
Zha sejak tadi duduk dan diam didalam kamar. Sayangnya ia tak membawa salah satu bear kesayangannya, dan tak mungkin meminta mereka mengantar kerumah itu segera. Akhhirnya zha bermain dan terus membuka hpnya, hingga mmeutuskan untuk menghubungi papa bear yang tengah bekerja.
Sayangnya papa bear tengah mengadakan rapat dan hp itu ia titipkan pada sekretarisnya. Namun ketika rani melihat itu panggilan dari zha, ia segera mengangkatnya saat itu juga. “Nona?” jawabya menyapa zha.
“Kak rani, Om edo mana?”
“Beliau sedang rapat, mau saya panggilkan?”
“Jangan, nanti takut kalau mengganggu dan kak rani bisa di marahin.”
“Tak apa, mending dimarahin daripada ditahan gajinya.” Jawaban rani sontak membuat zha tersenyum, Ia segera masuk kedalam ruangan rapat itu setelah mematikan panggilannya sementara.
Pintu diketuk. Rani membukanya secara perlahan kemudian menghampiri om edo untuk memberi tahu panggilan itu. “Kau tak tahu sedang ada rapat?” tanya om edo dengan wajah datarnya.
“Tapi, Tuan, ini dari_”
“Siapa?” tanya om edo yang menegangkan rahangnya.
“Nona,” bisik rani, yang membuatnya langsung mengangkat kepala.
“Baiklah, rapat kita tunda sejenak karena waktunya makan siang. Setelah itu, kita kembali lagi kemari dengan bahasan selanjutnya,” ucap om edo, yang langsung berdiri dan meninggalkan mereka semua disana.
Ia segera keluar, berjalan sembari meraih hp yang rani berikan padanya dan segera menelpon balik zha setelah tiba di ruangan pribadinya. Zha yang mendapat balasan video itu segera bangun dan merapikan dirinya karena berantakan.
“Hay, Om,” sapa zha dengan raut wajah yang begitu bahagia.
“Hey, Sayang, kau sedang apa?”
Deg!! Panggilan baru dari om edo benar-benar melelehkan hati zha. Inikah yang dinamakan berkah ketika berpisah? Bahwa om edo akan semakin dekat dan semakin merindukannya saat ini. Panggilan sayang itu begitu menggetarkan jiwa zha dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Zha lagi gabut, ngga ada kerjaan disini. Mau keluar males, ketemunya sama mama mulu.”
“Bukankah, kalian harusnya saling mengakrabkan diri?”
“Oom, Iiih!” Zha memasang wajah kesalnya, dan itu membuat om edo tertawa.
Mereka saling meluapkan rindu disana meski berpisah baru beberapa jam saja. Zha tak segan menceritakan mengenai zavan dan segala tantangan yang ia berikan padanya untuk melupakan semua dari rumah lama hingga akan fokus ke keluarga barunya. Tapi zha meyakinkan jika itu semua tak akan pernah terjadi pada zha.
“Kau bilang jika kita akan menikah?”
“Belum. Zha hanya tak ingin menambah masalah disini. Dan kalaupun dia tahu dari orang lain, itu terserah dia. Untung dia baik, dan apakah dia akan menjaga zha?”
“Setidaknya dia akan menjagamu dari orang yang ingin mencelakaimu disana.”
“Ya, Baiklah.” Zha menjawab pasrah padanya. Tapi sayang, obrolan terpaksa mereka hentikan karena pintu diketuk oleh mama yang datang menemui zha.
“Ya, Ma, masuk.” Zha menjawab meski cukup lama, dan mama ana akhirnya masuk kedalam membawa beberapa lembar kertas ditangannya.
Lembaran itu ada formular universitas yang mama ana pilihkan untuk zha, tapi itu bukanlah formular keperawatan seperti yang zha inginkan. Itu alah formulir untuk zha masuk ke Manegement, dan mama ingin zha bekerja dengan van untuk mengurus perusahaan keluarga ayah sam yang nanti juga akan jatuh ke tangan zha , karena zha adalah anak kandung mama ana.
“Zha ngga mau masuk management,” tolak zha yang langsung mengembalikan formulir itu pada sang mama.
“Zha, nurut, sayang. Ini semua demi kebaikan kamu, Nak. Nanti kamu akan jadi salah satu calon pewaris Sambodo grup, karena kamu anak mama.”
“Mama ajak zha hanya karena itu?” tanya zha mengerutkan dahinya.
