I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Satu tahun kemudian



Sebuah lingerie hitam transparan zha pakai saat ini. Dengan rambut yang tergerai ia sibak memperlihatkan lehernya yang jenjang dan belahan dada yang indah. Ia berjalan menuju ruang kerja sang suami dengan segelas wine ditangannya.


Langkah kakinya begitu sensual dengan heels yang sengaja ia gunakan agar lebih menggoda suaminya disana.


Zha masuk tanpa mengetuk pintu. Om edo yang awalnya tengah fokus pada laptop itu segera menatapnya, semakin lama semakin tajam memperhatikan setiap jengkal tubuh sang istri yang tercetak dengan begitu indah di dalam balutan gaun tipisnya itu.


"Kau belum tidur?" tanya om edo yang menopang dagu dengan kedua punggung tangannya.


"Ngga bisa tidur, ngga ada yang peluk," jawab zha sok ketus sembari bersandar dipinggir pintu meneguk winenya.


Seharian ia ditinggal ke kantor, pulang hanya makan malam bersama lalu ditinggal diruang kerja dan begitu lama disana. Ia menunggunya hampir tiga jam dan tak kunjung keluar.


Om edo hanya tersenyum melihat tingkah gemas istrinya itu. Ia terus memperhatikannya dari jauh, melihat apa yang ia lakukan untuk menggodanya kali ini. Memang belakangan ada saja cara zha untuk memancing hasrat mereka berdua, entah belajar dari mana.


Belezer dari lingerie yang zha pakai saat itu sudah turun ke lengan. Bahu dan dadanya tampak begitu mempesona hanya dengan sehelai benang yang menopang gaun tipis itu saat ini.


"Aaah... Minuman zha, tumpah." Tatapnya manja pada sang suami. Tak mungkin hanya tumpah karena hampir semua isi gelas wine saat itu yang tertumpah didada dan seluruh tubuhnya.


"Oooom, Sayang." Zha mengulurkan tangan sembari menggigit bibirnya saat itu.


Om edo menggeleng tertawa renyah. Ia kemudian berdiri menghampiri zha yang ada disana. Gelas wine itu zha taruh di meja terdekat, mengulurkan tangan dan langsung menelengkan kepala ketika sang suami datang dan langsung menyesap bibirnya.


Tak hanya bibir, tapi leher dan dada yang basah dengan minuman itu langsung ia sesap dengan rakus hingga terdengar lenguhan indah darinya.


"Eeungghhh! Geli," lirih zha merasakan semua sensasi yang mulai ia rasakan, membuat tubuhnya bergetar tak karuan.


Om edo menggendong zha ala kanguru menuju meja kerjanya. Ia menyingkirkan semua yang menghalanginya menaruh zha disana, lalu membawa zha terbaring agar sesapannya semakin bebas di setiap jengkal tubuh indah zha. Lingerie yang ia pakai saat itu sudah tak karuan bentuknya, turun menumpuk di pinggang kemudian di tarik lolos oleh om edo hingga ia polos saat ini.


Tak ada yang lolos disetiap inci tubuh zha, terutama bagian yang basah karena minuman memabukkna itu. Tapi bagi om edo tak ada apa-apanya karena ia sudah terbiasa.


"Aaaaahhh... Om!" Tangan zha meremaas ujung meja yang bisa ia gapai ketika mulut om edo mulai mengobrak abrik lembah syurganya. Zha menggelinjang, tubuhnya menggeliat tak karuan antara geli dan nikmat yang ia rasakan.


Om edo semakin tak terkendali. Ia mengobrak abrik miliknya hingga membuat zha nyaris gila karenanya. Wajar saja, mereka sudah seminggu libur dengan aktifitas ini karena tamu bulanan zha datang menghampiri.


"Aaaaaahhhhhh!" Zha memekik panjang membusungkan dada, pertanda ia telah mendapatkan pelepasan pertamanya. Om edo menyesapnya hingga habis seperti ketika menyesap sisa wine yang ada ditubuh zha barusan.


Tanpa banyak bicara, om edo lantas membuka celanaa bahan yang ia pakai saat itu. Suara dentingan gesper terdengar, zha tersenyum melihat anaconda yang sudah mencuat siap untuk masuk kedalam sarangnya.


"Eeeeunggggh... Oowwwh!" Tubuh zha kembali melenting ketika intinya mulai terdesak, begitu juga om edo yang sampai mendongakkan kepala sangking nikmat milik istri yang tak terasa sudah satu tahun ia nikahi.


Tubuh pria itu membungkuk meraih bibir zha, dengan satu tangan memainkan bulatan indah dan satu tangan menjaga pahanya agar tetap bertumpu diatas meja. Suara desah indah zha begitu indah terdengar ditelinganya, bahkan tak segan om edo memberi gigitan dipuncak pinknya yang selalu menggoda.


