertuaku untuk segera menikahi putrinya.”


“Ciee, calon mertua. Hihihihi!” Tawa zha memenuhi seisi kamar sembari menepuk-nepuk dada bidang om edo dengan kepalan tangan gemasnya. Begitu ceria dan tampak amat bahagia seakan tak sabar menunggu harinya tiba.


Om edo meraih tangan itu dan menariknya kembali untuk mendekatkan mereka berdua, sepertinya ia akan mengecas tenaga pagi ini dengan bibir zha. Yang terjadi kemudian kita skip saja adegan keuwuan yang ada. Hingga keduanya selesai dan turun bersama kebawah menghampiri wika dengan segala hidangan yang telah tersaji di meja makan.


“Kok lama?” tanya wika dengan penuh curiga.


“Engga, ngga ada sejam kan dari tadi?” balas zha yang kemudian menyentong nasi ke piring om edonya, dan bahkan mulai melayaninya dengan begitu baik kali ini.


Om edo hanya diam mendengar ucapan mereka seolah tak terjadi apa-apa dan tetap fokus pada layar hpnya yang ada didepan mata sembari menyeruput kopi panasnya seperti biasa. Wika benar-benar seperti ibu yang tengah menjaga anaknya dari sang pacar yang hidup seatap dengan mereka yang patut dicurigai kapan saja.


Hingga pada akhirnya om edo berangkat, kali ini om jek yang mengantarnya kesana kemari karena memang begitu banyak pekerjaan yang menanti.


“Tadi malam zha ketemu sama mantannya om, Vina.” Ucap zha yang sontak membuat wika membulatkan mata.


“Seberapa jauh huubungan mereka? Katanya udah mau nikah, ya?”


“Iya, bahkan seminggu menjelang pernikahan semua itu terpaksa dibatalkan. Rupanya paman vina beserta adiknya melakukan banyak kecurangan dengan posisi mereka di kantor cabang. Mereka berusaha menguasai itu semua, melakukan Nepotisma dan begitu banyak kecurangan lainnya.”


Wika menjelaskan semuanya dengan gamblang bahkan mengenai status keluarga itu saat ini yang berada didalam hotel prodeo dalam waktu yang cukup lama. Meski vina bersikeras tak jika ia tak tahu menahu dengan semua kasusnya, tapi itu mustahil karena ialah yang memberi semua akses disana.


“Yang kakak tahu juga, Om edo ngga terlalu cinta dia. Vina yang terus mendekati, merayu dan membujuknya selama ini, hanya karena orang tua mereka sempat dekat sebelum papa om edo meninggal.” Zha terus menganggukkan kepala mendengar itu semua.


Obrolan terus berlanjut hingga bel pintu rumah besar itu berbunyi. Zha dan wika saling lirik, melempar tanya siapa yang berkunjung dengan waktu yang sepagi ini dan bahkan mereka belum selesai merapikan sisa sarapan yang ada dimeja.


“Zha aja buka pintu deh,” ucap zha yang kemudian berjalan mendekati pintu utama. Bahkan belum dibuka kuncinya oleh wika, dan zha perlahan meraih handle dan menariknya hingga melihat seorang wanita membalik badan dan menatapnya.


“Pagi anak mama,” sapa mama ana yang belum menyerah dengan segala usahanya.


Zha tampak malas, menghela napas sembari memutar bola mata berusaha menhindari sang mama.


“Mau apa pagi-pagi kesini?” tanya zha padanya.


“Kamu ngga minta mama masuk? Mama hanya ingin mengobrol sama zha saat ini, mama rindu dan ingin mencairkan hubungan kita berdua, Zha.” Mama ana berusaha meraih wajah zha, mungkin ingin membelainya. Tapi zha justru mundur selangkah darinya.


“Yaudah, masuk….” Ajak zha menelengkan kepala. Saat itu mama ana langsung tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk kedalam lalu duduk disofa ruang tamu tamu. Wika memperhatikannya penuh curiga dan berjanji akan terus mengawasi keduanya.


“Zha apa kabar? Mama ngga nyangka anak mama semakin dewasa sekarang. Mama terharu sekaligus menyesal karena telah meninggalkan zha kala itu.”


“Ya, penyesalan memang selalu datang di akhir, Ma,” jawab zha dengan santainya. Ia berusaha tak tegang lagi saat ini dibalik rasa malas dan ingin mengusirnya agar segera pergi.


“Ya, Sayang. Maafkan mama yang larut dalam ego, mama hanya terlalu cepat memutuskan semuanya hanya karena sebuah kata cinta, dan itu ternyata tak menjadi patokan dalam sebuah rumah tangga.”


Mama ana terus meracau dengan segala penyesalan yang ada, dan zha saat itu hanya datar bahkan tanpa ekspresi menjawabnya. Hanya sesekali berdehem agar tampak dua arah dalam percakapan mereka.


“Bisakah kita berdamai dengan keadaan, Sayang? Mama sudah meminta maaf, dan sudah memiliki keluarga sendiri saat ini, kamu tahu itu. Zha memiliki keluarga baru yang lengkap, papa baru dan bahkan seorang kakak yang sejak kemarin menunggu zha sebagai adiknya.”


“Kak van?” Zha memicingkan matanya.


“Iya, kak van. Dia sejak kemarin ingin sekali zha datang dan menjadi adik manisnya, dia yang memohon agar mama membujuk kamu agar mau ikut meski sebentar. Hanya ingin memperkenalkan keluarga baru kita, dan pasti akan bahagia bersama.”


Mama ana terus terdengar merayu dengan ucapan manisnya pada zha. Tatapannya, bibirnya, wajah sendunya ia buat sedemikian rupa agar bisa meyakinkan sang putri agar ikut dengannya kali ini. Tapi zha menggelengkan kepala, ia terus teringat ucapan om edo agar tak pernah keluar tanpa izin darinya.