I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Aku ingin membahagiakanmu



"Kak van tumben ke perpus? Zha cariin daritadi," tanya zha yang kemudian duduk disebelahnya. Hari itu memang mereka free karena semua materi telah habis, dan pengambilan nilai ujian praktek sudah selesai. Hanya tinggal menunggu waktunya ujian nasional yang tak lain adalah akhir untuk mereka semua bersekolah disana.


Kadang bagi zha itu begitu singkat, karena ia baru saja menyesuaikan diri dengan semua sahabat baru dan lingkungannya.


"Kau mencariku?" tatap van dengan senyumnya. Lalu memiringkan kepala dan mengganjal dengan tangan kiri agar bisa terus menatap zha. Zha yang diperlakukan seperti itu langsung tertunduk dan tersipu malu padanya.


Wajah dan semangat zha begitu cerah hari ini. Ia tidur memeluk bearnya lagi, dan mendapati om belu menyayanginya dengan sepenuh hati hingga rela menjahit bear demi dirinya. Meski sebenarnya mampu membeli sepuluh bear hanya dalam waktu sekejap, tapi rasanya begitu istimewa bagi zha. Tapi entah kenapa, dan memang om beku yang saat ini terlintas dalam fikirannya.


"Kakak, ih... Zha nanya,"


"Sama, aku juga bertanya."


"Engga gitu. Baisanya kakak duduk di balkon dan justru tidur disana, tapi_"


"Huuussssst!!!" tegur penjaga perpus pada keduanya yang cukup berisik disana. Membuat zha semakin tertunduk malu karena tingkahnya.


"Kan," tatap van semakin intens pada wajah cantik zha yang semakin merona. Padahal ketika masuk, zha termasuk gadis buluk yang ditatap saja tak sedap, hingga semua orang tak mau dekat dengannya.


"Maaf... Kan, Zha Cuma nanya." Van tersenyum padanya.


Perlahan mereka diam. Keduanya fokus dengan buku masing-masing, dan bahkan zha memang mendapati van membaca buku pelajaran di depan matanya. Yang pasti bukan untuk merebut perhatian, karena sejak awal van yang terlebih dulu duduk disana sebelum zha.


Zha memperhatikan wajah van yang memang tampan ketika sdang fokus seperti ini. Ia begitu serius dengan tatapan tertuju pada satu titik yang tengah ia baca. Zha tak meragukan van jika ia tengah berusaha fokus untuk ujian mereka yang sebentar lagi akan datang.



"Zha... Apakah kamu pernah begitu memiliki keinginan untuk membahagiakan orang lain?" tanya van secara mendadak, dan cukup membuat zha terbuyar konsentrasinya. Zha juga langsung bingung akan menjawab apa dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh van padanya.


"Zha?" tunjuknya pada diri sendiri. "Zha... Zha bingung harus jawab apa. Menurut zha, zha saat ini harus terus bahagia. Karena zha belum tahu siapa yang harus zha bahagiakan. Bahkan untuk nilai dan kelulusan, zha Cuma pengen buktiin ke om kalau zha bisa."


Hanya itu jawaban polos dari seorang zhavira. Yang apapun masalahnya, semua hanya ditujukan pada om beku yang seakan selalu menilainya dengan apapun yang ia lakukan. "Emangnya, kakak mau bahagiain siapa?" tanya zha canggung.


"Kamu,"


"Hah?" pekik zha spontan, dan untung masih bisa ia kontrol agar tak lagi mendapat teguran dari pengawas kali ini. Tapi, van lagi-lagi hanya tersenyum padanya dengan begitu bahagia.


Ya, senyum van begitu lepas seperti tanpa beban ketika bersama zha. Yang semua orang akan langsung bengong ketika menatapnya. Andai mama ana dan ayah van tahu anaknya bisa selepas itu tertawa, pasti mereka juga amat bahagia meski sedikit penuh tanda tanya.


"Kau tak mau? Aku serius, bahwa aku ingin membahagiakanmu."


