
Suasana Bandara saat itu mulai lengang, tapi van masih disana menatap foto kemesraan mereka berdua yang tampak begitu bahagia seperti sengaja di paus agar van semakin sakit melihatnya. Van lunglai, bersimpuh dalam keadaan yang begitu lemas seakan jiwa yang telah terpisah dari raga dan tak ada lagi rasa di dalam hatinya.
Melihat keadaan itu, lidya tak tega dan akhirnya menghampiri van untuk mengajaknya pulang bersama.”Lidya anter ke rumah kakak, yuk? Atau kakak mau kemana, biar dya anter.” LIdya menawarkan diri agar van mau beranjak dari sana saat ini. Bahkan andai van mau, lidya bisa saja memberikan bahunya untuk bersandar hingga hatinya sedikit tenang.
Dengan bujukan dan bayangan keadaan yang ada disana, akhirnya van beranjak dan menuruti lidya. Tapi, ia tak mau pulang ke rumah dan meminta lidya membawanya ke hotel yang terdekat dari sana. Cemas, tapi lidya sudah terlanjur mau menuruti apa maunya kali ini dan hanya tinggal bagaimana dia bisa menjaga diri.
Keduanya tiba di hotel, saat itu van masih membisu hingga lidya yang harus memesan kamar mereka. Satu kamar dengan Dua bed, dan lidya yakin jika van tak akan menyentuhnya disana. Lidya harus benar-benar menjaga van saat ini, ia takut jika terjadi sesuatu padanya nanti.
“Gimana?” tanya zha yang diam-diam menghubungi sahabatnya itu. Lidya terpaksa harus menjawabnya di kamar mandi agar van tak merebut hpnya dan mengamuk lagi ketika mendengar suara zha disana.
“Gimana apanya? Kasihan loh, Zha, tapi gimana lagi?” balas lidya setelah menceritakan semua keadaan van pada shaabatnya itu.
“Maaf udah ngerepotin kamu kali ini. Aku titip kak van, ya? Tapi inget untuk jaga diri. Cita-cita kamu masih panjang,”
“Iya, Sayang. Ieewwh, kamu sosoan nasehatin aku jaga diri. Kamu tuh, jaga diri dari om-om ganas yang pasti akan menghabisi kamu malam ini,” goda lidya pada sahabatnya. Mendengar itu, jantung zha langsung tak aman jadinya.
Zha juga ada disebuah hotel kelas suite saat ini. Om yan dan wika sengaja memberikan hadiah itu untuk mereka berdua bermalam, dan mereka akan menjaga rumah jika ada sesuatu nantinya.
Entahlah, perasaan wika tak aman memikirkan mama ana yang mungkin akan bisa datang dan menuntut kapan saja untuk zha yang masih harus bersamanya. Keduanya hanya berjaga untuk kemungkinan terburuk yang ada.
“IIih, jangan gitu, kan jadi serem.” Zha membayangkan sebuah kengerian berputar dikepalanya saat ini. Ia kadang membaca sebuah novel dengan malam pertama yang indah, tapi entah kenapa dia justru merinding membayangkan apa yang akan terjadi apalagi mendengar ucapan lidya padanya.
“Hahaha! Yaudah sana, siap-siap mandi, dandan yang cantik dan jangan lupa pake gaun tidur yang_”
“Lidya!!” sergah zha, dan gadis itu justru semakin terkekeh membayangkan ekspresi zha saat ini. Dan akhirnya lidya mematikan obrolan mereka karena sudah mulai cemas dengan van yang sendirian disana. Ia takut, jika membiarkan van terlalu lama sendiri maka ia bisa nekat loncat dari Gedung hotel itu nanti.
Meninggalkan lidya dan van disana, saat ini zha justru merasa tak karuan dengan dirinya sendiri. Bukan karena malam pertama, melainkan ia sendiri belum mandi sejak sore dan om edo justru tak keluar juga dari kamar mandi hingga ia terpaksa mengetuk pintunya.
“Om, masih lama?” panggil zha padanya. Tak perlu waktu lama, om edo saat itu segera keluar hanya dengan handuk yang melingkar di pinggang dan rambutnya yang basa dengan dada terbuka.
Zha hanya bisa bengong, mulutnya ternganga melihat cetakan tubuh om edo yang begitu sempurna ada di depan mata. Zha menelan saliva, ia bahkan megedipkan mata dan beberapa kali menggelengkan kepalanya berusaha menghindari fikiran kotor yang sejak tadi merajalela dikepalanya.
