I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Kepergok pacaran



Usai dengan makan malam mereka, Om yan mengajak wika pergi bersama. Mereka kencan, meninggalkan om edo dan zha di rumah berdua karena bibik juga pulang kerumahnya sendiri yang ada di kompleks kecil belakang rumah itu. Sebenarnya om yan mengajak zha pergi bersama, tapi saat itu zha menolak dengan alasan Lelah, padahal ia sendiri seharian berada di rumah dengan segala kegabutannya.


Itu semua hanya alasan zha saja karena ingin berduaan dengan om dingin yang telah seminggu resmi menjadi kekasihnya itu. Ia ingin melayaninya sebagai calon istri yang baik, membuatkan kopi dan mempersiapkan cemilan untuk menemaninya begadang megurus semua laporan yang dibawa om yan padanya sepulang dari tambang.


“Yakin ngga ikut?” tanya wika yang sudah dandan cantik dan wangi, dan ia memnujuk gadisnya sejak tadi. Tapi yang ia bujuk justru santai rebahan diatas ranjang dengan posisi terbalik dan terus memainkan hp ditanganya.


“Ngga ah, ngapain? Nanti zha Cuma nemenin om sama kakak pacarana, zha diem bengong.” Gadis itu kembali menolak untuk yang ke sekian kalinya.


Wika hanya melirik tajam pada gadisnya, karena biasanya zha paling senang merecoki dan ikut mereka berdua kapanpun dan dimanapun berada. “Yaudah kalau gitu, nanti kak wika beliin jajan buat zha.”


“Emang zha anak kecil minta jajan? Kalau pizza mau,”


“Huuu… Tak tutuk we zha, zha.” Wika lantas kembali keluar dari kamar gadisnya itu menghampiri sang kekasih yang telah menunggu di ruang tamu.


Om yan saat itu tengah membantu om edo untuk membaca semua laporan yang ada dan telah terpampang di laptopnya. Om edo tampak serius, dan seperti itulah ia jika telah berkutat dengan segala pekerjaan yang ada.


“Mas, ayo,” ajak wika.


“Zha ngga ikut?”


“Ngga mau, katanya males nemenin orang pacarana. Padahal selama ini kita yang nemenin dia main di mall,” kesal wika saat itu. Apalagi memang ia terbiasa pergo bertiga bersaa zha ditengah mereka berdua, maka malam ini akan terasa begitu sepi seperti biasanya.


Untung om yan menenangkan, ia langsung merangkul kekasihnya untuk pergi bersama berdua. Ia bahkan menjanjikan menonton bersama karena mereka Sudah jarang melakukan itu semua sejak ada zha.


“Udahlahm ngga usah manyun gitu, sesekali jalan berdua setelah sekian lama.” Om yan membujuk wika agar kembali tersenyum karena sejak tadi memanyunkan bibirnya. Ia juga meraih tangan wika dan menggenggamnya sepanjang perjalanan yang ada, bahkan tak segan sesekali mengecupnya agar ia tersenyum kembali seperti biasa.


Mereka ke mall hari ini, tempat biasa mereka mengasuh zha. keduanya menuju bioskop dan memilih film yang mereka sukai disana untuk menontin bersama sesuai janji om yan padanya. Wika berusaha fokus pada kekasihnya, meski bayangan zha selalu terngiang diatas kepala. Padahal yang ia fikirkan sendiri tengah bahagia disana bersama kekasihnya.


“Om?” panggil zha yang baru datang menghampiri om edonya di ruang tamu. Ia tahu tengah banyak pekerjaan, hingga ia akan melayaninya mala mini. “Om mau kopi ngga? Biar zha buatin,”


Om edo lantas menegakkan kepala menatap zha, dan ia mengangguk tak ingin melewatkan kesempatan langka itu kali ini. Apalagi melihat zha begitu semangat melayani, untung saja ia terbiasa membuatkan kopi untuk ayahnya hingga tak begitu canggung ketika membuatkan kembali untuk omnya.


Zha melangkah dengan ceria menuju dapur, Om edo menatapnya dengan senyum kemudian kembali lagi pada laptop yang tengah ia pangku dipahanya. Menunggu sesuatu yang special datang dari zha dan meghabiskan waktu mereka bersama.


