
Mobil om yan masuk ke garasi. Wika segera menyambutnya dengan senyum dan pelukan hangat, bahkan mendapat balasan kecupan mesra dari sang kekasih hati.
"Kenapa lama?" manyun wika padanya, yang nyaris frustasi akan kelakuan absurd mereka berdua. Ya, siapa lagi jika bukan pasangan itu.
"Kau sangat rindu?" goda om yan memainkan dagu kekasihnya.
"Bukan itu. Tapi... Mereka bikin pusing," teran wika padanya.
"Dimana sekarang?" tanya om yan yang melonggarkan dasinya.
"Udah di kamar masing-masing sejak makan malam tadi. Baru diem kalau udah terpisah begini," jawab wika sembari mengelus dada kekasihnya. Bahkan tersenyum nakal, menggambarkan semua rasa rindu yang ada.
Wika kemudian menggandeng kekasihnya itu untuk masuk ke kamar. Menunggu dia mandi dan mempersiapkan pakaian gantinya sebentar. Ia keluar untuk menyiapkan makan malam dan bahkan membawakannya ke kamar. Menyuapinya sembari bermesraan sebentar. Manusiawi, karena mereka sebenarnya sudah siap untuk menikah saat ini.
Om yan membawa wika menjenguk keponakannya di kamar atas. Berjalan perlahan kemudian mengetuk pintu memanggil nama zha. "Kenapa tak dijawab?" Ia membatin, karena biasanya zha begitu cepat respon ketika mendengar namanya.
Om yan mengetuk sekali lagi hingga ia bersiap untuk membukanya. Apalagi kunci kamar ada ditangan wika jika memang dibutuhkan. Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika mendengar suara berisik dari kamar om edo, dan sepertinya suara zha juga terdengar dari sana.
"Susah masukinnya, Zha."
"Ini udah zha bilang, dibasahin dulu baru masukin. Ngeyel sih,"
"Bagaimana? Aku ada air, sebentar_"
"Ya ngga perlu air. Sini, zha yang basahin. Tinggal di **** aja gini, baru dimasukin. Gampang kan?" tanya zha. Om yan yang mendengar itu langsung mengerenyitkan dahi, dan menoleh pada wika.
"Ngga tahu," geleng wika ketika membaca pertanyaan dari tatapan mata kekasihnya.
"Sini, zha coba masukin lagi. Begitu aja ngga selesai, padahal zha udah ngantuk banget tau..." suara kesal zha kembali terdengar ditelinga om yan dan semakin membuat curiga.
"Aaaah! Om! Sakit..." pekik zha. "Nah, berdarah jadinya. Sakit ih,"
"Astaga, kau ini."
Om yan semakin membulatkan mata. Ia tampak tengah menahan emosi saat ini, terlihat urat di leher dan tangannya mengepal. Wika sudah beberapa kali menyabarakan dengan mengusap dadanya, tapi suara yang berasal dari dalam itu semakin membuat emosinya memuncah dan tak mampu ia redam lagi.
"Aaaah!! Udah zha bilang sakit, pelan-pelan!" omel zha padanya.
Om yan semakin gerah, "Kenapa tak bisa sabar? Kalian_!"
Braaakk!!! Om yan mendobrak pintu kamar itu sekuat tenaganya. Ia menatap suasana kamar yang remang, hanya dengan lampu tidur dengan sinar minim di satu titik, dan ada zha bersama om edonya disana.
"Sejak kapan kau sampai?" sambung om edo yang melepas tangan zha dari bibirnya.
Wika saat itu bingung, dan ia segera mencari saklar lampu untuk segera menghidupkannya. Hingga semua terang, dan terlihat bear berada diantara mereka berdua dengan jarum dan alat lainnya. Bahkan om edo masih menggunakan sebagian perlengkapan operasinya.
"Kalian?" tunjuk wika pada mereka berdua. Saat itu kaki om yan lemas, ia bahkan nyaris jatuh karena ketegangan barusan dan kenyataan yang tak sesuai ekspetasinya.
"Zha bantuin om buat jahit bear. Nih, sebentar lagi selesai. Kirain kak wika udah tidur tadi, sepi soalnya." Zha dengan begitu polos menjawab semua pertanyaan yang ada difikiran mereka.
