
Wajah merah zha membuat om edo semakin gemas padanya, sayu meski tampak sedikit aura takut diwajahnya saat ini. "Kau sangat cantik, Zha." Om edo menatapnya semakin intens saat ini, ia kembali mempertemukan kedua bibir mereka dan saling bertukar saliva disana. Terasa semakin panas karena sudah bisa membalas dan menyesuaikan diri dengannya.
"Apakah boleh?" bisik om edo, yang seketika membuat tubuh zha menegang.
Om edo lantas menggendong zha dan membawanya ke ranjang besar mereka yang tak memiliki taburan bunga disana. Satu tangan om edo membantali leher zha, dan sedikit mengangkatnya untuk memperdalam panguutan keduanya. Om edo secara perlahan menurunkan kecupannya ke leher dan bahu zha yang mulai turun lengannya, yang saat itu zha sama sekali belum mengenakan apa-apa selain kimono yang ia pakai.
Zha yang terus mendapat serangan dari om edo, memejamkan mata kembali dan menggigit bibir bawanya untuk menahan segala desaahan yang sudah hampir keluar dari bibir mungilnya.
"Ssssst... Aaahh!" Akhirnya desaahan itu lolos, ketika om edo mulai semakin menurun kan kimono zha dan meraih bukit indahnya.
Tangan kiri om edo semaki menurunkan kimono itu hingga tubuhnya zha lolos didepan mata om edo yang semakin tajam menatapnya.
"Om..." Zha tertunduk malu dan menenggelamkan wajahnya dileher om edo sembari mengalungakn kedua tangannya disana. Hembusan napas zha yang hangat, semakin menambah Hasrat itu dan membuatnya semakin kuat.
Telapak tangan om edo mendarat di puncak indah milik zha, yang entah kenapa tarasa begitu pas ditangan seolah memang tercipta untuk tangan besarnya. Zha merintih, Ini benar-benar kali pertama om edo melihat dan menyentuh bagian sensitive di tubuh yang selama ini ia jaga.
Om edo merebahkan tubuh zha dan Mulai mengungkungnya. Tangan kiri masih bergerilnya di dada zha sembari beberapa kali bermain lidah disana, membuat pemiliknya mulai diliputi perasaan yang tak tenang bergerak kesana kemari. Apalagi, ketika satu tangan om edo mulai merayap menyusuri tubuh yang nyaris polos itu hingga menuju pankal pahanya.
"Om!" pekik zha, tapi ia tak berusaha mencegah tangan itu untuk bergerilnya memenuhinya.
"Ooowwwh!!" Zha melentingkan tubuh, membuat akses om edo di dadanya semakin luas. Desaah panjang keluar dari mulut zha yang tak dapat menahan diri dengan segala serangan di tubuhnya. Tangan mungil itu beralih turun ke lengan om edo, mencengkram dan seakan ingin mencakar meluapkan segala rasa yang ada.
Tak berhenti disana, setiap inci tubuh zha tak luput dari kecapan bibir dan lidahnya, hingga saat itu kepala om edo berada pangkal paha zha dan mulai menatap lapar milik zha lalu mengecupinya dengan begitu buas. Lidah lancipnya terus bergerilya disana, membuat si pemilik gelisah dan bahkan frustasi karenanya.
"AAArrhhh! Om, stop! Ampun!!" pekik zha dengan segala rasa yang begitu kuat menjalar ditubunya. Tapi itu tak berarti apapun karena om edo justru semakin liar memainkan lidahnya disana bahkan menghisap apapun yang ada dimulutnya.
"Aaaaaahhhhh!!!" Tubuhnya mengejang. Jemari kaki dan tanganya terkunci pertanda ia mendapatkan pelepasan pertama seumur hidupnya yang dianggap sang mama masih belia.
Om edo menghabiskan semua, mengangkat tubuh dan mengadahkan kepala seperti baru saja menuntaskan dahaga lalu mengusap bibirnya yang basah akibat pelepasan zha. Ia kemudian membungkuk lagi mengecup bibir zhaa hingga gadis itu bisa merasakan sisa dari miliknya di bibir om edo, yang tanpa terasa justru menaikkan hasraatnya.
