
Zha membuka matanya, dan yang pertama kali ia lihat adalah om edonya yang masih tidur. Ia menatapnya lekat. Dari bawah sana, wajah itu tampak begitu tampan dan rupawan dimata zha. Gadis itu menagtupkan bibir seakan ingin mengulurkan tangan dan membelai wajahnya.
Tapi zha menurunkan lagi tangannya. Ia malah salah tingkah sendiri dengan kelakuannya saat itu, menutup wajah dan entah bagaimana gelenjotan tak karuan dibuatnya. Kegiatan aneh itu mengganggu om edo hingga akhirnya ia membuka mata.
“Kau kenapa?” tanya om edo yang melihat tingkah aneh zha diatas pangkuannya. “Kau tidur disini? Diatas pangkuanku?” Om edo memicingkan mata.
“Ah… Itu, zha ngga sengaja tadi ikut ketiduran. Zha_” Gadis itu gugup, ia berusaha berdiri tapi sedikit sulit dan ia juga bingung kenapa. Hingga akhirnya om edo meraih lengan zha dan berniat membantunya bangun dari sana, namun karena tergesa-gesa kening zha justru menghantam dagunya.
Daakkk!! Om edo terpekik karena ulah zha, dan zha sendiri merasakan nyeri yang sama didahinya.
“Arrrkkhh! Zhaaa!!”
“Om, maaf zha ngga sengaja. Mau zha tiup? Sini,” tawar zha dengan meraih dagu om edo mendekat ke bibirnya. Ia tiup beberapa kali, apalagi ia takut jika ada luka disana.
“Padahal jidatmu benjol, Zha.” Om edo meraih dahi zha di saat yang sama dan meniupnya.
Hembusan napas yang keluar dari mulut om edo entah kenapa begitu sejuk dan segar bagi zha. Ia tersenyum sendiri lagi dan tanpa sadar menggigiti bibirnya sendiri. Tak ada yang bisa membayangkan bagaimana degup jantung zha saat ini. Yang andai bisa ia ingin melepasnya sejenak agar ia bisa istirahat dari tugasnya yang berat. Kasihan jantung zha jika harus berdetak secepat itu.
**
Hari sudah sore dan mereka mulai dengan rencana. Zha sudah mandi dan rapi didanani wika seperti biasa, dan ia justru diam termenung dan gugup diranjangnya.
"Zha kenapa?" tanya wika yang menghampiri. Ia lantas memegang tangan zha yang begitu dingin menurutnya.
"Zha takut."
"Kan om edo ikut, kenapa harus takut? Van juga ada disana, jadi aman." Wika lantas mengusap bahunya.
"Bukan... Tapi dinda. Zha takut dengan kenyataan bahwa dinda itu ternyata_"
Wika tersenyum. Ia kemudian duduk menarik kursi meja rias zha agar bisa menatap matanua. Ia lantas menasehati zha dengan semua masalahnya, bahwa ini semua adalah jalan agar zha semakin melangkah dewasa. Zha dipertemukan dengan masalah yang tak pernah zha duga selama ini.
Zha bahkan beruntung karena belum terlalu jauh melangkah dan van segera tahu mengenai dinda. Semua akan terbongkar dan zha akan tahu semuanya dengan cepat. Hanya tinggal mempersiapkan hati karena pasti setelah ini rasanya akan sepi sekali tanpa sahabatnya.
"Tenangkan hati. Tarik napas dalam-dalam akan apa yang mungkin terjadi," ucap wika menepuk bahunya.
"Tadi zha kenapa tidur dipangkuan om?" tanya wika yang mengalihkan ketegangan mereka.
"I-itu... Itu, anu... Tadi_"
"Ngantuk apa nyaman?" imbuh wika dengan nada penuh ledekan.
Bahkan saat itu wika menunjukkan foto mereka berdua begitu mesra. Tidur diatas sofa bersama dengan zha dalam pangkuan omnya. Saat itu, bahkan tangan om edo tampak mengusap kepala zha dan tangan satu lagi memegangi pinggang zha agar tak jatuh dari sana. Wajah zha bersemu merah, dan ia menutupi dengan kedua telapak tangannya karena malu setengah mati pada wika.
