
Van segera melepas tangannya dari telinga zha. Ia diam tanpa bisa berkata apa-apa ketika gadis itu berlau meninggalkannya tanpa kata-kata. Sesakit itu zha saat ini, hingga benar-benar tak merasakan lagi rindu pada sosok ibu yang sempat ia inginkan dulu. Andai van tahu sejak awal jika mama ana adalah mama zha, pasti semua ini tak akan terjadi hingga begini.
“Kau sakit ditinggalkan dia, dan aku sakit karena kedatangannya. Aku ingin kita saling mengobati rasa sakit yang kita rasakan saat ini,” gumam van diam, dan sejak tadi menatap punggung zha pergi menjauh darinya. Ia mengepalkan tangan, tetap ingin zha menjadi miliknya.
Zha menghampiri vina dan papa bearnya disana. Ia melangkah santai sama sekali tak menunjukkan rasa cemburu pada keduanya yang duduk berhadapan bahkan saling tatap saat ini. Pasalnya, Om edo menatap wanita itu dengan tatapan datarnya tanpa ekspresi.
“Mas, beri sedikit kesempatan. Aku tak akan melakukan itu lagi, toh mereka semua di penjara saat ini.” Vina terus merayu dengan suara manjanya, tapi om edo tetap diam sama sekali tak terpengaruh dengan apa yang vina ucapkan padanya.
“Apa, siapa yang di penjara?” tanya zha yang saat itu sudah ada diantara mereka.
“Hey, Sayang… Kau sudah selesai?” tatap om edo begitu hangat. Modenya begitu cepat berubah ketika zha ada didekatnya, bahkan vina terkejut dengan tatapan dan perlakuan sang kekasih didepan matanya.
Om edo begitu berbeda, tak seperti dulu ketika mereka bersama. Jarang sekali memberinya tatapan hangat meski ia selalu mengejar, merayu dan sering menggodanya. Bahkan sebagai pria ia begitu bisa menghindar ketika vina bahkan sudah membawanya ke dalam kamar dan mengurung mereka berdua disana. Apa magnet zha untuk mantan calon suaminya itu.
“Om, ini yang kemarin?”
“Om? Bahkan hingga sekarang dia masih memanggilmu, Om? Lelucon macam apa ini, ketika gadis yang katanya calon istri tapi masih memanggilmu dengan sebutan Om?” tawa vina menggelegar disana, tak perduli jika semua orang yang ada langsung menatap mereka bertiga dengan penuh tanda tanya.
“Terus kenapa, Tante? Ada masalah?” tanya zha dengan wajah polosnya.
“Kau panggil aku TANTE?!” tatap vina langsung nyalang padanya, membuat zha mengatupkan bibir karena ingin tertawa melihat ekspresinya. Bahkan om edo saja menahan tawa pada mantan calon istrinya itu.
“Sudah lah, Vina. Aku tak mau berurusan lagi dengamu. Aku sudah tak memiliki ikatan dan tanggung jawab apapun padamu sejak saat itu. Zha pulang,” genggam om edo pada tangan mugil kekasihnya. Zha mengangguk lalu ikut berdiri dan berjalan bersamanya keluar dari mall itu bahkan kompak tak menoleh lagi kebelakang sana.
“Mas!!” Vina memanggilnya kuat, bahkan sudah akan melangkahkan kaki untuk kembali mengejar jika tangannya tak dicekal oleh seseorang yang ada dibelakangnya.
“Lepasin! Siapa kamu?” sergah vina pada pria itu. Ia memperhatikannya tetap diam tanpa suara, tapi vina seakan mengerti ketika melihat usianya yang hampir sama dengan zha. Apalagi meski menahan tangan vina, tatapannya juga seakan terfokus pada mereka berdua disana.
“Jika kau ingin dia, maka harusnya aku jadi sekutumu.” Vina mengucapkan itu semua hingga membuat van seketika menatap padanya. Namun van membisu, ia hanya melepaskan tangan vina kemudian pergi darinya tanpa sepatah katapun ia ucapkan saat itu
Zha dan om edo tiba di mobil mereka, saat itu zha langsung melepas genggaman om edo ditangannya dan langsung masuk kedalam mobil tanpa menunggu pintunya dibukakan. Wajahnya tampak murung dan tertunduk, ia juga membisu bahkan hingga separuh perjalanan mereka menuju ke rumah.
“Zha kenapa?”
“Cemburu,” jujur zha, karena memang itu yang ia rasakan saat ini. Rasanya sesak, berat, dan ia seperti kehilangan tenaga hanya untuk bicara dan bertanya meski menunggu om edo menjelaskan semua. Tapi zha yakin itu tak akan terjadi, karena om edo tampak tak mau membahas hal itu lagi diantara mereka saat ini.
