I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Will You Marrie Me?



"Kamu ngapain kesini? Mau-maunya dimanfaatn lidya untuk jemput van."


"Hmmm, cuma mau lihat arisan ala soaialita itu gimana." Zha menoleh pada mereka semua yang justru menundukkan kepala padanya.


"Urusan van itu urusan mama, Zha. Kamu sendiri yang pergi dan ngga pernah anggap mama sebagai ibu kandung kamu!" keras mama ana pada putrinya. Mungkin dengan itu semua ia berharap mendapat simpati dari semua sahabatnya disana.


"Oh... Gitu?"


"Jangan pernah campuri urusan mama sama Van. Kalian bahkan tak ada hubungan darah untuk saling melindungi," cecarnya lagi dan lagi. Semua orang yang ada disana hanya menggelengkan kepala, seolah melihat wajah asli mama ana yang selama ini dikenal lembut, berwibawa dan anggun.


Saat itu wajahnya benar-benar marah dan membuat seram siapapun yang melihatnya. Tatapannya tajam seakan siap menerkam kapan saja dengan kukunya yang siap mencengkram siapapun  didepan matanya.


Hingga mama ana sadar akan perhatian mereka dan langsung membenahi dirinya saat itu juga.


"Apa mau kamu?" tanya datar mama yang kembali pada wibawanya. "Van lemah sekarang hanya karena cinta. Kenapa harus kamu jika hanya untuk menentang mama."


"Nyatanya memang hanya zha yang bisa membuat wajah asli mama keluar." Zha tertawa renyah dengan ucapannya saat itu. Ia lantas pergi saat tahu mama ana tengah menahan kerutan wajah dengan segala rasa emosinya.


Zha bahkan sempat menunduk pamit pada mereka semua yang ada disana, dan mereka langsung membalasnya. Dan setelah itu bu nurul menghampiri mama ana disana.


"Jeng ana?" panggilnya dengan suara yang bergetar. Hanya melihat itu, bahkan bu nurul sudah memiliki bayangan buruk jika anaknya jadi dengan van dan memiliki mertua seperti dia.


Bagaimana tak takut? Bahkan dengan anak kandungnya sendiri. Apalagi ia dengar jika van sudah memiliki calon istri, mereka nyaris tak percaya jika bukan zha yang memberitahunya. Selama ini mama ana selalu menyangkal ketika beberapa orang memberitahu akan itu semua.


Sepertinya tak hanya bu nurul, tapi beberapa orang lain yang memiliki anak gadis disana. Mereka seperti langsung ingin menggenggam tangan anak masing-masing dengan erat.


"Hey, ayolah... Kita semua tahu jika zha hanya anak pembangkang. Kenapa kalian justru lebih mendukungnya?" Mama ana berusaha kembali baik memperlakukan mereka.


Meski saling colek, mereka semua kembali pada acara mereka. Sayang sekali jika harus gagal hanya karena hal kecil, apalagi sudah begitu mahal mereka membayarnya.


Saat itu lidya tengah duduk di pinggiran jalan menunggu kedatangan zha padanya. Ia tak menunggu van karena masih kesal, ia juga tak ingin masuk karena menghindari mama ana demi moodnya. Ia berdiri sembari bersandar tembok pembatas menikmati ice cream ditangannya saat ini.


Tuk... Tuk! Sebuah tangan besar mengetuk pundak belakangnya seperti tengah mengetuk sebuah pintu.


Lidya menoleh, hingga ia berhadapan dengan sesosok badut bear besar yang juga tengah menatapnya. Badut itu bahkan beberapa kali menyapa lidya dengan tangan yang terus ia gerakkan. Lidya hanya mengerenyitkan dahi melihatnya.


Badut itu seperti akrab dengan lidya. Ia menggandeng tangan lidya dan memaksanya berjalan bersama meski gadis itu beberapa kali menolaknya. Dan yangan lidya justru ia apit diantara pinggang dan ketiaknya.


"Eh... Apaan? Lepasin!" Lidya terus berusaha memberontak padanya. Tapi badut itu justru menoleh sejenak, diam seolah matanya menatap lidya dengan tajam membuat gadis itu menundukkan kepalanya.


