
Zha memanfaatkan hari libur yang panjang itu untuk membereskan kamarnya. Ia dibantu wika, merapikan buku dan beberapa perlengkapan SMA yang pastinya sudah tak akan ia pakai lagi setelah ini.
“Kalau dipilih yang masih bagus, bukunya bisa disumbangin, Zha.” Wika memilih beberapa buku, dan perlengkapan yang memang masih bagus menurutnya. Setelah itu ia taruh di kanton sendiri dan nantinya akan ia berikan pada bibik agar ia memberikannya pada yang ada di kampung belakang rumah itu.
Zha hanya mengangguk, lagipula itu juga tak akan terpakai lagi nanti. Apalagi, ia juga akan menikah dengan om edo dan pasti pindah kamar kesebelah. Ia sekilas teringat bear yang selama ini menemaninya. Sudah hampir setahun jika dihitung dari pertama mereka bertemu.
“Zha,” panggil wika yang menemukan sebuah album foto ditumpukan buku lamanya.
Album foto kecil yang terlihat sangat usang, namun isi didalamnya masih dapat dilihat dengan baik. Banyak foto disana termasuk foto masa bayi zha yang masih imut dan menggemaskan. Ada satu foto zha digendong sang mama, menghadap kedepan dan ia tersenyum dengan begitu manisnya. Dari foro itu ia rindu dan ingin mencari sang mama, berharap masih ada kasih sayang untuknya.
“Zha tahu ini siapa?” tunjuk wika pada foto seorang pria, yang saat itu juga menggendongnya.
“Siapa?”
“Calon suami zha,” jawab wika dengan tawanya. Ia hanya lucu, ketika melihat sosok om edo remaja tengah menggendong balita yang akan menjadi istrinya sendiri kala itu.
“Aaah, om edo ganteng banget. Miri poppa korea pas masih muda,” kagum zha yang langsung salah tingkah dibuatnya. Bahkan merebut foto itu dan mengeluarkannya dari sana. Sekarang memang masih tampan, bahkan lebih matang. Hanya saja sepertinya masa muda itu lebih manis tak seperti sekarang yang lebih banyak diam da serius dalam ucapannya.
“Kadang zha pengen digombalin,” gumamnya sesuai usia yang memang perlu banyak pembuktian dari sebuah kata cinta. Meski ia juga tak pernah meragukan om edo untuk dirinya. Zha bahkan memotong foto itu dan ia taruh dibelakang cash hpnya.
Kegiatan terus berlanjut, hingga tak terasa hari sudah sore saat ini. Wika turun untuk memasak dan mempersiapkan makan malam untuk mereka semua, tapi aktifitasnya terhenti ketika om edo menelpon dan megabari ingin mengajak zha pergi malam ini.
“Yasudah, aku pesan via delivery saja,” pasrah wika, yang kesal sebenarnya.
“Pesanlah sesuka hatimu, aku akan membayarnya.”
“Wuaaaa, baiklah jikalau seperti itu.” Wika segera menutup telepon dan semangat memesan makanan untuk dirinya sendiri saat ini. sangking asyiknya menekan semua makanan yang ada, ia sampai lupa untuk memberitahu zha jika om edo akan mengajaknya kencan mala mini.
Dan tak lama kemudian mobil om edo datang. Wika terlonjak kaget karena belum mempersiapkan zha sama sekali sebelum mereka pergi. Semakin kacau ketika zha datang dan menyambutnya disana.
“Om!” Zha berlari langsung memeluk kekasihnya.
“Hey, kau belum mandi?”
“Hah, biasanya juga belum. Kenapa, bau ya?” tanya zha yang kemudian mengecupi aroma tubuhnya sendiri.
Om edo tampak menghela napas kasar, ia melirik kearah dapur dan melihat wika tengah bersembunyi dibalik tiang penmbatas antara dapur dan tempatnya saat ini. ia menundukkan wajah, lalu memberikan senyum pada bosnya sebagai permintaan karena telah lalai dalam perintah
“Hhehe, maaf, Tuan. Sangking asyiknya scroll buat pesen makanan,” balas wika yang mulai mendekat padanya secara perlahan
“Apa sih?” tanya zha yang justru kebingungan melihat mereka berdua. Dan wika akhirnya menjelaskan semuanya, bahwa om edo akan mengajaknya kencan sore ini. Tapi karena kelalaiannya, akhirnya kencan berubah jadwal menjadi malam hari.
