
Matahari mengintip tepat mengenai mata zha yang masih begitu lelap ditempat tidurnya. Karena cahaya yang menyinari maka ia segera membuka matanya, ia sadar jika ia kesiangan apalagi tak menemukan om edo didekatnya saat itu.
Zha kemudian mengucek mata, lalu duduk di ranjang menunggu om edo keluar dari kamar mandi. Ia begitu lelah hanya untuk sekedar mempersiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Ia lelah, semalam digempur habis-habisan tanpa jeda akibat puasa seminggu sebelumnya.
Kleek! Pintu dibuka dan om edo keluar hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Zha tersenyum, apalagi melihat bagian bawahnya yang tertutup meski sebatas lutut. Om edo dengan tangan basahnya segera meraup wajah zha lalu melewatinya.
“Apaan?” tanya zha merasakan dingin dari tangan itu.
“Lihat apa?” Om edo kini sudah ada didepan lemari dan tengah memilih pakaian yang ada disana tanpa meminta zha untuk membantunya.
“Katanya mau jemput lidya? Segera bangun dan bersiaplah,” titah om edo yang bahkan langsung melempar handuk basah ke wajah istrinya.
Tak marah, zha saat itu justru tertawa dengan perlakuan sang suami padanya. Bahkan sangking gemas, zha bahkan serasa ingin melorotkan handuk itu dengan tangannya sendiri meski setelahnya mereka akan berkelahi. Kadang masa mereka sering ribut itu begitu mereka rindukan, tapi zha juga bingung bahan apa yang bisa membuat om edo memarahinya seperti dulu.
“Ngga papa, Cuma kangen aja. Wajah datarnya, tatapan tegasnya ketika melarang zha melakukan sesuatu, bahkan zha kadang kangen disentil kepalanya.”
Zha meracau sendiri ketika ia ada di kamar mandi, meggosok gigi dan mencucui wajah dengan segala perawatan yang ada. Yang pastinya berbeda dengan kehidupan ketika ia masih remaja, dan bahkan zha memiliki perawatan tersendiri untuk wajah dan kulitnya.
Ia sesekali terkekeh, karena ia baru ingat jika hukuman yang ia dapatkan atas setiap kesalahannya kali sangat berbeda dari masa lalu. Yang dulu kadang diselingi kekerasan, tapi sekarang justru karang berakhir dengan kenikmatan.
“Nduk, kau masih lama?”
“Ya, Sayang, ada apa?” Zha kemudian membilas wajahnya dan keluar menjawab panggilan suaminya.
Rupanya om edo kesulitan memakai dasi saat ini seakan tak sabar hanya untuk menunggu zha keluar menuntaskan agenda mandinya. Zha segera meraih dasi itu dan memasangkan, sementara om edo tak bisa diam untuk segera mengecupi bibirnya.
“Eeeeeh… Nakal!” omel zha, namun hanya dibalas om edo dengan tawa. “Orang belum jadi mandi, juga.”
Usai memberesakan semuanya zha kembali ke kamar mandi dan om edo segera turun untuk mempersiapkan semua keperluannya menuju tempat kerja. Kadang ia ingin sesekali ke tambang untuk menilik yan dan wika disana, apalagi rindu pada wika yang tengah hamil besar. Mungkin sebentar lagi akan tiba waktunya melahirkan.
Zha dengan dres dan tas selempangnya turun kebawah menuju ruang makan. Ia segera merapikan semua yang telah dipersiapkan oleh bibik di meja, dan ia membuatkan segelas kopi untuk suaminya.
Bibik masih aktif disana, tapi tiap sore ia pulang ke rumahnya yang ada di kampung belakang rumag besar mereka. Bibik tinggal bersama cucunya karena kedua orang tuanya di kirim ke tambang sebagai petugas yang bertanggung jawab untuk konsumsi disana.
“Hay, Sayang, kopiku sudah siap?” sapa om edo yang menghampirinya, mereka duduk lalu sarapan bersama. Saat itu zha sembari membalas beberapa pesan dari van untuknya.