Zha sembari bersenandung, meraih kopi sesuai takaran dengan gula secukupnya. Ia mengaduknyya, seakan memberi cinta disetiap adukan kopi yang ia buat, kemudian tak lupa mencari cemilan yang ada di kulkas dan menuangkannya keatas piring. Ia lalu membawanya pada om edo yang telah menunggu sejak tadi.


“Kopi dan cemilan datang,” ucap zha, dan om edo langsung menyambutnya.


Rasanya om edo sudah tahan untuk menikmati kopi pertamanya dari zha, hingga segera meraih dan menyeruputnya. “Eh, itu masih_ Panas…”


“Aaarkhh!!” Om edo memekik ketika bibirnya tearasa melepuh.


“Kan zha udah bilang, ngga sabaran sih. Mana lihat bibirnya,” ucap zha, yang segera meraih wajah om edo untuk meniupi bibir itu dengan udara yang keluar dari mulutnya.


“Udah, kok diem?” tanya zha yang membalas tatapannya.


“Tak apa, hanya lidahnya saja sedikit_”


“Mana? Mau zha tiup juga,”


“Zha, sudahlah, itu tak apa.”


“Oh, baiklah.” Zha langsung melepas wajah om edo dan duduk tenang disampingnya. Ia menunggu om edo bekerja sembari terus memainkan hp ditangan dan sesekali menyantap cemilan yang ia bawa barusan.


“Om mau?” tawar zha, dan om edo segera membuka mulut meski tatapan masih lekat pada laptopnya.


Hingga beberapa lama seperti itu, zha sendiri tampak Lelah dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Om edo sedikit tak enak hati melihatnya, tapia pa boleh buat karena semua pekerjaan itu menuntut untuk segera dikerjakan secepatnya. Ia tak mau lagi meminta atau membebani om yan, karena pekerjaannya sudah terlau banyak di tambang. Ia saja bersyukut karena ia hanya bekerja dikantor saja saat ini dan tak terlalu Lelah seperti mereka semua.


“Zha kenapa tak ikut jika bosan?”


“Kan mau temenin om. Ngga papa kok, kalau nemenin kerja, asal bisa berdua.” Zha menorehkan senyum padanya. Hal itu membuat hati om edo seketika meleleh dan tersenyum padanya.


“Aaaaa, zha suka kalai begini. Kasih senyum aja,” ucap zha dengan polosnya.


Tapi siapa sangka, kemudian om edo meluruskan kaki keatas meja dan sedikit memiringkan tubuhnya. Ia tetap memangku laptop dengan tangan kanan yang menyangganya, kemudian tangan kiri ia taruh diatas bahu sofa dan menepuknya pertanda jika ia ingin zha mendekat.


Hal manis itu tak zha sia-siakan. Ia langsung mengikuti arahan om edo untuk duduk bersandar didadanya, dengan kaki yang juga ia luruskan dengan begitu santai. Sebuah kemesraan yang biasa menurut orang lain, tapi luar biasa untuk mereka berdua dimalam ini sebagai kencan pertama.


Bahkan begitu mesra, ketika om edo meraih kepala zha dan mengusap rambut hitam itu dengan begitu lembut dan mesra. Bahkan om edo tak segan beberapa kali mengecupnya.


Andai bisa dibayangkan, betapa berbunga-bunga hati zha saat ini dengan semua perlakuan special yang ia terima. Sederhana, tapi begitu mengena dihati zha sebagai pengalaman pertamanya.


“Nanti jika ada waktu lain, aku akan mengajakmu nonton seperti yan dan wika.”


“Zha ngga terlalu suka nonton bioskop, enaknya nonton drakor aja dirumah. Apalagi ditemenin ahjussinya zha,”


“Baiklah, besok kita buat ruangan khusus untuk nonton berdua di rumah,” ucap om edo yang kembali mengecup kepalanya dengan begitu mesra.


“Astaga,” lirih wika yang melihat mereka berdua. Ia terkejut, membungkam mulutnya sendiri seakan tak percaya denga napa yang ada didepan mata kepalanya saat ini.


“Sejak tadi aku mencemaskan dia, fikiranku teris oleh dia hingga tak bisa menikmati tontonan bersama kekasihku disana. Tapi apa ? Yang ku cemaskan justru… Haiisssh!!” geram wika pada mereka berdua. Sedangkan om yan hanya tersenyum melihat keduanya disana, ia bahagia meski masih penasaran sejak kapan mereka seperti ini.


“Itu tandanya, sebentar lagi kita akan menikah, Wika,” ucap om yan santai pada kekasihnya.