I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Pertemuan, mukbang



“Bu, ini pakaian yang ibu pesan.” Seorang keryawan mama ana mengantarkan begitu banyak paket di tangannya.


“Ya, Ning, taruh disana,” tunjuk mama ana dengan bibirnya. Karyawan itu lalu pergi meninggalkan mereka dan kembali pada pekerjaan yang ada.


Mama masih terus memberi perawatan pada zha, semua ia lakukan agar zha merasa nyaman dengannya dan lagi zha adalah seorang gadis yang seahrusnya sudah begitu memperhatikan penampilannya agar lebih menarik dipandang oleh lawan jenisnya. Ia akui zha telah tumbuh mnejadi gadis yang cantik luar biasa, dan bahkan memujinya persis speerti ketika ia masih seusia zha.


“Mama dulu, seusia kamu jadi kejaran banyak cowok. Dari yang anak juragan, anak pengusaha, tapi dapatnya ayah kamu.”


“Menyesal?” tanya zha yang sibuk menatap hpnya.


“Hanya sadar, jika pernikahan itu bukan hanya perkara cinta.” Mama seakan tengah menahan bicara, karena takut jika zha akan dengan mudah mematahkan semua kata-katanya lagi seperti kemarin.


Hampir dua jam mama ana melayani putrinya. Jujur saja zha juga merasa sedikit segar saat ini meski harus tetap mandi ketika di rumah nanti. Tubuh, kepala, dan wajahnya terasa lebih ringan dengan segala treatment yang ada dan diberikan khusus untuknya.


Zha membayangkan, jika di drama korea sang kekasih menunggu dan terkejut dengan perubahan dirinya saat ini. Ia sendiri membayangkan senyum om edo dengan sedikit perubahan dalam dirinya, pasti ekspresinya akan begitu menggemaskan.


“Kan, jadi kangen.” Zha memanyunkan bibirnya ketika ingat diam tercinta


“Zha ganti pakaian, mama udah belikan dan nanti semua yang ada di lemari zha ganti dengan ini,” titah mama memberikan semua pesanannya pada zha.


Gadis itu lalu membuka semua dan melebarkannya. Rata-rata adalah dress yang begitu anggun dan feminim, rasanya masih belum siap memakai itu semua saat ini meski biasa memakai rok yang cukup panjang. Apalagi ketika zha mengepaskan ditubuhnya, tinggi dress itu bahkan diatas lutut dan hampur memperlihatkan paha mulusnya.


“Kok bajunya gini?”


“Kamu ngga suka? Mulai sekarag zha harus memperhatikan penampilan. Jangan begini lagi, masa anak mama begini, kampungan.” Mama ana mencibir penampilan putrinya sendiri, padahal zha sengaja melakukan itu semua.


“Ya, ngga gini juga. Ini kalau ketemu om edo pakai begini, pasti dimarahin. Bisa ngamok dia,” ucap zha, merinding hanya dengan membayangkan lirikan mata tajam yang bisa membunuhnya kapan saja.


“Kau masih memikirkan dia, bahkan mama ngga pernah setuju kamu bersamanya apalagi untuk menikah.”


“Hmmm?” Zha melotot mendengar ucapan sang mama.


“Mama akan carikan jodoh yang lebih pantas buat kamu, seusia, dan juga kaya.” Mama begitu yakin dengan segala keputusan yang keluar dari bibirnya.


“Jangan nekat, Ma. Zha sudah terpaut dengan om edo meski mama berusaha memisahkan kami berdua,”


“Dewasa Zha, kamu belum tahu apapun tentang cinta!” sergah mama pada akhirnya. Padahal ia sendiri yang selama ini menganggap zha sebagai anak kecil, hingga merasa berhak atas kepengasuhan zha ditangannya.


“Atau, pria itu sudah melakukan sesuatu dengan kamu?” curiga mama, tapi zha hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya membawa beberapa dress yang akan ia pakai saat itu juga.


Mama ana langsung tegang, ia memijiti kepalanya sendiri dan duduk kasar disofanya. Kepalanya langsung nyeri ketika membayangkan zha berbuat sesuatu dengan om edonya, bisa runyam semua rencana yang ia fikirkan dengan matang.


“Ning!” panggil mama ana pada karyawannya.


“Tolong dandani zha, dan sedikit ajari dia mengenai make up. Buat dia cantik hari ini karena akan dibawa ke kantor oleh van,” pinta mama ana padanya. Van lupa membertahu mama ana jika ada om edo disana. Jika ia tahu, pasti zha akan ia pulangkan ke rumah dan ia kurung disana.


