
"Mau kemana?"
"Ikut saja," balas om edo yang terus melajukan mobilnya. Cukup kencang, dan sepertinya perjalanan akan jauh karena om edo melaju hampir keluar dari wilayah kota mereka.
Zha tampak sesekali membenarkan posisi duduknya, dan mungkin mulai pegal dengan jauhnya perjalanan mereka. Ia bermain hp sesekali, bahkan nyaris teetidur dan bangun ketika om edo mengerem mobilnya secara mendadak.
"Masih lama?" tanya zha yang mengucek matanya.
"Sebentar lagi, diujung sana." Om edo menunjuk dengan mulutnya, dan tangan kanan meraih sebuah botol minuman untuk zha.
"Makasih," ucap zha yang langsung meneguk minumannya.
Dan mereka tiba. Mobil berhenti disebuah rumah sederhana yang cukup jauh dari jalan raya. Suasananya begitu indah, segar dengan banyaknya pepohonan yang ada disana. Bahkan dengan hamparan sawah yang cukup luas.
"Wuaaaahhh!" kagum zha melihat pemandangan yang ada. Ia turun ketika om edo turun, dan ia segera mengikuti langkah kaki om edo yang terus berjalan menyusuri jalanan kecil disawah itu. Hingga benar-benar tiba dirumah ditengah sawah dan mengetuk pintunya.
"Ya, siapa?" tanya orang yang keluar dari rumah itu. Iapun terdiam seketika melihat siapa yang datang menghampirinya. "Tuan?" ucapnya dengan mulut yang bergetar. Dan ia segera berlari meraih tangan om edo dan menempelkannya di dahi.
"Kau sehat?" tanya Om edo dengan ramah wajah datarnya.
"Saya... Seperti ini," jawab pria itu dengan menunjukkan seisi rumahnya yang sederhana. Bahkan sepertinya segan untuk meminta om edo masuk dan duduk dirumah yang bahkan kursinya tak ada.
"Dia?" tanya Pria bernama Arman itu ketika melihat zha.
"Anak Seto,"
"Ya, cantik..." puji pria itu pada zha yang menyembunyikan diri dibelakang omnya.
Mereka dijamu alakadarnya, dengan rebusan jagung dan teh hangat yang menyegarkan. Apalagi duduk dipinggiran rumah yang berhadapan langsung dengan hamparan sawah yang hijau dan begitu indah. Zha tampak begitu senang, menikmati jagungnya tanpa rasa sungkan.. Sesekali om edo menatapnya, memperhatikan semua yang ada dalam diri zha..
"Kenapa?"
"Apa?" tanya Om edo pada pertanyaan, zha.
"Om daritadi lihatin zha, kenapa? Ada yang salah?"
"Tidak..." geleng om edo padanya.
"Bohong." Zha menyipitkan matanya. Gadis itu lantas berdiri, dan ia pergi menyusuri jalanan kecil yang ada disana. Sesekali menautkan telapak tangannya pada tanaman padi hijau yang ada disana.
Sedikit jauh, zha merentangkan tangan menghirup dan menikmati semua udara segara masuk kedalam paru-parunya. Suasana yang jarang ia dapatkan di kota, apalagi setelah tinggal dirumah om bekunya.
"Aaaaaa! Zha suka!" pekik gadis itu mengekspresikan perasaannya. Ia terus berlari menyusuri sawah luas yang terbentang didepan matanya.
"Ada apa kemari?" Pak arman kembali menghampiri sang tuan yang tengah duduk santai disana.
"Traumanya?" Pak arman kembali mengingatkan, karena ia juga tak ingin bosnya larut dalam trauma selama hidupnya.
"Tak terlalu untuk saat ini. Mungkin karena aku menjalankan amanatnya dengan baik, hingga rasanya beban itu sedikit berkurang."
"Benar-benar baik?"
"Apa?" tatap om edo pada sahabatnya itu. Seperti akan membahas sesuatu, yang om edo masih menghindarinya hingga saat ini. Ia masih enggan membahas, apalagi jika nantinya akan tertekan lagi dengan semua beban yang ada.
"Itu... Aku hanya mengikuti alurnya. Dia masih terlalu kecil untuk_" terang om edo. Menjelaskan apa yang menjadi keputusannya sendiri, yang bahkan zha belum sama sekali mengetahui amanat itu hingga saat ini.
"Dia sudah bisa memilih."
