I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Honey moon



"Sssst... Sakit," rintih zha yang merasakan nyeri dipangkal pahanya. Sementara itu om edo masih tidur dengan lelap disebelahnya tanpa penutup tubuh bagian atasnya hanv saat itu zha pakai..


Zha ingat benar, jika mereka tak cukup sekali karena om edo kembali bangun untuk menggempur tubuhnya tanpa lelah meski zha beberapa kali meneteskan air mata dipipinya. Tapi jujur, zha juga menikmati semua hentakan brutal yang om edo berikan pada penyatuan keduanya.


Zha menjatuhkan tubuh tepat diatas dada bindang om edo kemudian mengukir wajah tampan itu dengan jari jemari mungilnya. Ia tersenyum, ia bebas melakukan apapun pada pria itu saat ini karena telah bergelar manjadi suaminya.


"Kau sudah bangun, Nduk?" tanya om edo yang tengah berusaha membuka matanya.


Zha mengangguk, dan beberapa kali mengecup bibir manis om edo seakan tak pernah bosan. Padahal zha masih begitu muda, tapi jiwanya seakan sudah begitu ingin menjadi sosok istri yang sempurna.


"Zha pengen mandi, tapi ngga bisa berdiri. Badan zha rasanya sakit semua," cicitnya manja.


"Aku terlalu kasar?" takut om edo, tapi dijawab gelengan oleh zha. Meski awalnya memang sakit, tapi semua berganti dengan kenikmatan luar biasa yang sekaan melelehkan sekujur tubuhnya.


Om edo lantas menyibak selimutnya dan berdiri dari ranjang besar mereka. Ia saat itu mamakai boxer ketat yang membuat zha menggigit bibir melihanya. "Masih tidur," celetuknya.


"Kau mau membuatnya bangun? Kau siap?" goda om edo pada istri yang mulai nakal itu. Bisa-bisanya dia memperhatikan anaconda yang masih pulas sementara dirinya sendiri kesakitan.


"Engga, jangan. Istirahat dulu, masih sakit. Semalam udah banyak," malu zha tertunduk lesu didepannya.


Om edo hanya tersenyum, lalu menggendong zha saat itu dan membawanya ke kamar mandi. Ia memasukkan zha ke dalam bathup lalu mengisi air hangat didalamnya, bahkan ia membuka pakaian yang zha kenakan saat itu menyentuh beberapa bekas yang ia ciptakan di dada, bahu dan lehernya.


"Ini bukan ciptaan lubang botol lagi." Zha terkekeh mendengarnya. Ia menggelengkan kepala lalu mendaratkan lagi kecupan bibir pada suaminya.


"Eh, kau ini. Jangan menggoda, katanya lelah." Om edo perlahan mengguyur tubuh zha dengan busa yang ada, setiap inci tubuh zha ia sabuni, membuat zha saat itu tertawa geli sekaligus bahagia dengan perlakuan manis yang diberikan padanya.


"Yang seperti ini, tiap hari atau hanya ketika disini?"


"Kau takut aku berubah?"


"He'em... Zha takut jika sudah kembali, papa bear zha menjelma menjadi pria yang sibuk dengan segala pekerjaannya. Tapi, zha sudah sangat paham dan mengerti dengan keadaan itu."


"Terimakasih, Nduk. Hanya itu yang aku minta darimu, karena sejak saat ini milikku juga akan menjadi milikmu. Kau hanya harus selalu ada disampingku,"


Mendengar itu zha kembali tersipu dan tertunduk malu. Tapi lagi-lagi ia bahagia dengan kalimat sederhana yang diucapkan oleh suaminya.


Om edo membopong lagi tubuh zha keluar dari kamar mandi dan memoersiapkan pakaian gantinya. Tapi saat itu zha memintanya untuk segera membersihkan diri karena ia ingin sarapan bersama untuk yang pertama kali dan hanya berdua. Bahkan ketika ia keluar menuju roftop, ia terkagum melihat pemandangan yang begitu indah diluar sana yang membuatnya sampai ternganga.


"Cantiknya! Ini pasti kalau malem cantik banget. Papa bear sih, mengurung zha dikamar ngga boleh keluar. Ada kolam renangnya lagi," ucap zha yang tak henti mengagumi tempat yang ia tinggali saat ini.