Permainan semakin panas. Om edo meraih tubuh zha untuk duduk sejenak, lalu mengangkatnya tanpa melepas penyatuan keduanya. Zha memekik, hentakan merasakan hentakan itu begitu dalam hingga menyentuh dinding rahimnya.


"Aaaahhhh... Dalam sekali," ucap zha yang lantas memeluk om edo dengan begitu erat, dengan kaki melingkar dipinggangnya agar penyatuan mereka tak lepas. Tangan om edo menopang bokoong solid itu agar bisa mengangkat dan menurunkan tubuh zha dan memperdalam hentakannya.


Eerrrghhh! Om edo mengerang sangking nikmatnya. Ia menghimpit tubuh zha di dinding sembari terus mengecupi leher dan dada indah istrinya yang selalu menantang ingin disentuh. Gerakan makin lama semakin brutal, untung saat itu wika dan om yan sedang tak ada disana.


"Aaaarrrhhhhh!" Om edo akhirnya mendapat pelepasan, begitu juga, zha untuk yang kesekian kalinya. Ia lemas, keringat mengucur deras di pori-pori kulitnya yang masih melekat diantara keduanya. Ia masih memeluk om edo dan belum melepaakan penyatuan itu sama sekali agar benihnya segera masuk kedalam dan membuahi zha.


Napas keduanya terengah-engah, saling mengecup satu sama lain dimanapun bisa.


"Kenapa dengan hari ini?" tanya om edo yang merebahkan zha di sofa kemudian memakaikan lingerienya.


"Ini masa subur zha, jadi moga aja cepet jadi." jawabnya begitu santai dengan wajah yang masih memerah.


"Kau menunda kuliahmu, Nduk. Bagaimana dengan janji itu? Ayah pasti sedih jika masih ada." Om edo sembari memakai pakaiannya sendiri disamping zha.


"Engga dong, kan ayah_... Ya, gimana? Pasti ayah ngerti kok," bujuk zha.


Om edo bersandar menghela napas tanpa mengancing kemejanya. Keringat yang membasahi menambah indah pemandangan mata zha.


"Besok lidya pulang, zha mau jemput lidya di Bandara. Boleh?"


"Van mana? Harusnya itu tugas dia," jawab om edo. Ia hanya tak ingin ketika zha terlalu disibukkan atas urusan mereka berdua hingga ia sendiri kelelahan. "Apalagi katanya ingin hamil,"


"Ngga capek, cuma jemput aja."


"Setelah itu kalian akan hang out, shoping, dan menghabiskan semua uang yang ada." Zha memanyunkan bibir mendengarnya.


"Ini bukan perkara uangnya, tapi dirimu."


"Kenapa? Cuma shoping ngga akan buat zha lelah, kok. Justru buat zha semakin fresh, dan bisa_" Jemari zha mendarat dan merayap didada bidang suaminya dan menatap penuh goda.


"Tak lelah?" tanya om edo menyipitkan mata. Tapi zha hanya tersenyum gemas menggigit bibir dan merubah posisi duduk diatas sang suami, mengecupi setip cetakan di dada bidangnya.


"Sekali lagi?" tanya om edo yang pasrah dengan tingkah istrinya.


Sementara disana van dan lidya juga tengah berbalas pesan akan kepulangannya esok hari. Dengan segala penyesalan van tak dapat menjemputnya hari itu karena begitu banyak urusan yang harus ia selesaikan.


"Ayah ngedrop lagi kemarin, dan kami bergantian menjaga bersama mama disana."


"Mama jaga ayah?" tanya lidya.


"Iya, kenapa? Nadamu seperti curiga,"


"Engga sih, ngga papa." Lidya terus menepis kecurigaan yang terus melanda hatinya disana.


Begitulah sejak usaha salonnya bangkrut. Mama ana sempat stres berat karenanya, padahal itu semua karena ulahnya sendiri kala itu. Ia terlalu terobsesi memperkaya diri hingga nekat ikut invetasi bodong hingga akhirnya tertipu milyaran uang tabungannya.


Usai semua kerugian, ia stres hingga salon itu tak bisa ia kendalikan lagi setelahnya. Untung stresnya tak parah hingga bisa segera disembuhkan.


Tapi hingga sekarang mama ana masih saja belum terima dengan lidya yang akan menjadi calon menantunya. Ia terus berusaha menjodohkan van dengan beberapa wanita seperti ketika ada zha disana.


"Bagaimana kalau besok mama masih ajak kakak ketemuan sama cewek?"


"Kau tahu aku tak pernah menanggapi, kenapa masih bertanya? Yang penting kau besok pulang," tegas van padanya


Meski belum lekat cinta diantara mereka, tapi setidaknya van sudah ramah dan membuka hatinya.