Wajah mama ana langsung tampak gugup lagi, ia seperti tengah mencari alasan untuk membantah ucapan zha padanya.
“Eng-engga lah, Sayang. Mana ada mama begitu. Mama hanya memikirkan masa depan zha saat ini,” bujuk mama ana mengelus bahu zha.
Tapi zha seperti menangkap hal lain dari raut wajah mama saat ini padanya, wajah seakan ia memang terobsesi pada zha bukan untuk memilikinya, melainkan untuk memanfaatkan keberadaan zha disana. Hingga zha menyadari, apa maksud om edo memintanya untuk tinggal disana sementara.
“Zha mau masuk perawat, seperti cita-cita ayah.” Zha menegaskan niatnya. Kemudian dengan santai ia duduk bersandar di headboard ranjangnya.
“Perawat itu ngga menjamin masa depan, Zha. Gajinya kecil, dan pekerjaanya penuh resiko. Belum lagi harus berhadapan dengan beberapa hal kotor seperti_” Ucapan mama hentikan karena tatapan zha mulai tajam.
“Zha tetap ingin jadi perawat. Zha ingin menolong orang lain, dan membanggakan ayah yang sudah membesarkan zha selama ini,” jawabnya.
Mama ana tertunduk dan memainkan bibirnya sendiri saat ini. Ia selalu kesal ketika zha terus saja menyebut nama ayahnya, padahal saat itu sang mama lah yang ada didekat zha dan akan berusaha membahagiakannya.
“Ya, ayah kamu memang suka menolong orang lain, mama akui itu. Tapi kadang terlalu baiknya ayah kamu pada orang lain, dia bahkan tak memikirkan kelauarganya sendiri. Dia bahkan rela membiarkan sang istri kesakitan dan larut dalam kemiskinan semasa bersamanya.” Mama ana mengingat kisah pilunya lagi dan menceritakan semua pada zha. Mungkin ia berharap agar zha luluh dengannya seketika.
“Dan sekarang, kamu lihat? Punya apa ayahmu, yang bahkan menitipkanmu pada om edo setelah dia meninggal. Dia tetap ngga punya apa-apa, Zha. Semuanya menjadi tanggung jawab om edo dari sekolah dan semuanya, dan kuliah?” tatap mama ana dengan mata berapi-api, begitu semangat menjelekkan sang mantan suami.
Semangatnya begitu menggebu-gebu mempengaruhi zha agar membenci ayahya. Membongkar semua penderitaan dan aibnya dimasa muda, yang bahkan tak bisa memperjuangkan istriya agar kembali bersama dengan putrinya.
“Bahkan setelah begitu lama, ia masih tak memiliki apa-apa.”
“Bukankah isi tabungan Ayah mama bawa pergi, dan surat rumah mama gadaikan pada rentenir?” tanya zha, tepat menusuk ke dalan jantungnya yang terdalam hingga begitu nyeri tak tertahan.
Mama ana yang mendengar ucapan itu seketika pucat pasih, bibirnya kering dan ia menelan salivanya kuat-kuat saat itu juga.
“Bagaimana ayah bisa punya tabungan, jika nyaris seumur hidup ayah berusaha membayar hutang yang mama tinggalkan demi mempertahankan rumah itu?” tanya zha dengan tatapan datarnya.
Ia memang masih sangat kecil ketika hal itu terjadi. Tapi karena semuanya terjadi didepan mata, ia lama kelamaan paham dan melihat jelas bagaimana ayahnya memperjuangkan keutuhan milik mereka yang berharga, dan saat itu sembari mengasuh zha yang seharusnya butuh kasih sayang yang begitu banyak dari orang tua.
Rumah pertama dari hasil ayah zha sendiri dikumpulkan sekuat tenaga untuk membelinya, berusaha membuat sang istri bahagia meski harus hidup sederhana. Namun, semua itu rupanya tak pernah cukup untuk mama zha yang selalu ingin lebih dalam hidupnya.
“Mama tahu, berapa lama untuk ayah melunasi hutang itu? Apa mama pernah bayangin ketika zha Cuma dikasih cemilan tepung goreng sama ayah ketika pengen jajan?” Zha terus mencecar sang mama dengan pertanyaan yang akhirnya bisa ia ucapkan.
Sedikit lega karena ia akhirnya bicara, meski ia tak tahu akan mendapat jawaban yang sesuai atau tidak dari sang mama.