"Nona mau berenang?"


"Ah, enga. Saya cuma mau menikmati pemandangan yang ada. Mungkin nanti mau berenangnya," jawab zha malu-malu. Apalagi ketika sang waiters menceritakan jika pasangan pengantin baru suka berengang dipagi hari sembari sarapan di dalam air.  Zha hanya tersenyum dan tersipu malu mendengarnya.


"Baiklah jika begitu, saya permisi dulu. JIka ada sesuatu, jangan sungkan panggil saya," ucap waiters itu pada zha.


Ia yang lupa membuka horden kamar nya itu lantas bergerak, suasananya menjadi semakin terang ketika matahari dan udara pagi masuk kedalam kamar mereka. Apalagi ketika pintu kaca besar itu ia buka dan menampakkan pemandangan indahnya dari dalam sana.


"Kenapa belum sarapan?" tanya om edo yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggangnya. Tak kaget lagi, zha saat itu justru gemas seakan ingin segera memeluknya erat.


"Tunggu Om, ngga enak makan sendirian." Zha mempersiapkan semuanya di meja.


Om edo mengangguk, ia berjalan mencari pakaiannya sendiri didalam koper yang ia bawa saat itu. Zha dengan segala multitaskingnya segera menghampiri dan mempersiapkan semua, bahkan membantu sang suami memakainya satu persatu. Zha bahkan sempat mengusap manja dada bidang itu dengan telapak tangan mungilnya yang lembut sembari menggigit bibirnya sendiri.  Zha baru tertawa ketika om edo mencolek hidung bangirnya.


"Kenapa lagi, kau menyukainya?"


"Buat yang seperti ini pasti susah. Om rajin olahraga?"


"Ya, dulu, dan sekarang akan lebih rajin olahraaga lagi bersamamu."


"Hah?" tatap bengon zha padanya. Om edo tak menjawab lagi, ia justru membopong zha untuk sarapan bersama sembari menikmati semua pemandangan yang ada. Saat itu zha menceritakan kejadian kemarin antara van dan dirinya. Om edo berusaha mendengarkan, ia harus tahu alasan pasti van berbuat seperti itu pada zha yang tampaknya sudah ikhlas menganggap zha sebagai adik.


"Rupanya dia masih sangat mencintaimu." Zha berdehem dan menganggukkan kepalaanya. Tapi ia sendiri mengatakan jika itu bukanlah sebuah cinta, dan bahkan setelah ini ia mungkin akan takut berhadapan dengannya. Apalagi lidya mengatakan jika mereka tak jadi pergi ke london akibat kemarahan van dengan semua yang ada disana.


"Dia dimana sekarang, bagaimana lidya?" cemas om edo pada gadis itu, takut jika ia akan menjadi sasaran kemarahan van atau bahkan lebih buruk dari yang ia fikirkan saat ini. Apalagi, ia lah yang bertanggung jawab karena dia yang memintanya kesana.


Akan tetapi, zha meyakinkan suaminya jika lidya disana baik-baik saja dan bisa mengendalikan van dengan baik meski sesekali emosinya masih meledak.


Tak hanya om edo yang cemas akan van. Mama ana dan suminya juga begitu cemas menunggunya di rumah, apalagi van mematikan sambungan telepon yang ia miliki saat ini seolah tengah mengisolasi diri.


Ayah sam yang baru pulang dari luar kota itu lantas syok mendengar semua berita yang ada. Van mengajak zha kabur, laporan mama anak menyiksa putrinya, dan berita pernikahan zha dan om edo yang seakan begitu mendadak untuk menghindari mereka berdua.


"Sebenarnya, apa yang kau lakukan, Ana?" tanya ayah sam dengan suara seraknya, seperti ia tengah diambang batas kesabaran saat ini dengan segala emosi yang ada.


Sementara mama ana duduk di sebrangnya, tertunduk begitu lesu seperti tak mampu berkata-kata atau bahkan sekedar menjelaskan pada suaminya. Apalagi, ia juga baru saja ditahan oleh pasukan om edo di rumah itu hingga membuatnya sedikit trauma dengan segala tekanan yang ada.