
“Ooh, jadi begini kalian ketika kami tinggal? Pantesan dibujuk ikut kekeuh ngga mau?” omel wika yang masuk dan mendatangi mereka berdua.
Zha yang kaget langsung melepaskan diri dari dekapan om edo dan duduk manis seolah tak ada apapun diantara keduanya. Sedangkan om edo begitu tenang menatap wika dan yan yang mendadak kembali dari kencan mereka.
“Dia tak tenang meninggalkan anak asuhnya di rumah, makanya minta pulang karena gelisah. Taunya, Hhh,” tawa kecil om yan melihat mereka berdua tenggelam dalam kemesraan yang ada.
“Taunya malah… Aaah! Sejak kapan kalian seperti ini?” tanya wika yang segera duduk di sofa lain, seakan ingin menyidang mereka berdua dan mempertanyakan hubungan keduanya.
“Seperti ini, bagaimana?” tanya om edo padanya.
“Seperti ini… Ya, kalian pacarana?” Wika tampak semakin gemas dengan keduanya. Apalagi pada zha yang hanya diam memainkan bibir dan gelisah dengan adanya mereka berdua.
“Bukankah ini yang kalian inginkan?” Lagi-lagi om edo begitu santai menjawab keduanya. Ia menaruh laptop itu diatas meja kemudian menggenggam tangan zha dan tak segan mengecupnya dihadapan mereka berdua.
“Hey, Edo, Zha masih_”
“Masih kecil? Bahkan dia yang menyatakan cinta padaku,.” Om yan dan wika kompak membulatkan mata bergantian menatap keduanya, lagi-lagi zha hanya menganggukkan kepala.
Om yan kemudian tertawa, ia mengusap mulut dan dagunya lalu bersandar di bahu sofa. Ia senang, meski sebenarnya khawatir akan kesiapan mereka berdua menjalani hubungan beda usia, apalagi cukup jauh menurutnya. Dan lagi, ia khawatir jika zha masih begitu sulit menyesuaikan diri dengan sikap om edo yang dingin dan sulit ia taklukan.
Tak banyak yang om yan katakan untuk mereka berdua, selain ucapan rasa bahagia dan memberikan selamat atas kenaikan jenjang pada hubungan mereka. Ia juga tak akan menasehati bos sekaligus sahabatnya itu karena sudah dewasa bahkan lebih dari om yan sendiri, tapi hanya memberi beberapa pengertian dan Batasan untuk zha dan keduanya.
“Kamu masih labil, Zha. Kamu mungkin yang akan kesulitan ketika berada diposisi ingin diperhatikan tapi om edo tak bisa melakukannya,”
“Zha udah terbiasa, tenang aja.” Zha menjawab dengan begitu santainya, membuat wika ingin tertawa.
“Terbiasa dicuekin, Zha?” tanya wika, dan bahkan zha spontan menganggukkan kepala meng’iyakan ucapan wika.
Om edo langsung melirik dan bergantian menatap merea berdua yang terang-terangan membicarakannya didepan mata. Zha yang menyadari itu segera diam dan langsung menggandeng lengan om edo dan memberi tatapan manjanya, “I Love You, Om Edo.” Zha mengedip-ngedipkan mata pada kekasihnya.
“Sudahlah, tak perlu terlalu tegang seperti ini. kami masih ingin santai dengan hubungan ini, dan zha juga masih ingin kuliah. Kalian, kalau mau menikah tak perlu menungguku. Menikahlah secepatnya agar tak menjadi beban,” titah om edo pada keduanya.
Wika mendengar itu seketika melengkungkan senyumnya, tapi kenapa om yan hanya diam tak meresppn ucapan om edo saat itu seperti respon wika padanya. Atau ia masih berat untuk menikah dan melangkahi sahabatnya?
Tapi wika tak ingin mempermasalahkan itu dihadapan mereka yang tengah berbahagia saat ini, ia memilih untuk mengajak om yan beralih dari mereka berdua dan duduk dibelakang, tepatnya di balkon atas sembari menatap pemandangan malam yang indah setelah gagalnya kencan.