"Apa? Kau tak suka dengan niatku? Atau, sudah ada orang lain dihatimu?" tanya van, tapi zha hanya tampak menggelengkan kepala dengan ragu padanya. Ia takut salah jawab karena masih belum bisa memahami perasaannya sendiri saat ini.


"Zha belum kefikiran arah sana. Zha Cuma mau sekolah, dapet nilai bagus, kuliah. Itu aja, udah." Sesantai itu zha dengan jawabannya pada van.


Van hanya terus menatap jawaban polos zha padanya. Ia melihat keraguan itu di mata zha, yang masih coba ia mencerna semua jawaban zha dengan netranya. Tapi zha saat itu hanya kembali fokus dan diam membaca buku yang ada.


Suara bel terdengar untuk semua adik kelas mereka. Dinda tak ikut ke perpus dan entah apa yang ia kerjakan, atau tidur di dalam kelasnya. Zha merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu, seakan ia tengah dipenuhi beban berat dalam hidupnya dan ia ingin membantu jika bisa.


Dering hp zha berbunyi, dan om yan menghubunginya untuk menunaikan janji. "Kan, bear zha udah dijahit sama om edo. Jadi zha ngga perlu boneka lagi," jawab zha.


"Om akan mengajakmu jalan-jalan, anggap saja ini sebagai penghibur menjelang zha ujian."


"Oh, gitu? Yaudah, nanti zha kabarin kalau udah_"


"Om sudah didepan, dan sudah izin untuk membawa zha pergi sekarang juga." Om yang memberi kejutan pada keponakan tercinta. Hal itu sontak membuat zha membulatkan mata dengan begitu bahagia.


Zha segera merapikan semua bukunya, meski ia tak sempat menyusunnya kembali. Ia pamit manis dengan van yang diam terus menatap dengan mimic wajah seolah penuh kecemburuan pada zha dan omnya. Tapi sadar, jika ia tak memiliki hak sama sekali untuk itu sebelum zha benar-benar jadi miliknya.


"Kak, zha pergi dulu ya? Byeee," pamit zha padanya.


Zha melangkah dengan cepat keluar dari sana. Ia berlari menuju kelas untuk mengambil tasnya saat itu juga, "Dinda ngapain?" tanya zha ketika mendapati dinda menyentuh tasnya.


"Ah... maaf Zha, tadi tasnya buat bantal sama dinda ngga sengaja. Jadi, dinda cium dikit, takut kalau_"


"Oh, yaudah ngga papa. Sini tasnya." Zha mengulurkan tangan meminta tas itu dari dinda dan segera memakainya. Dinda bertanya zha akan pergi kemana, dan saat itu zha menjawab dengan segala kejujurannya bahwa ia akan pergi dengan salah satu om yang ia miliki. Meski itu membuat yang lain dengan cepat meliriknya, tapi zha biasa saja dengan respon mereka.


Zha dengan percaya diri keluar lagi dari kelas. Ia berjalan begitu riang berjingkrak jingkrak seperti bocah, dan bernyanyi hingga benar-benar tiba didepan sekolah mencari om yan yang sudah menunggunya. Ia juga tak perduli dengan para siswa yang terus menatapnya dengan penuh tanya, dan bukan kewajiban zha memperjelas karena sejak awal ia tak membantah semua tuduhan mereka padanya.


"Hey, sayang..." Om yan meraih zha dan mengecup keningnya saat itu juga.


"MAkasih om, udah tepatin janji sama zha," ucapnya bahagia. Tapi, mereka tak hanya berdua karena rupanya wika ada disana dan ikut bersama mereka. "Hay sayang," sapa wika tak kalah bahagianya.


Zha duduk dibelakang bersama wika menobrol bersama dengan berbagai tema, dan om yan didepan menyetir mobilnya. Dengan antusias zha menyebut semua rencana bermain nanti, yang amat jarang ia temukan waktu untuk itu semua. Wika hanya menganggukkan kepala mendengarnya dan ikut antusias dengan semangat zha.


"Yah... Kenapa ada om beku?" tatap zha kaget ketika ada om edo yang tengah duduk bersedekap disebuah kursi tempat mereka akan makan siang hari ini.