I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Zha, Aku kakakmu!



“Zha, kamu dateng, kan?” tanya lidya pada sahabatnya itu.


Malam ini adalah malam dimana pesta ulang tahun mama lidya diselenggarakan di rumah mereka, semua akan datang termasuk om edo dan ayah sam sebagai salah satu tamu kehormatan disana.


“Iya, dong, masa aku ngga dateng. Sayanglah,” jawab zha cengengesan.


Hari sudah cukup sore dan harusnya ia sudah bersiap, namun rasanya masih begitu malas untuk bergerak. Zha yang sedang haid memang seperti itu jika tamu bulanannya datang, bahkan ia begitu betah dikamar dan rebahan seharia.


“Zha, ayo mandi. Jam segini kamu belum mandi juga sih, males banget.” Mama ana datang mengomelinya. Ia baru pulang dari butik untuk membeli sebuah gaun untuk dirinya dan zha, dan ingin agar gadisnya memakai itu semua di pesta.


“Apaan?” tanya zha ketika membuka gaun itu. Begitu minim tanpa lengan, dan bawahnya pendek dan mengeksplore paha mulusnya yang indah. “Gila! Ini mah dalemaan!”


“Gaun sebagus itu kamu bilang daleman. Kamu ini terlalu lama gabung sama om-om dan babunya, jadi katrok dan ngga punya style begitu,”


“Mama godain lelaki pake baju ini tiap hari?” tanya zha, langsung membungkam mulut mama ana.


“Mandi, Zha. Sebentar lagi kita akan berangkat sebagai keluarga besar Sam Group, dan kita menjadi tamu istimewa disana,”


“Om edo juga,” celetuk zha.


“Mama akan awasi kamu agar tak bisa bertemu dengan dia!” ancam mama, tapi bukan zha jika akan langsung takut dengan ancaman sang mama padanya. Ia hanya mengedikkan bahu, memanyunkan bibir lantas beranjak menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri disana agar lebih segar dan tak kusam ketika papa bear melihatnya nanti, dan ia harus tampil cantik sempurna dimata kekasihnya.


Memang sebatas itu cara zha mencari perhatian kekasihnya, ia belum bisa dibilang diewasa meski jiwa pengertiannya sungguh luar biasa dibandingkan gadis seusianya. Apalagi mengingat rentang usia mereka yang jauh dan latar belakang yang berbeda.


Usai mandi Zha mencoba mengenakan gaun yang diberikan oleh sang mama. Dan dengan keisengannya saat itu, ia justru menghubungi papa bear dan meminta pendapat dengan gaun tanpa lengan yang ia pakai saat itu padanya.


“Berani kamu pakai itu ke pesta, akan ku robek saat itu juga, Nduk.” Tatap nyalang om edo padanya. Dan saat itu zha hanya bisa menelan saliva.


“Iya, zha kan Cuma minta pendapat, Om. Kalau ngga boleh ngga usah marah lah,” jawab zha. Ia lantas mencari gaun yang ia beli bersama om edo dan lidya tempo hari, gaun yang indah berwarna lilac dengan lengan yang turun menampakkan Pundak indahnya. Setidaknya bukan gaun tanpa lengan yang bahkan mengeksplore belahan dadanya.


Zha yang tahu om edo tengah sibuk berbenah diri saat itu, segera memakai gaunnya sendiri meski ia memakai tanktop tanpa lengan didalamnya. Ia tak ingin dapat omelan lagi, terutama dari om edo yang begitu menjaganya selama ini.


Zha cengengesan ketika om edo Kembali menatapnya dan ia telah berganti dengan gaun yang baru. Hanya tinggal memoles wajah dengan make up natural dan lipstick yang sedikit tajam untuk mempercerah rona wajahnya.


“Cantik,” puji om edo pada sang kekasih, membuatnya langsung tersipu malu merah merona dipipinya.


“Zha, kau sudah_”


Kreek!! Zha segera mematikan hp ketika van mendadak datang dan masuk ke kemarnya.


“Kau menghubunginya? Kau berganti pakaian didepannya barusan? Sejauh apa hubungan kalian, katakan,” tegas van padanya, seolah ia tengah menjadi kakak yang terbaik untuk adiknya saat ini.