Om edo mengambil posisi seperti tengah push up saat itu diatas tubuh zha, dan perlahan memulai penyatuan keduanya. Zha merintih, rasanya begitu perih hingga ia mengeluarkan air mata dan bahkan tak mampu menatap pria yang kini menjadi suaminya.
Mulut om edo terbuka, mendesis mulai merasakah miliknya terdesak dibawah sana.
"Terimakasih telah menjadikanku yang pertama. Kau akan menjadi Nyonya Lazuardo saat ini, hingga selamanya nanti."
Om edo memang bukan orang yang mudah jatuh cinta selama hidupnya. Tapi jika ia telah membuka hati, maka gadis itu akan menjadi ratu selama hidupnya dan keberuntungan itu adalah milik zha.
Makin lama rasa sakit itu berubah menjadi begitu nikmat, rintihan zha bukan lagi rintihan perih melainkan rintihan kenikmatan yang mmebuat suasana disana semakin panas mengalahkan suhu Ac yang sebenarnay di seting begitu dingin. Peluh keduanya mulai berjatuhan, "Arrrghhh!" Dan akhirnya om edo juga mencapai puncak bersamaan dengan zha yang untuk kesekian kalinya.
Tubuh papa bear ambruk tepat disebelah baby bearnya usai permainan panas mereka. Napas keduanya masih terengah-engah, dan om edo menyeka airmata yang membasahi pipi zha dengan jemari besarnya.
"Apakah itu sakit?" tanya om edo. Tapi zha hanya menggelengkan kepala lalu memeluk erat tubuh kekarnya, lalu om edo menyelimuti tubuh keduanya untuk beristirahat mala mini.
"Besok lagi, ya? Zha capek," pinta gadis itu sembari mendongakkan kepala menatap suaminya. Om edo hanya tersenyum, membalas pelukan zha lalu megecup rambutnya.
**
Hari sudah semakin malam, dan van belum juga bisa memejamkan matanya. Untung lidya juga sudah sering begadang hingga bisa menemaninya hingga saat ini meski dalam keadaan diam dan begitu sunyi untuk keduanya.
"Kak van ngga ngantuk?" tanya lidya.
"TIdurlah jika kau lelah, aku tak akan merepotkanmu lagi setelah ini." balas van dengan tatapan kosongnya.
"Kakak sedang memikirkan apa? Membayangkan zha yang tengah bahagia disana?"
Van hanya menggelengkan kepala, fikirannya benar-benar kosong saat ini dan bahkan taka da zha disana. Ia sendiri bingung bagaimana bisa, tapi itulah yang terjadi. Begitu sunyi, hingga rasanya ia sulit untuk mengendalikan dirinya saat ini. Lagi-lagi van hanya bisa menangis, terisak dengan dadanya yang begitu nyeri. Lidya yang menatapnya hanya bisa memijat dahi, mendekati van lalu memeluknya lagi.
"Aku janji, ini tangisan terakhirku untuknya. Andai aku tak bodoh seperti ini dengan segala obsesiku, pasti dia juga tak akan pergi dengan cara yang seperti ini," sesal van. Andai seperti yang ia sesalkan, pasti ada kemungkinan ia yang akan mengantar zha ke pelaminan bersama cintanya disana.
Tapi sekarang apa yang ia dapat? Seakan hanya keperihan dan penyesalan yang tiada tara dan bahkan trauma dari zha untuknya. Bagaimana ia akan menghadapi zha seperti ini, atau bahkan sejak saat ini zha akan begitu takut untuk bertemu dengannya.
Lidya ikut terharu mendengar semua ucapan dan penyesalan itu. Ia mengeratkan pelukannya pada van, membelai rambut pria itu bahkan tak segan mengecup keningnya.
"Iya, Dya tahu jika kakak menyesal. Nanti jika bisa, Dya akan pertemukan kakak dengan zha di lain waktu yang menjadi perantara kalian untuk berdamai." Lidya merasa kasihan dengan van yang terus saja larut pada keperihan hatinya saat ini.