I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Om Edo, bukanlah Om Yan



Pak han tampak begitu malu dengan keadaan putrinya yang seperti itu. Sangking sibuknya ia memenuhi ekonomi keluarga, hingga ia sampai tak tahu kebiasaan buruk putrinya selama ini. Bukan pula tak pernah mengontrol. Tapi karena selama ini ketika ia bertanya pada sang istri , maka istrinya akan menjawab semuanya baik-baik saja. Dinda kerja kelompok dengan sahabatnya, dan tak ada yang mencurigakan dari putri mereka. Pertanda jika dinda memang sudah begitu lihai bermain dengan perannya.


Pria itu menatap putrinya melas. Ya, nelangsa terhadap dirinya sendiri saat ini. Padahal ia telah berusaha bagaimana caranya memenuhi semua kebutuhan dinda agar sesuai dengan keadaan dan lingkungan di Sekolahnya. Namun, masih akan terus kurang karena semua rasa tak puas dihatinya. Ia bahkan rasanya ingin menghajar dinda saat itu juga, namun ia masih menghormati om edo dan yang lainnya disana.


“Hanya karena iri, kamu bisa seperti ini sama aku?” Zha masih tak menyangka semuanya.


“Bahkan aku sengaja memancing keributan dengan lidya. Agar apa? Agar aku bisa nyenggol kamu hingga tercebur. Gaun indah kamu basah, rusak, dan_aku sangat puas. Aku membawanya kebawah lalu merobeknya setelah menghubungi om kesayangmu it.” Dinda menarik ingus dan meraup wajahnya dnegan kasar, bahkan hingga hidungya memerah bak tomat kematangan.


Air matanya tampak keluar, tapi ia hanya melamun tanpa penyesalan dihatinya. Ia persis seperti gadis yang tengah frustasi saat ini, meluapkan segala tekanan yang pernah ia pendam selama ini hingga akhirnya ia bisa menghela napas dengan lega.


Setelah itu, om edo memberi ruang pak han untuk mulai memberi tindakan pada putrinya. Terserah, karena dinda adalah miliknya dan ia tak akan ikut campur setelah ini. Bahkan om edo meraih tangan zha untuk segera pergi dari sana.


Belum jauh, dan bahkan pintu belum tertutup dengan rapat saat itu. Zha mendengar suara teriakan dinda yang begitu pilu ditelinganya. Suara meminta ampun dan berteriak minta tolong, begitu perih hingga zha merasakan sesak di dadanya. Zha bahkan tak tega, berfikirikan masuk untuk menolong, namun om edo segera mencekal tangan lalu berpindah menutup kedua telinga zha dengan kedua telapak tangannya. Ia segera membawa zha pergi dari sana dalam posisi seperti itu hingga tiba di mobil mereka.


“Zha?” Van meraih tangan zha meski saat itu om edo ada diantara mereka.


Om edo melepas diri dari zha, hingga gadis itu dapat menoleh pada van dan bicara dengannya. Tapi tak banyak, karena saat itu zha hanya mengucapkan terimakasih pada pemuda itu. Atau mungkin perasaan zha masih begitu sesak hingga belum mau bicara banyak saat ini.


Van amat menghargai bagaimana perasaan zha karena ia juga merasakannya. Meski tak se sakit zha karena harapannya terlalu besar pada dinda. Tapi, ia membiarkan zha pergi kali ini.


“Besok masih ada, dan kita akan bertemu di Sekolah, bukan?” gumam van dalam hati sembari terus menatap zha pergi.


Sepanjang jalan zha hanya diam dan kembali meratapi nasibnya. Dan bahkan, ia membayangkan apa yang terjadi pada dinda saat ini. Apalagi sempat mendengar teriakan yang menggambarkan ia tengah dihajar habis-habisan oleh ayahnya disana. Mulai besok, ia tak akan merasakan sambutan dinda lagi ketika tiba di sekolah. Ia tak akan lagi didampingi dinda di bangku mereka, dan taka da lagi ke kantin bersama dan berbagi makanan seperti biasanya.


Zha bahkan memejamkan mata, membayangkan semua kenangan manis diantara mereka.


“Fikirkan saja dirimu sendiri mulai saat ini. Kau akan kuliah, lalu bekerja sesuai dengan apa yang kau cita-citakan dan ayahmu impikan.” Om edo mmebuyarkan lamunan zha meski ia tak sampai membuka mata.


