I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Serakah!



Mereka tiba di hotel yang ada dalam undangan. Hotel itu cukup mewah dan om edo juga pernh


menginap disana ketika ada pertemuan dan perjamuan dari pemiliknya untuk para kolega.


“Disana ada kolam renangnya, tempat kami pesta.” Zha menceritakan semuanya sesuai apa yang  dinda ceritakan.


“Di rumah pun ada, tapi kau tak seheboh itu dan bahkan tak pernah berenang disana.” Zha memanyunkan bibir membalas ucapan om edo. Tapi ia tak ingin merusak mood dengan membalas dan bertengkar lagi dengannya malam ini.


“Yaudah, zha masuk. Salim,” pinta zha mengulurkan tangannya. Usai itu ia masuk dan menghubungi dinda agar menjemputnya di depan. Ia tahu van sudah datang, namun ia memilih dinda agar tak ada kecemburuan diantara mereka


“Hey!” panggil dinda yang turun menyambutnya di loby.


“Maaf telat,”


“Belum, acara belum dimulai,” balas dinda yang menggandengnya masuk dan menuju ruang acara. Mewah, megah, dan meriah dengan mereka yang sudah hadir disana. Semua gadis begitu cantik dengan gaunnya, sementara para pria menggunakan setelan hitam yang mempertampan mereka semua.


Zha penasaran dengan van yang pasti lebih tampan dan berwibawa dari biasanya. Atau


mirip dengan om edo yang selama ini zha lihat setiap hari? Beda sedikit mungkin.


“Zha,” panggil van yang ternyata berdiri dibelakangnya.


“Kak van!” Zha membalik badan hingga mereka berdua saling bertatapan. Saat itu van tak ubahnya seperti om edo yang mengagumi kecantikan zha. Bedanya van dengan jujur mengatakan itu semua hingga membuat zha tersipu malu merah merona dibuatnya.


“Jangan terlalu banyak merayu. Sudah banyak korbanmu,” tukas dinda yang masih berdiri diantara mereka berdua.


“Aku bahkan sama sekali tak pernah memberi harapan pada mereka,” jawab santai van padanya.


Dinda mencebik. Andai ia tak didapuk menjadi panitia, pasti ia sudah merebut dinda dari tangan van saat itu dan tak membiarkan mereka berdua. Dindapun pergi, meski tatapannya sesekali mengarah pada mereka yang ada disana.


“Kenapa tak memintaku menjemputmu?” tanya van dengan minuman ditangannya.


“Zha, kan dianter sama om. Kebetulan mau ada pertemuan tadi, jadi bareng aja.”


“Pulangnya? Di jemput om juga?” tanya van menelengkan kepala. Zha mengangguk, tapi tak ada sedikitpun rasa sesal dalam hatinya. Karena setidaknya peraturan om edo mulai sedikit longgar padanya.


Acara demi acara dimulai. Bahkan para dewan guru juga memberi sambutan untuk acara para


siswanya yang tengah digelar. Mereka memberi dukungan, sekaligus mengawasi jalannya pesta mala mini. Bahkan memberikan selama atas ujian yang baru saja selesai di laksanakan mereka semua.


“Dan dengan ini, pesta kita mulai!” Sorak sorai bahagia mewarnai turunnya kepala sekolah


dari tempatnya. Pesta benar-benar dimulai. Makan bersama, foto bersama dan bahkan berdansa dengan pasangan masing-masing yang ada disana.


Meski bukan pasangan sebenarnya, tapi setidaknya mereka bergembira bersama.


“Kak van, dansa sama dya yuk?” ajak gadis yang selalu mendekatinya itu.


“Ya, aku tak suka dansa. Cari saja pasangan yang lain. Lihat, banyak jomblo disana,”


tunjuk van dengan bibirnya.


Dya mencebik, dan saat itu justru duduk didekat van tanpa perduli ada zha disana. Bahkan tak


perduli dengan wajah datar van padanya.


Padahal saat itu van dan zha tengah duduk santai di sofa yang ada di dekat kolam renang menikmati pemandangan berdua, namun ada saja gangguannya. Rasaya jika itu pria, van akan mendorongnya dengan kasar hingga masuk ke dalam kolam itu dan tak akan pernah bisa mengganggunya lagi selamanya.


“Kakak ngga laper?” tanya dya. Tapi van justru mempertanyakan itu pada zha yang sejak tadi


belum berminat dengan makan malamnya. Zha hanya menyantap beberapa kue manis yang terhidang dimeja, itu saja van yang mengambilkan untuknya.


