
Hari demi hari berganti. Saat ini adalah waktu dimana zha menghadapi ujian disekolahnya. Ia bangun pagi sekali dan sudah begitu rapi saat ini, bahkan wika ikut sibuk untuk semua persiapan yang ia hadapi.
"Ayo kak wika, ini udah siang," rengek zha. Tapi wika hanya melirik ja, dan itu belum terlalu siang menurutnya. Rambut zha ikat kucir kuda agar lebih rapi dan tak mengganggu ujiannya nanti, dan sarapan sehat juga telah dipersiapkan di meja makan. Bahkan om bekunya ikut sibuk bangun pagi dan menyesuaikan diri hanya karena terbawa suasana gadisnya.
"Pagi Om," sapa zha yang turun dari tangga. Ia langsung duduk di kursi dan bersiap dengan sarapan yang sudah ada di piringnya.
"Pelan-pelan... Bahkan tersedak bisa membawamu ke Rumah sakit,"
"Ih, om doanya jelek banget sama zha," cicit gadis itu memperlambat kunyahannya. Seperti sebuah kebiasaan, ketika om edo segera meraih tisu untuk mengusap bibir zha yang berantakan dan zha juga telah terbiasa dengan perlakuan om edo padanya.
"Sudah, waktunya berangkat." Ucap om edo pada zha ketika tahu taxi telah menunggunya diluar sana. Zha pamit dan tak lupa mencium tangan edo dan wika untuk meminta restu pada mereka. Andai saja om yan ada, pasti doanya bertambah dan ia semakin semangat saat ini.
Sekolah zha memang meliburkan siswa lain selama ujian berlangsung, hingga suasana tampak begitu lengang. Hanya siswa kelas Tiga dan beberapa guru serta tambahan pengawas yang baru saja tiba disana. Zha berjalan sendiri menuju kelas, karena ia terpisah dari dinda sahabatnya yang saat ini dikelas cukup jauh darinya.
"Kak Zavan mana?" gumam zha, karena mereka sekelas saat itu.
Grep! Sebuah tangan mendadak merangkul zha dari belakang, mmebuatnya terkejut bahkan tersentak. "Mana om loe?"
"Apaan sih?" Zha berusaha melepas dekapan itu darinya. Tapi tangan itu seperti begitu kuat dan sengaja agar zha tak bisa lepas darinya. Seolah ia ingin agar zha tak bisa masuk dan ikut ujian bersama mereka semuanya.
"Kamu juga mau ujian kan? Kenapa giniin aku, lepas!!" geram zha padanya. Dia bobi, anak kepala Yayasan disekolah zha saat ini. Ia selama ini tak pernah mengganggu zha, dan bahkan tak pernah menyapa sama sekali. Zha sampai heran, apa motifasi boby untuk mengganggunya saat ini karena tak pernah ada masalah dengan dia sebelumnya.
"GAmpang kalau gue mah. Dateng tinggal dateng, pergi tinggal pergi aja," jawabnya dengan segala rasa percaya diri yang ada.
Tatapan bobi dirasa cukup intens, yang bahkan tangan yang merangkulnya itu tepat di dada zha. Dan dengan cepat satu tangan zha menghalanginya, "Jangan macem-macem, Bobi!" ancam zha, tapi bobi hanya tertawa penuh ledekan padanya.
"Gede juga. Sering dimainin om loe ya? Biasanya kalau sering dimaninin, itu bakal bikin gede. Apalagi sama om-om ganas. Loe ngga penasaran sama yang seumuran kek kita? Lebih panas karena_"
"Karena apa?" terdengar suara dari seseorang dibelakang mereka. Deep voicenya itu seketika mengingatkan zha pada seseorang yang ia kenal. Ya, tak salah lagi jika itu adalah om edonya yang tiba-tiba datang.
Mereka semua serentak menoleh pada pria yang berjalan santai menghampiri. Begitu rapi dengan setelan jas dan celana bahan serba hitam dan tubuhnya yang gagah tinggi. Jika dibandingkan para pemuda itu, mungkin akan jatuh hanya dengan satu sentilan jari om edo saja. Tapi, mereka seperti masih meremehkan saat ini.
"Oh, ini omnya zha. Pantes ngga mau sama yang seumuran. Sama Zavan aja karena dia lebih tua," tawa mereka bersamaan.