Om edo lantas merapikan laptop dan menggandeng zha naik menuju kamar. Tapi bukan ke satu kamar, melainkan kamar masing-masing untuk beristirahat malam ini. Tapi, tepat di persimpangan antara kedua kamar mereka zha menarik ujung lengan baju om edo dan menghentikan langkahnya.
“ada apa?” tanya om edo, kemudian meraih kembali tangan zha dan menggenggamnya.
“Zha, masih jauh dibawah umur untuk menikah?”
Zha tak ingin menjadi penghalang hubuga keduanya yang sudah terjalin lebih lama. Ia tak ingin hanya karena menunggu zha, pernikahan yang wika impikan terus tertunda. Apalagi, mereka selalu terpisah jauh berbekal kepercayaan dan zha tahu betapa wika sering mencemaskan kekaasihnya disana.
“Kalau, ehm…. Kalau, memang mau…”
“Mau apa? Hmmm?” tatap om edo yang mendunduk dan menyejajarkan pandangan keduanya. Hal itu membuat degup jantung zha semakin kuat dan gugup tak karuan seakan ingin segera lari dan kabur dari omnya.
“Ngga ada, zha Cuma… Cuma itu, zha mau balik ke kamar aja.” Zha melepaskan tangan om edo dan buru-buru beralih darinya, hingga saat itu kepala zha nyaris terbentur pintu kamarnya. Untung om edo sigap menaruh telapak tangan di kening zha hingga bisa mencegah itu semua terjadi.
Zha memejamkan mata, tapi menghela napas lega meski malu tiada terkira.
“Kau kenapa?” tanya om edo lagi padanya.
“Ngga papa, zha … Ngga apa-apa, Om. Zha masuk dulu,” pamit zha lagi dan kemudian berhhasil membuka pintu lalu menutupnya kembali. Zha beberapa kali mengusap dadanya, berusaha menormalkan irama jantung yang ser-seran dan napasnya yang tak karuan.
Setelah ia rasa tenang, barulah ia berjalan pelan untuk mengistirahatkan diri diranjang agar pagi segera datang.
Kreek!! Pintu kamar zha kembali dibuka. Ia terdiam, lalu lututnya yang bergetar berusaha menoleh kebelakang sembari menebak siapa yang mendadak masuk kedalam kamarnya. Namun, belum sempat ia menoleh, tangan besar itu telah menariknya dengan kuat hingga zha berputar menabrak tubuh didepannya.
“Om?” tatap zha, pada manik om edo yang telah terkunci hanya pada dirinya.
Telapak tangan zha bertumpu didada om edo saat itu karena refleknya dan akan ia lepas, namun om edo justru menekan pinggang zha semakin mendekat lalu menunduk mengecup bibir zha.
Cupp!! Zha hanya diam memejamkan mata. Perlahan terbuka, dan manik om edo tepat didapan matanya.
Om edo menggigit kecil bibir bawah zha untuk memperdalam panguutannya, sementara zha memiringkan kepala menyesuaikan diri denga napa yang sang kekasih tengah lakukan padanya saat ini. Eeempph!! Zha tanpa sadar mengeluarkan suara indahnya disela segala cumbuan yang ia terima.
“My First kiss,” gumam zha dalam hati, dengan tangan mereemas dada om edo sekuat tenaga sebagai pelampiasan dirinya.
“Mas, sepertinya masih berat. Kenapa?”
“Berat apanya?” tanya om yan pada sang kekasih yang tengah bertanya.
Wika hanya menundukkan kepala, ia sedikit kecewa dengan respon om yan pada perintah sang tuan untuk segera menikahinya tanpa menunggu dirinya.
“Berat sekali untuk, menikahi aku.” Wika dengan suara beratnya kemudian menjawab semua yang terasa mengganjal.
Om yan bukan berat untuk menikah, tapi hanya tak ingin melangkahi pria yang telah ia anggap sebagai kakak selama ini. Sebagai tanda hormatnya pada om edo dan keluarga besar yang telah mau menjadikan dirinya keluarga, menyekolahkan hingga memberinya kepercayaan setinggi ini bagi seorang anak yang mereka pungut di jalanan.
“Bisakah menunggu sebentar lagi?” tanya om yan pada kekasihnya. Yang saat itu tak lagi menjawab, justru langsung turun dari tempat duduk dan pergi meninggalkannya disana.