“LIhat, Kak van sedang kasmaran. Rasanya zha pengen kerjain dia nanti, bilang kalau lidya ngga jadi pulang. Hihi,” tawanya jahil, tapi saat itu sang suami segera menegurnya dengan lembut. Zha langsung mengatupkan bibirnya dan diam mendengarkan semua dengan seksama.
Sarapan selesai, dan zha segera mengantar om edo menuju mobil yang sudah dipanaskan di garasi. Bahkan om edo menceritakan rencananya ke tambang untuk mejenguk wika disana, dan zha langsung menyambutnya dengan begitu antusias. “Kapan?” tanya zha.
“Tunggu, aku akan meminta jek dan Linda mengurus semua jadwalnya. Atau bahkan aku harus lembur kejar setoran agar bisa libur cukup lama besok,” jawabnya, dibalas anggukan semangat dari zha.
Usai kepergian sang suami, saat itu van menelpon zha mempertanyakan penjemputan lidya.
“Jika Zha ngga bisa, biar kakak sempatkan diri menjemputnya nanti. Bagaimana? Kakak ngga enak sama suami zha,”
“Kenapa? Zha aja udah rapi dan siap pergi kok. Kakak kan harus jagain papa juga nanti, gentian sama mama. dan mungkin Lidya akan ajak zha mampir kesana buat jenguk papa,”
“Oke, baiklah kalau begitu, terimakasih.”Van yang memang tengah sibuk itu langsung mematikan panggilan mereka berdua.
Zha segera berlari menuju kamar, berbenah diri dan sedikit memoles wajahnya dengan make up yang natural. Kadang heran dengan zha yang memiliki alat make up lengkap tapi memilih ala natural untuk wajahnya. Beli bedak supaya tak terlihat memakai bedak.
Ia segera tak lupa membawa hp dan dompet menuju mobil kesayanganya untuk menjemput sahabatnya tercinta. Mobil yang diberikan om edo sebagai hadiah pernikahan mereka beberapa bulan lalu. Tak bisa dibayangkan betapa bahagia zha kala itu, apalagi ditambah dengan kabar hamilnya wika.
Tiba di Bandara, zha menunggu pesawat tiba dan menunggu lidya di pintu kedatangan. Setahun ditinggal lidya menempuh pendidikannya sebagai pramugari di Luar Negri, akhirnya ia lulus dengan D1nya. Dan hanya tinggal mencari maskapai yang pas untuk melanjutkan pekerjaannya nanti.
“Zha!! pekik lidya memanggilnya. Ia bahkan langsung melambaikan tangan berlari memeluk zha yang ada disana, bahkan mengecupi pipi zha yang ia lihat makin cubby dan menggemaskan.
“Belum ada baby, kan?”
“Belum,” tatap sedih zha memanyunkam bibirnya.
“Sabar, masih harus pacaran. Nanti juga tumbuh kecebong baby bearnya, pasti deh.” Lidya mengepalkan tangan memberi semangat untuk zha saat itu.
Usai melepas rindu, mereka berdua berjalan menuju mobil dan segera pergi dari sana. Namun zha tak langsung mengajaknya ke Rumah sakit, melainkan mengajak lidya duduk di taman dan menikmati eskrim berdua mengingat masa remaja mereka. Sertidaknya masa sebelum zha menikah hingga lidya pergi untuk pendidikannya.
“Selama aku pergi, katanya sudah Lima belas kali kak van dipertemukan dengan gadis pilihan mama. Padahal selalu ia tolak dengan berbagai cara, tapi mama kekeuh melakukan itu semua.”
“Tapi kamu ngga cemburu atau sakit hati karenanya?” tanya zha, mendapat gelengan kepala dari lidya. Mereka sudah amat paham dengan mama ana, hingga rasanya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anehnya itu.
Mereka juga tahu jika mama ana hanya memilihkan wanita polos yang akan bisa ia atur sesuka hati hingga ia masih bisa menguasai semua kekayaan ayah sam. Jika lidya menjadi menantunya, ia tak akan bisa menyetir lidya dengan segaala perintahnya.
“Entahlah, sepertinya dia langsung pusing denger aku pulang.” Sinis lidya membayangkan wajah calon mertuanya itu. Untung saja dia mama kandung zha, hingga mau tak mau harus hormat padanya meski harus menahan sejuta rasa kesal didalam hati.