I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Penjelasan Van dan siapa dinda.



Mereka saling tatap. Bahkan saat itu zha menaruh sedikit rasa kecewa pada van yang ada dihadapannya,


tapi juga ingin segera bertanya ada apa sebenarnya diantara mereka semalam. Wika menangkap itu semua dari mata zha, dan kemudian meminta van masuk dan duduk bersama disofa ruang tamu  besar mereka.


“Kak wika, bisa panggilin om edo?” pinta zha tanpa wika duga.


“Tapi zha, aku mau bicara sama kamu_”


“Gara-gara semalem, om edo mikir yang tidak-tidak sama zha. Jadi, zha mau kalau om edo_”


“Ya sudah, tak apa.” Van mengangguk pasrah atas keinginan zha padanya.


Wika meninggalkan mereka, ia berjalan menuju ruangan om edo dan memanggilnya. Tampak om edo tengah


berfikir keras di dalam ruangan itu, mungkin masih memikirkan tentang zha. Dan saat itu langsung buyar ketika wika memberitahu kedatangan van.


Om edo menghela napas besar, kemudian ia berdiri mulai melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Ia segera menatap van yang sejak tadi memperhatikan zha, sementara zha sendiri terus menundukkan kepala dihadapannya. Dan zha langsung mengangkat kepala dan menoleh ketika om edo datang menghampirinya.


“Om,” sapa zavan yang berdiri dan membungkuk memberi hormat. Om edo membalasnya mengaggukkan kepala.


Mereka duduk kembali. Dan zha yang saat itu ada diantara mereka merubah posisi untuk berpindah didekat om edonya.


“Ada apa?” tanya om edo dengan wajah datarnya. Tapi mata itu tak menyemunyikan semua rasa penasaran


yang menggelanyut dalam dada.


“Hanya ingin tahu kabar zha, karena saya tak bisa menghubunginya. Dan… mengenai malam tadi_”


“Lanjutkan,” titah om edo, meski ia akui jika jantungnya sendiri bersiap mendengar kemungkinan terburuk yang terjadi. Bahkan kemungkinan jika ia harus kehilangan zha hanya untuk kesalahan yang juga ia lakukan.


“Saya tak menyentuh zha sama sekali. Menyentuh, tapi hanya membelai pipinya sebelum Anda datang


menjemput. Dan… Siapa yang menelpon semalam?”


Van juga menjelaskan semua kronologi kejadian hingga ia membawanya ke kamar itu, bahkan


siapa yang menggantikan pakaian untuk zha. Dan ia bersumpah tak ada disana ketika semua itu terjadi karena ia tengah mengganti pakaiannya sendiri. Van juga penasaran pada orang yang memberitahu info itu dan bahkan memberi kabar buruk pada om edo mengenai keduanya. Itu sebuah fitnah keji untuk dirinya dan zha.


“Seorang gadis,” jujur om edo. Yang saat itu ia tengah dalam suasana pertemuan dan seketika pergi


mendengar kabar zha. Apalagi dengan bumbu tak sedap yang bercampur di dalamnya. Untung saja masih sabar hingga tak menghajar van habis-habisan.


Van hanya tersenyum miring. Ia seketika tahu siapa yang ada dibalik semua ini, namun ia belum memberitahunya dengan zha secara gamblang. Ia ingin zha melihatnya sendiri, dan membuktikan untuk menilai dengan mata kepala ketika mendapat semua faktanya.


“Hpmu yang hilang, bagaimana?” tanya van. “Aku bisa menghubungimu, tapi tak ada yang mengangkatnya. Aku ingat, saat kejadian itu hp kita disimpan di penitipan barang karena kita diminta fokus ke pesta.” Dan hanya van  dan panitia yang diizinkan membawa hp itu dalam saku jasnya.


“Mungkin dinda. Bisa zha pinjem hp kakak buat nelpon dia?” tanya zha yang akhirnya angkat bicara.


“Tidak… Aku beri nomornya, dan kau menghubungi lewat om edo, atau kak wika.” Van segera mencari nomor dinda untuknya.


harusnya ia harus bisa professional demi menyelesaikan semua masalah yang ada. Karena ini adalah masalah mereka bertiga sebenarnya.


Om edo memberikan hpnya pada zha, dan gadis itu segera menghubungi sahabatnya disana.


“Hallo, dinda? Ini zha pakai nomor om. Dinda dimana?” tanya zha, menurut agar bersikap santai seperti biasa.


