
Om yan dan wika meghabiskan waktu bersama, sembari menunggu sejoli beda usia itu pulang. Meski melenceng dari tujuan awal, tapi keadaan itu ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jarang sekali ia memiliki waktu libur dan bisa bersantai seperti ini dari gangguan siapapun. Hanya beberapa jam, tapi itu cukup baginya.
Hingga suara mobil berhenti di garasi, tapi bahkan om yan tak beranjak sama sekali untuk menyambut mereka berdua. Bahkan ia melarang wika untuk pergi meninggalkannya."Biarkan," ucap om yan pada kekasihnya itu.
Terdengar suara Langkah kaki om edo masuk kedalam rumah lewat pintu samping yang terhubung langsung dengan ruang tengah, dan saat itu wika segera menoleh pada keduanya. Siapa sangka,saat itu zha tengah tertidur pulas dalam gendongan pria dewasa yang tengah begitu bertanggung jawab atas dirinya.
"Tak ada yang beranjak menolongku?" tatap om edo pada kedua manusia yang ada disana.
Dengan hembusan napas malasnya, om yan segera bangkit dari sofa dan ia mengulurkan tangan untuk meraih tubuh sang keponakan dari sahabatnya. "Apa aku memintamu menggendongnya?" tanya om edo pada sahabatnya itu.
"Lantas?" Om yang memicingkan mata.
"Ambil semua mainan yang baru ia dapatkan dari wahana. Semua ada dimobil, dan bahkan aku tak tahu gunanya untuk apa." Om edo lantas berjalan meninggalkan mereka berdua yang bengng disana, dan ia terus berjalan menaiki tangga mengantar zha ke kamarnya.
Dan memang, permainan cukup banyak zha dapat dri wahana. Mungkin dari bermain capit atau yang lainnya, hingga penuh satu paper bag besar dengan berbagai jenis boneka dan dengan berbagai ukuran. Om yan lantas membawanya naik ke kemar zha, bersama dengan wika yang akan segera mengganti pakaiannya.
Om yan mendekati sahabatnya. Ia menjulurkan telapak tangan dan menempelkannya di dahi om edo untuk memeriksa suhunya saat ini, lalu membandingkan dengan suhunya sendiri. "Apa maksudmu?" tatap nyalang om edo padanya.
"Ternyata kau sehat," balas om yan yang kemudian mengatupkan bibirnya sendiri.
Tatapan tajam itu tak bisa lagi dihindari, seakan bisa menerkam ia kapan saja hingga mati sia-sia.
"Aku hanya mengecekmu saja. Salah?" ujar om yan. "Lagipula kau tumben mau mengajaknya bermain, ada apa?"
"Aku bertemu vina," jawab om edo, dan seketika om yan membulatkan mata mendengar penuturannya. Vina kembali, padahal ia Sudah berjanji akan pergi jauh dan tak akan mengganggu om edo lagi setelah ini. Ia berjanji seperti itu agar tak ikut masuk kedalam penjara bersama ayah dan sepupunya, tapi ia Sudah melanggar janji saat ini dengan datang kembali.
"Lantas, apa hungannya dengan zha dan permainannya?"
"Tak ada. Aku hanya ingin lepas dari rasa kesal dan mengalihkan perhatian saja," balas om edo yang kemudian berbelok masuk menuju kamarnya.
Om yan semakin menggelengkan kepala melihatnya. Entah ia harus berkata apa, antara kesal, bingung, tapi juga sedikit senang melihat perubahan mereka berdua yang semakin akrab..
Hari sudah semakin larut, bahkan om yan tak jadi mengajak mereka bertiga untuk diskusi saat ini. Entah, kapan lagi ada kesempatan untuk bertemu karena ia akan segera kembali ke tambang.
**
"Pagi cantik," sapa wika yang membangunkann zha. Ia membuka horden hingga matahari menyinari kamar besar itu dan membuat zha silau akan sinarnya.