Zha hanya diam sesaat dan terus merapikan diri dengan rambutnya. Ia blow agar lebih rapi dan ia beri hairspray diatasnya agar tak kemana-mana, karena rambut indah itu ia biarkan terurai di pundaknya.


“Zha, aku kakakmu!” sergah van yang mulai kesal dengan sikap dingin zha padanya.


“Iya, zha tahu kalau kak van itu kakak zha. Tapi, kakak ngga punya hak untuk atur zha hingga sejauh ini.” Zha mendekat pada van dan meraih wajah tegas itu dengan telapak tangannya. Ia belai dengan lembut, dan kemudian mengulur senyum indah padanya. “Kita bukan sedarah, Kak. Jadi untuk wali zha saja kakak sebenarnya tak berhak karena taka da hukum tertulis diatasnya.”


“Aku sudah berusaha menjadi yang terbaik, zha. Tapi kamu justru menegaskan semuanya, bahwa aku juga bisa memiliki kamu kapan saja dengan status yang ada.” Van meraih tangan zha lalu mengecupnya. Itu terasa sangat berbeda dengan tatapan mata van, seakan ingin sesuatu yang lain dari adiknya. Atau, zha salah bicara saat ini?


Van menggandeng adiknya turun untuk menemui mama dan ayahnya. Saat itu mama ana langsung menatap kecewa pada zha yang tak memakai gaun pilihannya, “Kenapa?”


“Kalau kak van dan papa lihat, pasti juga ngga akan biarin zha mengenakan gaun tak nyaman itu. Iya kan?” tatap zha pada kakaknya. Padahal van sendiri tak tahu gaun macam apa yang diberikan mama pada zha, karena ia hanya meminta pendapat dari om edonya disana.


Padahal van juga ingin sekali ikut andil dalam setiap urusan zha, dan dimintai pendapat tentangnya.


“Hmmm, iya…” Van menganggukkan kepala untuk menjawabnya.


“Yasudah, ayo berangkat,” ajak papa Sam pada mereka semua. Saat itu tanpa supir, dan van yang menyetir mobil mewah mereka menuju ke tempat pesta dengan zha duduk disampingnya.


“Begini ya, rasanya kalau anak lengkap dan akur. Manis sekali,” puji mama ana yang mengelus lengan suaminya. Saat itu zha hanya tersenyum sembari terus memainkan hp ditangannnya, tampak begitu fokus dan kadang tersenyum sendiri membuat van menatapnya curiga.


Greep!! Van meraih paksa hp itu dan menyimpan hp zha dibagian pinggir mobilnya.


“Hey… Apa-apaan?” kaget zha. Ia tak suka dengan perlakuan van yang makin seenaknya.


“Manfaatkan waktu bersama keluarga, itu lebih pentin, Zha.” Van menatap datar pada zha dan berusaha tetap fokus pada setirnya.


Tanpa diberitahu, zha saat itu paham jika kak van hanya tak ingin zha berhubungan dengan om edo selama di pesta nanti. Ia tak ingin mereka saling menghubungi atau bahkan saling bertemu hingga menahan hp zha ditangannya. Atau, ia akan terus menggandeng dan tak akan pernah melepas zha selama disana.


Sepertinya van terlalu menantang hubungan batin yang bahkan sudah terjalin antara zha dan papa bearnya, yang pasti akan bertemu meski mereka berusaha menghindarkan mereka berdua.


“Sepertinya ada yang ingin menantang rasa,” gumam zha yang tersenyum didepan kakaknya. Ia sama sekali tak tampak gusar atau gundah ketika hp di sita van dari tangannya.


Hingga mereka tiba di lokasi acara pesta dan turun dari mobilnya, bahkan zha tak meminta hp itu kembali dan van dan terus membuat pria itu bertanya didalam hatinya. Bahkan dengan santai zha melenggang masuk menggandeng van bersama keluarga barunya.


“Kau tak gelisah?” fikir van. Yang saat itu ia kira zha justru akan merengek dan mengemis meminta agar hp itu segera dikembalikan padanya.