“Kok lama? Zha juga pengen mandi, gerah.” Zha mengipasi tubuhnya yang mulai berkeringat.
“Kenapa tak mandi bersama saja tadi? Sudah sah, dan bahkan aku bisa saja memandikanmu."
Glek!!! Zha menelan lagi salivanya mendengar ucapan om edo yang begitu blak-blakan padanya. Ia berusaha tak menghiraukan itu dan berusaha untuk membuka resleting gaun yang masih ia pakai hingga saat ini. Ia lupa ganti saat lidya menelponnya tadi.
Bukan baru pertama om edo melihatnya, tapi kali ini terasa begitu istimewa hingga om edo mengecup lembut bahu zha hingga merambat naik ke lehernya.
“Sst... Aaahkkk! Om, zha belum mandi.” Om edo memutar meraih wajah zha dari belakang, memutar lantas mengecup bibirnya dengan begitu gemas tanpa perlawanan dan balasan sama sekali dari istrinya.
“Mandilah, aku menunggumu disini.”
“Menunggu?” Zha menelegkan kepala, dan om edo mengangguk padanya.
Zha masuk ke kamar mandi. Ia kaget karena dikamar mandi itu sudah dipersiapkan tempat untuknya. Bathup berisi air busa dengan aroma lavender yang begitu zha suka, lilin pun menerangi dengan aroma yang sama. Begitu nyaman, dan membuat zha langsung ingin menenggelamkan tubuhnya disana.
Perhatian yang cukup membuat zha berbunga-bunga saat ini, mengingat bagaimana dinginnya papa bear ketika mereka pertama kali bertemu. Zha bahkan tersenyum mengingat semua kelakuan absurdnya kala itu, tak menyangka jika mereka menjadi suami istri saat ini.
“Yan, bagaimana kabar disana?” tanya om edo yang cukup memikirkan mama ana dan putranya disana. ia belum tahu jika van tengah diamankan oleh lidya saat ini dan ancaman yang ada hanya tinggal mama ana.
“Kenapa menghubungi? Kau tak percaya padaku? Fokuslah disana untuk malam ini, dan jangan risaukan apapun yang mungkin akan terjadi disini. Itu semua urusanku dan wika nanti,”
“Salahkah aku bertanya mengenai keadaan rumahku sendiri?”
“Ya jelas salah. Kau mengganggu me time ku dengan wika yang jarang kami lakukan disaat libur seperti ini,” tukas om yan padanya.
“Ah, sudahlah. Kalian berdua memang menyebalkan!” Om edo mencebik kesal dan langsung mematikan panggilannya saat itu juga.
“Siapa, Om?” tanya zha yang baru selesai melakukan ritual mandinya.
Aroma semerbak langsung keluar dari tubuh zha dan membuat om edo langsung membalik badan dan menatap kearahnya. Zha saat itu mengenakan kimono pendek yang cukup minim memperlihatkan leher jenjang dan bagian dada, ditambah rambutnya yang basag tergerai begitu indah meski masih berantakkan.
Om edo berjalan perlahan mendekat padanya, ia langsung meraih pinggang zha hingga tubuh mereka lekat dan zha langsung mendongakkan kepala membalas tatapannya. Satu tangan om edo mengukir wajah manis zha, dari mata hingga turun ke bibir manis yang selalu membuat candu dan tak akan pernah bosan untuk ia nikmati.
Zha merasakan dadanya berdesir, ia hanya bisa memejamkan mata menerima setiap belaian lembut om edo diwajahnya. Tangan dan kakinya bahkan terasa lemas, seperti akan lunglai hanya dengan sentuhan itu saja, hingga ia seperti lilin yang sebentar lagi akan meleleh dengan sentuhan yang mulai cukup panas menyerang tubuhnya.
“Emphh!!” Zha melenguh, ketika om edo mulai mempertemukan bibir mereka berdua saat ini. Begitu hangat, seakan membuat zha merasakan sengatan dari aliran listrik yang mulai menjalar ditubuhnya. Apalagi tangan besar dan juga kekar itu meraih tengkuk zha untuk memperdalam panguttan keduanya.
“Aku ingin kau mala mini,” bisik om edo disela kecupannya untuk zha. Dan saat itu zha tak lagi mampu menjawab apapun kecuali menganggukkan kepala dan menyandarkan kepala itu didada bidangnya.
**Ges, lanjutannya abis buka ya? wkwk