"Kau sering di ganggu seperti ini? Kenapa tak pernah bilang?" tatap om edo lalu mengusap air mata zha dengan ibu jarinya. Saat itu zha tertunduk, ia malu karena tak bisa melawan satu ini.
"DIa anak kepala Yayasan, zha ngga berani lawan." Zha kemudian berdiri dibelakang om edo dan meyembunyikan dirinya disana.
Om edo mendongakkan kepala sembari menarik napas panjang dengan ucapan zha. Anak kepala Yayasan, bersikap semena-mena dengan siswi yang bersekolah dibawah naungannya bahkan melecehkannya. Om edo mengerutukkan leher dan lengan lengannya yang berotot lalu mendekati kubu bobid ditempatnya. Mereka lantas melakukan ancang-ancang, persis seperti orang kuat yang siap untuk segera berkelahi dengan lawannya saat itu juga.
"Siap melawan? Janji tak menangis dan panggil papa setelah ini?" ledek om edo yang memajukan kepala menatap mereka bertiga. Bobi, Dito dan Ramzi. "Kalian hanya anak ingusan yang masih mengacungkan tangan untuk meminta jatah bulanan. Kenapa secongkak ini?"
"Halaah, banyak omong!" geram bobi yang langsung menyerang tanpa aba-apa pada pria dewasa yang ada dihadapannya. Yang saat ia melayangkan tinjunya, saat itu juga om edo menjatuhkan tubuh kerempengnya hingga tersungkur ke tanah hanya dengan satu pukulan saja.
"Bos!!" panggil anak buahnya yang langsung menolong untuk berdiri.
"Bajunya kotor, gimana mau ujian?" tanya Dito padanya. Ia membersihkan pakaian bobi yang berantakan, semenatra ramzy berusaha melawan om edo untuk membalas dendam sahabatnya. Namun, ia sama seperti bobi yang seketika jatuh hanya dengan satu kepalan tangan beruratnya.
"Arrrghh! Sial!" geram Bobi mengepalkan tangannya.
Akan tetapi, alih-alih melanjutkan perlawanan bobi justru meminta ramzi berlari untuk mencari bantuan. Ia tak perduli jika mereka semua tengah mempersiapkan diri untuk ujian, bahkan taj perduli jika papanya akan ikut datang menghampiri. Menurutnya itu bagus, karena mereka semua akan tahu kebenaran tentang zha, dan bahkan ketika om yang sering mereka maksud ada didepan mata.
"Hhh... Pecundang," cibir om edo pada tingkah mereka bertiga dan sama sekali tak takut pada apa yang mungkin terjadi saat ini. Mereka yang akan rugi karena telah menantangnya, dan mereka yang akan mengemis maaf padanya sebentar lagi.
Dan benar saja, mereka semua keluar dari kelas untuk melihat apa yang terjadi. Zha semakin menyembunyikan diri, dan saat itu tangannya langsung diraih dan digenggam om edo agar tak takut lagi. Hingga ia akhirnya menghela napas sedikit tenang berjalan keluar dari belakang tubuh pria tinggi besar itu.
"Bobi!!" pekik Van yang segera datang menghampirinya. Ia terlihat santai menatap om edo dan zha yang bergandengan tangan lalu bergantian menatap bobi dengan tatapan tajamnya.
"LIhat? Gadis yang kau suka sudah punya pawang. Dia suka yang lebih tua, tapi juga mau disini dan disana asal bisa mencukupi kebutuhannya." Bobi kembali menghina, dan itu didepan van yang jelas-jelas menyukai zha sejak lama.
Tatapan van semakin tajam, dan saat itu bahkan ia sudah mengepalkan tangannya. Entah bagaimana jika keplaan tangan itu mendarat ke wajah unyu Bobi yang rajin perawatan, maka akan luka dan akan menghabiskan uang banyak untuk mengembalikan kemulusannya seperti semula. Untung saja papa bobi segera datang dan melerai mereka semua disana.
"Pa, lihat bobi, Pa. Bobi dihajar sama_"
"Maaf, Tuan... Maaf jika anak saya membuat masalah dengan anda disini. Saya, siap meneria hukumannya." Semua mata terbelalak ketika bahkan kepala yayasan yang paling berkuasa disana menundukkan kepala ketika melihat om edo didepan matanya.