“Zha? Ya ampun, kamu udah sehat? Aku khawatir sama kamu, tapi aku ngga tahu hubungin kamu gimana. Bahkan kak van ngga biarin aku nolong kamu setelah naik. Aku bingung, Zha…”


Deggg!! Terasa janggal zha ketika zha dengar ucapan dinda padanya yang berbeda dengan keterangan van pada mereka.


“Hp aku, sama kamu? Kak van, apa hubungi daritadi?” tanya zha.


“Ngga ada, zha. Ngga ada dia hubungi nomor kamu. Terus, siapa yang jemput semalam? Maaf, aku hubungi om edo karena cemas kamu di apa-apain sama dia. Apalagi_” Ucapan itu terjeda seolah dinda benar-benar cemas disana. Ia bahkan mengeluarkan suara seakan ia tengah menangis tersedu mencemaskan zha sahabatnya.


“Aku ngga papa. Semalam om edo langsung jemput dan bawa pulang kok. Mengenai hp, simpen aja dulu dan kita ketemu disekolah besok,” jawab zha yang seakan sudah tak tahan lagi mengobrol dengan sahabatnya itu. Padahal, terkadang mereka bisa lebih dari satu jam berbincang dan bersenda gurau mengobrolkan apapun yang kadang begitu ngabrut tak jelas.


Usai pamit, zha segera menutup telepon dan memberikan kembali hp itu pada om edonya. Ia langsung pucat, cemas dam bahkan menggigiti jarinya sendiri saat ini. Ia masih tak percaya dan tak sanggup untuk sekedar menduga apa yang terjadi pada ia, van dan dinda, bahkan ia bertanya-tanya apa motif dinda melakukan semua itu pada mereka.


Om edo melihat kecemasan itu seketika meraih tangan zha agar ia tak menggigitnya lagi, dan bahkan menggenggam tangan itu agar zha tak mengulangi apa yang ia lakukan. Terasa jari jemarinya dingin dan gemetar, pertanda ia tengah mengalami sebuah ketakutan yang luar biasa dihatinya.


Van melihat itu semua. Jujur saja hatinya perih saat ini, tapi ia tak akan mungkin bisa menyergah mereka berdua. Ia bukan siapa-siapa zha, dan ia sangat paham akan posisinya. Tapi, kapan dia yang akan ada disan dengan posisi yang sama? Pasti ia akan memeluk zha dengan segala rasa cinta yang dimiliki untuk zha.


“Om, bolehkan saya meminta izin untuk membawa zha nanti sore?”


“Kak Van, mau ajak zha kemana?”


“Ke suatu tempat. Nanti kamu akan tahu semuanya, bagaimana selama ini orang yang kamu bela, Zha. Dia


yang kamu anggap polos dan baik, tapi _” Van tak melanjutkan ucapannya.


Saat itu zha langsung menoleh pada om edo  untuk meminta izin atas ajakan van padanya, “Om ikut,” pinta zha.


Van hanya menganggukkan kepala. Meski sebenarnya sedikit keberatan, tapi ia kira itu jalan tengahnya saat ini. Padahal awalnya ia ingin menggunakan moment itu untuk mengungkapkan perasaannya pada zha, namun harus kembali ia kubur dalam-dalam dan mencari moment lain yang  pas untuk keduanya.


Mereka hanya diam usai van pulang. Zha dan om edo duduk berdua di sofa dan belum bicara apa-apa. Om edo menyandarkan tubuhnya di bahu sofa dan sesekali tampak menghela napas, entah lega atau bagaimana hingga zha akhirnya bertanya.


“Sekarang om percaya sama zha? Zha ngga lakuin apa-apa sama kak van. Zha juga tahu kok, gimana kalau saat itu_”


“Aku hanya cemas, Zha. Tanggung jawabku begitu besar padamu, hingga sekecil apapun kesalahan, itu begitu akan menyiksa batinku saat ini.”


“Hanya… Karena ayah dan amanatnya?” tatap zha, seperti berharap sesuatu yang lain pada ucapan


om edo padanya.


Tapi keduanya tak berdebat. Om edo yang baru saja meminum obat penenangnya itu perlahan memejamlam mata dan tidur disana, dan mungkin fikirannya sendiri sudah tenang saat hingga merasa begitu lega. Zha yang melihatnya ikut lega, hingga ia akhirnya membaringkan tubuh dengan paha om edo sebagai bantalnya. Mereka tidur bersama disana, dan wika membiarkan tak berani mengganggunya.