“Zha, kau siap?” tanya om edo yang tiba-tiba masuk membuyarkan percakapan keduanya. Ia menatap keanehan diwajah zha, lalu merebut hp wika untuk memastikan apa yang terjadi saat itu.
“Lancang,” tatap tajam om edo pada wika. Tapi tak tampak kemarahan diwajahnya.
“Zha siap,” balas zha yang langsung berdiri dari tempatnya. Ia juga menghubungi van menggunakan hp om edo yang sejak tadi ia pegang, agar van dengan mudah bisa menghubunginya untuk janjian mereka bertiga.
Tapi van tak jadi menjemput. Ia justru menunggunya disebuah diskotik besar yang ada ditengah kota, dan bahkan mengirimkan alamatnya pada zha agar lebih jelas. Meski sebenarnya om edo amatlah paham hanya dengan nama diskotik itu karena pernah masuk kesana atas jamuan koleganya.
“Kok, ke diskotik?” tanya zha dengan wajah lesu ketika van mematkan telepon. Mengajak mengungkap dinda, tapi van mengarahkannya ketempat yang zha tahu itu adalah tempat tak baik apalagi untuk gadis seusia dirinya saat ini.
“Ada om, zha.” Wika Kembali berusaha menenangkan kegundahannya. Ia menggandeng tangan zha kemudian berjalan keluar kamar zha, hingga tiba di mobil dan mereka siap pergi bersama.
“Hati-hati,” ucap wika pada tuannya.
Om edo menyetir mobil itu dengan cukup cepat, hingga akhirnya mereka tiba ditempat yang sudah di janjikan. Saat itu van menunggu diluar, dan segera menghampiri ketika mereka telah sampai debasement tempat penuh kesenangan itu.
Zha barus sekali datang ketempat seperti itu. Baru diluar saja dia Sudah merasa begitu tak nyaman dengan suara bising yang ada. Bagaimana jika ia dibawa masuk dan ada didalam sana dengan segala keramaian yang ada.
“Jam segini udah ramai banget?” tanya zha pada van.
“Ya, semakin malam semakin ramai, zha. Om pasti paham,” tatap van pada om edo yang ada diantara mereka. Om edo hanya mengedipkan mata membalasnya.
Zha menggandeng tangan om edo, tapi om edo justru melepasnya. Itu adalah urusan mereka bertiga saat ini, dan jika ada yang lain baru ia akan ikut bertindak membela gadisnya. Ia menunggu diluar, membiarkan zha masuk bersama van mencari semua bukti dari segala kenyataan yang ada. Meski sesekali zha justru menoleh kebelakang ketika berjalan maju bersama van.
Sebenarnya sedikit tak percaya jika dinda ada disana. Zha tahu hanya dinda itu adalah anak yang termasuk kurang mampu, baik dan selalu sibuk mengajari adiknya dirumah.
“Masa dinda ketempat seperti ini? Dinda itu sama polosnya seperti zha, bahkan dikata bego sama semua temen yang ada. Jadi_”
“LIhat? Itu yang kau kata polos?” tunjuk van pada panggung yang ada didepan mata.
Ya, tepat di depan sana adalah dinda. Yang meski tak berpakaian terlalu terbuka, tapi ia dengan lihainya meliuk-liukkan tubuhnya dengan begitu Bahagia seakan tanpa beban dikepala. Dia seperti sudah begitu terbiasa atau bahkan memang menjadi bintang disana. Semua pemuda tak segan mendekatinya, menari atau bahkan memberinya minuman dalam gelas yang sama dengan yang mereka minum saat itu.
Sembari menari bahkan dinda mampu menggoda beberapa pria dengan rabaan tangan dari dada hingga turun kepaha. Dinda begitu liar, tak seperti yang zha kenal selama ini begitu manis, baik, dan polos. Ini seperti dua kepribadian yang ada dalam satu tubuh, tapi entah yang mana pribadi dinda yang asli.
“Dia telat, bukan karena mengasuh adiknya. Tapi gara-gara dia sibuk berpesta hingga larut malam, Zha. Dia tak suka denganku, tapi hanya menganggapmu sebagai gadis yang bisa ia manfaatkan sebagai kesenangan dirinya. Dia hanya ingin kamu bersama dia, tak mau kamu menjadi milik yang lain.” Van perlahan membongkar beberapa fakta tentang dinda pada zha.
“Ngga mungkin?”