Om edo melepas satu tangan di setirnya kemudian meraih tangan zha dan menggenggamnya. Ia membiarkan zha diam, dan hanya terus mengusap punggung tangan zha dengan ibu jarinya dengan mesra dan itu ia lakukan hingga tiba di garasi mobil rumah besarnya.
Zha sudah akan turun saat itu, tapi tangan om edo menggenggamnya dengan kuat dan menahan zha untuk meninggalkannyya. “Om, Zha capek, pengen istirahat.” Zha berusaha melepas genggaman itu darinya.
Tapi om edo semakin tajam menatapnya. Ia saat itu meraih dagu zha dan mendekatkan bibir mereka berdua, tapi sayangnya zha kali ini hanya membuang muka padanya hingga om edo menghela napas begitu panjang padanya. Padahal biasanya zha yang paling suka, tapi kali ini berbeda.
“Aku tak pernah berhubungan lagi dengannya, bahkan aku tak pernah merespon apapun ucapannya.”
“Zha ngga tahu, zha memang paling ngga tahu apa-apa disini jadi lebihh baik zha diem.” Zha benar-benar menutup mulutnya dari semua pertanyaan yang sempat muncul dalam hati dan berputar dikapala. Ia yakin, setelah ini ia tidur dan akan lupa tentang semuanya.
Zha sudah akan pergi, tapi lagi-lagi om edo menahannya agar tetap disana. “Ooom,” lirih zha, tapi om edo meraih lagi wajah zha dan mendekatkan keduanya. Rasanya bibir manis itu sudah seperti candu baginya, hingga ia selalu ingin menikmatinya. Mereka semakin dan semakin dekat, tangan zha yang terlepas kemudian menempel didadanya mencengkramnya dengan begitu erat.
Darahnya berdesir, semuanya terasa lemah dan seakan sulit ia kendalikan saat ini terutama ketika om edo mulai meraih pinggang munggilnya.
“Whooo Astaga!” Om edo terlonjak kaget dan langsung mundur jauh dari zha saat itu juga. Pasalnya, ketika ia membuka mata, wajah wika menempel dijendela kaca mobil dengan tatapan tajamya.
Zha yang ikut kaget langsung menoleh kebelakang, dan ia menurunkan kaca jendela itu untuk menyapa pengasuhnya. “Kak wika, ngapain”
“Ngapain kamu bilang? Harusnya kak wika yang tanya kalian lagi ngapain? Udah ditungguin daritadi ngga pulang-pulang, giliran pulang lama banget masuknya. Apa-apaan?” omel wika yang menatap bergantian antara zha dan om edo yang menundukkan wajah di setirnya. Jantungnya sendiri serasa taka man saat ini hingga sedikit sulit ia tenangkan.
“Kau seperti ibu posessif,” tutur om edo pada wika dengan nada datarnya.
“Ha ha ha… Benarkah? Kau takut? Tak nyaman? Itulah tugasku disini yang harus mengawasi kalian berdua meski harus berjauhan dengan suami sendiri.”
“Ih, kalian, udah ih. Yaudah, zha turun.” Zha berusaha melerai mereka berdua agar tak melanjutkan pertengkaran yang ada. Ia turun lalu pergi dan kembali naik ke kamarnya.
“Tuan mau tidur di dalam mobil?” tanya wika dengan nada sinisnya. Dan dengan wajah yang cukup kesal om edo langsung turun dari mobil dan meninggalkannya disana untuk ikut masuk kekamarnya.
Ia berhenti sejenak di depan kamar zha, tapi begitu berat hanya untuk mengetuk pintu kamar dan mereka kembali untuk bicara. Apalagi ketika menatap jam tangan mahal dilengannyya, dan memang sudah waktunya zha untuk mengistirahatkan dirinya saat itu juga. Akhirnya om edo berjalan lagi untuk masuk kedalam kamar sendiri.
Om edo membuka satu persatu pakaian yang ia kenakan saat itu. Ia memakai sebuah celana panjang dan sebuah sweater diatasnya, padahal ia terbiasa bertelan jang dada ketika tidur. Hingga akhirnya pintu kamarnya terbuka, ia menoleh dan saat itu zha masuk seketika menabrak tubuhnya dengan keras hingga terlempar di ranjang besar itu bersama.
Tak ada kata apapun yang mereka ucapkan, hanya om edo membelai rambutnya yang tak kelang berapa lama tidur pulas diatas tubuhnya. Ia ikut memejamkan mata, meski kakinya tertekuk antara ranjang dan lantai kamarnya.