
"Sudah pulang, Tuan?" sapa Wika yang segera menyambutnya ketika mobil datang.
Wika merah jas dan tas laptop om edo lalu menyimpannya di ruang kerja. Setelahnya, ia kembali untuk mempersiapkan makan malam mereka karena hari sudah semakin petang. Tapi om yan juga belum kunjung datang hingga wika sedikit ngeri dengan makan malam kali ini yang kemungkinan mereka akan bertengkar lagi.
"Zha mana?" tanya Om edo sembari terus menaiki tangga.
"Di_"
"Kenapa nanyain zha?" Gadis itu seketika keluar dari kamarnya.
"Tidak..." jawab om edo yang kemudian berlalu. Mereka berjalan berlawanan arah, dan zha sama sekali tak menoleh ketika om edo lewat tepat disebelah meski om edo sedikit melirik padanya.
Duugghh!!
"Aarrghhh!" ringis om edo ketika ujung kakinya tersandung tangga. Mungkin karena ia terlalu meperhatika zha hingga tak bisa memperhatikan jalan yang ada. Akan tetapi, zha terus berlalu dan sama sekali tak membalik badan untuk segera menolongnya.
"Astaga, semarah itu kah?" Om edo membatin melihat aura zha yang mengerikan saat ini.
Om edo memanyunkan bibirnya, memiringkan kepala sejenak lalu kembali berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Bahkan saat mandi pun ia membayangkan wajah masam zha padanya yang begitu tak mengenakkan hati.
Ia keluar lalu mengganti pakaiannya dengan sebuah sweater coklat dan celana dasar hitam. Tampak sedikit santai dari biasanya dengan rambut yang ia sibak memperliihatkan dahinya yang mempesona. Ia segera turun, menghampiri mereka semua untuk makan malam bersama.
Ia duduk dan zha membantu wika untuk melayani omnya disana. Padahal zha sangat suka dengan mode omnya yang seperti itu, tapi saat ini ia lebih memilih menaahn diri dan terus memperlihatkan wajah cuek itu padanya. Zha memilih duduk dengan posisi miring dan membelakangi om edo karena takut semakin kacau dan kembali luluh hanya dengan pesona jidatnya yang mempersona dan menggetarkan jiwa.
"Kak wika, om yan kapan dateng?" tanya zha mengalihkan perhatian dari om yang ada didepan mata.
"Mungkin malam, Sayang. Kenapa?"
"Kangen," jawab zha, yang seketika membuat om edo memainkan lidah di dalam mulutnya. Ia juga menggenggam gelas dengan kuat, meski saat itu langsung meminum air yang terisi di dalamnya.
Wika menahan tawa melihat tingkah bosnya disana, tapi ia berusaha pura-pura tak tahu dan bahkan berusaha tak melihatnya lebih jelas. Dan ia terus berusaha bagaimana caranya mengalihkan perhatian dari pemandangan lucu itu yang begitu menggemaskan, dna bahkan ingin sekali mencubit pipi bosnya saat itu juga.
"Katanya om yan mau beliin zha boneka lagi sebagai ganti bear. Baik banget om yan emang. Makanya zha dari tadi dikamar nungguin buat sambut dan peluk om yan ketika sampai," jawab zha dnegan wajah penuh bangga. Toh wika juga tak akan cemburu hanya dengan ceoteh dan ungkapan perasaan zha pada kekasihnya.
"IYa, tapi katanya malem pulang. Mungkin besok kalau zha mau beli boneka baru," jawab wika padanya.
"Ya, meski hidup zha semalang ini... Tapi masih ada yang sayang sama zha,"
"Siapa yang kau maksud?" tanya Om edo meraih dan menggigit potongan daging ayamya filetnya dengan kasar.
"Siapa? Kepo... Om tuh, cari sana yang bisa sayang sama om. Biar ngga menjadikan zha sebagai pelampiasan atas apa yang om rasakan."
"Kesepian," jawab zha yang memotong daging ayamnya dengan begitu anggun menggunakan pisau dan garpu ditangannya. Kemudian ia melahapnya dengan tata cara yang begitu slay sembari menatap omnya.
"Sok tahu," cebik om edo.