Hingga seorang supir utusan van datang, ia masuk dan meminta zha untuk ikut dengannya saat itu juga karena papa samnya sudah menunggu untuk memperkenalkan zha sebagai putri mereka.


Zha yang baru saja selesai di make up, segera turun dan ikut dengannya ke kantor besar itu. Ia takjub juga melihat kantor papa sam nya tak kalah besar dengan milik om edo, tapi menurut zha masih lebih om edo karena memiliki cabang yang Sudah menggurita dimana-mana.


“Aww… Awww… Awwwhhh! Ada mobil papa bear disini. Apakah pertanda jika dia juga ada didalam sana?” senyum zha yang langsung merapikan dirinya.


Rambut yang baru saja di blow itu tampak begitu lembut dan siap untuk ia belai, wajahnya juga semakin halus dengan perawatan yang baru dijalani. Sayangnya ia harus beberapa kali menurunkan dres yang ia pakai karena merasa itu kependekan, dan takut papa bear akan mengomel padanya nanti.


“Ngomel sih engga, tapi tatapan tajamnya itu loh,” seram zha membayangkan semuanya, tapi ia suka dan amat merindukannya.


Supir membiarkan zha masuk sendiri dan menunjukkan ruangan yang ada di lantai Lima. Zha mengangguk paham, dan ia berjalan perlahan masuk sembari mengagumi kemegahan bangunan yang ia masuki saat itu. Hingga ia menemukan sebuah lift, ia menunggu agar lift terbuka dan segera naik ke lantai yang ada diatas sana.


Zha masih berdiri disana hingga seorang pria berdiri tepat disebelahnya. Hanya dengan mencium aroma tubuhnya saja zha sudah sangat paham dia siapa, yaitu pria yang selalu bisa menggetarkan hatinya. Dan meski dengan penampilan sedikit berbeda, om edo begitu paham keberadaan zha disana.


“Siapa mengajarimu berdandan seperti itu?” tanya om edo padanya, meski tak saling toleh dan tetap professional mengingat dimana mereka berada.


“Mama, Om. Tadi abis dari salon. Apakah zha cantik?”


“Aneh,” jawab om edo, yang langsung membuat zha mengerucutkan bibirnya. Mereka cukup dekat, ingin sekali om edo meraih jari jemari zha dan menggenggamnya dengan erat saat itu juga, tapi ia hanya bisa membuang napas dan menahan semua rasa yang ada.


Ting!! Pintu lift akhirnya terbuka. Beberapa orang yang ada didalam sana akhirnya keluar, dan zha masuk kedalam sana dengan om edo dibelakang. Beruntungnya, tak ada yang masuk disana kecuali mereka berdua dengan tujuan lantai yang sama.


Pintu lift perlahan tertutup, om edo menarik napas memastikan jika tak ada yang masuk lagi setelah ini. perasaan zha sudah dak karuan, debaran jantungnya sudah begitu berantakan dengan kakinya yang juga gemetaran.


Greeep!! Om edo langsung menggenggam tangan mungil zha dan mendorong hingga tubuh zha menempel ke dinding yang ada dibelakangnya. Zha menarik napas, berusaha menatap om edo dengan segala kerinduan yang ada, merasakan belaian demi belaian tangan om edo di rambut hingga turun ke bibirnya.


Genggaman tangan zha lepas, lebih ingin mengalungkan lengan itu keleher sang kekasih untuk mengikis jarak diantara keduanya. Itu seakan sebuah kode, om edo tersenyum puas dan langsung melumaat bibir manis zha yang ada tepat didepan mata dan om edo segera menautkan bibir keduanya.


Mereka menikmati moment singkat dengan saling berbalas kecupan panas disana, saling membelit lidah dan bertukar saliva penu rasa cinta. Zha sampai memejamkan mata tak mampu menatap mata kekasihnya, yang terus mengecup dan sesekali memberi gigitan kecil bibir bawahnya.


Andai bisa, om edo pasti akan menghentikan lift itu sementara untuk moment mereka keduanya. Jari jemari zha menyusuri kepala belakang om edo dan menekannya agar memperdalam pangutaan mereka hingga tenggelam dalam puasar kerinduan yang ada.


“Zha rindu,” bisik zha disela panguutan keduanya. Lalu mengecup bibir om edo sebagai tanda jika mereka baru saja selesai melepas rindu yang ada dan harus kembali berjarak nantinya.


Jemari besar om edo mengusap kembali bibir zha dan membersihkannya, hingga keluar secara terpisah menuju ruangan mereka masing-masing.