"Maka biarkan dia merasakan, hingga akhirnya tahu dan bisa memilih siapa yang terbaik. Bukankah begitu?" Om edo menyeruput teh hangat yang ada didekatnya.
Pak Arman hanya menganggukkan kepala beberapa kali ketika mendengarnya. Ia paham yang di kataka sang bos, dan hanya bisa mendukung untuk setiap keputusan yang ada. Meski mungkin semua kisah itu akan berlangsung cukup lama. Keduanya mengobrol sejenak mengenai pekerjaan masing-masing, dan saling melepas rindu dengan curahan hati pria yang sama-sama ditinggal wanita menjelang pernikahannya. Tapi pak arman bukan orang yang mudah meratap, justru ia tertawa mengingat segala kebodohan yang ada pada dirinya saat muda.
"Kau mau istrirahat? Disni bagus untuk relaksasi. Kau hanya harus bersila, dan menekuk tanganmu diatas lutut seperti ini." Pak arman memberikan contoh dan cara agar om edo bisa mengikutinya saat itu juga. Ia hanya ingin bosnya itu memenfaatkan waktu untuk menenangkan diri apalagi ketika zha tak ada diantara mereka.
"Aku harus_" Om edo mencoba menghindar, tapi Pak arman kembali menarik lengannya untuk duduk bersama.
"Dia aman, tak akan nyasar dan tak akan celaka. Ini bukan hutan hingga dia perlu kau kahwatirkan,"
"Tidak_ Aku hanya_"
"Diamlah, dan duduk dengan tenang. Ambil napasmu dan tarik panjang, serta rasakan semua sensasi tenang yang ada disini. Duduk, dan lupakan semua kepedihan dalam hati," ucap pak arman dengan mata terpejam bersila dan kedua tangan seperti orang yang tengah bertapa.
Om edo menoleh dan perlahan mengikutinya. Ia juga melakukan cara yang sama, berusaha memperoleh ketenangan seperti apa yang sahabatnya itu ucapkan. Dan benar saja, memang rasanya begitu ringan dengan ditubuhnya, terpejam sembari terus menikmati udara yang ada, berhembus langsung mengenai dan masuk kesetiap pori-pori kulitnya yang bersihh. Untung saja zha mencukurnya kemarin.
Zha bersenandung, terus berjalan menuju kembali kerumahh itu hingga ia menemukan om edo dalam ketenangannya. Ia tersenyum miring, entah apa yang ada dalam kepalanya saat itu lalu kembali berjalan mengendap endap dan terus diam hingga semakin mendekat. Zha naik ke teras rumah itu, bahkan demi rencananya ia merangkak terus menghampiri om edo dibelakangnya.
Keisengan zha semakin menjadi. Ia menyentuh pinggang om edo, kemudian merayap terus hingga ke bahunya. Om edo yang terpejam emngerenyitkan dahi seketika dengan kelakuan orang yang ada dibelakangnya, meski ia tahu itu siapa hanya dengan sentuhan dari telapak tangan mungilnnya. Zha merayap, tangan mungiil itu mencengkram kuat bahu seluas samudera itu dan sesekali menyandarkan dagunya disana. Ia tersenyum ketika melihat rahang om edo mulai tegang akibat kelakuannya.'
Om edo masih diam, jujur ia menikmati semua pergerakan zha dibelakang tubuhnya saat itu. Hingga hembusan napas zha terasa begitu hangat ditelinga om edo, membuat ia seakan tak bisa menahan diri dan...
Greepp! Tangan besar itu meraih lengan zha dan menariknya. Zha yang terkejut tak dapat menyeimbangkan diri hingga ia jatuh dan langsung ditopang oleh om edo dengan satu tangan saja. Zha jatuh terlentang dalam dekapan pria itu, yang langsung menatapnya dengan begitu tajam bahkan intens menjelajadi seluruh wajah cantiknya. Bahkan zha melihat dengan jelas, jakun yang menonjol itu bergerak seperti ia tengah menelan saliva.
"Om_" panggil zha gagap padanya. Tubuhnya gemetar, matanya berkedip-kedip apalagi ketika om edo terus menunduk mendekati wajah zha, semakin lama semakin dekat mengikis jarak diantara keduanya. Zha memejamkan mata. Tangannya mencengkram lengan om edo dengan begitu kuat hingga urat.
"Kenapa memejamkan mata?"
"Hah? Apa?"