“Hmmm? Tahu apa kau tentang romantis?” goda om edo yang menunduk menyejajarkan wajahnya pada zha.
“Hehe, zha juga ngga tahu. Zha Cuma tahu, kalau dinner berdua itu romantis,” jawab zha meraih wajah kekasihnya. Tapi ia diam, merasakan sesuatu yang tak nyaman disana dan begitu kasar ditangannya. “Zha cukur dulu, yuk?” ajaknya pada om edo.
Pria itu hanya mengagguk dan menelengkan kepalanya mengajak zha naik keatas menuju kamarnya. Om edo bersiap, membuka kemeja dan hanya memakai celana panjang bahannya tanpa penutup dada. Sementara itu zha masuk ke kamar mandi untuk mempersiapkan semua alatnya disana.
Kali ini mereka tak terlalu canggung lagi ketika berhadapan dan bertatap mata, meski zha akui masih saja ser-seran ketika begitu dekat dengannya. Zha dengan telaten membersihkan wajah om edo hingga benar-benar bersih menurutnya. Menatap wajah zha yang begitu serius didepan mata, om edo hanya bisa menelan salivanya beberpa kali, ia bahkan menggigit bibir bawahnya sendiri seakan tengah menahan godaan akan sesuatu yang begitu manis didepan matanya.
“Jangan gerak,” tegur zha padanya. Hingga tak beberapa lama kemudian semuanya bersih, dan zha membilas wajahnya dengan handuk yang ia bawa sejak tadi. Zha yang duduk seperti biasa diatas meja rias itu seperti sengaja memperlambat pekerjaan, ia suka ketika om edo memperhatikan dirinya seperti itu.
“Kau sengaja?” tatap tajam om edo padanya.
“Sengaja apa? Zha lagi kerja kok. Zha sedang mengamati, ini bersih beneran apa belum. Masa iya nanti zha ulang lagi. Om kalau sama zha nethink mulu,”
“Nethink?” tanya om edo mengerenyitkan dahinya.
“Negatif Thinking! Udah ah, zha mau turun, mandi terus dandan yang cantik. Mau jalan sama om-om, week,” ledek zha sembari menjulurkan lidahnya.
Om edo tak terima dengan itu semua, ia lantas menahan zha agar tak bisa turun dari sana. “Bagaimana tadi?” tanya om edo mendekatkan wajah keduanya.
“Tadi apanya? Zha ngga ngapa-ngapain kok,” zha berusaha menghindar, tatapan mat aitu membuat degup jantungnya semakin tak karuan rasa. Bahkan, kakinya ikut bergetar saat ini hanya karena posisi mereka.
“Itu tadi, lidahnya kenapa? Coba lihat lagi,” pinta om edo.
Zha menurutinya, perlahan menjulurkan lagi lidah itu padanya. Tapi segera ia masukkan kembali ketika melihat tatapan dan wajah om edo seperti ingin menerkamnya saat itu juga. Akhirnya jahilnya zha muncul, mengeluarkan dan menjulurkan lagi lidah itu beberapa kali untuk mengerjai omnya hingga tampak begitu gemas padanya.
“Tangkep kalau bisa,” tantang zha.
“Sekali ku tangkap, akan susah lepas. Kau siap?” balas om edo, tapi itu tak lantas membuat zha menyerah. Ia kemudian kembali menjulurkannya beberapa kali, hingga benar-benar om edi bisa menangkup lidah itu dengan mulutnya. Bahkan om edo menahan dengan menggigit bibir bawah zha.
“Eeemmhh!!” pekik zha dengan suara seadanya. Tapi bukan dilepas, om edo justru menghisapnya dengan kuat dan membelit lidah zha di dalam mulutnya. Spontanitas zha saat itu langsung mengalungkan lengan dileher om edo yang juga mendekap pinggang mungil zha agar semakin memperdalam aktifitas keduanya.
Pria itu menggigit lidan dan bibir manis zha dengan bibirnya. Begitu manis dan ranum hingga ia harus sekuat tenaga menjaga dirinya sendiri dari godaan yang ada didepan mata.
Zha seakan sudah tak canggung lagi karena ini bukan kali pertama, meski ia juga belum bisa membalas seperti apa yang om edo lakukan padanya. Tubuh zha benar-benar lemas dan sekujur tubuhnya serasa melayang dengan kaki yang tak lagi berpijak dibumi.
Iya, karena ia masih duduk dimeja saat itu dan mendongakkan kepala untuk menyesuaikan diri dengan kekasihnya.