"Ya, begitu lah kalau orang kesepian. Selalu cari gara-gara dengan anak keci;,"
"Hey!"
"Hey, sudahlah... Ayo makan, ini sudah jam berapa dan masih banyak tugas yang harus diselesaikan." Wika menegur keduanya meski sebenarnya sangat malas. Tapi setidaknya, mereka bicara lagi meski harus berdebat di meja makan dan didepan makan yang ada, dan makanan itu lama-lama tandas meski mereka mengunahnya dengan keras.
"Andai kau ada disini," gumam wika dalam hati yang sudah begitu merindukan kekasihnya disana.
Usai dengan pertengkaran itu dan teguran yang diberikan wika, meja makan itu mendadak senyap. Suasana menjadi begitu hening, dan hanya terdengar peraduan sendok dan garpu diatas piring mereka masing-masing. Hingga akhirnya om edo menyelesaikan semuanya dan pergi dari sana menuju ruang kerja.
"Kak wika, zha langsung ke kamar ya? Zha mau pelajarin ulang materi yang ada." Wika mengangguk menjawab pamitan anak asuhnya itu. Setidaknya suasana akan tenang, meski kadang ia juga merasa amat sepi disana.
Malam demi malam berlalu dan om yan tak kunjung tiba. Zha akhirnya terlelap di ranjang dalam penantiannya, memeluk tangan bear. Wika yang masuk kemudian menyelimuti tubuh zha lalu mengecupnya.
"DIa tidur?"
"whooo Astaga!" Wika begitu terkejut ketika melihat om edo yang berdiri bersedekap didekat pintu kamar zha. "Ia, dia tidur. Kasihan, nunggu om nya daritadi ngga sampai." Sambungnya.
Om edo hanya mengangguk, kemudian ia menerobos masuk ke dalam ruangan itu untuk mengambil sesuatu. Wika terkejut, dan wika berusaha melarang om edo untuk mengambil benda itu dari zha, bahkan terjadi perdebatan diantara keduanya.
"Mau di apakan? Zha saja belum mendapatkan gantinya,"
"Diamlah, tidur sana..." titah om edo padanya, yang kemudian pergi dan membawa tangan bear itu kembali ke kamarnya.
Wika hanya bisa mendengkus pasrah. Dengan ini, fikiran buruknya kembali datang bahwa ia harus bersiap mendengar teriakan tengah malam nanti. Atau, ia harus bangun tiap dua jam untuk mengintip kondisi zha yang mungkin akan menangis di dalam kamarnya. Ia mengangkat kedua tangan dan pasrah, hanya berharap sang kekasih datang dan menjadi pencair antara dua kutub yang tengah membeku bersama.
Sebuah masker dipakai beserta sarung tangannya. Bahkan rambut ia bungkus agar tak menganggu konsentrasinya kali ini,. Sebuah lampu tidur juga sudah ia hidupkan untuk fokus menyinari bagian meja dan bagaian yang akan ia kerjakan.
Ya, Om edo seperti seorang dokter bedah yang akan mengoperasi pasien dengan luka parah saat ini. Pasien itu tak lain adalah bear, boneka kesayangan gadisnya. Boneka yang bisa menjadi ayah dan menjadi dirinya meski dalam mode zha yang berbeda.
Sebuah jarum dan benang sudah ia siapkan dimejar, bahkan beberapa jarum dan benang agar ia yak bolak balik menyurupkannya karena itu sulit karena semua manual. Ia tak ingin semua orang tahu apa yang ia lakukan saat ini secara diam-diam dikamarnya.
Tangan bear ia rekatkan, dan perlahan tapi pasti ia mulai menjahit bagian yang terpisah dan menyambungkannya dengan yang lain. Begitu teliti, bahkan ia sampai mengerutkan dahi sangking fokusnya dengan pekerjaan yang ia lakukan.
"Arrkhh! Haishh!!" Om edo memekik ketika jarum itu mengenai jari telunjuknya bahkan hingga berdarah. "Ternyata sulit, apalagi dia besar sekali. Lebih besar dariku sepertinya," tatap om edo pada beas yang tengah ia otak atik saat itu.
"Om... lagi apa sama bearnya zha?"