“Zhs ngga bisa santai sebentar ya? Libur dulu dan sementara ngga mikirin masalah kuliah. Zha masih trauma kalau nanti_”


“Kau terlalu lugu jika tak belajar dari pengalaman hari ini. Bahkan terlalu bodoh, jika kejadian yang sama terulang untuk kedua kalinya,”


Zha segera membuka dan membulatkan mata. Ia baru saja menangis dalam pelukannya, tapi kenapa masih begitu dingin seperti biasa. Tak bisakah ia lembut sedikit? Atau bahkan menawarkan sesuatu untuk menghibur gadisnya agar tak larut dalam semua rasa kecewa yang ada.


Tapi, sekali lagi zha hanya bisa menghela napas ketika ia ingat bahwa yang ada di dekatnya saat ini adalah om Edo Lazuardo, bukan om Ryan Bastian yang manis dan selalu mengerti apapun kemauannya selama ini, bahkan tanpa diminta sama sekali.


Zha bersedekap, tak mau lagi mnejawab jika semuanya berakhir dengan perdebatan panjang yang tak akan pernah ada ujungnya. Yang jelas, ia harus tetap melangkah ke depan dan menggunakan semua pengalaman sebagai pembelajaran.


Hingga beberapa lama mereka berjalan, zha baru sadar jika keduanya tak kunjung sampai dirumah. Ia bahkan merasa bokongnya sudah mulai panas duduk di mobil itu, dan om edo juga tak kunjung mmebawanya turun atau mampir untuk sekedar mengistirahatkan dirinya saat ini.


“Kenapa, kau takut aku culik dan aku sekap?”


“Biar apa disekap? Awwwh! Zha diculik om-om dingin. Tolooong!! Abis itu biasanya kalau di novel online, gadisnya bakal dijadikan istri. Hihi,” tawa kecil zha, yang gemas mengingat kisah yang pernah ia baca.


“Kau baca novel online? Bagaimana yang kau baca? Hey! Kau masih kecil, dan biasanya disana banyak adegan dewasa! Kau ini?” geram om edo membayangkan bahan bacaan zha saat ini.


Zha memanyunkan bibirnya, ia kelepasan dan saat ini om edo justru mencecarknya dengan jutaan pertanyaan. Ia juga malu untuk menjawa, tapi semuanya sudah terlanjur dan memang ia pernah membaca beberapa adegan seperti itu meski tak terlalu vulgar.


“Zha kan menuju dewasa, Om. Jadi sesekali zha baca biar tahu. Lagian ngga akan prakterk juga,”


“Hey!! Haish, kau ini. Baru saja aku simpati padamu, dan ingin menghiburmu untuk bermain di pantai. Aku sudah malas sekarang,” gerutu om edo yang kecewa pada zha.


“Jangaaaan! Zha ma uke pantai. Pokoknya mau!”


Perdebatan itu terjadi lagi diantara keduanya. Perdebatan panjang yang terjadi selama perjalan mereka hingga akhirnya benar-benar tiba dipantai dan om edo memenuhi janjinya.


Mata bengkak zha berubah menjadi mata yang berbinar cerah, ceria dan langsung keluar menghampiri ombak dan pasir yang ada. Meski mungkin sakit hati itu masih terasa, namun pasti sedikit lebur karena suasana.


“Om! Makasih, saranghae…” Zha memberikan finger kiss pada om edo yang bersandar santai dibagian depan mobilnya. Ia terus menatap zha yang tengah asyik bermain disana, berlarian meski sendirian bermain seperti anak kecil yang lama dikurung orang tuanya.


Ya, itu zha. Gadis yang memang sudah lama dikurung oleh om edo selama ini demi menjaganya.


“Kau lihat seto? Putrimu sudah beranjak dewasa saat ini. Aku nyaris saja lepas kontrol padanya,” ucap om edo, serasa ia tengah memperhatikan zha bersama sahabatnya disana. Mereka berdua duduk dan bersandar di body depan mobil seperti yang biasa mereka lakukan ketika tengah bersama.


Tapi ia sadar, jika itu semua hanya khayalan semata. Ia masih bisa mengontrol dirinya sendiri saat ini, meyakinkan jika memang sahabatnya sudah tak akan mungkin hadir lagi bersamanya.


“Om… Sini!” panggil zha melambaikan tangannya.


Seketika bayangan seto memudar, ia tersenyum lalu berjalan pergi menghampiri zha yang masih bermain disana. Bahkan zha dengan ketengilannya meraih air laut dan menyipratkannya pada om edo.


“Zha,” tegur om edo padanya.


“Maaf, Om. Om ngga suka ya?” tanya zha memainkan kakinya dipasir yang ada.


“Sepertinya asyik. Rasaka ini!” Om edo membalas zha secara tiba-tiba. Ia meraih air laut dengan tangan besarnya dan menyiram wajah zha. sontak gadis itu memekik, tapi setelahnya tertawa terbahak-bahak karena bahagia.


Ya, ia bahagia kembali melihat senyum om edonya yang mengembang sempurna.