"Kok udah pagi aja?" tanya zha yang bangun dengan terpaksa. Rasanya ia lupa, seperti baru saja bermain lalu diajak pulang paksa oleh om edo dan belum puas menikmati kegembiraannya. Meski sudah begitu banyak yang ia dapatkan disana dan bahkan menghabiskan waktu Dua jam di wahana.
"Pagi lah, malam udah lewat. Ayo bangun, ini hari senin. Om yan kangen sama zha dan pengen ajak zha ngobrol," bujuk wika yang kemudian memberikan handuk padanya.
Zha memang rindu pada om yan, dan ia begitu semangat untuk segera bertemu dengannya saat ini. Mandi ia percepat, dan segera mengganti seragamnya dengan begitu rapi di hari senin ini. Ia lantas berlari turun menuju meja makan, tapi om yang sedang berdiri menerima sebuah telepon di hpnya.
"Om yan!" pekik zha, dan langsung menggelendot manja di lengan bahunya yang seluas samudera.
Tak lama setelahnya, om edo turun seolah merusak suasana mesra mereka berdua. "Kenapa menatapku seperti itu?" tanya om edo, tapi zha menggelengkan kepala sembari mengerucutkan bibirnya.
"Om yan, zha mau_"
"Sudah ku bilang tak boleh, kenapa merayunya?" potong om edo sebelum zha menylesaikan ucapannya.
"Mcccckk!" Zha mencebik dan langsung menatapnya sinis.
Terdiam sejenak untuk sarapan bersama, dan om yan memanfaatkan waktu sesudahnya untuk mengajak mereka berdua bicara. Dimulai dari permintaan zha untuk motor barunya.
"Ya, dia mulai ingin bebas. Berkeliaran kesana kemari bersama teman prianya yang tak jelas," cicit om edo dengan penolakan yang sama.
"Hey! Apaan sih nuduh orang begitu? Zha mau motor biar gampang kesana kemari. Zha tahu kalau om repot anter jemput," sergahnya geram.
"Alasan yang terlalu dibuat-buat," cibir om edo, dibalas tatapan garang zha padanya. Ia yang saat itu masih makan, lantar menggigit ayam gorengnya dengan kuat seakan menggigit tangan om edo didepan matanya.
"Siapa yang buat-buat? Lagian wajar lah kalau zha deket sama cowok seumuran zha. Masa iya zha deketnya sama om-om terus. Hidup zha masih perlu banyak warna,"
"Lalu kau kira aku abu-abu?"
"Hey... Stop! Astaga, kalian." Om yan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia terkesima dengan keakraban mereka semalam, tapi kesal lagi dengan pagi ini.
"Om kenapa larang zha deket sama cowok?"
"Mereka hanya merusak otakmu dengan kata cinta. Kau harus belajar dan menunjukkan nilai terbaikmu,"
"Emang zha kenapa? Zha bisa bagi waktu. Kenapa zha ngga boleh pacaran?"
"Terlalu dekat saja tak boleh, apalagiĀ pacaran?" Perdebatan sepertinya belum akan selesai antara keduanya.
"Zha ngga pernah larang om buat cari cewek, ok ngga boleh larang zha!" tegas gadis itu padanya.
Saat ini, sepertinya om yan belum jadi bicara dengan keduanya apalagi menjadi penengah. Jalan terbaik adalah om yan harus bicara berdua dengan zha empat mata sembari mengantarnya kesekolah.
Zha meraih tas dan menyandangnya dengan tergesa-gesa, menatap om edo dengan tatapan sinis seakan benar-benar malas hanya sekedar bertemu lagi dengannya. Om edo pun begitu, tapi ia begitu tenang dan santai meski tatapannya mengandung sejuta makna kekesalan pada gadisnya itu..
"Salam," Zha mengulurkan tangan, dan mencium tangan om edo ketika akan pergi.
Om edo lalu meraih dan menarik tas zha, karena masih terbuka disalah satu bagian kancingnya. Dan saat itu zha juga meraih dasi om edo yang miring dan membenarkan agar lebih rapi.
Om yan dan wika hanya mengendus napas lelah melihat mereka berdua.