“Zha tak lapar” Fikir van, ia bisa mengajak zha pergi dari dya jika zha menganggguk padanya. Ada sepasang kursi dipojok sana dan mereka bisa memanfaatkannya.


dengan beberapa cemilan lain yang tersedia disana. Itu saja bisa membuatnya amat kenyang saat ini. Atau, karena ia terbiasa makan dan om beku ada didekatnya? Zha menggelengkan kepala ketika sepintas bayangan om edo muncul dikepanya.


“Ya, minum zha abis.” Zha mengangkat gelasnya.


“Mau lagi? Biar aku ambilkan,” tawar van padanya.


“Biar zha sendiri, Kak. Ngga enak kalau_”


“Aku mau ke toilet sebentar, jadi sekalian.” Van meraih gelas zha dan berdiri untuk meninggalkannya.


“Tapi, kenapa alasannya harus ke toilet?” gumam zha dengan alasan yang sedikit menggelikan baginya.


Van pergi, ia meninggaljan zha dengan lidya yang ada didekatnya tanpa rasa khawatir. Ia


menuju meja minuman, dan bahkan sempat mengangkat telepon sebentar entah dari siapa.


“Serakah!” cibir lidya padanya.


“Mak-sudnya?” Dinda memicingkan mata. Ia tak tahu arah pembicaraan lidya padanya kali ini. Bahkan dalam acara seperti ini saja dia masih bisa mencari ulah dengannya dan belum berkeinginan untuk berhenti meski mereka akan berpisah sebentar lagi.


“Kamu kan udah ada om kamu, kenapa masih harus deketin kak van? Ngga puas sama yang tua,


terus cari yang muda. Ciih, menggilakan!” Lidya kembali membahas itu dengan zha.


Zhavira yang hanya ingin menikmati pesta malam ini tak ingin berdebat lagi denganmasalah yang sama untuk kesekian kalinya. Ia memilih berdiri dan beranjak pergi meninggalkan lidya ditempatnya saat itu juga. Namun tangan lidya justru meraih gaun yang zha pakai saat itu.


“Apaan? Jangan sentuh gaun aku ya!” tatap nyalang zha padanya.


“Kamu tahu? Gaun ini tadinya mau aku beli, bahkan aku mau bayar saat itu juga. Tapi hanya karena seorang gadis simpenan om-om membokingnya, gagal semua rencanaku. Enak ya, punya om kaya raya? Bisa seenaknya saja_”


“Lidya!” pekik dinda yang tergesa-gesa menghampiri keduanya. Ia datang mendekat dan berada diantara mereka untuk membela zha darinya. Dan saat itu wajah lidya langsung tampak begitu malas hanya untuk sekedar melihatnya.


“Ngapain sih, Ya? Lagi pesta masih aja gini? Bisa ngga diem bentar, nikmatin pestanya?” sergah dinda.


“Loe ngga usah ikut campur ama kita. Loe pergi, gaun loe aja ngga pantes dilihat disini.


Murahan!” Ucapan lidya membuat dinda memejamkan mata, begitu perih mendengarnya.


“LIdya!! Mulutnya,” geram zha.


“Cocok sih, kalian. Yang satu menang gaya karena omnya, yang satu sok baik membela


sahabatnya. Minat dipelihara om juga biar, WAH!” Lidya berucap seperti itu tepat di depan wajah dinda. Hingga spontan dinda mengepalkan tangan ingin sekali rasanya menepuk mulut jahat itu dengan tangannaya sekarang juga.


Hingga akhirnya mereka berdua bertengkar, beradu argument dengan zha yang berusaha untuk melerai keduanya sekuat tenaga. Semua orang menatap mereka, tapi tak ada yang berani untuk mendekat kesana.


Dinda dan lidya saling tunjuk, bahkan mulai saling serang jika zha tak menepis tangan lidya dan meraih tangan dinda saat itu juga. “Hey, udah… Malu dilihat orang,” mohon zha pada mereka berdua.


“Diem, zha! Dia itu memang sesekali harus dikasih pelajaran biar_”


“Apa! Biar apa! Loe yang harus dikasih pelajaran! Udah miskin, belagu!” Lidya berkacak pinggang menantangnya lebih. Hingga tangannya turun untuk menyerang dinda yangada tepat di tepi kolam saat itu  dan berfikir untuk mendorongnya tercebur kedalam..


Namun yang kena bukanlah dinda, melainkan zha yang ada didekatnya saat itu.


Byuuurr!! Tubuh dinda tercebur ke kolam dengan air yang cukup dalam. Ia bisa berenang,


namun gaun yang ia pakai saat itu mempersulit pergerakannya.


“Zha!!!” pekik Dinda dengan tatapan cemasnya.