"Berhenti berfikiran kotor, Yan. Aku tak se brengsek itu untuk memanfaatkan kepolosannya, aku masih menunggu selagi bisa." Om edo menyahut jawaban itu sembari terus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, yang bahkan sudah hampir Dua jam tapi tak kunjung selesai, apalagi ketika zha mendadak datang untuk mengganggunya. Ia tampak begitu fokus, dan menolak dengan keras ketika wika ingin membantunya saat itu.
"Urus saja kekasihmu. Dia nyaris pingsan hanya karena fikiran kotornya," titah om edo. Zha hanya bengong menatap dan mencerna ucapan mereka bertiga.
"Haish, kau ini. Kenapa tak menjahit diluar? Ada bik minah dan wika serta beberapa yang lain disana. Kau mempersulit diri sendiri," tukas om yan yang tampak masih begitu kesal.
"Ini tanggung jawabku, dan aku akan menyelesaikannya sendiri. Keluarlah karena kalian tak berkontribusi apapun disini,"
"Arrrrghh!!!" Om yan mendadak gusar, ia menghampiri om edo dan meraih lehernya untuk ia cekik sekuat tenaga. Bahkan bergerak terus menarik ulur tubuhnya sekuat tenaga.
"Hey!! Aaakkhh!! Kau mau ki jahit juga?"
"Aku akan mmembunuhmu!! Kau sudah membuat kemarahanku memuncah, aku nyaris saja_ Arrrhh!!" Om yan akhirnya melepas sendiri cengkramannya lalu duduk dilantai dengan begitu berantakan. Wika segera meraih kekasihnya, dan zha segera meraih om edonya. Dan segera melihat apakah ada luka disana.
"Tak aa," ucap om edo, masih saja datar dan fokus pada pekerjaannya.
Semua selesai, dan tangan bear tersambung kembali secara sempurna. Om edo menggigit benang dengan giginya agar putus, dan segera memberikan bear pada pemiliknya. Tak usah dibayangkan betapa bahagia zha dengan kembalinya bear ditanganya. Om edo segera melepas semua perlengkapan yang ia pakai saat itu juga dan kemudian meregangkan ototnya yang terasa kaku.
"Kembalilah ke kamar, aku mau istirahat setelah bermain dengan tubuhnya. Rasanya aku lelah," usir om edo pada ketiga orang yang ada disana. Dengan santai ia naik ke ranjang, dan bahkan menyelimuti dirinya dengan begitu tenang seakan semua masalah yang ada telah selesai. Dan ia memejamkan mata.
"Yuk Om, keluar." Zha menarik tangan om yan dengan tangan satunya memeluk bear. Sementara wika menyusul dibelakang setelah mematikan lampu yang ada dan tuannya bisa beristirahat dengan tenang dikamarnya.
"Zha kenapa ke kamar om edo?" tanya Om yan yang masih berusaha menahan emosinya.
"Zha ngga bisa tidur tanpa bear. Zha peluk tangannya, tapi ilang. Ternyata Om beku yang bawa. Udah usaha sekeras itu, jadi zha bantuin karena terharu." Gadis itu menundukkan kepala dan memainkan kakinya di lantai.
"Mas, udah..." genggam wika ditangan kekasihnya. Ia menyeret om yan untuk kembali ke kamar dan meminta zha untuk segera tidur. "Bearnya udah sembuh kan? Ayo tidur," bujuk wika padanya.
Zha lantas mengangguk, kembali menyeret bear untuk masuk dan membawanya naik ke ranjang. Rasanya, ia bisa tidur pulas malam ini dengan dekap hangat bear disana. "Tapi, bau om beku," gumam Zha yang mencium aroma maskulinnya yang begitu menghangatkan. Mungkin karena baru keluar dari kamar sana, hingga aromanya ikut terbawa. Atau, bahkan om edo memeluknya sejak bear masuk ke kamarnya.
Zha tak mau begitu banyak menduga, dan ia hanya ingin fokus memejamkan mata untuk menyambut esok hari yang indah baginya.