I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Om ngga percaya sama zha?



Pagi harinya baru zha terbangun dari tidur. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat dan begitu nyeri, nyaris sempoyongan ketika ia hendak turun dari ranjang. Untung saja wika datang dan langsung memapah tubuhnya untuk kembali duduk.


"Zha pulang sama siapa?" tanya nya heran.


"Om yang jemput," jawab wika yang merapikan zha.


"Siapa yang panggil? Kak van?"


"Kenapa pagi-pagi mencarinya? Kau rindu?" Om edo mendadak datang dan bertanya. Ia yang saat itu masih merapikan diri itu mengancing lengan kemeja yang ia pakai dan belum memakai jasnya.


"Om, kok tanyanya gitu? Emang kenapa sih? Zha bingung." Zha memegangi kepalanya lagi dan berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi.


Ia hanya ingat, bahwa saat itu terdorong dan masuk ke kolam renang hingga seseorang menolong dan membawanya ke tepi. Setelah itu hanya melihat van dan dinda, dan saat ini sudah tiba dirumah dan bersama om dan yang lainnya. Ia juga bertanya, bagaimana om edo menjemputnya malam itu dan bagaimana dia pulang. Kondisinya, karena ia ingat jika semua basah tak tersisa. Bahkan ia ingat akan gaun mahal yang mungkin masih ada disana.


"Zha ngga inget. Dan tiba-tiba zha ada disini," jawabnya.


Om edo malas mengingatnya. Tapi ia harus bertanya demi tak begitu banyak menduga semua kemugkinan yang ada. Apalagi, ketika mendapati zha da van berada dalam kamar yang sama apalagi teringat dengan kondisi zha ketika ia bawa.


"Zha ngga tahu, Om. Zha ngga inget? Ngga mungkin kalau kak van_"


"Dia yang membuka semua baju dan memakaikan kemejanya padamu? Kau merasakan apa sekarang?" tanya om edo dengan penuh curiga. Dan jujur, hati zha terasa pilu mendengarnya.


"Tuan_" panggil wika padanya, tapi ia tak bisa melakukan aa-apa dengan mereka berdua.


"Om tuduh zha melakukan apa sama kak van? Om... Zha perih dengernya," ucap zha dengan mata mulai berkaca-kaca. Apalagi itu semua sensitive untuknya.


Om edo hanya diam. Mulutnya seakan terkunci untuk bicara saat ini dan terus mengeluarkan argumentny. Ia juga sakit melihat zha seperti itu, yang akhirnya bertanya-tanya atas kesucian dirinya sendiri. Untung saja ada wika yang segera memeluknya.


"Sayang, tenang dulu. Om edo kan hanya bertanya, bukan apa-apa." Wika membelai rambutnya dengan begitu lembut dan mesra.


"Tapi secara tidak langsung_" Ucapan zha tertahan dan tak mampu melanjutkan. "Secara tidak langsung, om edo sudah menuduh zha berbuat yang tidak-tidak dengan kak van. Zha ngga suka,"


Om edo tampak meraup wajahnya dengan kasar dan masih berdiri di depan zha. Ia meminta wika memandikan gadis itu dan membawanya turun untuk sarapan bersama.


"Nanti kita ngobrol lagi, okey?" bujuk wika pada gadisnya. Zha hanya bisa mengangguk, percuma saja dia menangis sekuat tenaga jika om edo sendiri juga masih terjebak dengan prasangka. Saat itu yang zha fikirkan adalah meminta penjelasan dari van dan dinda. Namun sayang, hp zha ternyata tak terbawa pulang. Mungkin masih bersama van atau dinda.


"Hanya tinggal menunggu keajaiban kalau begini. Malah mungkin zha udah ngga boleh keluar lagi sama om beku gara-gara kejadian ini. Zha pengen minggat rasanya, balik kerumah ayah yang kecil dan nyaman. Siapa tahu mama cari zha disana dan zha ngga tahu," racau gadis itu ketika wika mengeringkan rambutnya.


Meski sering melihat itu, tapi rasanya begitu lain bagi zha saat ini. Zha yang terbiasa dengan tatapan om beku kapan saja, merasa tatapan kali ini begitu serius menyiratkan kegundahan hati yang terdalam untuknya selama mengasuh zha.