Badut itu kembali meraih tangan lidya dan membawanya entah kemana. Lidya menoleh kesana kemari, ia mencari zha untuk berteriak dan meminta tolong padanya namun zha tak kunjung keluar.


Hingga akhirnya sang badut membawa lidya ke sebuah taman yang tak jauh dari sana. Banyak balon dan bunga yang tersusun rapi, bahkan melengkung berbentuk hati dengan nama Lidya ditengahnya.


Gadis itu semakin mengerutkan kening hingga kedua alisnya bertemu.


Sang badut kemudian bersimpuh dengan satu kaki menumpu tangannya. Ia meraih sebuah kotak disakunya, lalu mengarahkannya pada lidya


Lidya yang begitu penasaran lantas meraih kepala bear itu dan membukanya. Ternyata itu adalah van, yang tengah mengadahkan kepala menatap lidya dengan penuh harapan untuk hubungan mereka.


"Kenapa harus bear?" tanya lidya dengan tatapan getirnya. Melihat itu, justru dalam bayangannya adalah papa bear zha dan tak sama sekali terfikir zavan yang ada didalamnya.


"Kenapa, kau tak suka?" Van lantas berdiri dan menatap dirinya sendiri saat itu.


"Bukan, tapi_ tapi dya jadi inget papa bearnya zha." Lidya justru tampak berurai airmata dengan perasaan yang tak terbendung lagi saat itu.


"Tak tahu, aku hanya bertemu ini tadi. Aku saja tak terfikir akan begini, ketika lari dan fokus menghindari mama yang mungkin akan mengejarku nanti,"


Lidya lantas tertawa dalam tangisnya, dan ia spontan memeluk van begitu kuat menenggelamkan wajah di dada bidangnya. Ia tersedu, menangis sejadi-jadinya bahkan sesegukan disana.


Lidya yang sudah terlanjur kesal saat itu tak menyangka jika van justru akan memberi kejutan padanya. Pantas saja ia ingin zha mengambil alih semua urusan dengan mama. Dan saat itu, bahkan sepertinya mama ana melihat semua pertunjukan itu dari tempatnya yang ada disana.


"Hey, bagaimana dengan pertanyaanku tadi? Kau mau menikah denganku?"


"Kenapa tanya jika kakak bahkan sudah tahu jawabannya?" omel lidya dengan wajah masih terbenam disana, tapi ucapannya masih terdengar ditelinga van.


"Jadi?"


"Iya, mau. Jangan ditanya lagi, sedih nih." Lidya justru membuat van tertawa akan tingkah gemasnya.


"Hiks... Syedih," tangis kecil zha yang turun membasahi pipinya.


"Kenapa sedih? Padahal mereka disana bahagia." Om edo dengan datar menjawab ucapan sang istri yang ada didekatnya.


"Kapan zha dikasih yang romantis seperti itu?" Zha memanyunkan bibir dengan helaan napas kasar keluar dari hidungnya.


Om edo menoleh, ia menatap tajam zha yang langsung gugup melihatnya. "Masih banyak cobaan yang harus mereka hadapi nanti, terutama mamamu."


"Serem ya, punya mertua kayak mama. Untung zha ngga punya mertua,"


"Zhavira_"


"Eh, iya maaf, Zha kelepasan." Tapi om edo sudah terlanjur meliriknya kesal, wajahnya juga begitu datar seakan tak memiliki ekpresi yang bisa zha baca hanya dengan matanya.


"Sayang, maafin," rengek zha menggelendot manja pada suaminya. Tapi, sayangnya om edo sudah terlanjur ngambek padanya.


Pria itu melepas genggaman tangan zha dan mengantonginya di saku celana, setelah itu ia pergi meninggalkan zha yang masih diam ditempatnya dengan kebisuan yang ada. Melangkah terus hingga makin lama makin jauh padanya.


"Sayang... Tungguin! Ih malah ditinggal." Tapi om edo justru melambaikkan tangan tanpa menoleh padanya.


"Sayang! Baby! Om suami! Papa Bear! Haish... Ngambek kan? Parah ini," ucap zha yang mulai kebingungan dan memikirkan cara untuk menenangkannya nanti.