"Om_" panggil zha yang kemudian duduk didekatnya. Om edo hanya menganggukkan kepala tanpa menoleh sama sekali ke arahnya saat itu, hingga zha menundukkan kepala dengan kesedihan yang ada.


Zha memutuskan untuk menghabiskan sarapannya dengan rapi agar om edo tak menyentuhnya saat ini. Ia hanya ingin tenang dan tak menambah masalah diantara mereka hingga selesai bersama. Dan saat itu zha baru bisa buka suara pada omnya.


"Zha ngga lakukin apa-apa sama kak van, zha berani sumpah. Om boleh ajak zha cek ke dokter supaya lebih yakin, atau_"


"Jangan macam-macam, Zha!" tegas om edo yang seolah bisa membaca fikirannya. Zha kembali diam dan mengatupkan mulutnya seketika. Ia befikir, andai om yan ada disana pasti bisa menjadi pendingin diantara panasnya keadaan yang ada.


"Zha istirahat dulu hari ini. Nanti, kita periksa jika om zha terus meragukan." WIka berusaha menengahi mereka berdua disana. Ia tak tahan, kali ini mereka benar-benar diam dan tegang hingga membuat dirinya ikut pusing melihatnya.


"Zha mau ke-ke hotel itu lagi boleh? Zha mau cari hp zha disana. Siapa tahu, Kak van atau dinda mentipkannya di_"


"Diam, dan jangan kemana-mana. Itu semua urusan om jek dan yang lain. Bahkan untuk siapa yang berani mendorongmu ke kolam semalam," jawab tegas om edo. Dan ia juga memutuskan tak kemanapun hari ini untuk menjaga zha di rumag agar ia tak nekat kabur hari ini.


Rasa trauma om edo seakan mulai kambuh dengan segala rasa bersalahnya pada sang sahabat. Jantungnya sakit dan napasnya terasa sesak jika memikirkan zha dengan apa yang dialaminya. Bahkan, ia terbayang-bayang oleh wajah ayah zha seakan penyesalan menghantui karena tak dapat menjaga amanat sahabatnya dengan baik kali ini.


Om edo berdiri. Ia melangkah gontai, namun berusaha kuat agar tak terjatuh hanya karena perasaanya. Zha melihat itu ingin segera berdiri dan meggandeng lengannya, namun wika menahan dan meminta zha duduk kembali atau masuk ke dalam kamarnya saat ini. Meski ia tahu bagaimana cemas zha pada om dinginnya itu.


Pria itu segera masuk ke dalam ruangannya. Ia mencari obat yang biasa ia simpan di laci dan meraih segelas air untuk meminumnya. Setelah itu ia duduk, bersandar di kursi yang nyaman sembari mengadahkan kepalanya keatas menghela napas dengan lega. Tangan besar itu juga segera menarik kasar dasi yang sudah terlanjur ia pakai dengan rapu dileher.


Wika membantu bik minah untuk membereskan semua yang ada dimeja. Untung zha menghabiskan semua makanan yang telah diambilkan hingga wika bisa tenang hari ini dan bisa konsentrasi dengan yang lain. Apalagi kemungkinan jika ia harus memanggil dokter untuk melakukan pemeriksaan terhadap gadis mereka. Meski ia yakin, jika zha memang tak melakukan apa-apa disana.


Kriing!!! Bel berbunyi beberapa kali. Zha dan wika saling tatap, saling tanya akan siapa yang bertamu sepagi ini kerumah mereka.


Wika akhirnya berdiri dan melangkah untuk membukakan pintu, hingga ia tercengang akan siapa yang datang.


"Permisi, zha ada?" tanya nya pada wika.


"Kenapa kamu kesini?" Wika membalasnya dengan bertanya. Tapi, ia hanya fokus mencari zha yang ia Yakini ada di dalam rumah itu.


"Kak van?" Zha juga terkejut melihat pemuda itu datang di depan matanya. Sontak jantungnya berdegup kencang. Begitu kencang dan jauh dengan ritme normal seharusnya. Ia membayangkan jika apa yang diucapkan om edo itu benar, bahwa van sempat melakukan sesuatu terhadap dirinya.


"Zha, boleh aku bicara?"